Cerita dari Cambodia #2 : Angkor Wat

Selamat pagi kota Siem Reap! Hari itu kami tidak bangun pagi-pagi demi mengejar sunrise di Angkor Wat karena tidur terlalu larut. Rencananya kami akan membeli tiket untuk 3 hari agar keesokan harinya kalau memang tergiur untuk melihat sunrise, kami tinggal jalan saja. Kami dijemput oleh pak Sela, sopir tuktuk yang bekerja untuk guest house tempat kami menginap, jam 9 pagi. Semua biaya tur dengan tuktuk kami bayar ke guest house. Biayanya 14$ untuk tur kecil dan 18$ untuk tur besar. Hari itu kami berencana untuk tur kecil dahulu. Sebenarnya dan sesungguhnya opsi paling murah untuk candi hopping di Angkor adalah dengan menyewa sepeda. Sebagian besar guest house di Siem Reap menyediakan persewaan sepeda seharga 1 sampai 3 dollar sehari, tergantung tipe sepedanya. Tapi, berhubung kami sudah agak manulo menggenjot sepeda ke Angkor merupakan pilihan yang tidak direkomendasikan. Jarak dari pusat kota ke Angkor memang hanya sekitar 7 km. Tetapi tenaga yang dikeluarkan tidak hanya untuk menggenjot sepeda saja. Kami perlu tenaga untuk mengelilingi dan mendaki candi-candi tersebut dengan jalan kaki. Jarak antar candi di komplek Angkor juga tergolong lumayan, sekitar 3 km.

Siap berkeliling dengan tuk-tuk

Siap berkeliling dengan tuk-tuk

Kanal yang mengelilingi Angkor Wat

Kanal yang mengelilingi Angkor Wat

Hari itu kami menurut saja pada pak supir tuk-tuk, terserah ia mau membawa kami ke candi yang mana saja😀. Menurut list yang saya telusuri dari beberapa website tentang candi-candi di Angkor, dalam radius 12 km dari kota Siem Reap saja jumlahnya 41 candi. Dan total candi-candi Angkor adalah 49 candi. Buset! banyak bener candinya, ga mungkin lah bisa mengunjungi satu per satu dalam kurun waktu 2 hari. Lagian kami tidak suka jalan-jalan dan terburu-buru karena harus mengunjungi semuanya. Lebih baik mengunjungi beberapa candi saja tapi kami bisa menikmati dengan damai keindahan bangunannya. Saya tidak bisa membayangkan kalau para maniak candi atau maniak arkeologi seperti teman-teman dari bol brutu berkunjung kemari. Pasti mereka sangat bahagia sekaligus bingung harus menghabiskan waktu untuk pengamatan di candi mana saja.

3 days pass of Angkor temples

3 days pass of Angkor temples

Kami sengaja berhemat dengan tidak ditemani guide. Kami mendapatkan pinjaman sebuah buku dengan judul Ancient Angkor karya Michael Freeman dan Claude Jacques dari seorang teman sebagai bekal jalan-jalan di komplek Angkor. Selain itu informasi tentang sejarah singkat Angkor juga terdapat di majalah Siem Reap Angkor visitor guide yang bisa didapatkan secara gratis di setiap penginapan atau restaurant. Sampai di gerbang komplek Angkor, kami berhenti terlebih dahulu untuk membeli tiket. Kami membeli tiket untuk 3 hari seharga 40$, yang bisa digunakan selama 1 minggu dari hari pembelian tiket. Mahal sih, tetapi tiket itu sudah mencakup ke 49 candi. Untuk mengunjungi komplek candi-candi ini disarankan untuk memakai pakaian tertutup dan sopan seperti baju yang menutupi lengan serta celana panjang di bawah lutut. Well kita kan berkunjung ke tempat-tempat suci yang juga masih digunakan untuk ibadah oleh umat Buddha dan Hindu, so hormatilah mereka dengan berpakaian sopan.

Penuh dengan pengunjung

Penuh dengan pengunjung

Begitu kami membelah hutan yang mengelilingi candi-candi Angkor, saya takjub. Hutan lebat super hijau ini masih terjaga dengan baik. Sesekali kami melihat kera ekor panjang sedang bermain di pinggir jalan. Tak berapa lama sampailah kami di Angkor Wat. Candi yang paling terkenal di komplek Angkor. Angkor Wat dikelilingi danau buatan berusia ratusan tahun, sehingga terlihat sangat epic dengan kesan megah. Persis seperti imajinasi saya tentang bangunan-bangunan kerajaan jaman dahulu kala. Pagi itu pengunjung Angkor Wat buanyak sekali, padahal kami sudah datang saat low season. Jadi kalau high season orangnya akan sebanyak apa ya?

Siap menjelajahi Angkor Wat

Siap menjelajahi Angkor Wat

Angkor dalam bahasa Khmer berarti ibu kota suci. Khmer adalah etnik grup terbesar yang mendiami daratan Kamboja sampai saat ini. Angkor adalah ibu kota kerajaan Khmer dari abad ke 9 sampai abad ke 12 masehi. Angkor Wat merupakan komplek candi hindu seluas 162 hektar yang dibangun pada abad ke 12. Di akhir abad ke 12 candi ini berubah fungsinya menjadi candi Buddha. Angkor Wat dibangun oleh raja Suryawarman II yang didedikasikan untuk dewa Wisnu. Angkor Wat sendiri dalam bahasa Khmer berarti city of temples. Konon menurut legenda pembangunan candi ini dibantu oleh mahkluk-mahluk halus dalam kurun waktu semalam saja. Candi ini mengalami sejarah panjang dari masa ke masa. Pada saat Khmer merah berkuasa di Kamboja, candi ini sempat menjadi tempat adu senjata. Oleh karena itu di beberapa dinding candi ditemukan bekas-bekas hantaman peluru. Angkor Wat mulai populer sebagai destinasi wisata di awal tahun 90an dan akhirnya masuk ke dalam daftar UNESCO world heritage site pada tahun 1992.

Seorang bhiksu juga tak mau kalah bergaya di depan kamera :)

Seorang bhiksu juga tak mau kalah bergaya di depan kamera🙂

Altar Buddha yang dipenuhi umat untuk berdoa

Altar Buddha yang dipenuhi umat untuk berdoa

Salah satu sudut bangunan benteng luar di Angkor Wat

Salah satu sudut bangunan benteng luar di Angkor Wat

Kami menapaki komplek bangunan yang terbuat dari batu pasir ini dari ruangan ke ruangan dengan perasaan takjub. Bangunan yang dikenal bergaya classic Khmer ini memang mengagumkan. Orang-orang Asia pada jaman dahulu hebat-hebat kan? Tak kalah dengan peradaban barat. Sayangnya tak banyak kisah epic atau kisah-kisah kerajaan di Indochina yang diangkat ke layar lebar seperti kisah-kisah kerajaan Romawi atau kisah-kisah raja Britania Raya😦 . Well yea sejarah memang masih mengarah ke dunia barat. Di beberapa sudut Angkor Wat terdapat beberapa patung Buddha yang didekorasi layaknya altar untuk berdoa. Para pengunjung yang beragama Buddha berdoa dari altar ke altar sambil membawa persembahan berupa dupa atau bunga. Biksu dan bikhuni pun banyak terlihat berdoa dan berwisata di candi ini.

Salah satu relief di bangunan benteng luar

Salah satu relief di bangunan benteng luar

Sebuah relief di pilar Angkor Wat

Sebuah relief di pilar Angkor Wat

Bangunan candi ini terdiri dari 2 bagian yaitu bangunan benteng luar dan bangunan pusat yang disebut sebagai bakan. Di bangunan pusat terdapat 5 tower. Empat tower di sudut dan satu tower utama yang ada di tengah. Kalau menurut saya bentuknya hampir mirip dengan gaya stupa di candi Prambanan karena mengerucut ke atas. Di beberapa dinding candi terdapat relief-relief yang menggambarkan para dewata Hindu dan tulisan-tulisan berhuruf sanskrit. Untuk memasuki area bakan, pengunjung diharuskan mengantri karena semua orang tidak bisa masuk sekaligus. Hanya diijinkan 100 orang saja secara bergantian. Setiap orang yang masuk dibekali kartu pengunjung. Pengunjung juga diharuskan berpakaian sangat sopan untuk memasuki area bakan. Pengunjung yang mengenakan rok atau celana pendek di atas lutut atau pakaian tanpa lengan tidak diijinkan untuk masuk sama sekali.Untung saja pakaian yang kami kenakan sudah sesuai standar.  Pengunjung yang sedang hamil dan memiliki penyakit jantung juga tidak diperkenankan untuk masuk ke area Bakan karena tangganya sangat curam.

Tangga menuju bakan

Tangga menuju bakan

Pahatan di dinding bagian bakan

Pahatan di dinding bagian bakan bergaya Khmer kuno

Bangunan tower utama yang terletak di pusat Angkor Wat

Bangunan tower utama yang terletak di pusat Angkor Wat

Pemandangan gerbang utama Angkor Wat dari atas bakan

Pemandangan gerbang utama Angkor Wat dari atas bakan

Sebuah patung Buddha dan Naga di dalam area bakan

Sebuah patung Buddha dan Naga di dalam area bakan

Dari bakan, saya dan suami saya kemudian berjalan menuju bagian belakang komplek Angkor Wat supaya kami bisa melihat keseluruhan bangunan. Bagian belakang Angkor Wat memang tampak lebih sepi dari pada dari depan yang penuh sesak dengan manusia. Take a deep breath dan nikmatilah keindahan bangunan candi megah ini🙂 . Dari halaman belakang, kami lalu berjalan menuju sebuah koridor yang berada di benteng luar. Dinding-dinding di sepanjang koridor ini dipenuhi dengan relief yang merupakan cuplikan cerita epos Ramayana dan Mahabarata. Relief yang dipahat di dinding ini terlihat sangat halus dan indah. Bayangkan dinding sepanjang ini dipahat secara halus dan tanpa kesalahan pahatan. Cerita dalam relief ini dipahat berlawanan arah dari jarum jam. Cuplikan utama cerita yang dipahat di dinding ini adalah pertarungan di Alengka ketika Rama mengalahkan Rahwana dan pertarungan Kurusetra antara Pandawa dan Kurawa. Di sisi selatan koridor ini juga terdapat relief tentang pengankatan raja Suryawarman II, relief 32 tingkatan neraka dan relief 37 tingkatan surga dalam agama Hindu. Di sisi timur terdapat relief-relief Azura dan Dewata dan di sisi utara terdapat relief cerita tentang dewa Krishna.

Sudut bangunan luar Angkor Wat di sebelah timur laut

Sudut bangunan luar Angkor Wat di sebelah timur laut

Angkor Wat dilihat dari belakang

Angkor Wat dilihat dari belakang

Kembali lagi ke dalam menyusuri lorong relief

Kembali lagi ke dalam menyusuri lorong relief

Koridor dengan dinding penuh dengan relief di Angkor Wat

Koridor dengan dinding penuh dengan relief di Angkor Wat

Potongan relief perang kurusetra dari cerita epos Mahabarata

Potongan relief perang kurusetra dari cerita epos Mahabarata

Relief cerita tentang dewa Krishna

Relief cerita tentang dewa Krishna

Angkor Wat

Angkor Wat

Tak terasa kami sudah menghabiskan waktu 3 jam lebih berkeliling Angkor Wat. Jika ingin benar-benar mengamati semuanya seharian pun tak akan cukup. Tak salah memang kalau Angkor Wat ada di dalam bucket list para traveler dari seluruh dunia, termasuk bucket list saya🙂. Penjelajahan Angkor Wat kami kemudian berakhir dengan sebuah kelapa muda seharga 1 dollar yang dijual di warung-warung bagian utara candi ini. Recharge dulu sebelum menjelajahi candi-candi yang lain hari itu juga🙂 .

10 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

10 responses to “Cerita dari Cambodia #2 : Angkor Wat

  1. Wahh deretan candinya itu kalau mau didatengin semuaaa butuh waktu dan tenaga lebih ya

  2. aku suka banget ama bayon itu kak

  3. Saya termasuk penikmat Angkor hihihi.. sampai ngliatin relief di dindingnya pelan-pelan… tetapi tetap saja selalu rasanya ga pernah bosan, apalagi berada di kehijauan hutan sekitarnya itu, asik banget yaa…

  4. Aaah reliefnya bagus :”) kalau di indo itu kayak prambanan deh ya😀

    sukaaa😀 cerita yang menyenangkan😀

  5. Ping-balik: Cerita dari Cambodia #4 : Temple hopping hari pertama di Siem Reap | Kelanakecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s