Catatan Perjalanan ke Fakfak #9 : Cerita dari Malakuli

Tim saya dan tuan rumah serta tetangga-tetangga di Malakuli

Tim saya dan tuan rumah serta tetangga-tetangga di Malakuli

Dua minggu di distrik Karas, tim kami dibagi dua. Tim yang isinya para pria dikirim ke kampung-kampung di kepulauan, dan tim saya yang isinya 3 perempuan dan satu pria ditempatkan di kampung Malakuli. Awalnya saya iri, karena di kepulauan pemandangan bawah laut dan pantainya sungguh sangat indah. Bahkan tim jejak petualang pernah beberapa kali ke pulau-pulau tersebut karena taman lautnya yang masih sangat terjaga. Kampung Malakuli berada di daratan besar Papua, hanya saja akses infrastruktur jalan menuju ke pusat distrik Karas ini masih dalam tahap pembangunan. Malakuli merupakan kampung terujung timur kabupaten Fakfak dan berbatasan dengan kabupaten Kaimana. Seperti halnya kampung-kampung lain di Fakfak , kampung ini dikelilingi lautan dan hutan lebat.

anak-anak kampung sedang bermain mercon

anak-anak kampung sedang bermain mercon

Selama di perjalanan berperahu menuju kampung Malakuli, saya membayangkan bahwa kampung ini dihuni oleh penduduk asli dan suku-suku pedalaman. Ternyata dugaan saya salah. Kampung besar yang terdiri dari 7 RT ini bagaikan Indonesia mini di kabupaten Fakfak. Penduduknya sangat heterogen dari berbagai macam suku di Indonesia dari pulau Sumatera sampai penduduk asli Papua. Bahkan populasi terbesarnya merupakan orang-orang Maluku dari Tual, Kai, Gorom dan Geser. Perkawinan campur berbagai macam suku menjadi hal yang biasa di sini. Ada ibu-ibu jawa yang bersuamikan orang Timor, Ada ibu-ibu sunda menikah dengan orang Buton. Ada mama-mama Papua suaminya orang Maluku. Penduduk asli kebanyakan tinggal di kepulauan di Karas.
Mengapa ada banyak orang dari berbagai macam penjuru Indonesia tinggal di sini? Karena eh karena di tahun 90-an terdapat sebuah perusahaan kayu lapis bertaraf internasional di kampung ini. Perusahaan ini merekrut tenaga kerja dari berbagai daerah di Indonesia secara besar-besaran. Mereka dibuatkan mess dan asrama dengan fasilitas listrik. Bayangkan, di awal tahun 90-an di pedalaman sudah ada listrik dari generator. Pada tahun 2003  perusahaan ini lama-lama mengalami penurunan produksi dan akhirnya bangkrut. Karyawannya otomatis terkena PHK dan banyak yang pulang ke kampung masing-masing. Meskipun demikian banyak pula yang masih bertahan di sini dan berganti profesi dari karyawan pabrik menjadi nelayan, pemilik kios, pemburu, petani , kontraktor, buruh lepas dan lain-lain. Para eks karyawan pabrik ini bercerita bahwa pada masa-masa perusahaan masih berjaya , kampung ini terang benderang dan selalu full musik. Setiap akhir pekan perusahaan menggelar acara hiburan untuk para karyawan untuk menghilangkan penat. Orang-orang berjualan ada di mana-mana. Hidup terasa sangat mudah. Bagi para eks karyawan yang sukses dengan berdagang atau profesi barunya, hidup masih terasa mudah bahkan ada beberapa yang sangat sukses. Tetapi bagi mereka yang tidak bisa bertahan, mereka terpaksa hidup apa adanya di sini dan enggan jika harus pulang kampung. Jika harus bertahan, biasanya mereka menjadi petani pisang dan memperoleh penghasilan lumayan dari menjual pisang kepada para pembeli tetap yaitu pemilik kapal-kapal pisang. Para eks karyawan dan penduduk kampung Malakuli juga terlihat mandiri tidak mengharapkan bahan-bahan pangan import dari kota Fakfak.Mereka terbiasa bertanam sayur, buah , singkong dan terkadang mencari ikan sendiri. Bahkan ada pula yang memiliki sawah, bertani padi.
bangunan eks perusahaan di malakuli

bangunan eks perusahaan di malakuli

Kebun sayur sawi di malakuli

Kebun sayur sawi di malakuli

melon van malakuli

melon van malakuli

Kami tinggal dengan sebuah keluarga yang bekerja sebagai staf distrik. Bapak blasteran Papua dan Maluku, Ibu asli Maluku.Listrik di rumah ini menggunakan tenaga surya dan genset pribadi. Setiap hari kami dimasakkan aneka sayur-mayur,gulai daging,ikan laut, sea food bahkan mie bakso oleh ibu tuan rumah. Pokoknya makanan tidak seterbatas yang saya bayangkan. Sebelumnya yang saya bayangkan tentang kampung Malakuli yang jauh dari mana-mana ini adalah makanannya terbatas dan susah cari kios atau warung. Ternyata tidak! Kios ada di mana-mana dan jualannya macam-macam, tidak seperti di distrik teluk patipi sebelumnya.Harga-harga juga lebih murah di sini daripada di Teluk Patipi.  Satu kilo cumi-cumi harganya Rp 10.000. Ikan satu ikat sekitar 2 kg harganya juga Rp 10.000. Harga teh kotak di sini ternyata cuma Rp 5000 saja, seperti di kota Fakfak.Harga koko krunch kecil Rp 2000 dan harga momogi juga cuma Rp 1000.😀 . Bagaimana bisa ya? kampung yang lebih susah aksesnya harga-harga malah lebih murah? Kalau dihitung secara matematis kan ga begini? Akibatnya saya jadi keseringan jajan di warung di sini.

Dari kios sayur, toko baju, butik,kios jajanan, kios es pisang ijo sampai toko sepeda ada di Malakuli. Toko-toko di Malakuli juga lumayan lengkap dagangannya. Bahkan saya menemukan merek-merek tertentu yang hanya bisa dibeli di supermarkat di Jogja.  Kalau saya siang-siang lapar dan pengen jajan, saya tinggal jalan kaki ke warung coto makassar, nasi kuning dan sate lontong yang ada di RT 02 atau ke warung gado-gado, nasi campur dan bakso yang ada di RT 04. Satu porsi aneka makanan ini hanya Rp 10.000 saja dan porsinya banyak. Warung coto dan sate ini kadang-kadang menggunakan daging sapi kadang-kadang menggunakan daging rusa. Tergantung para pemburu dapatnya daging apa.

Sate daging rusa Rp 10.000

Sate daging rusa Rp 10.000

Pemburu dan penjerat adalah salah satu profesi yang paling unik menurut saya di kampung Malakuli. Yang berprofesi menjadi pemburu tidak hanya orang-orang asli dari Papua, tetapi para eks karyawan dari Jawa, Sumatera dan lain-lain. Mereka harus berjalan kaki berkilo-kilo meter atau mendayung perahu menuju ke hutan dan memasang jerat di sana. Jika beruntung mereka akan mendapatkan satu ekor sapi. Jika sapinya masih hidup dan masih bisa dipelihara, mereka akan memelihara sapi ini atau menjualnya hidup-hidup seharga Rp 7000.000. Jika mereka merasa susah menggiring sapi ini, mereka menyembelih sapi ini di tempat dan biasanya yang beragama muslim yang bertugas menyembelih. Satu kilo daging sapi dijual Rp 35.000 saja di kampung Malakuli. Saya cuma bisa melongo mendengar harganya yang cuma segitu. Tampaknya kelangkaan dan mahalnya daging sapi di seluruh Indonesia tidak berlaku di sini. Kelebihan daging sapi tadi dimasukkan ke lemari beku dan dikirim ke kota Fakfak dengan kapal pisang. Saya heran juga, kok bisa sih ada banyak sapi di hutan? Ternyata eh ternyata pada saat jaman perusahaan dulu ada seorang saudagar besar yang beternak sapi di Malakuli dan jumlahnya ratusan. Kandang sapi tersebut jebol dan semua sapinya kabur lari ke hutan kemudian teriakku *Ehh. Sapi-sapi tersebut hidup bahagia beranak pinak di hutan sampai akhirnya negara api menyerang *Ehh. Para pemburu datang menjerat😀 .

Sapi-sapi yang dijerat kemudian dipelihara

Sapi-sapi yang dijerat kemudian dipelihara

Selain sapi, para penjerat ini lebih banyak mendapatkan rusa dan babi hutan. Daging rusa di Malakuli satu kilo dijual Rp 25.000. Satu ekor rusa hidup dihargai Rp 700.000. Populasi rusa di hutan di sekitar Karas ini memang sangat banyak, hanya seperti hewan berkeliaran di mana-mana. Begitu pula dengan babi hutan. Biasanyanya jika seorang penjerat beragama muslim mendapatkan babi hutan, ia akan menyerahkannya secara cuma-cuma untuk tetangganya yang non muslim. Suatu hari saya mendapat ajakan dari seorang ibu asli Jawa untuk berburu di hutan dan tinggal di pondoknya di hutan. Wow tawaran menarik dari seorang ibu pemburu. Ia bilang untuk menuju ke rumah pohonnya yang ada di hutan harus naik motor dulu 7 km dan berjalan kaki lagi 10 km masuk ke hutan. Ia sering sekali bertemu ular besar  dan kasuari ketika menuju ke pondoknya. Bahkan menurutnya ada banyak hal-hal aneh yang ia temui di hutan. Seandainya saja saya ke Malakuli tidak ketika bertugas, pasti saya akan mengiyakan tawaran si Ibu. Memang kalau jalan-jalannya karena tugas jadi ga bisa bebas ke mana-mana *curhat😀 .

Rusa liar yang dipelihara penduduk

Rusa liar yang dipelihara penduduk

Kesimpulan saya selama berada di kampung Malakuli, saya jadi tidak bisa memetakan harga di Papua. Buktinya kampung lebih terpencil terkadang malah bisa lebih mandiri secara pangan dan harga-harga barang sama dengan kota Fakfak. Mungkin heterogenitas penduduk dan sejarah tentang adanya perusahaan inilah yang berpengaruh besar terhadap kemandirian mereka sendiri.

8 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

8 responses to “Catatan Perjalanan ke Fakfak #9 : Cerita dari Malakuli

  1. Oke! #bantingkeyboard
    Mari kita ke Malakuli mbak usai dirimu dinas lapangan!😀
    Nggak terima aku 2 kg ikan cuma Rp10.000, Apalagi 1 kg daging sapi yg hanya Rp35.000.😀

    Eh, apa karena di sana itu melimpah SDA sedangkan populasinya sedikit ya? Jadinya lebih besar penawaran drpd permintaan dan akibatnya harga2nya murah meriyah.

    Cerita-ceritamu di pelosok Papua ini menarik banget mbak. Bakal lebih menarik lagi klo dirimu bilang di sekitar Malakuli ini ada air terjun yg belum terjamah.😀

    (ngitung duit di rekening, siap2 bikin proposal anggaran)

    • Iya kalau mau dimaksimalin sih SDA nya buanyaaak *ngiri. Populasi satu kampung paling400 KK. Aku kemarin cuma ke pantai aja😀 , aku udah nulis di post yg baru. Kalau di daerah karas sih terkenal dengan air terjun kiti-kiti , gua tapak tangan sama tempat-tempat snorkelingnya. Tapi tim ku ga kebagian jatah ke sana😦 , kalau biaya sendiri hitunganya jut….buat sewa perahu lagi.

  2. Ahahaha anak kecilnya main mercon yang kece gitu, kayak bazooka😀

    GILAAAAK !!? harga ikan sama cumi kok murah disana ? di jogja sini gilak mahalnya -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s