Menikmati segelas teh alami dari kebun teh tritis, kulon progo.

Hari minggu nan mendung. Awalnya saya dan hubby  hanya randomly blusukan naik motor ke bukit menoreh. Siapa tahu saja kami menemukan air terjun atau natural pool yang masih perawan dan belum terkenal *ngarep*. Sampai akhirnya motor kami berada di ujung kebun teh nglinggo yang saat ini sudah beraspal mulus.  Sembari melihat pemandangan kebun teh yang  dipenuhi oleh para selfiers, saya menyapa seorang ibu yang sedang berjalan kaki menggendong rumput untuk ternaknya. Ibu tadi memberi saran untuk ke dusun tritis. Dusun yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari kebun teh nglinggo. Ia bilang di sana juga ada kebun teh yang luas. Karena penasaran maka saya memacu motor saya sampai ke dusun tritis.

Rumah Pak Purwanto di antara hamparan kebun teh

Rumah Pak Purwanto di antara hamparan kebun teh

Di dusun tritis ini ada banyak kebun teh dan semuanya milik pribadi. Kami mengunjungi salah satu kebun teh milik keluarga Pak Purwanto. Kebun tehnya berbentuk bukit dengan luas yang cukup lumayan untuk trekking. Setiap pengunjung diharapkan mengisi buku tamu dan memberikan uang kunjungan seikhlasnya kepada tuan rumah untuk uang parikir dan kebersihan. Kami kemudian sedikit trekking menyusuri kebun teh nan terlihat hijau menyegarkan mata sampai ke puncak. Kebun teh ini tampak sangat terawat dan bersih. Setelah puas mengitari kebun teh, kami kemudian bertemu dengan pemiliknya. Ibu Purwanto tampak sedang membersihkan daun-daun teh yang barusan ia petik. Ia bercerita bahwa keluarganya bertanam teh sejak 24 tahun yang lalu. Wah sudah 24 tahun ada kebun teh di sudut Jogja, kok saya baru tahu ya?

Kebun teh di dusun tritis, kulon progo milik Pak Purwanto

Kebun teh di dusun tritis, kulon progo milik Pak Purwanto

Trekking di kebun teh tritis

Trekking di kebun teh tritis

Ibu Purwanto sedang memetik teh

Ibu Purwanto sedang memetik teh

Selama ini hasil dari panennya seminggu sekali ia jual ke pabrik teh pagilaran yang ada di kecamatan samigaluh. Ia berkata pabrik tersebut menanpung 17 kelompok petani teh yang ada di kulon progo dan purworejo. Di perbukitan menoreh ini sebenarnya banyak terdapat kebun teh tetapi kebanyakan memang dikelola secara pribadi. Sejak tahun 2012, karena banyak pengunjung yang datang ke kebunnya, ia kemudian menyediakan teh hasil olahannya sendiri secara tradisional untuk dibeli pengunjung. Ia kemudian menunjukkan bagaimana caranya mengolah teh secara tradisional dengan  disangan di dalam wadah tanah liat yang dipanaskan di atas tungku kayu. Teh hasil dari kebunnya memiliki 3 kualitas. Kualitas pertama adalah daun teh paling pucuk yang selama ini dipesan oleh para expat yang tinggal di Jogja. Harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah per ons. Kualitas ke dua adalah daun muda dibawah pucuk yang ia jual dua puluh ribu rupiah satu kantong plastik kecil. Kualitas ketiga adalah daun teh yang biasa diminum sehari-hari. Satu plastik ia jual dengan harga lima ribu rupiah. Kami  membeli teh kualitas ketiga dan teh kualitas ke dua. Ia lalu menyuguhi kami dengan teh hangat hasil kebunnya. Sebagai penggemar teh, menyeruput segelas teh hangat alami dengan pemandangan kebun teh hijau terhampar di depan mata adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Sepertinya kalau teh yang kami beli sudah habis, kami ingin sekali membeli teh tradisional di dusun tritis ini lagi. Untuk penggila teh organik, tampaknya kebun teh ini adalah destinasi wajib anda🙂 .

Daun teh yang disangan di wadah yang terbuat dari tanah liat

Daun teh yang disangan di wadah yang terbuat dari tanah liat

Segelas teh hangat di kebun teh tritis

Segelas teh hangat di kebun teh tritis

4 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

4 responses to “Menikmati segelas teh alami dari kebun teh tritis, kulon progo.

  1. Baru-baru ini saya berkunjung ke kebun teh Tambi dan melihat gimana proses produksi teh mulai dari pemetikan, pengolahan, dan pemasaran. Satu yang pasti, teh itu komoditas yang tergolong mahal apabila diperlakukan dengan baik. Sayangnya, kualitas teh nomor satu tidak begitu diminati oleh warga kita, mungkin karena budaya minum teh di negeri kita ini tidak segencar di negeri barat dan harga yang relatif mahal.

    • Iya mas, soalnya dari jaman Belanda dahulu kita orang pribumi tidak diperbolehkan minum teh yang dipucuk. Akibatnya kita minum bagian daun yang dibawah-bawahnya yang orang bilang sepet-sepet gimana. Tapi jadinya sekarang mayoritas orang pribumi malah lebih menikmati bagian daun yang sepet-sepet itu. Kalau saya sendiri sih teh favorit ya yang panas legi kentel dan sepet😀

  2. Aku sama Utan pgn ke sana nda, thx ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s