Jurnal Filipina #2 : Cagbalete Island, piknik ala Pinoy

Cagbalete Island adalah sebuah pulau yang terletak di Lamon Bay, Mauban, Propinsi Quezon, Filipina. Pulau ini luasnya 1640 hektar. Pulau ini bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi dari Manila selama 4-6 jam, kemudian dilanjutkan dengan berperahu selama 1 jam. Kendaraan umum untuk menuju ke tempat ini agak complicated karena harus berpindah jalur beberapa kali. Pulau ini merupakan salah satu destinasi untuk liburan di Pantai ala Pinoy khususnya anak-anak gaul dari Manila😀.

Pantai di Pensacola Beach Resort, Cagbalete Island

Pantai di Pensacola Beach Resort, Cagbalete Island

Kami berempat sampai di Cagbalete island jam 8 malam dan langsung menginap di pansacola beach resort. Resort lokal ini menyediakan puluhan rumah pantai dengan harga yang bervariasi. Jangan dibayangkan resortnya seperti di Bali ya, ini benar-benar resort lokal yang pengunjung harus self service. Di saat musim liburan di Filipina seperti weekeend ini harganya jadi melonjak tajam. Awalnya rumah pantai yang kami incar adalah rumah pohon yang harganya cuma sekitar Rp 400.000 per malam bisa diisi untuk 6 orang, tetapi waktu itu sedang penuh😦. Kami terpaksa menyewa rumah pantai seharga Rp 800.000 per malam yang sebenarnya bisa diisi sampai 12 orang. Di hari biasa harganya hanya sekitar Rp 300.000 saja per malam. Selain itu resort ini juga menyediakan tempat camping tetapi harus membawa tenda sendiri. Harga per malam resort ini belum termasuk makanan lho! Kami harus memasak sendiri di sana. Kami memutuskan untuk menginap selama 3 hari di sini untuk mengeksplor pulau dan bersantai di pantai. Dibagian lain di pulau ini juga terdapat berbagai macam resort lokal dengan tarif yang kurang lebih sama.
Rumah pantai 2 lantai yang kami sewa di Pensacola Resort, Cagbalete Island

Rumah pantai 2 lantai yang kami sewa di Pensacola Resort, Cagbalete Island

Malam pertama di Cagbalete island adalah malam bulan purnama. Pantai terlihat terang meskipun tanpa lampu. Teman Filipina saya Vena dan Peter menggelar kain pantai dan mengeluarkan makanan ringan serta sebotol emperador. Emperador adalah miras jenis brandy kebanggaan orang Filipina. Buat ke dua teman saya ini, emeperador adalah minuman wajib seperti air putih *wadaaw*.Seperti apa populernya brandy dan minuman yang lain di Filipina akan saya ceritakan di bab tersendiri. Yang jelas saya mencoba sedikit dan cukup tau saja. Gak lagi-lagi deh.
Full Moon in Cagbalete Island

Full Moon in Cagbalete Island

Pagi harinya kami memasak sendiri. Pansacola resort menyediakan dapur umum terbuka sederhana dengan sederet kompor briket batubara.  Penduduk Filipina di pedesaan ternyata masih memakai briket batubara atau kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Kami membeli bahan makanan di sebuah kampung tidak jauh dari resort. Kampung ini merupakan kampung yang padat penduduk dan suasananya mirip dengan perkampungan di Indonesia. Yang berbeda hanyalah rumah-rumah di sini dipasang teralis di mana-mana. Kami memasak ikan bakar dan nasi goreng bersamaan dengan pengunjung-pengunjung resort yang lain. Ini benar-benar pengalaman yang unik untuk saya. Di resort tapi kok masak sendiri-sendiri di dapur umum😀. Menurut Vena,ya beginilah piknik ala orang Filipina, menyewa cottage tapi masak sendiri.

Perkampungan di cagbalete island

Perkampungan di cagbalete island

Masak ceria di dapur umum

Masak ceria di dapur umum

Cagbalete island terkenal dengan sand bar nya saat air laut sedang surut.  Sand bar adalah hamparan pasir putih yang sangat luas yang ketika pasang area ini tertutupi air laut. Sumpah deh! Luas banget! Saya sampai takjub banget melihatnya. Menjelajahi sand bar di siang hari buat saya adalah kegiatan yang menyenangkan walaupun panas banget. Di hamparan pasir putih ini juga terdapat cerukan-cerukan karang kecil dan didalamnya terdapat biota-biota laut yang sedang survive dari air surut. Bintang-bintang laut sangat mudah ditemukan di sand bar ini. Saat air laut sedang pasang di sore hari kami berenang  di pantai sebelah timur pansacola resort seperti wisatawan-wisatawan lainnya. Dasar pantainya hanya pasir putih dan rumput laut, jarang sekali ada terumbu karang, tetapi pantai ini nyaman sekali untuk berenang karena ombaknya kecil. Air laut di Cagbalete island ini juga sangat jernih dan bening seperti kristal.
sand bar in Cagbalete Island

sand bar in Cagbalete Island

makhluk laut cantik di Cagbalete Island

makhluk laut cantik di Cagbalete Island

Teman-temanya patrick star :)

Teman-temanya patrick star🙂

air laut sebening kristal di Cagbalete Island

air laut sebening kristal di Cagbalete Island

Another view of sand bar in Cagbalete Island

Another view of sand bar in Cagbalete Island

Hari ke dua kami menyewa perahu untuk menjelajahi sisi lain pulau ini. Kami mengunjungi hutan manggrove yang terletak di sisi timur pulau ini. Hutan mangrove ini juga terletak di hamparan pasir putih yang luas. Sepulang dari hutan mangrove kami mencoba mencari tempat untuk snorkeling. Bapak pemilik perahu kemudian mengantar kami ke tempat yang menurut dia banyak ikannya. Sayang sesampainya di sana yang ada hanyalah bulu babi dan landak laut di mana-mana dan tidak satupun terlihat adanya gugusan karang. Sebagian besar waktu kami di pulau ini memang hanya kami habiskan dengan cara bermalas-malasan. Kalau tidak berjemur jalan-jalan di sand bar ya berenang di pantai saja.

mangrove trekking

mangrove trekking

a lonely tree

a lonely tree

isinya landak laut dan bulu babi

isinya landak laut dan bulu babi

Malam terakhir di pulau ini kami habiskan dengan menyalakan api unggun di tepi pantai. Kami hanya tinggal membayar sekitar 100 peso atau Rp 30.000 untuk kayu dan lain-lain. Saya dan pacar saya berkenalan dengan sekelompok muda-mudi dari Manila dan mereka mengundang kami untuk mencicipi chicken adobo. Makanan khas Filipina yang rasanya seperti semur ayam. Mereka kemudian bergabung di api unggun bersama kami untuk bernyanyi bersama dengan gitar sampai tengah malam. Rupanya lagu-lagu barat jaman 90’s seperti more than words juga menjadi lagu wajib saat gitaran bersama di sana🙂.

Nongkrong di pinggir api unggun

Nongkrong di pinggir api unggun

Hari terakhir di Cagbalete island, kami pulang ke daratan menggunakan perahu umum dari sabang port yang letaknya di tengah kampung. Masing-masing orang membayar Rp 30.000 atau 100 peso. Perahunya unik dengan cadik bambu yang besar untuk menampung orang-orang yang tidak muat di dalam badan perahu. Wih kalau jatuh bagimana yaa? Overall pengalaman saya di Cagbalete Island sangat menyenangkan.Kalau saya lagi di Filipina dan lagi pengen bermalas-malasan di pantai saya akan kemari lagi😀.
Cagbalete Island on Google Map :

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s