Catatan perjalanan ke Thailand #9 : Chiang Mai, just a random walk

welcome to Chiang Mai!

welcome to Chiang Mai!

Hari ke dua di Chiang Mai, niatnya ga ngapa-ngapain, mau istirahat saja di hotel dan memperbanyak tidur. Niat ternyata tinggal niat saja. Kaki kami gatel ingin melangkah keluar hotel untuk keliling kota Chiang Mai. Karena hotel kami tidak menyediakan sarapan pagi, kami mengawali hari dengan mencoba sarapan di black canyon cafe di dalam komplek tapae gate. Salah satu cafe asli Thailand yang franchisenya sudah sampai di Indonesia. Iseng dan pengen saja mencoba sarapan di sana, mencoba black canyon cafe di negara asalnya. Satu set menu sarapan dengan secangkir kopi hitam rata-rata seharga Rp 40.000 sampai Rp 80.000. Tidak jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Agak mahal memang untuk kocek backpacker seperti kami, tetapi karena semalam kami sudah dinner murah meriah, sekali-sekali makan mahal gapapa lah.

Suasana pagi itu terasa berbeda ketika saya melihat sekeliling dengan jelas. Sebenarnya sudah sejak semalam sih, saya merasakan suasana berbeda ketika berada di dalam pasar malam. Saya merasakan perbedaan budaya yang besar antara Chiang Mai dan Bangkok. Ya, tentu saja, seperti halnya di Indonesia. Di Jawa dan di Bali suasana yang ditimbulkan akibat perbedaan budaya terasa sekali, bahkan untuk orang asing sekalipun. Chiang mai merupakan ibu kota kerajaan Lan Na pada sekitar tahun 1200-an. Arsitektur Lan Na kemudian masih banyak diadopsi di beberapa bangunan tua di kota ini. Di kota ini juga masih banyak masyarakat yang mengenakan pakaian adat ala Thailand utara. Mereka kebanyakan datang ke kota untuk menjual hasil kerajinan khas Thailand utara.

Salah satu travelmate saya, Kuta adalah the master of kulakan alias suka berjualan barang-barang unik. Maka selain random walk, hari itu saya menemani Kuta untuk berburu barang khas chiang mai untuk dijual kembali. Kami jalan-jalan di sekitaran Tapae gate yang hari itu tampak ramai penuh dengan demonstran. Ternyata aksi demo  ini tidak hanya terjadi di kota Bangkok saja. Dan seperti halnya di kota Bangkok meskipun diikuti oleh banyak orang, demonya aman,tertib dan terkendali. Salut deh buat masyarakat Chiang mai!

demonstrasi di sekitar taphae gate

demonstrasi di sekitar taphae gate

Lokasi Taphae gate ini dulunya adalah benteng batas kota chiang mai pada masa kerajaan Lan Na. Seperti lokasi njeron beteng yang ada di Yogyakarta. Dari tapae gate kami menyusuri Tapae road dan bertemu ibu-ibu dari pedesaan hmong yang masih memakai pakaian tradisional, berjualan pernak-pernik khas hmong berupa gelang, dompet, gantungan kunci dan lain-lain. Ibu itu menawarkan seharga 20 bath atau Rp 8000 untuk dompet kecil nan unik. Tanpa pikir panjang saya langsung beli 10 dompet untuk oleh-oleh, tanpa menawar. Kasihan si Ibu tua ini tampak kelelahan berjualan pernak-pernik dari desanya yang lumayan jauh.

Seorang ibu dengan pakaian tradisional menjajakan pernak-pernik khas Thailand utara

Seorang ibu dengan pakaian tradisional menjajakan pernak-pernik khas Thailand utara

dim sum yummy!

dim sum yummy!

Nyobain herbal drink ala Chiang Mai

Nyobain herbal drink ala Chiang Mai

Sembari jalan-jalan , kami juga mampir mencicipi jika ada penjual jajanan di jalan seperti dim sum atau bakso tusuk.  Kami blusukan melewati gang-gang kecil sampai menemukan surga untuk kulakan di sekitar warorot market. Barang-barang yang dijual di sini sangat berbeda dengan pasar-pasar di Bangkok. Kami lalu mengikuti jalan-jalan kecil di sekitar pasar dan menemukan tempat-tempat grosir tas , baju, celana dan pernak-pernik khas Thailand utara dengan harga murah. Kuta membeli lebih dari sepuluh tas, beberapa celana dan dompet-dompet kecil. Saya hanya membeli satu celana pendek tenun seharga sekitar Rp 70.000 dan celana etnik kulot seharga Rp 75.000. Tentu saja kalau banyak harganya bisa lebih murah lagi. Saya jadi ingat ada yang menjual celana seperti ini di Jogja dengan harga lebih dari Rp 200.000.

Teman saya kuta sedang kulakan :D

Teman saya kuta sedang kulakan😀

aneka celana etnik khas Thailand utara dijual di sekitar warorot market

aneka celana etnik khas Thailand utara dijual di sekitar warorot market

aneka macam tas dan dompet cantik di dekat warorot market

aneka macam tas dan dompet cantik di dekat warorot market

Pulang dari pasar warorot kami mampir ke sebuah kuil bernama Wat Buppharam. Salah satu kuil tua yang dibangun pada tahun 1800-an. Konon katanya kuil ini adalah representasi para bangsawan yang tinggal di kota Chiang Mai. Dekorasinya merupakan campuran dari budaya burma dan kerajaan lan na di masa lalu. Seandainya saja saya punya banyak waktu di sini, pastilah menarik mendengarkan cerita sejarah tentang kerajaan Lan Na, Burma dan Thai. Tetapi ya inilah gunanya traveling, lebih mengenal dunia dan kebudayaan tempat yang kita datangi melalui panca indera kita sendiri. Dan buat saya rasanya nagih!!

wat buppharam

wat buppharam

stupa chedi di wat buppharam

stupa chedi di wat buppharam

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s