Catatan perjalanan ke Fakfak #8 : Perjalanan ke distrik Karas

Siang itu kami dijemput dengan sebuah perahu fiber bermesin dua kali 40 PK di depan pasar Tambaruni kota Fakfak. Kami akan menuju ke distrik Karas. Distrik yang katanya terjauh dari ibukota kabupaten Fakfak dan hanya bisa ditempuh lewat jalur laut. Rumor yang beredar, pada musim angin timur dari bulan agustus sampai akhir tahun, angin akan berhembus sangat kencang dan berpengaruh pada besarnya gelombang. Cerita tentang perahu-perahu yang pecah digulung ombak membuat saya begidik takut juga. Semoga saja kami selamat sampai di tujuan. Perahu fiber yang kami sewa milik orang Karas ini termasuk yang termodern di kelasnya di kabupaten Fakfak. Pemiliknya menambahkan tenda atau atap dari plastik dan kayu supaya penumpangnya tidak basah terkena ombak. Tidak usah membayangkan bisa menyewa speed boat yang canggih atau yacht seperti di Bali, perahu fiber ini saja kami sewa dengan harga Rp 10.000.000 untuk bolak-balik Fakfak – Karas. Meskipun bukan saya yang mengeluarkan uang, mendengar harga segitu saya merasa lemas. Papua oh papua, mengapa biaya transportmu begitu mahal.

perahu lintas karas yang kami sewa

perahu lintas karas yang kami sewa

Opsi termurah untuk menuju ke distrik karas adalah menumpang kapal pisang dan membayar Rp 100.000 untuk sekali jalan dari pasar Tambaruni. Hanya saja kapal pisang ini juga tidak setiap hari berangkat. Harus ngecek sewaktu-waktu ada kapal atau tidak di depan pasar. Kapal kayu ini biasanya berangkat dini hari untuk menghindari angin dan ombak, dan mempunyai waktu tempuh 8 jam. Setiap dua minggu sekali juga ada kapal perintis kmp kasuari dengan tujuan kota Kaimana yang mampir di pelabuhan Karas dengan tarif Rp 100.000 juga.

Sebelum berangkat dengan perahu fiber bernama lintas karas ini, kami berbelanja kebutuhan sehari-hari untuk dua minggu. Sebelumnya mama dari Teluk Patipi berpesan untuk siap sedia aneka kebutuhan karena takut di Karas tidak ada kios. Saya lumayan banyak membeli makanan kecil untuk teman perjalanan selama 4 jam di dalam perahu fiber.

Ceritanya wefie di dalam perahu. Ini perjalanan mahal!

Ceritanya wefie di dalam perahu. Ini perjalanan mahal!

Jam 12 tepat sehabis makan siang, kami berangkat. Kecepatan perahu fiber ini hampir setara dengan speed boat. Hanya saja ketika bertemu ombak besar rasanya kami seperti dihantam dari bawah. Tenda plastik di sekitar kami basah semua terguyur ombak. Motoristnya yang juga pemiliki perahu fiber ini kalem saja mengemudikan mesin di belakang. Ia sudah biasa bolak-balik dari kota ke Karas, bahkan dengan ombak yang besar-besar. Sampai di kampung urat dan tanjung pamali perahu kami berjalan agak melambat karena ombak di daerah ini terkenal sangat berbahaya. Di tanjung ini sudah banyak kapal dan perahu tenggelam. Puluhan orang mati tenggelam di sini😦. Secara geografis tanjung ini memang langsung berhadapan dengan laut lepas dan tidak ada pulau-pulau penghalang ombak di sekitarnya serta daratanya berbentuk tebing. Jadi kalau ada perahu terseret ombak, bisa saja terhempas di tebing-tebing itu. Seram sekali kedengaranya. Kami yang berada di dalam perahu memeluk live jacket yang sudah jauh-jauh kami bawa dari Jogja untuk keamanan.

mampir sebentar di sebuah pantai di kampung Tarak untuk mengisi bahan bakar

mampir sebentar di sebuah pantai di kampung Tarak untuk mengisi bahan bakar

Selepas tanjung Pamali ombak tenang kembali dan terlihatlah 3 pulau besar yang masing-masing terdiri dari 2 kampung. Masyarakat setempat menjuluki distrik karas sebagai 36 kampung yang artinya 3 pulau 6 kampung yaitu kampung Faur, Kiaba, Tuberwasak, Mas, Tarak dan Antalisa. Di daratan besar terdapat satu kampung bernama Malakuli yang merupakan ibukota distrik. Saya sudah tidak sabar lagi dengan petualangan selama 2 minggu di sini. Tepat setelah 4 jam perjalanan kami tiba di Malakuli. Fyuuuh baru kali ini saya merasakan berperahu senilai Rp 5 juta😀.

Akhirnya sampai di kampung Malakuli

Akhirnya sampai di kampung Malakuli

Karas on google map :

18 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

18 responses to “Catatan perjalanan ke Fakfak #8 : Perjalanan ke distrik Karas

  1. waaah… perjalanan yang menegangkan… (pake mahal lagi ya)

  2. Harga sewa kapalnya bikin deg-degan. Ternyata harga mahal juga tidak mempengaruhi kenyamanan heeee. Tapi pengalamannya juga nggak kalah mahal ini😀

  3. Rp10 juta … wow … lebih ramah kantong numpang perahu yg Rp100.000 deh. Hahaha.😀

    Tapi klo dihitung-hitung. Rp5 juta dari Fakfak – Karas. Klo per orangnya Rp100.000 berarti itu kapal muat untuk ngangkut 50 orang? Deg-degan deh klo ada orang sebanyak itu di kapal di tengah laut yg nggak bersahabat. >.<

    • Kalau kapal pisang biasanya paling ngangkut orang cuma 20 kok, soalnya banyakan pisangnya😀 . Kapalnya besar dari kayu gitu cuma mesinnya lambat dan kalau ombak besar kerasa banget goyanganya kayak dangdut😀

  4. Ini pantainya bagus ya disana
    Tapi bayar kapalnya amponn :((

  5. Mahal karena bahan bakarnya sulit kali ya? Duh, pusing juga klo mahal gitu biayanya,

  6. widiww .. sudah bayar mahal … tapi resikonya besar .. kapalnya bisa tenggelam pula ….. ck ck

  7. berbagai ragam budaya dan adat istiadat yg kental di kota pala ini
    di tunggu kedatanganya lagi di kota fakfak
    salam dari saya di fakfak papua barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s