Catatan Perjalanan ke Thailand #10 : Blusukan Mencari Hmong Village

Hari ke tiga di Chiang Mai, kami memutuskan untuk menyewa motor. Hari itu juga kami check out setelah 2 malam tinggal di Chiang Mai Thai house hotel. Kami kemudian memindahkan backpack-backpack kami ke Le Meridien hotel Chiang Mai. Wiih pindahnya ke hotel berbintang bo! Kami bisa menginap di hotel ini karena salah seorang teman couchsurfer kami memang sedang diinapkan di salah satu suite oleh orang tuanya. Jadi kami dapat undangan couchsurf di hotel berbintang😀. Di depan hotel le meridien ini ada banyak tempat menyewakan motor. Kami menyewa 2 motor dengan tarif 200 bath atau Rp 80.000 per motor per 24 jam dengan meninggalkan salah satu dari paspor kami. Motor yang kami sewa brand new scoopy dan mio fino! Sebelum berangkat, kami mengisi bensin dulu full tank! Saya kagok ketika berada di pom bensi karena harus mengisi sendiri😀.
Pertama kali ngisi bensin sendiri!

Pertama kali ngisi bensin sendiri!

Dengan motor sewaan ini kami bermaksud untuk mengunjungi suku kayan yang para wanitanya mengenakan kalung khusus agar leher mereka terlihat panjang. Hal yang menurut kami sangat unik dan menarik. Katanya sih sebagian dari mereka yang aslinya dari Myanmar ini , tinggal di pegunungan di sekitar Chiang Mai. Kami memacu motor kami ke arah utara kota Chiang Mai menuju Baan Tong Luang tempat mereka tinggal. Ternyata setelah sampai di sana kami diharuskan membayar 500 bath atau sekitar Rp 200.000 untuk masuk ke kawasan atraksi. Kami pikir Baan Tong Luang adalah sebuah desa yang memang menjadi tempat mereka tinggal selama mengungsi di Thailand. Ternyata desa ini memang sengaja dibuat untuk atraksi para turis dan memang tempat itu sangat penuh dengan turis. Kami kemudian mengurungkan niat kami untuk masuk. Menurut kami, jika ingin melihat dan merasakan kehidupan suku Kayan langsung saja di perbatasan Chiang Rai atau ke Myanmar, tempat mereka benar-benar tinggal. Sayangnya untuk ke sana masih terlalu jauh dari  Chiang Mai.
Siang itu untung saja jaringan internet di smartphone saya lancar jaya. Kami langsung browsing tentang suku-suku dan penduduk asli di sekitaran Chiang Mai. Saya ingat kemarin petugas hotel menunjukkan foto tentang orang-orang pedesaan di pegunungan di sebelah utara Chiang Mai yang masih mengenakan pakaian tradisional. Kami kemudian memutuskan untuk mencari sebuah Hmong village dengan bantuan google map. Hmong people atau suku Hmong adalah kelompok suku yang tinggal di bagian Thailand utara,  Vietnam utara, Laos dan Cina selatan. Di Thailand mereka tinggal di pegunungan dan bermata pencaharian sebagai petani sayur-mayur. Mereka juga lebih sering disebut sebagai Hill Tribe di Thailand.
Jalanan nan lengang

Jalanan nan lengang

selfie di jalan :D

selfie di jalan😀

Kami mengikuti pentunjuk dari google map ke tempat bernama hmong hill tribe lodge yang jaraknya masih 20 km dari Baan Tong Luang. Kami gambling ke lokasi tersebut , entah di sekitar lodge itu akan ada hmong village atau tidak. Sembari menuju ke lokasi tersebut kami juga mampir ke beberapa tempat yang kami anggap menarik sepanjang perjalanan. Seperti beberapa kuil kecil dan situs telapak tangan Buddha. Kami sempat keblasuk ketika menuju ke situs telapak tangan Buddha. Ternyata kalau sudah masuk ke pedesaan, jalan-jalannya masih belum diaspal juga seperti di Indonesia. Menurut yang saya lihat, orang-orang di Thailand ini suka sekali menghubungkan tanda-tanda dari alam dengan simbol-simbol Buddha.  Batu yang besar dengan cerukan seperti telapak tangan dianggap sebagai telapak tangan Buddha atau Gua di gunung yang dianggap sebagai tempat turunnya wahyu dari sang Buddha. Menarik sekali! dan mereka sangat mengkeramatkan tempat-tempat tersebut.
To Buddha hand print

To Buddha hand print

situs telapak tangan Buddha

situs telapak tangan Buddha

Jalanan tanah di Thailand

Jalanan tanah di Thailand

Jalan utama menuju Hmong hill tribe lodge sudah beraspal sangat mulus, tetapi sepinya minta ampun. Selama kami mengendarai motor hanya beberapa kali saja berpapasan dengan kendaraan lain. Kawasan pedesaan di sana pun terlihat sangat sepi dan jarak antar desa lumayan jauh dipisahkan kebun dan hutan. Kalau kami tersasar dan koneksi internet saya tidak bisa diandalkan , entah bagaimana caranya kami berkomunikasi dengan penduduk setempat untuk menanyakan jalan. Setelah berkilo-kilometer berlalu dan kami merasa tidak sampai-sampai, akhirnya kami menggunakan bahasa isyarat untuk bertanya dan berhasil! Beberapa kilometer kemudian kami sampai di sebuah desa di antara lahan pertanian sayur-mayur yang luas. Warga desa tersebut masih menggunakan pakaian tradisional seperti halnya nenek-nenek jawa yang masih berkebaya.
salah satu sudut desa hmong di mae rim

salah satu sudut desa hmong di mae rim

Kami memarkir motor di tempat yang sekiranya aman dan berjalan kaki melihat rumah-rumah dan aktifitas penduduk di sana. Saya merasa orang-orang desa melihat kami dengan asing, mungkin karena tidak ada traveler yang blusukan sampai ke sana😀. Kami mengunjungi sebuah rumah yang ibu-ibunya sedang berkumpul membuat baju tradisional bersama-sama. Baju khas Hmong ini sungguh meriah dengan gabungan warna gelap dan terang. Teman saya Kuta berusaha berkomunikasi dengan mereka dengan bahasa inggris dan bahasa isyarat. Tetapi kami benar-benar lost in translation, mereka tidak mengerti bahasa inggris sedikitpun. Kami hanya pasang senyum lebar kepada mereka yang dibalas dengan senyum juga. Rumah-rumah di desa ini sebagian besar masih terbuat dari kayu beratapkan seng atau rumbia.
desa hmong di mae rim

desa hmong di mae rim

a very peacefull village

a very peacefull village

Melihat ibu-ibu yang membuat baju tradisional

Melihat ibu-ibu yang membuat baju tradisional

Pakaian tradisional masih sehari-hari dikenakan di sini

Pakaian tradisional masih sehari-hari dikenakan di sini

nenek dan lapak baju serta pernak-pernik tradisional Hmong

nenek dan lapak baju serta pernak-pernik tradisional Hmong

seorang ibu sedang mengasuh anak-anaknya

seorang ibu sedang mengasuh anak-anaknya

Kami kemudian berjalan lagi di dalam desa yang bahkan kami tidak tahu namanya tersebut. Desa yang dikelilingi perbukitan ini pemandangannya begitu indah. Dalam bayangan saya, pastilah menyenangkan jika bisa tinggal dengan masyarakat lokal walaupun cuma sehari semalam saja untuk melihat cara hidup mereka sehari-hari. Di ujung desa kami menghampiri satu kios yang menjual pakaian tradisional dan pernak-pernik tradisional Hmong. Penjualnya seorang nenek yang sudah tua. Rasanya saya ingin sekali membeli salah satu pakaian tradisional tersebut untuk baju hangat karena desainnya yang unik. Sayang harganya terlalu mahal untuk kocek saya. Karena sore itu suhu mulai dingin , akhirnya kami harus segera kembali ke kota Chiang Mai. Menurut saya get lost di pedesaan di negara asing adalah pengalaman yang menyenangkan. Lost in translation gapapa deh, yang penting tetap tersenyum ramah kepada semua orang🙂.

seorang bapak petani di mae rim

seorang bapak petani di mae rim

pulang dari kebun

pulang dari kebun

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s