Cerita dari Cambodia #1 : Hari pertama di Siem Reap

Welcome to the Kingdom of Cambodia! Tulisan besar ini terbaca dengan jelas ketika saya turun dari pesawat Air Asia yang baru saja menerbangkan saya dari Kuala Lumpur. Rute terbaik untuk seorang warga Yogyakarta seperti saya ketika ingin mengunjungi negara-negara di Indochina atau negara Asia lainnya memang lewat Kuala Lumpur. Selain lebih murah dari Singapura, transit di KL juga menawarkan banyak pilihan, ngemper bisa, nginep di hotel juga bisa😀. Anyway! Wohooo new country unlocked! Senang sekali saya tiba di Siem Reap dengan selamat. Sebagai WNI saya tak perlu ngantri untuk membayar VOA yang mahal, tinggal ngecapin paspor saja dan saya diberi kesempatan tinggal selama 30 hari di Kamboja. Keluar dari bandara saya disambut oleh suami saya tercinta❤ . Kami memang sengaja janjian jalan-jalan keliling Kamboja selama 11 hari. Kebetulan waktu kedatangan suami saya dan saya hanya selang 3 jam, jadi ia setia menunggu saya diluar🙂 . Kami dijemput oleh seorang pengemudi tuktuk secara gratis dari guest house tempat kami menginap.

Pub street di kota Siem Reap

Pub street di kota Siem Reap

Memilih penginapan di kota Siem Reap sebenarnya sangat mudah karena pilihannya banyak. Dari kamar dorm seharga 5$ sampai hotel berbintang 5 ada semua. Hotel-hotel dan guest house yang terjangkau juga banyak pilihannya. Kami memilih menginap di Siem Reap Green Home Guest House yang terletak di Wat Bo road karena mempunyai review yang cukup bagus, gratis sarapan pagi, gratis jemputan di bandara, lokasinya strategis dan yang pasti harganya terjangkau. Kamar dengan fasilitas AC, king size bed, air panas dan TV per malamnya seharga 18$. Penginapan ini juga menyediakan tour dengan tuktuk dengan harga pasti dan wajar. Karyawan guest house ini juga ramah-ramah dan baik-baik, kalau perlu bantuan seperti menawar harga tuktuk mereka dengan senang hati akan membantu.

Selain ruang tidur, masing-masing kamar di Siem Reap green home guest house juga punya ruang tamu sendiri-sendiri

Selain ruang tidur, masing-masing kamar di Siem Reap green home guest house juga punya ruang tamu sendiri-sendiri

Hari pertama di Siem Reap kami hanya berkeliling kota saja karena sisa waktu kami tinggal sore dan malam hari. Kami jalan kaki dari hotel menuju ke pusat keramaian Siem Reap. Kami jalan-jalan untuk melihat night market yang memang dikhusukan untuk turis membeli pernak-pernik khas Kamboja. Night market di kota Siem Reap ini tak hanya satu dan letaknya berdekatan tidak jauh dari pub street. Ada angkor night market, Siem Reap art centre night market, old market, noon night market dan masih ada beberapa lagi. Pub street merupakan kawasan turis seperti di Khao San road Bangkok jadi isinya adalah restoran, bar dan toko-toko untuk turis. Semakin malam kawasan ini semakin rame, rame juga dengan turis-turis mabuk *uppss. Selain barang-barang kerajinan, aksesoris, kaos khas Kamboja serta sandal havainas palsu, night market di kota siem reap juga menyediakan massage on the street seperti di Thailand. Well saya jadi membandingkan night market ini dengan yang ada di Thailand. Banyak barang-barang Thailand yang dijual di sini hanya saja harganya berubah menjadi lebih mahal apalagi karena Kamboja memakai dollar sebagai alat tukar untuk pendatang. Tadinya saya sempat tergiur untuk membeli beberapa aksesoris, tapi karena harganya mahal saya ga jadi beli deh. Mungkin ceritanya akan lain kalau dollar masih Rp 9.000😀.  Kerajinan-kerajinan original dari Kamboja yang dijual di night market kebanyakan berupa replika-replika kecil candi-candi yang ada di Siem Reap, bahannya seperti patung-patung replika yang dijual di Borobudur dan Prambanan.

Noon night market, salah satu night market yang ada di Siem Reap

Noon night market, salah satu night market yang ada di Siem Reap

Di sudut Angkor night market Siem Reap

Di sudut Angkor night market Siem Reap

Salah satu vendorl street food di Siem Reap

Salah satu vendor street food di Siem Reap

Makan malam pertama kami di Kamboja berada di sebuah warung tanpa tenda di pinggir jalan tak jauh dari pub street. Warung ini memasang menu jadi kami bisa melihat dahulu harganya. Rata-rata untuk sepiring makanan harganya 2$ dan untuk minuman harganya dari 50 cent sampai 1 $. Harga sekaleng bir lebih murah dari pada sebotol air putih. Sekaleng bir harganya 50 cent sedangkan sebotol air putih 75 cent. Well welcome to the country where beer is cheaper than water! hehehe. Saya memesan satu piring mie goreng ayam dan sekaleng bir. Porsi mie gorengnya besar dan ayamnya banyak!😀 , kalau di Indonesia mungkin harganya kurang lebih sama dengan ayam sebanyak ini. Kami menghabiskan pas 5$ untuk makan berdua. Buat saya ini sih masih kemahalan😛, semoga nantinya kami bisa nemu tempat-tempat makan yang lebih terjangkau *wink. Saya jadi penasaran kalau makan di restoran untuk turis harganya jadi berapa yah? Markicob besok. Meskipun kami sebenarnya sudah siap kalau backpacking di Kamboja jatuhnya akan lebih mahal daripada negara-negara Indochina yang lain, tapi bertransaksi dengan dollar di negara Asia rasanya aneh buat saya. Mungkin karena kelipatan per 1$ terlalu besar untuk orang Indonesia seperti saya🙂 . But this is Cambodia men! Let’s enjoy!

Makan malam pertama di pinggir jalan

Makan malam pertama di pinggir jalan

Mie khas Kamboja dengan ayam yang banyak :)

Mie khas Kamboja dengan ayam yang banyak🙂

Bir 50 cent!

Bir 50 cent!

2 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

2 responses to “Cerita dari Cambodia #1 : Hari pertama di Siem Reap

  1. Yawla kangen Kamboja. Berasa kaya banget kalau traveling ke Kamboja, secara murah banget! Beer Kambojanya itu ena’ dan murah :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s