Road trip ke Ngargoyoso #5 : Waterfall hopping di lereng Lawu

Sewaktu saya dan suami saya on the way menuju kemuning, kami melewati beberapa papan petunjuk arah menuju ke air terjun. Tampaknya selain kebun teh dan candi, kawasan Ngargoyoso ini juga memiliki wisata alam air terjun. Sebagai fans berat air terjun, suami saya bersikeras ingin sekalian waterfall hopping. Saya juga belum pernah sekalipun mengunjungi air terjun di kawasan ini.
Dari candi sukuh, kami kemudian menuju ke air terjun parang ijo yang letaknya hanya sekitar 2 km saja. Papan penunjuk arah menuju air terjun ini juga sangat mudah diikuti meskipun kami harus memacu motor membelah perkampungan. Awalnya saya pikir air terjun ini merupakan salah satu tempat blusukan yang belum begitu terkenal dan harus sedikit trekking menujun ke sana. Ternyata air terjun parang ijo sudah dikelola oleh pemerintah kabupaten sehingga fasilitas dan aksesnya sudah seperti tempat wisata keluarga. Dengan membayar karcis Rp 4000 per orang, kami memasuki kawasan wisata air terjun yang sangat asri dan hijau. Air terjunnya letaknya tidak jauh dari loket masuk tadi. Kami sejenak duduk di jembatan menghadap ke air terjun sambil memandangi aliran air vertikal dengan suara gemerciknya yang menenangkan pikiran. Iya, duduk-duduk manis saja sambil menatap air terjun setinggi 2o meter ini sudah bisa menghilangkan capek dan penat. Aliran airnya yang masih jernih dan alami menimbulkan sensasi dingin dan segar di kaki dan tangan kami. Selain air terjun, kawasan ini juga terkenal dengan jalur trekking yang membelah hutan di atas ketinggian 1000 meter dan permainan flying foxnya. Di tempat ini juga banyak warung makan yang menyediakan menu utama sate kelinci. Karena sudah tengah hari dan saya tidak kuat menahan lapar, maka kami makan siang di tempat ini. Saya memesan sate kelinci dengan ketupat berbumbu kacang dan irisan bawang merah serta cabe rawit. Hmmm ajib pemirsa!
air terjun parang ijo, karanganyar

air terjun parang ijo, karanganyar

air terjun parang ijo, karanganyar

air terjun parang ijo, karanganyar

sate kelinci khas lereng lawu

sate kelinci khas lereng lawu

Dari parang ijo kami kemudian mencari papan petunjuk air terjun yang lain yang sebelumnya dilihat suami saya. Papan tersebut mengarah ke air terjun Jumog. Dari jalan raya utama ke air terjun ini juga tidak begitu jauh, hanya sekitar 3 km saja dan papan petunjuknya mudah diikuti. Sebelumnya saya sering sekali mendengar cerita dari beberapa blog tentang air terjun ini. Dari foto-foto para blogger tampaknya air terjun ini indah sekali, membuat rasa penasaran saya memuncak. Setelah memarkir motor, kami menuju loket masuk air terjun Jumog. Saya membayar Rp 5000 dan suami saya membayar Rp 10.000 karena dia orang asing. Well, buat kami perbedaan harga tiket lokal dan internasional asal itu masih masuk akal dan sesuai dengan yang tertera di tiket tidaklah masalah. Untuk menuju ke air terjun ini ternyata kami harus menuruni sekitar 116 anak tangga,yang artinya untuk kembalipun kami juga harus menaiki 116 anak tangga. Waktu itu saya yang sudah agak capek jadi agak down karena harus naik-naik lagi. Paling saya akan meminta suami saya untuk berjalan pelan-pelan dan mendorong saya dari belakang😀 . Air terjun Jumog katanya sih biasa disebut sebagai surga yang hilang a.k.a The Lost Paradise. Ketinggianya sekitar 30 meter dan airnya deras mengalir diantara tebing yang dipenuhi oleh tumbuhan hijau menyejukkan pandangan. Hmm seperti di surga memang. Seperti halnya di parang ijo, kawasan ini juga sudah dikelola dengan baik dengan fasilitas yang lengkap. Di air terjun ini kami juga hanya duduk-duduk manis sambil menatap air terjun sambil sesekali mencelupkan tangan dan kaki kami di aliran airnya yang menyegarkan. Viewing the waterfall for stress relieved dari hiruk pikuknya kesibukan kota yang biasa kami alami.

aliran sungai alami menyejukkan mata di Jumog

aliran sungai alami menyejukkan mata di Jumog

air terjun jumog, karanganyar

air terjun jumog, karanganyar

Setelah air terjun jumog, saya kemudian membawa suami saya keluar dari Ngargoyoso menuju ke sebuah air terjun yang letaknya jauh dari Jumog. Waktu saya kecil dan masih muda dahulu saya beberapa kali berkunjung ke tempat ini. Tempat yang sangat terkenal dan sangat touristy yaitu air terjun grojogan sewu di tawangmangu. Waktu itu pengen aja sih pamer ke suami, ini nih di Indonesia ada air terjun yang tinggi dan gedhe banget. Waktu sampai di loket saya kaget karena untuk turis mancanegara tarif yang tertera adalah Rp 160.000 dan untuk lokal Rp 18.000. Saya melongo sambil membuka dompet saya sambil berseru mahal amat! Hufftt ternyata sudah jauh-jauh ke sini harga tiketnya ga masuk akal. Saya kemudian mundur teratur dan suami saya pun mengerti kalau harga karcis masuknya mahal. Seorang bapak-bapak dari loket tersebut kemudian menghampiri saya dan bertanya apakah tiketnya terlalu mahal? Saya jawab iya dan saya juga bilang tidak semua orang asing itu orang kaya, banyak yang pelajar juga. Saya juga bilang harganya beda tidak apa-apa pak, asal jangan keterlaluan, Rp 50.000 masih ga papa. Bapak itu kemudian memberikan 2 tiket lokal kepada saya. Tampaknya bapak itu kasian kepada kami berdua yang keliatan shock melihat harga tiket tadi. Maaf ya sudah membuat bapak berbohong memberikan tiket lokal kepada suami saya. Kami kemudian menapaki sekitar 300an anak tangga turun menuju ke grojogan sewu. Jumlah anak tangga yang lebih banyak dari air terjun Jumog tadi. Sampai di bawah suami saya excited sekali. Ini adalah pertama kalinya ia mengunjungi air terjun yang besar dengan banyak bias-bias warna pelangi di sekitarnya. Ia tidak menyangka ada air terjun sekeren ini di Jawa Tengah😀 . Grojogan sewu menjadi akhir dari waterfall hopping kami hari itu karena hari sudah mulai sore. Saya yakin sih di lereng gunung lawu nan indah ini masih banyak menyimpan air terjun yang lain yang tidak kalah dari yang kami sudah kunjungi. Kapan-kapan lagi mungkin ?

ada yang sedang nampang di grojogan sewu, karanganyar

ada yang sedang nampang di grojogan sewu, karanganyar

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

2 responses to “Road trip ke Ngargoyoso #5 : Waterfall hopping di lereng Lawu

  1. Aku sempet mbatin pas awal mbaca judul artikelmu ini mbak, apa suamimu nanti ya kena mahalnya Grojogan Sewu. Eh, ternyata bisa dinego toh. Apa kalian juga menjelaskan klo kalian itu pasangan suami-istri jadi bisa mulus negonya gitu?

    • Aku ga bilang suami istri kok, cuma nunjukin kalau ga kuat bayar aja sambil melongo lihat papan harga. Mungkin petugasnya kasihan liat kami yang pas kucel-kucel gitu😀.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s