Catatan perjalanan ke Thailand #5 Terpaksa ke Khao San Road

Khao San Road di pagi hari

Khao San Road di pagi hari

Setelah seharian jalan-jalan ke Amphawa floating market, saya dan travelmates saya harus segera kembali ke kota Bangkok dan mengejar kereta ke Chiang Mai. Kami sehari sebelumnya sudah membeli tiket seharga kurang lebih 150 bath atau Rp 60.000 di stasiun Hua Lamphong. Sore itu ternyata jalanan kota Bangkok sedang tidak berpihak kepada kami alias macet parah. Benar-benar macet terparah yang pernah saya alami dalam hidup saya😦 . Setelah sampai di rumah host kami, kami langsung lari ke stasiun LRT dan ganti MRT serta lari tergopoh-gopoh sampai ke stasiun Hua Lamphong mengejar kereta. Pukul 10 lewat 1 menit , Kami terlambat mengejar kereta ke chiang mai yang baru 1 menit yang lalu berangkat. What a night! Beberapa pengemudi taksi lalu menawarkan kami untuk mengejar kereta tersebut ke stasiun Dong Muang dengan tarif 300 bath! What? No, no,no! Saya bersikeras menolaknya karena harga tersebut terlalu mahal, jauh lebih mahal dari tiket kereta kami. Dengan lunglai kami bertiga kemudian glesoran di stasiun Hua lamphong yang saat itu sudah sepi. Untung saja 2 orang travelmates saya ini asyik dan selalu tenang menghadapi segala macam situasi. Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk mencari makan malam dan penginapan di sekitar stasiun. Setelah satu jam mondar-mandir dengan backpack gedhe mencari penginapan ternyata semuanya penuh😦 .

Sembari makan malam , kami kemudian memutuskan untuk ke Khao San Road. Awalnya kami anti banget ke Khao San Road karena penuh dengan turis dan terasa kurang ngeblend dengan suasana lokal *jieeh*. Dari yang saya baca di berbagai blog pun, Khao San Road suasananya tidak jauh berbeda dengan Legian atau gang Poppies yang ada di Bali yang sudah terlalu western sentris. Sentral turis seperti ini biasanya penuh dengan turis-turis yang mabok dan keleleran di jalan, ihh, saya mulai males ngebayanginnya.
Jam 11 malam kami naik taksi ke Khao San Road, dengan membayar 100 bath atau sekitar Rp 40.000. Seperti dugaan kami sebelumnya, ketika sampai di kawasan ini, suasana begitu ramai penuh dengan musik dan para traveler yang sedang nongkrong di jalan. Dengan sisa tenaga yang ada kami mulai menyisir penginapan yang ada di sini. Tidak hanya kami saja yang terlihat berjalan membawa backpack keluar masuk penginapan, banyak traveler-traveler lain yang baru sampai di kawasan ini juga mencari kamar yang masih kosong. Berbekal pengalaman kami tinggal di Bali, kami menyisir penginapan yang agak menjauh dari pusat keramaian dan masuk ke dalam gang-gang. Akhirnya setelah satu jam berjuang kami mendapatkan satu kamar backpacker dorm seharga 100 bath atau Rp 40.000 per malam di sebuah penginapan tua. Ini kamar termurah yang pernah saya tiduri! hehehe. Sebenarnya ada 4 bed di dorm tersebut, tetapi karena kami sudah bertiga si resepsionis bilang bahwa ia tidak akan menambah tamu lagi. Karena kami sudah kelelahan malam itu, maka kami langsung melesat ke alam mimpi tanpa mandi dan sikat gigi *iih* .
Pagi harinya kami bangun pagi-pagi sekali karena penasaran dengan suasana Khao San Road. Sepertinya kami terkena karma perkataan kami sendiri😀 . Di hostel tempat kami menginap dan beberapa penginapan lain selalu ada tulisan no Thai allowed yang tidak memperbolehkan orang Thai untuk masuk ke dalam kamar tempat menginap. Sounds racist terhadap orang Thai sendiri? Ternyata ini untuk menghindari supaya para traveler tidak bercinta dengan orang lokal atau bahkan prostitute di dalam kamar hostel. Jika mereka ingin bercinta, sesama traveler atau dengan orang lokal atau dengan orang sewaan, mereka bisa menyewa love hotel yang bisa disewa per jam dan banyak terdapat di Khao San Road. Untung saja ya kami tidak salah hostel semalam.
Di Khao San road ini agak susah mencari sarapan ala orang lokal seperti di kawasan Hua Lamphong. Kebanyakan merupakan kafe atau restoran ala western  dengan harga yang lumayan mahal. Kami sarapan roti dan telur dengan kopi di salah satu restoran dan menghabiskan Rp 50.000 per orang. Salah satu hal yang menarik di kawasan backpacker ini adalah banyaknya penjual pernak-pernik thailand dengan harga murah meriah. Dari mulai tas, selimut, gantungan kunci dan aneka macam kaos. Harga yang diminta penjual masih bisa ditawar. Mengingatkan saya akan kawasan Malioboro di kota saya. Akhirnya kami ga nyesel juga berada di Khao San road. Malah tau banyak hal seperti love hotel tadi *eh* .Setidaknya kamipun jadi tahu di manapun berada ketika di Bangkok dan kehabisan hotel, cari saja di Khao San road, banyak sekali pilihan😀 .

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s