Mengelilingi kebun raya bogor dengan sepeda

Ini kali kedua saya mengunjungi kebun raya Bogor. The famous green oasis just in the centre of Bogor city. Saya pertama kali ke sana pada tahun 2012 bersama teman saya Meta. Waktu itu saya menggunakan kereta krl dari Jakarta yang hanya memakan waktu sekitar satu jam. Dengan bermodal kedua kaki dan betis, kami mengelilingi kebun raya dengan berjalan kaki dari pintu gerbang utama, istana bogor hingga orchidarium dan kembali lagi ke gerbang utama. Menyenangkan memang berjalan kaki di bawah pohon-pohon tua super rindang sambil sesekali beristirahat di beberapa tempat duduk taman. Sepulangnya dari sana, saya baru sadar kalau kaki saya benar-benar gempor. Ternyata kebun raya Bogor itu luas sekali. Menurut wikipedia saja luasnya mencapai 87 hektar, sebelas dua belas lah sama luas central park yang ada di New York. Kali ke dua saya kembali lagi ke sini bersama suami saya. Kami memilih pergi ke sana saat weekday supaya tidak banyak pengunjung. Kami masih menggunakan kereta KRL dari Jakarta. Selain murah meriah hanya Rp 4500, waktu tempuhnya juga jauh lebih cepat daripada menggunakan bus. Dari stasiun Bogor kami menggunakan angkot 02 turun di pintu gerbang utama. Meskipun ada 4 pintu untuk memasuki kebun raya, pintu gerbang utama inilah satu-satunya yang buka saat weekday. Gerbang lain hanya buka di saat weekend dan hari libur nasional. Tiket masuk kebun raya untuk domestik dan turis asing ternyata berbeda. Rp 14.000 untuk domestik dan Rp 25.000 untuk turis asing. Kami juga mengambil peta gratis yang disediakan di meja informasi.

Berdasarkan pengalaman saya jalan kaki mengelilingi kebun raya, saya merasa gempor sebelum berperang. Tentu saja saya tidak ingin hanya berjalan kaki ke satu bagian kebun raya saja. Saya ingin menunjukkan berbagai macam tempat dari ujung ke ujung kepada suami saya tercinta😀. Untung saja ada persewaan sepeda yang terdapat di sebelah garden shop tidak jauh dari gerbang masuk pejalan kaki. Harga sewa sepeda per satu jamnya adalah Rp 15.000. Kami masing-masing menyewa satu sepeda sekembalinya dari museum zoologi yang letaknya ada di sebelah barat gerbang utama. Karena dekat, kami tinggal jalan kaki ke museum zoologi dahulu. Pada kunjungan sebelumnya saya tidak sempat ke museum ini. Saya cukup amazed dengan koleksi binatang yang diawetkan di sana. Ada pula kerangka ikan paus yang besarnya tidak pernah terbanyangkan sebelumnya.

kerangka ikan paus di museum zoologi

kerangka ikan paus di museum zoologi

Petualangan sepeda kami pun dimulai😀. Saya mendapatkan sepeda gunung dan suami saya mendapatkan sepeda tanpa gigi. Kami tidak bisa memilih karena hanya sepeda itu yang tersisa. Kami mengawali rute mengelilingi pinggiran kolam besar hingga sampai ke bagian belakang istana bogor lalu kembali turun melewati taman teijsmann. Awalnya kami ingin mampir melihat kemungkinan ada bunga bangkai yang mekar. Tetapi karena petugas setempat memberitahu kami bahwa bunga bangkai sedang tidak tumbuh, kami tidak jadi mampir. Kami melanjutkan bersepeda sambil sesekali berhenti di pohon-pohon besar yang umurnya sudah ratusan tahun. Di batang pohon-pohon besar ini biasanya tertulis tahun penanamannya. Ada banyak pohon yang ditanam pada tahun 1800-an. Kalau pohon bisa ngomong, mungkin mereka merasa bahagia karena ditanaman di kebun raya, tidak seperti saudara-saudaranya yang lain yang sudah ditebang di kota-kota besar. Kami mengayuh sepeda kami ke utara menyusuri sungai yang ada di tengah kebun raya sampai di jembatan gantung merah yang konon katanya pasangan yang lewat bisa putus. Meskipun mitosnya demikian, banyak juga pasangan yang selfie di sana😀. Sungai yang membelah kebun raya bogor ini ternyata adalah sungai ciliwung yang juga membelah kota Jakarta. Aliran sungai ciliwung yang cukup deras menciptakan suara-suara gemercik air yang berpadu manis dengan hijaunya kebun raya Bogor. Rasanya menenangkan sekali mendengarkan suara aliran sungai sambil menghirup udara segar dari pepohonan hijau. Seperti terapi dari alam setelah merasa penat dengan polusi dan bisingnya kota Jakarta.

Salah satu pohon tua dari tahun 1855

Salah satu pohon tua dari tahun 1855

istirahat di bawah pohon besar

istirahat di bawah pohon besar

Bersepeda tanpa polusi

Bersepeda tanpa polusi

Dari jembatan gantung kami mengayuh ke arah taman sudjana kassan yang penuh dengan bunga berwarna-warni dan ke orchidarium. Di orchidarium ini terdapat orchid house dengan beberapa koleksi tanaman anggreknya. Walaupun mini , orchid house ini terlihat asri dan terawat. Ada beberapa koleksi tanaman anggrek yang dipajang di orchid house dengan warna bermacam-macam seperti putih, ungu, pink, kuning, coklat bahkan hijau. Dari tempat ini Saya baru tahu ternyata ada cabang ilmu biologi khusus orchid yaitu orchidologi sesuai dengan informasi yang dipaparkan di griya orchid ini. Beberapa ahli anggrek bahkan pernah melakukan penelitian tentang orchid sejak tahun 1600-an. Tampaknya bunga anggrek memang menjadi salah satu bunga istimewa di dunia biologi. Lelah bersepeda karena jalan di dalam kebun raya ini naik turun, kami beristirahat dan membeli minum di orchid house. Di dalam kebun raya memang tidak banyak penjual minuman saat weekday. Hanya di beberapa kafe milik kebun raya sendiri, dan di sisi utara hanya ada di orchid house ini.

Koleksi anggrek di orchid house

Koleksi anggrek di orchid house

Pohon besar dengan akar-akar raksasa

Pohon besar dengan akar-akar raksasa

Kami kemudian bersepeda kembali ke selatan melewati lapangan astrid dan lapangan randu yang pada hari mingu biasanya dipadati pengunjung untuk piknik. Tak lupa kami mampir di kolam teratai dengan daun super lebar. Sayang saat itu tidak ada satupun yang sedang berbunga. Kami mengayuh sepeda lagi melewati jalan-jalan aspal yang menurut saya rasanya seperti di tengah hutan. Pohon-pohon rindang di kebun raya ini memang memberikan oksigen ekstra segar di hari siang yang sangat panas sekalipun. Ada banyak tempat duduk di antara pohon-pohon rindang ini, jadi ada banyak pula tempat beristirahat untuk para pesepeda dan pejalan kaki. Karena waktu sewa kami tinggal 10 menit, kami mengayuh sepeda kembali ke pos persewaan sambil melewati taman meksiko yang penuh dengan beraneka macam kaktus dan kawan-kawannya. Trek ini lumayan berat menurut saya karena menanjak. Untung saja sepeda gunung yang saya pakai bisa diatur sampai gigi terendah. Suami saya walaupun sepedanya semi fixie tanpa gigi, ia tampak kuat-kuat saja mengayuh sepeda di tanjakan. Mungkin saya saja yang kurang olahraga. Saya cukup puas menyewa sepeda mengelilingi  kebun raya Bogor ini. Seandainya di tengah kota Jakarta ada kebun raya seluas ini, saya pasti akan sering berolahraga di sana. Dan Jakarta tidak akan kalah dengan New York dengan central parknya, hehehe, semoga saja sih khayalan saya bisa terwujud.

6 Komentar

Filed under Fun Trip, Keliling Indonesia

6 responses to “Mengelilingi kebun raya bogor dengan sepeda

  1. wah, pingin juga nyepeda di sini. Kalau eksplorasi sambil jalan kaki pasti bakal capek banget, hehehe.

  2. John

    Kalo mau nyewa sepeda hrs ada ktp?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s