Klenteng Sam Po Kong Semarang, peninggalan bersejarah dari armada Cheng Ho

Sewaktu saya duduk di bangku kuliah jaman dahulu kala saya pernah mendapat tugas membaca buku tentang Cheng Ho yang ditulis oleh Prof Kong Yuangzhi. Buku tersebut mengungkap berbagai macam catatan sejarah Cheng Ho dan armadanya di nusantara dan di Asia tenggara. Siapakah Cheng Ho ? Cheng Ho adalah seorang bahariawan dan laksamana dari dinasti Ming yang telah memimpin berbagai macam ekspedisi pelayaran dari Tiongkok ke kerajaan-kerajaan yang ada di Asia pada abad ke 14. Cheng Ho berasal dari Yunnan dan beragama muslim. Meskipun demikian, diceritakan bahwa Cheng Ho sangat menghormati agama lain seperti Buddha, Kong Hu Chu dan Tao. Armada laut Cheng Ho merupakan yang terbesar dalam catatan sejarah. Misi pelayaran Cheng Ho adalah untuk persahabatan dan perdagangan antar kerajaan. Menurut prasasti Tain Fei Ling Ying Zhi Ji, Cheng Ho pernah berlayar 7 kali ke Nusantara, di antaranya berlayar mengarungi utara pulau Jawa. Oleh karena itu ia banyak meninggalkan jejak di pulau Jawa terutama di Semarang, yaitu di klenteng Sam Po Kong.

Komplek klenteng Sam Po Kong, Semarang

Komplek klenteng Sam Po Kong, Semarang

Sudah sejak lama saya ingin mengunjungi klenteng Sam Po Kong di gedong batu, tetapi saya baru sempat di tahun 2014. Klenteng ini merupakan salah satu destinasi utama di kota Semarang. Sam Po Kong sendiri adalah nama alias dari Cheng Ho. Untuk memasuki komplek klenteng ini pengunjung dikenakan tarif tiket Rp 3000, tetapi jika ingin masuk ke bangunan-bangunan utama pengunjung harus membayar lagi Rp 30.000 per orang. Karena saya dan teman seperjalanan saya ingin melihat tempat ini lebih detil maka kami juga masuk ke bangunan utama. Menurut catatan sejarah dalam buku Prof Kong Yuangzhi , Klenteng ini awalnya dibangun pada pertengahan abad ke 15 dikala 10 orang dalam armada Cheng Ho tidak dapat melanjutkan perjalanan karena ajudan Cheng Ho yang bernama Wang Jinghong sakit keras. Armada Cheng Ho menepi ke pantai dan membuat rumah peristirahatan sementara di depan gua kecil. Jadi daerah gedung batu ini pada abad ke 14 adalah pinggir laut. Selama 10 hari Cheng Ho berusaha mengobati Wang, namun kemudian meninggalkanya di Semarang dengan sebuah kapal beserta perbekalannya untuk menyusul pulang. Wang juga merupakan seorang pemeluk islam. Ia dan ke 9 orang yang menjaganya kemudian malah betah hidup dengan cara becocok tanam di tempat baru dan menikah dengan wanita setempat. Konon katanya Wang membangun sebuah masjid kecil di sini.Ia juga mendirikan patung Cheng Ho, yang pada akhirnya dipuja oleh masyarakat Tiong Hoa sebagai dewa. Dalam kepercayaan masyarakat Tiong Hoa seorang yang dianggap pahlawan ketika hidup, akan menjadi dewa ketika sudah wafat. Ceritanya menarik bukan? Pada setiap bulan agustus klenteng ini menyelenggarakan perayaan untuk menghormati Cheng Ho.

Seperti sedang berada di Cina :)

Seperti sedang berada di Cina🙂

Patung Cheng Ho di komplek klenteng Sam Po Kong

Patung Cheng Ho di komplek klenteng Sam Po Kong

Salah satu altar di klenteng Sam Po Kong

Salah satu altar di klenteng Sam Po Kong

Bangunan altar utama di Sam Po Kong

Bangunan altar utama di Sam Po Kong

di dalam bangunan utama klenteng

di dalam bangunan utama klenteng

2 tahun lalu kompleks klenteng ini baru saja dipugar dan direnovasi, sehingga sekarang komplek ini menjadi terlihat semakin megah. Klenteng ini kini menjadi yang terbesar di kota Semarang. Seperti halnya klenteng-klenteng lain yang ada di dunia, nuansa merah menyala begitu menyatu dengan arsitekturnya. Kami seperti sedang berada di Cina. Di beberapa bangunan utama terdapat altar dewa-dewa masyarakat Tiong Hoa, seperti dewa bumi yang dipercaya memberi rejeki kepada tanah dan lahan pertanian. Di belakang bangunan utama klenteng ini terdapat relief sejarah penjelajahan Cheng Ho  di nusantara. Ceritanya cukup menarik. Selain membawa misi persahabatan , armada Cheng Ho juga menangkap kawanan bajak laut yang meresahkan di masa itu. Di balik relief inilah gua kecil gedung batu itu berada. Hanya para pengunjung yang beribadah saja yang boleh memasuki gua ini. Di ujung komplek bangunan utama terdapat replika kapal Wang Jinghong yang ditinggalkan Cheng Ho untuknya. Di komplek ini juga terdapat stand menarik yang bisa dimanfaatkan oleh wisatawan yaitu berfoto dengan pakaian tradisional Tiong Hoa. Berwisata ke klenteng ini menurut kami sangat menyenangkan, karena sejarah yang membangunnya membuat kami berkhayal tentang masa lalu, tentang ekspedisi-ekspedisi Cheng Ho yang sangat epic. Orang-orang asia di masa lalu ternyata hebat-hebat. Semoga saja nantinya penjelajah seperti Cheng Ho tak hanya dikenal dalam sejarah Asia saja, tetapi juga sejarah dunia.

relief sejarah Cheng Ho di nusantara

relief sejarah Cheng Ho di nusantara

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s