A biking trip antar negara Belgia – Belanda

perbatasan

Foto dulu di perbatasan

Judulnya memang agak lebay. Karena meskipun antar 2 negara jarak yang kami tempuh hanya 30 km pulang pergi😀. Jarak yang teramat sangat pendek untuk pesepeda antar negara. Kecuali kalau pesepedanya agak cemen kayak saya dan suami saya😀. Gapapa lah sekarang masih cemen, siapa tau nanti bisa sepedaan lebih jauh lagi🙂. Karena kami memang tidak punya sepeda, suami saya kemudian meminjam sepeda kepada tetangga sebelah rumah *gak modal. Ternyata tetangga suami saya di kota kecil Maldegem ini baik sekali, ia langsung meminjamkan dua sepeda sekaligus. Kata suami saya di kota ini orang-orang punya lebih dari 2 sepeda, merupakan hal yang lumrah karena sepeda adalah salah satu alat transportasi utama. Sepeda sebagai alat transportasi utama di daerah Flanders, Belgia ? Karena di kota-kota seperti Brugges dan Ghent ada bagian jalan tertentu yang memang tidak boleh dilewati oleh kendaraan bermotor. Hanya boleh dilewati sepeda dan kuda saja🙂. Cuaca yang dingin atau hangat dan jalanan yang datar memang sangat nyaman untuk bersepeda. Lagian di jalan besar pun pesepeda disediakan jalur khusus. Pesepeda sangat dimanjakan dengan berbagai fasilitas termasuk fasilitas parkir juga. Suami dan bapak mertua saya tadinya juga punya beberapa sepeda, tapi sedang rusak tak terurus di pojok gudang. Saya mendapat pinjaman sebuah city bike wanita made in Belgia dan suami saya mendapat pinjaman city bike untuk laki-laki yang juga made in Belgia. Saya baru tau selain Belanda, sepeda Belgia juga terkenal awet dan bagus.

P1070351

Sepeda-sepeda pinjaman kami🙂

Pagi itu kami berangkat jam 9 pagi supaya kami bisa mengayuh dengan santai. Tujuan kami adalah sebuah kota kecil bernama Sluis di Belanda. Karena masih awal musim semi cuaca masih agak dingin sekitar 10 derajat celcius. Saya jelas tak mau lepas dari jaket winter saya. Yang penting dipakai dulu, kalau nanti kepanasan tinggal dilepas saja🙂. Kami bersepeda di sepanjang jalur sepeda di jalan raya Aardenburgkalseide yang menghubungkan kota Maldegem, Belgia dengan beberapa kota kecil di Belanda Selatan. Seperti di kebanyakan negara Eropa, jalur kendaraan di Belgia dan Belanda berada di sebelah kanan. Jalur sepeda di sepanjang jalan raya lintas negara ini sungguh sangat nyaman karena lumayan lebar. Sebelum perbatasan Belgia-Belanda, kami melewati sebuah canal yang terlihat sangat epic dengan pohon-pohon berjejeran di sisi-sisinya. Kata suami saya kalau winter pemandangannya akan terlihat lebih epic lagi😀.

P1070350

Sebuah kanal panjang di Maldegem, Belgia

Setelah memasuki perbatasan Belanda, kami kemudian mencoba blusukan alias off the road. Kami mengambil jalan masuk ke desa dan area pertanian. Jalannya masih tanah belum diaspal😀. Wih ada juga ya jalan tanah di Belanda? Sekilas yang tampak, ternyata Belanda mempunyai area pertanian yang sangat luas juga. Pedesaanya benar-benar ndeso dengan rumah-rumah tradisional bergaya Belanda. Tapi alat-alat pertanian yang mereka gunakan terlihat canggih dan modern. Suami saya bilang traktor yang biasa digunakan tak cuma traktor biasa, mereka telah banyak mengembangkan aneka macam inovasi mesin pertanian. Seperti traktor pemanen kentang atau gandum, ketika tanaman panennya masuk ke traktor secara utuh keluar-keluar sudah menjadi butiran gandum atau kentang kupas. Karena saya selama ini tidak pernah tahu soal mesin-mesin pertanian rasanya amazed juga mendengarnya🙂. Kami juga melewati tanah-tanah pertanian yang ada orang-orangan sawah untuk mengusir burung. Ternyata sama aja di mana-mana ya?😀 . Suami saya juga bercerita lagi kalau di Belanda, tidak sembarang orang bisa menjadi petani. Mereka harus memeliki izin dan sertifikat untuk petani. Petani merupakan salah satu profesi yang dihormati dan dihargai di negara kincir angin ini. Area-area pertanian dan peternakan di negeri inipun dibagi-bagi. Hanya area-area tertentu saja yang boleh dimanfaatkan untuk bertani. Yang jelas semua regulasinya jelas sehingga area pertanian tidak bisa begitu saja menjadi area perumahan. Salut deh dengan Belanda! Saya cuma berangan-angan supaya petani di Indonesia suatu saat nanti bisa bernasib sama dengan teknologi pertanian yang inovatif.

P1070355

Off the road, jalannya masih tanah

P1070361

Orang-orangan kebun kentang🙂

Ketika kami kembali lagi ke jalan aspal, jalur sepeda kembali tersedia lagi. Bedanya kalau di jalan aspal pedesaan terkadang jalur sepedanya cuma satu tetapi tetap lebar dan nyaman juga. Kami kemudian sampai di kota Sluis jam 11 siang. Selama mengayuh sepeda ini saya teringat, banyak yang membandingkan gerakan bersepeda di Belanda atau kota-kota di negara Eropa lainnya dengan di Indonesia. Tuh negara-negara di Eropa aja pakai sepeda, kok kita yang di Indonesia malah memboroskan BBM dengan memakai mobil dan motor? Katanya sih begitu. Mengapa ga go green? mengapa tidak menghemat energi? Saya pikir memulai gerakan bersepeda di Indonesia adalah ide yang bagus. Saya mendukung juga. Tetapi ketika saya mencoba bersepeda ke tempat kerja dan ke berbagai tempat di Jogja, baru sebulan saja saya sudah menyerah. Well apalah saya ini memang gampang menyerah dengan cuaca yang sangat panas dan lalu lintas yang semrawut. Saya sering sekali hampir diserempet motor atau diklaksonin ibu-ibu nyebelin. Hello? lu liat ga gw pake sepeda dan gw udah dipinggir jalan? Rasanya saya cuma emosi dan teraniaya di atas sepeda. Nah daripada saya dipenuhi aura negatif, saya naik sepedanya pas weekend saja di Jogja. Itupun juga ke desa-desa yang jalannya masih sepi. Saya sering merasa salut sama mereka yang bertahan bersepeda di kota seperti Jogja atau Jakarta. Tapi kalau ada yang koar-koar dan maksa harus naik sepeda di Jogja untuk mengurangi polusi dan lain-lain, karena orang-orang di Eropa saja pakai sepeda, saya akan tanya balik, pernah ga ngerasain sepedaan di Eropa? Tau tidak bedanya? *Eh saya kok jadi curhat galak😀. Mungkin saya cuma seorang wanita manja karena ga kuat kalau harus idealis memakai sepeda setiap hari di Jogja. Kalau di sini mah asal bukan pas musim salju ayuuk aja tariik mang sepedaan terus😀.

P1070359

Jalur sepeda di pedesaan Belanda

Perjalanan pulang dari kota Sluis ke Maldegem, kami melewati area peternakan di Belanda. Ada peternakan ayam organik, domba organik , sapi organik sampai peternakan burung onta. Peternakan-peternakan organik ini memang areanya luas, sehingga ayam-ayam atau kambing-kambing ini tinggal dilepas saja oleh pemiliknya. Makanan-makanan mereka disebar begitu saja. Pokoknya dibuat bahagia dulu sebelum akhirnya mati disembelih😦 . Kami kemudian mendekat ke beberapa peternakan yang kami lewati. Yang menurut saya lucu adalah, ketika kami nyamperin domba-domba yang ada di sana mereka mendekat seperti memberi salam. Sungguh cute sekali😀. Karena ini pertama kalinya saya melihat domba dengan bulu tebal-tebal saya tentu saja gumun, domba-domba ini sungguh fluffy sekali seperti boneka. Selain domba putih ada juga domba fluffy yang berwarna coklat dan hitam. Kata suami saya sih domba-domba ini diternakkan bukan untuk dagingnya tetapi untuk bulunya sebagai bahan dasar wool yang mahal. Beberapa minggu sekali mereka dicukur habis. Bulu-bulunya memang cepat tumbuh hanya dalam hitungan minggu saja. Sebelum melintas kembali ke perbatasan Belgia, kami mampir sebentar muter-muter di sebuah kota kecil yang masih masuk Belanda yaitu kota Aardenburg. Kota mini penuh dengan bangunan lama yang cantik.

P1070443

Hai domba!

P1070447

The fluffy sheeps greet us

P1070452

Peternakan ayam organik di Belanda

P1070454

Domba coklat yang juga fluffy

P1070456

Kota kecil Aardenburg di Belanda

Anyway perbatasan Belanda dan Belgia tandanya cuma patok dan papan saja. Malah lebih heboh batas kabupaten di Indonesia karena sama-sama saingan bikin gapura besar-besar🙂. Meskipun demikian ketika melintas, saya sebagai orang awam bisa merasakan perbedaan antara ke dua negara ini ketika melintas. Desain-desain rumahnya berbeda. Belanda punya ciri khas tersendiri demikian juga dengan Belgia. Bentuk toko-toko dan restorannya pun juga berbeda. Sebagai contoh di Belgia banyak restoran frituur, sedangkan di Belanda ga ada. Walaupun terkesan sama dengan bahasa sama tetapi tetap saja berbeda🙂. Bersepeda lintas negara sejauh 30 km pulang balik saja sudah banyak menambah wawasan saya sebagai orang asing di Eropa. Saya jadi ketagihan pengen biking trip lagi. Semoga bisa melakukannya lagi dengan suami saya di lain kesempatan🙂.

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s