Catatan perjalanan ke Thailand #6 : Ayutthaya

Seorang bhiksu muda menunggu perahu di sebuah dermaga di Ayutthaya

Seorang bhiksu muda menunggu perahu di sebuah dermaga di Ayutthaya

Pagi itu kami berjalan kaki meninggalkan dorm kami di kawasan khao san untuk mencari tuk-tuk atau taksi menuju ke stasiun kereta api Hua Lamphong. Sehari sebelumnya ketika kami ketinggalan kereta, kami sudah mengecek jadwal-jadwal kereta api pada hari ini untuk menuju ke Ayutthaya dan Chiang Mai. Tadinya kami mau langsung ke Chiang Mai kalau tidak ketinggalan kereta. Tetapi karena hal tersebut malamnya kami memutuskan untuk singgah di Ayutthaya dulu beberapa jam sebelum ke Chiang Mai. Saya jadi teringat kepada seorang teman yang bela-belain balik lagi mengunjungi negeri gajah putih ini spesial untuk mengunjungi Ayutthaya. Ada gerangan apakah di kota yang berjarak 81 km dari kota Bangkok ini? Saya sangat penasaran karena teman saya memberikan oleh-oleh berupa jepretan-jepretan indah di beberapa tempat bersejarah di sana.

Kami membayar tuk-tuk seharga 100 bath atau sekitar Rp 40.000 dari Khao San ke stasiun Hua Lamphong. Kami lalu naik kereta ekonomi seharga hanya 15 bath saja ke ayutthaya. Harga tiket yang sangat-sangat terjangkau untuk 2 jam perjalanan. Tiket yang kami beli adalah tiket tanpa tempat duduk, jadi kami menempati tempat-tempat yang kosong saja. Sewaktu kami naik gerbong dan sudah duduk dengan santainya, ada bapak-bapak yang mendatangi kami dengan raut muka marah-marah. Ia berbicara dengan bahasa Thai tanpa kami ketahui apa maksudnya. Setelah mencoba mencerna bahasa tubuhnya, ternyata kami memasuki gerbong yang salah! Gerbong itu ternyata disediakan khusus untuk para Bhiksu dan Bikhuni *tepok jidat*. Kami lalu berpindah gerbong pelan-pelan sambil manggut-manggut dan menyampaikan permintaan maaf dalam bahasa Inggris. Ini menjadi suatu pengalaman berharga untuk kami karena di beberapa fasilitas umum, para pemuka agama seperti bhiksu dan bikhuni ternyata memperoleh tempat tersendiri. Mereka bahkan tidak harus membayar di fasilitas-fasilitas tersebut. Masyarakat dan pemerintah Thailand tampaknya sangat menghormati para pemuka agama mereka.
Sesampainya di stasiun kereta api Ayutthaya, kami lanjut mencari makan siang sambil memikirkan bagaimana caranya menuju ke tempat-tempat bersejarah di sana. Saya sih sudah mencatat bagaimana menuju ke tempat-tempat tersebut dengan cara yang paling murah yaitu dengan menaiki song phew atau angkot kecil hopping dari temple ke temple atau dengan cara menyewa sepeda. Tetapi ketika kami berjalan memasuki jalan di seberang stasiun Ayutthaya, ada beberapa agen perjalanan yang menawarkan boat trip mengarungi sungai Chao Phraya sampai sunset ke temple-temple tersebut. Tampaknya tawaran tersebut terasa sangat menggiurkan untuk kami. Pastilah ada kesan tersendiri menuju ke heritage site dengan mengarungi sungai yang jaman dahulu sangat tersohor sebagai jalur transportasi utama.  Kami juga berpikir kalau kami naik sepeda kami takut kesasar dan tidak memiliki banyak waktu karena nanti malam kami juga harus mengejar kereta ke Chiang Mai.Boat trip ini per orang tarifnya 200 bath atau sekitar Rp 80.000 untuk trip selama 2 sampai 2,5 jam. Gapapa lah sekali-sekali jalan ala turis lagi😀 .
Jam 4 sore kami berangkat dari dermaga yang tidak jauh dari stasiun. Ada sekitar 8 orang yang mengikuti boating trip sore itu. Sungai Chao Phraya di kota Ayutthaya terlihat lebih sempit dibandingan dengan yang ada di kota Bangkok. Kota dengan nama lengkap Phra Nakon Si Ayutthaya ini adalah salah satu kota paling bersejarah di Thailand yang dibangun pada tahun 1350. Dahulu merupakan ibu kota kerajaan Siam ke dua setelah Sukkothai. Ayutthaya juga masuk ke dalam UNESCO world heritage site. Kota ini adalah pulau atau delta yang dikelilingi beberapa sungai. Sore ini kami hanya akan mengunjungi 3 tempat saja, meskipun ada banyak sekali heritage site yang layak dikunjungi di Ayutthaya.
Destinasi pertama kami adalah sebuah kuil Buddha. Dari luar kuil Buddha ini seperti kuil-kuil lain yang pernah kami kunjungi di Bangkok. Begitu kami masuk ke dalam, kami terpesona dengan sebuah patung Buddha berwarna emas raksasa lengkap dengan kipas raksasanya. Kuil ini bernama Wat Phanan Choeng dan patung Buddha raksasa itu dinamakan Luang Pho Tho. Saat itu banyak sekali turis yang mengunjungi kuil ini sehingga penuh sesak berdesak-desakan. Saya hanya mengambil gambar dari pintu saja karena takut mengganggu orang-orang yang sedang beribadah di sini. Menurut wikipedia, kuil ini dibangun sebelum berdirinya kota Ayutthaya pada tahun 1324. Sebuah kuil Buddha asimilasi dari budaya asli dan budaya cina. Di komplek ini terdapat beberapa bangunan klenteng yang mengitari kuil utama. Corak-corak budaya cina tersirat dari ornamen-ornamen tembok dan ukiran kayu. Di dermaga kuil ini juga terdapat hal unik. Ikan-ikan sungai Chao Phraya selalu bergerumul di sekitar dermaga, menunggu orang-orang memberi makan berupa roti dan pelet. Ikannya lumayan besar-besar lho! Dan tidak ada satupun orang memancing ikan di sana. Sepertinya dianggap keramat oleh penduduk setempat. Ketika kami melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya, di sepinggir sungai terdapat bangunan  benteng tua yang mengitari kota kuno Ayutthaya
Patung Buddha Raksasa di Wat Phanan Choeng

Patung Buddha Raksasa di Wat Phanan Choeng

Saking besarnya patung Buddha ini, manusia hanya sebesar mata kakinya

Saking besarnya patung Buddha ini, manusia hanya sebesar mata kakinya

ikan-ikan berkerumun di dermaga wat phanan choeng

ikan-ikan berkerumun di dermaga wat phanan choeng

Benteng yang mengelilingi pulau ayutthaya

Benteng yang mengelilingi pulau ayutthaya

Destinasi ke dua kami juga sebuah bangunan kuil Buddha yang sangat tua yaitu Wat Putthaisawan yang letaknya tidak jauh dari kuil yang pertama. Kuil ini dibangun juga sebelum Ayutthaya menjadi ibukota Siam pada tahun 1353 oleh para pekerja yang didatangkan dari Khmer. Saya kemudian iseng-iseng berimajinasi tentang kota ini di masa lalu ketika Siam masih berperang dengan Khmer dan Burma. Jaman dahulu mereka bertetangga tetapi suka perang juga, sehingga banyak bangunan bersejarah yang menjadi puing-puing. Mungkin bila kuil dan kota ini tidak diserang Burma, ibukota Thailand masih di sini🙂 . Bangunan yang menarik di komplek Wat ini menurut saya adalah sebuah patung Buddha tidur kuno yang ditutupi kain berwarna coklat oranye dan sebuah vihara berdinding putih yang biasa disebut Phrang yang tingginya mencapai 30 meter. Rasanya 30 menit di tempat ini tidak cukup untuk eksplorasi lebih lanjut sambil mengaggumi keindahan arsitektur Siam di masa lalu. Kami harus melanjutkan perjalanan ke destinasi terakhir sambil menikmati sunset di sana.

Wat putthaisawan dari sungai chao phraya

Wat putthaisawan dari sungai chao phraya

Patung-patung Buddha yang mengelilingi prang di wat putthaisawan

Patung-patung Buddha yang mengelilingi prang di wat putthaisawan

Prang berdinding putih di wat putthaisawan

Prang berdinding putih di wat putthaisawan

ancient reclining Buddha di Wat Putthaisawan

ancient reclining Buddha di Wat Putthaisawan

Ketika saya akan kembali menaiki perahu dari dermaga Wat Puttaisawan ternyata perahunya tiba-tiba menjauh dari saya dan sayapun terjatuh ke dalam sungai Chao Phraya. Sial! Saya basah kuyup dan semua benda yang berada di dalam tas saya juga basah termasuk hape dan kamera saya. Hiks! Kami kemudian menuju ke destinasi terakhir dengan saya yang basah kuyup. Sesampainya di destinasi terakhir, untung saja salah satu teman saya membawa kemeja dan saya bisa memakainya meskipun kekecilan.

Destinasi terakhir kami adalah tempat yang sangat indah! Dahulu tempat ini merupakan sebuah royal temple atau kuil kerajaan. Tempat ini bernama Wat Chaiwatthanaram yang dibangun pada tahun 1630. Ini merupakan lokasi heritage site utama di Ayutthaya. Arsitektur utama kuil ini mengadopsi gaya Khmer dengan Phrang menjulang tinggi berada ditengah-tengah kuil. Pada jaman dahulu keluarga kerajaan beribadah di tempat ini dan melaksanakan suksesi keagamaan di tempat ini seperti upacara kematian pangeran dan putri-putri.  Kami sampai di tempat ini menjelang matahari terbenam, jadi cahaya kemerah-merahan matahari menambah Wat yang tersusun dari dinding bata merah ini menjadi terlihat sangat dramatis. Saya rasanya ingin memotret tempat ini dengan kamera saya. Kalau saja saya tidak jatuh ke sungai😦 . Untung saja teman-teman saya membawa kamera dan saya bisa mengabadikan momen-momen indah di kuil ini. Kami duduk manis menghadap ke bangunan utama sambil menunggu terbenamnya matahari di sana. Sebuah sore dengan breathtaking moment yang akan selalu terngiang dalam ingatan saya sampai kapanpun.

Meskipun celana basah tetap narsis di Wat Chaiwatthanaram

Meskipun celana basah tetap narsis di Wat Chaiwatthanaram

senja kemerahan di wat shaiwattanaram. Credits to Kuta

senja kemerahan di wat shaiwattanaram. Credits to Kuta

Siluet Wat Chaiwattanaram. Credits to Kuta

Siluet Wat Chaiwattanaram. Credits to Kuta

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s