Jurnal Filipina #7 : Trip to Sorsogon

Horeee! Kami diajak host kami Peter & Vena pulang kampung ke kota kecil bernama Sorsogon. Sorsogon terletak sekitar 529 km dari Manila. Jauh! Seperti jarak dari Jogja ke Jakarta. Kami menggunakan bis umum untuk menuju ke kota ini. Menggunakan mobil dan harus menyetir sejauh 529 km terlalu melelahkan untuk host kami. Ada dua kelas bis yang tersedia dari terminal bis besar Araneta-Cubao, Manila. Kelas ekonomi dan kelas AC. Awalnya kami mau mencoba kelas ekonomi untuk menghemat biaya, tetapi begitu saya tau bentuk bisnya seperti apa, saya memilih bis dengan AC. Bis kelas ekonomi di Filipina bolong ga ada jendelanya! Jadi AC alias angin cendela bakal menyebabkan masuk angin akut setelah kami sampai di Sorsogon. Daripada sampai sana malah sakit, lebih baik memilih bis AC. Setahu saya untuk bis jarak jauh lebih dari 100 km di Indonesia, kelas ekonomi sekalipun sudah ada ACnya. Bis ekonomi ini juga akan sering berhenti dan ngetem di mana-mana jadi jarak tempuhnya bisa lamaaa sekali. Di terminal Cubao ini penumpang tinggal menuju ke loket-loket yang bertuliskan tujuan dan merek bis tertentu untuk membeli tiket. Harga tiket bis AC kami sekitar Rp 290.000. Bis AC ini seperti bis AC kebanyakan yang ada di Indonesia. Diberikan fasilitas selimut, TV, reclining seat dan wifi, tetapi tidak ada toiletnya.

Suasana di dalam terminal bis Araneta-Cubao

Suasana di dalam terminal bis Araneta-Cubao

Kami berangkat jam 9 lebih dari terminal Araneta-Cubao. Bis berhenti di beberapa tempat selama perjalanan supaya penumpang bisa ke toilet dan makan malam di rumah makan prasmanan. Terkadang ketika bis berhenti, ada beberapa pedagang yang masuk menjajakan makanan ringan dan minuman. Persis seperti di Indonesia. Toilet umum sepanjang perjalanan juga sama seperti di Indonesia, berjejeran dan ada kotak kecil untunk memasukan koin. Rumah makan prasmanan tempat kami berhenti menyediakan nasi dengan aneka macam lauk pauk. Saya malah merasa tidak seperti di Filipina ketika makan di sana karena cita rasa masakannya mirip masakan Jawa. Kami sampai di kota Sorsogon lewat tengah malam dan langsung tidur di penginapan yang sudah dipesan oleh host kami.

Narsis di dalam bis menuju Sorsogon

Narsis di dalam bis menuju Sorsogon

Pagi harinya saya dan pacar saya diajak belanja ke pasar kota oleh Vena karena ia ingin memasak makan malam untuk keluarga besarnya. Sambil menunggu jemputan, kami mencegat seorang bapak-bapak yang menjual makanan mirip dengan bubur sumsum yang harganya hanya 5 peso atau Rp 1500. Dan ternyata rasanya enak! Kami dijemput Vena dengan naik tricycle. Di kota Sorsogon ini penduduk lokal kebanyakan naik tricycle jika ingin ke suatu tempat di dalam kota. Tarif tricycle ini sama dengan tarif jeepney. Per orangnya membayar 10 peso atau Rp 3000 sekali jalan. Satu tricycle bisa menampung 4 orang. Tricycle juga bisa mengangkut beberapa orang yang berbeda di jalan. Jadi bentuknya motor tapi fungsinya seperti angkot😀. Jeepney di kota ini biasanya digunakan untuk perjalanan antar kota kecamatan.
Selamat pagi kota Sorsogon!

Selamat pagi kota Sorsogon!

Tukang bubur manis di Sorsogon

Tukang bubur manis di Sorsogon

Buah yang dalamnya seperti duku

Buah yang dalamnya seperti duku

Ini pertama kalinya saya muter-muter pasar tradisional di Filipina. Pasar di Sorsogon ini tampak mirip seperti pasar yang ada di Yogyakarta. Yang membedakan hanyalah jajanan, barang-barang, sayur-mayur dan buah-buahan yang dijual. Ada banyak jajanan,sayuran dan buah-buahan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Sorsogon adalah kota yang masuk wilayah propinsi Bicol, yang terkenal dengan kacang pilinya. Di pasar ini banyak sekali pedagang yang menjual kacang pili. Kacang unik yang bentuknya besar-besar dan kulitnya hitam. Saya membeli sebungkus kecil kacang pili yang sudah dibumbui. Ternyata rasanya enak seperti kacang mete. Ketika kami di bagian daging, pemandangan kuping babi,sosis dan kaki babi digantung ada di mana-mana. Daging babi di Filipina harganya jauh lebih murah daripada daging sapi, jadi masyarakat lebih banyak mengkonsumsi daging babi daripada daging sapi. Di bagian luar pasar ini juga terdapat pedagang-pedangan jajanan dan minuman rasa buah dengan kereta dorong. Setelah selesai berbelanja kami kembali ke hotel dengan tricycle lagi. Saya sudah tidak sabar menghadiri pertemuan keluarga ala Filipina di rumah Peter nanti malam.

Jambu air ala Filipina

Jambu air ala Filipina

Kacang pili a.k.a pili nuts yang bentuknya besar-besar

Kacang pili a.k.a pili nuts yang bentuknya besar-besar

Suasana pasar di kota Sorsogon, Filipina. Mirip ya seperti di Indonesia.

Suasana pasar di kota Sorsogon, Filipina. Mirip ya seperti di Indonesia.

Penjual minuman dorongan di Sorsogon

Penjual minuman dorongan di Sorsogon

Bagian daging di pasar Sorsogon

Bagian daging di pasar Sorsogon

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s