Cerita dari Cambodia #6 : Kena Tipu di Tonle Sap Lake, Duh!

Siang menjelang sore hari setelah temple hopping, supir tuktuk kami menawarkan trip ke Tonle Sap Lake, danau terluas dan terbesar di Kamboja. Tarifnya 10$ pulang dan pergi dari kota Siem Reap. Di danau ini terdapat beberapa desa terapung yang untuk menuju ke sana harus menggunakan perahu. Pak supir bilang dari rumah-rumah, warung, sekolah dan bangunan lain-lainya terapung semua. Karena kami memang tidak ada rencana apa-apa kami mengiyakan saja tanpa membaca reviewnya terlebih dahulu. Terlalu spontan memang! Jarak terdekat peer perahu di Tonle Sap Lake adalah 17 km dari kota Siem Reap, sekitar 30 menit dengan tuktuk. Kami sangat menikmati pemandangan perkampungan dan rawa-rawa sepanjang perjalanan.

Penduduk desa terapung mendayung perahu

Penduduk desa terapung mendayung perahu

Sesampainya di peer perahu, ternyata harga tiketnya mahal banget 20$ per orang, setara masuk komplek candi Angkor selama satu hari. Awalnya kami sempat ragu-ragu untuk ke kampung terapung tersebut. Tetapi karena sudah terlanjur ada di sana, dan penjaga tiketnya bilang uang tersebut juga akan disumbangkan kepada masyarakat miskin di kampung terapung, kami akhirnya membayar juga. 40$ untuk dua orang *lemas. Saya pikir kami akan naik perahu bersama dengan wisatawan-wisatawan yang lain, ternyata kami mendapatkan satu perahu sendiri lengkap dengan satu pemandu, sebut saja mr X. Mr X ini pada awalnya sangat ramah dan bahasa inggrisnya juga lumayan bagus. Sepanjang perjalanan mengarungi sungai Siem Reap menuju ke kampung terapung yang berada di pinggir danau Tonle Sap, ia menerangkan tentang keberadaan kampung tersebut. ia bilang semua rumah di sana terapung. Untuk bepergian dari rumah ke rumah masing-masing keluarga mempunyai perahu dayung kecil. Danau Tonle Sap ini tak seperti bayangan saya sebelumnya, saya pikir suasana di sini akan sejuk dan hijau, ternyata panas sekali dan terkesan gersang. Air sungai dan danaunya pun coklat keruh. Jujur, ga indah sama sekali buat saya. Sesampainya di kampung terapung kami ditunjukkan deretan rumah-rumah , sekolah dan warung-warung terapung.

Kampung terapung di Tonle Sap Lake

Kampung terapung di Tonle Sap Lake

Salah satu toko terpung di pinggir hutan manggrove Tonle Sap Lake

Salah satu toko terpung di pinggir hutan manggrove Tonle Sap Lake

Mr X kemudian bercerita bahwa semua murid di sekolah terapung tersebut yatim piatu dan hanya mengandalkan makanan dari sumbangan penduduk setempat dan para turis. Ia bilang untuk membantu mereka lebih baik jangan dengan uang tetapi dengan bahan makanan yang bisa dibeli di warung-warung terapung. Setelah berputar-putar kampung dan berputar-putar di danau sebentar, ia mengajak kami ke salah satu warung terapung. Kami memang waktu itu berniat membantu tapi yaa sukarela lah. Kami dipertemukan dengan pemilik warung. Jualanya hanya sedikit seperti beras, mie instant dan makanan kecil. Pemilik warung menyuruh kami untuk membeli satu karung beras besar seharga 50$ atau satu karung kecil 30$. Buset!! mahal amat! Pemilik warung bilang anak-anak di sekolah butuh beras, jadi lebih baik membeli beras. Tidak ada opsi beras lain selain itu. Ia bilang harga beras yang ia jual lebih murah dari pada di daratan. Saya benar-benar merasa aneh, kalau ini event charity kenapa harus dipatok untuk membeli beras seharga 30 atau 50$ mahal banget? Pada awalnya saya sih hanya ingin menyumbang 5 atau 10 dollar saja. Namanya sumbangan kan seikhlasnya? Lagian ada banyak turis yang mengunjungi kampung mereka. Tiba-tiba suami saya malah mengeluarkan uang 20$ dari dompetnya. Duh! Meskipun sudah menyumbang 20$ untuk makan anak-anak sekolah, si pemilik warung malah berkata 20$ dapat apa? cuma satu dus mie instant saja. Buset satu dus mie instant kok 20$ mahal amat?? Ia bilang mie instant tidak baik untuk kesehatan mereka. Ia tampak memandang sinis kepada kami dan berkata seperti itu berulang-ulang. Lha piye tho pak? disumbang 20$ tetep raono roso maturnuwun malah ngonekke? Rasanya saya pengen memaki-maki memakai bahasa Jawa sekalian! 20$ yang itu…rasanya saya ga ikhlas.

Tonle Sap Lake yang terlihat seperti lautan

Tonle Sap Lake yang terlihat seperti lautan

Suami saya kemudian menahan saya dan menuntun saya kembali ke perahu. Mood saya sudah jelek banget saat itu. Kami awalnya berniat makan di salah satu restoran terapung di sana, tetapi karena harganya mahal-mahal dan nafsu makan saya turun drastis akhirnya kami memutuskan untuk kembali saja ke peer. Sepanjang perjalanan kembali, MR X masih dengan santainya bercerita tentang keluarganya yang miskin. Ia bilang ia harus membiayai adik-adiknya untuk sekolah. Dengan perasaan tak bersalah ia kemudian meminta tips dari kami 10$ untuk dia dan 10$ untuk sopir perahu. Tips kok ngarani? Suami saya kemudian bilang tidak, kami sudah membayar 40$ untuk naik ke perahu ini, kamu sudah dapat uang dari situ, mengapa kami harus membayar lagi? Sesampainya di peer kami langsung cabut menuju tuktuk balik ke kota Siem Reap.

Sekolah terapung

Sekolah terapung

Setelah mendapat sinyal internet kami baru sadar kalau Tonle Sap Lake mendapatkan review yang begitu buruk dari wisatawan yang aware kalau mereka ditipu. Wisata ke kampung miskin dengan cerita yang dibuat-buat adalah cara mereka scamming dan mendapatkan uang dari para turis. Pemandu wisata perahu biasanya memang sudah bekerja sama dengan pemilik warung. Menurut beberapa review yang bersekolah di sekolah itu bukan anak yatim piatu melainkan anak-anak kampung yang masih punya orang tua. Duh! Kok ya kami ga baca review dulu sih? Dan saya baru ingat, teman saya salah satu anggota Couchsurfing dari Kamboja sendiri bahkan tidak menganjurkan kami ke sana malam sebelumnya. Kok lupa sih? Saya merasa oon. Ah ya sudahlah, ini merupakan pengalaman berharga untuk kami. Saya hanya tidak ingin seseorang yang membaca postingan saya ini bernasib sama dengan kami. Hati-hati saja jika berkunjung ke Tonle Sap Lake! atau sebaiknya sih ga usah ke sana🙂, not worth it.

7 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

7 responses to “Cerita dari Cambodia #6 : Kena Tipu di Tonle Sap Lake, Duh!

  1. ih bacanya jadi langsung sebel sama yg punya warung itu, sekalian sama si Mr. X juga, untung mbak dan suami gk jadi ngasih Tips ya ke mereka

    • Wah kalau tips sih udah too much, udah ketauan banget. Apalagi karena sebelumnya dia cerita kalau dia miskin dan harus nanggung sekolah 4 orang adik, kesanya kayak dibuat-buat.

  2. penipu memang ada dimana mana
    waspadalah .. waspadalah ..😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s