My first walk in Paris : Pont des Arts & La Seine

Pemandangan sungai La Seine dari Pont des Arts di akhir musim dingin yang mendung

Pemandangan sungai La Seine dari Pont des Arts di akhir musim dingin yang mendung

Sore itu kaki saya sudah gatel pengen jalan-jalan ke tempat yang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Suami saya kemudian mengajak saya jalan-jalan ke tempat biasanya ia jogging atau sekedar nongkrong melihat sungai La Seine. Buat dia sih biasa, tapi buat saya yang baru pertama kali ke Paris dan buat para traveler-traveler dari seluruh penjuru dunia yang datang ke Paris, tempat ini adalah salah satu destinasi andalan kota ini. Pont des Arts adalah sebuah jembatan sungai La Seine yang berada di tengah-tengah kota Paris dan menghubungkan Institut de France dengan central square Palais du Louvre. Pont des Arts adalah jembatan yang terbuat dari besi yang pertama kali dibangun di Paris pada tahun 1802.Jembatan ini sempat rusak karena perang dunia, tetapi kemudian dibangun kembali pada tahun 1981. Ternyata jembatan ini juga merupakan salah satu UNESCO heritage site di Paris.

Pont des Arts yang ramai dikunjungi wisatawan

Pont des Arts yang ramai dikunjungi wisatawan

Saya pertama kali tahu tentang Pont des Arts malah dari sebuah film Jepang, Nodame Chantabile. Digambarkan sebuah adegan Nodame berjalan melintasi jembatan ini dengan Chiaki senpai , lelaki yang ia sukai. Sekarang saya ga mau kalah dunk, berjalan bergandengan tangan dengan suami saya di Pont des Arts sambil menyelami atmosfer romantis kota ini. Jembatan besi yang seharusnya lebih dikenal sebagai jembatan seni tempat para seniman, pelukis dan fotografer untuk mengekspresikan jiwa seni mereka, tampaknya kalah saing dengan jargon lain sebagai jembatan cinta. Pont des Arts adalah salah satu jembatan di dunia yang dipakai para wisatawan untuk menambatkan gembok-gembok cinta mereka. Konon katanya jika pasangan datang ke jembatan ini menambatkan gembok dengan nama mereka berdua, kemudian membuang kuncinya ke sungai La Seine, cinta mereka tak kan terpisahkan. Benar saja, di sepanjang kanan dan kiri pagar jembatan ini dipenuhi dengan gembok-gembok berwarna-warni. Saking penuhnya banyak gembok yang ditautkan di gembok lain atau malah ditambatkan di tiang-tiang lampu jembatan. Banyak pula coretan dari tip ex dan pylox di jembatan ini. Duh, ternyata yang namanya vandalisme dan aksi corat-coret itu ada di mana-mana. Tega bener sih corat-coret di heritage site. Nah awal mulanya ada banyak gembok di Pont des Arts ternyata baru dimulai tahun 2008. Dan ternyata memasang gembok di jembatan ini sebenarnya tidak baik untuk konstruksi jembatan ini yang bisa mengakibatkan ambruknya jembatan ini. So, lebih baik jangan nambahin love locks di sini deh. Nambahin love lock nya di hati aja🙂. Ada banyak aksi romantis lainnya yang bisa dilakukan pasangan di jembatan ini, seperti berjalan sambil bergandengan tangan, berciuman atau malah melamar pasangan!

Gembok-gembok cinta di Pont des Arts

Gembok-gembok cinta di Pont des Arts

Gembok cinta di tiang lampu

Gembok cinta di tiang lampu

Dari pont des arts kami kemudian berjalan ke bawah jembatan menyusuri pinggiran sungai la seine, sungai kebanggaan masyarakat kota Paris. Sungai ini panjangnya mencapai 776 km dan merupakan jalur transportasi air utama di Paris. Perahu-perahu besar wisata lalu lalang di sungai ini tiada henti sampai menjelang malam. Meskipun air sungainya semi kecoklatan, bebek-bebek liar terlihat nyaman berenang di atasnya. Tak terlihat satupun sampah mengambang di sungai ini. Tepian sungai La Seine sangat friendly untuk berjalan-jalan, jogging atau bersantai. Ada banyak bangku-bangku yang bisa digunakan untuk piknik atau sekedar duduk-duduk. Saya berharap suatu saat nanti penataan sungai di negeri tercinta saya bisa seperti ini. Yang menurut saya unik di sepinggir sungai ini adalah perhau-perahu yang difungsikan juga sebagai tempat tinggal. Wow rumah perahu! Saya kira rumah bergerak yang unik hanya berbentuk mobil karavan saja. Ternyata perahu juga bisa didesain dan dihias sebagai tempat tinggal yang nyaman untuk penjelajah perairan. Selain menjadi tempat tinggal, ada pula perahu-perahu besar yang difungsikan sebagai rumah makan mewah, toko, perpustakaan serta tempat pesta pernikahan. Ihh saya gemes deh melihat perahu-perahu ini. Jadi pengen punya!  Mungkin di Indonesia, untuk para penjelajah perairan atau para nelayan bisa nih diterapkan. Mereka bisa memiliki rumah perahu di sepanjang sungai-sungai besar seperti sungai musi di Palembang, sungai kapuas atau sungai mahakam di Kalimantan.

Perahu-perahu di sungai La Seine yang juga menjadi tempat tinggal

Perahu-perahu di sungai La Seine yang juga menjadi tempat tinggal

Sepanjang La Seine yang dipakai untuk tempat parkir perahu

Sepanjang La Seine yang dipakai untuk tempat parkir perahu

Perahu sebagai tempat tinggal yang unik

Perahu sebagai tempat tinggal yang unik

Untuk menuju ke Pont des Arts bisa berjalalan kaki dari museum Louvre, karena letaknya persis di sebelah selatan komplek museum ini. Stasiun metro terdekat dari jembatan ini adalah Pont Neuf dari jalur no 7. Jalur bus yang berhenti di dekat jembatan ini adalah no 75 dan 76.

3 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

3 responses to “My first walk in Paris : Pont des Arts & La Seine

  1. keceee badai kak, gembok cinta bikin romantis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s