Bertandang ke Musée Carnavalet, museum tentang sejarah kota Paris

“Paris was a museum displaying exactly itself” -Jeffrey Eugenides-

Memang benar. Kota Paris itu seperti sebuah museum dengan koleksi bangunan-bangunan cantik antik nan menawan sepanjang jalan. Kota bak museum yang dicintai banyak orang dari seluruh dunia ini ternyata memiliki museumnya sendiri. Namanya Musée Carnavalet yang berisi tentang sejarah kota ini. Sebagai calon penghuni kota ini saya tentu saja penasaran dengan histori kota seribu cahaya ini. Siang hari yang cerah itu, masih dalam rangka jalan-jalan ke tempat gratisan, saya dan suami saya melangkahkan kaki menuju rue de Sévigné tempat museum ini berada. Yap! museum ini merupakan salah satu museum yang digratiskan sepanjang hari bagi para pengunjung di kota Paris. Buat traveler yang berbudget terbatas, bisa jadi alternatif museum yang bisa dikunjungi di Paris. Jika ingin menuju kemari dengan kereta metro bisa berhenti di stasiun St Paul yang berada di jalur 1. Museum ini terletak di arah utara dari stasiun St Paul.

P1070304

Lorong cantik di museum Carnavalet

Bangunan kuno museum ini ternyata merupakan bekas 2 bangunan yang dulunya merupakan mansion yaitu Hotel Carnavalet dan Hotel Le Peletier de Saint Fargeau. Ke dua bangunan ini dibeli oleh pihak pemerintah kota atas anjuran dari Georges Eugene Baron Haussman, seorang ahli tata kota pada tahun 1866. Museum yang usianya cukup tua ini, kemudian didirikan dan dibuka untuk umum pada tahun 1880. Koleksinya ribuan mulai dari lukisan, gambar, ukiran, foto kuno, furniture tua, replika, dekorasi, mata uang kuno dan masih banyak lagi. Semua koleksi tersebut berasal dari abad ke 52 sebelum masehi sampai abad ke 20. Koleksi tertuanya adalah sebuah perahu kanoe dari jaman Julius Caesar dan botol-botol kuno untuk wine serta parfum dari abad ke 4. Sebelum masuk ke museum ini setiap pengunjung diberikan karcis dan buklet satu-satu walaupun tidak membayar. Pengunjung kemudian disambut dengan sebuah taman mini bergaya borjuis yang tanaman-tanamannya dibentuk sedemikan rupa agar terlihat artistik. Seperti di Versailles tapi mini banget🙂. Ruangan pertama yang kami masuki adalah sebuah ruangan penuh dengan banner-banner komersil kuno yang dulunya sering di pasang di depan toko atau ruang-ruang usaha. Sepeti tanda gunting besar untuk salon atau barber shop, dan banner-banner toko lain yang terlihat artistik karena besinya terlihat seperti ukiran. Benar-benar vintage yang manis. Saat ini saya kira masih banyak ruang usaha, cafe, dan toko di kota ini yang masih mempertahankan banner-banner vintagenya. Di ruang ini juga dipasang sebuah box informasi kuno untuk para penghuni apartemen dan maket kuno kota Paris. Jenis bangunan apartemen memang sudah ada di kota ini sejak akhir abad ke 19.

P1070305

Taman di komplek museum Carnavalet

P1070307

Papan-papan toko, salon, dan cafe jadul yang ada di Paris

Sambil memandangi maket kota Paris, suami saya kemudian bercerita bahwa permukaan tanah di kota Paris dulu tidak setinggi sekarang. Karena pada tahun 1900-an kota ini sering terkena banjir, makanya permukaanya terhadap sungai La Seine ditinggikan. Permukaan Paris yang asli masih bisa terlihat bekasnya di pinggir sungai yang membelah kota ini. Untung saja mereka cepat menemukan solusi pada masa itu sehingga sampai sekarang kota Paris tidak pernah kena banjir lagi. Saya jadi teringat Jakarta, sepertinya sudah terlambat jika harus meninggikan permukaanya dari sunga-sungai. Seandainya saja sudah ditinggikan dari dulu mungkin akan bisa mengurangi resiko banjir. Suami saya juga bercerita sedikit soal kota Paris yang tata kotanya didesain ulang oleh Haussman pada akhir abad ke 19. Sehingga banyak jalan-jalan di kota ini yang bersimpang lima. Jika dilihat dari atas Paris tampak rapi dan tertata dengan baik. Merci monsiur Haussman.
Kami lalu mengikuti jalur kunjungan museum ini menuju ke atas. Di lantai 2 terdapat ruangan-ruangan yang menggambarkan keadaan di dalam apartemen masyarakat bourjouis Paris pada jaman dahulu. Sungguh vintage dan mewah! Iyalah semua hal yang ada di dalam museum ini kan vintage🙂. Furniture-furniture yang biasa dipakai oleh masyarakat saat itu seperti cermin, tempat tidur, kursi dan buffet juga dipajang di ruangan ini. Di tempat ini juga terdapat sebuah kamar berikut seluruh isinya yang dipindahkan dari apartemen aslinya , milik Marcel Proust. Seorang novelist dan kritikus terkenal asal Paris.
P1070314

Salon Le Bleu

P1070327

Kamar novelist Marcel Proust

Ruangan-ruangan selanjutnya berisi lukisan-lukisan yang menggambarkan kota Paris dari masa ke masa, sebelum ditemukannya kamera. Seperti saat revolusi perancis yang terjadi pada tahun 1700-an. Lukisan-lukisan yang menggambarkan kedaan kota ini dibuat oleh para pelukis ternama pada jamannya. Jaman dulu tampaknya orang-orang Paris suka sekali mengcapture moment atau situasi. Selain itu terdapat pula lorong panjang yang berisi lukisan-lukisan para penghuni kota ini dari lukisan keluarga hingga lukisan diri.Katanya salah satu lukisan diri yang dianggap menarik di museum ini adalah lukisan Mademe Sevigne dari abad ke 16. Ia disebut-sebut sebagai wanita paling cantik di Paris saat itu. Anyway kalau saya cerita semua hal tentang museum ini kok rasanya saya jadi spoiler yah? Walaupun isi semua post di blog saya spoiler sih😀. Yang jelas perjalanan kami di museum ini berakhir pada sebuah ruangan yang berisi tentang replika dan miniatur alat-alat transportasi yang digunakan sebelum abad ke 21 di Paris, seperti kereta kuda, kapal kayu, dan mobil-mobil uap kuno.

P1070332

Lukisan-lukisan diri warga kota Paris

P1070325

Aneka alat transportasi yang digunakan di kota Paris jaman dahulu

Berkunjung ke museum ini memang membawa kita ke masa-masa vintage kota seribu cahaya ini. Meskiupun kami termasuk outsider, rasanya kami terbawa nostalgia keriuhan dan hiruk pikuk masa lalu kota ini. Mungkin setiap kota perlu mempunyai museumnya sendiri, sehingga generasi mudanya jadi tahu sejarah dan perkembannya dari masa ke masa. Saya sih sebagai mbak-mbak Jogja pengennya kota Jogja punya museum sejarah juga tentang kota itu sendiri. Apalagi karena Jogja mempunyai banyak foto-foto vintage yang sayang kalau tidak dipajang secara berjejeran🙂 . Well just saying sih, kan baru dapat ilham setelah mengunjungi museum Carnavalet🙂.

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s