Cerita dari Cambodia #7 : Mengintip kemeriahan bon om touk water festival di Siem Reap

Saya pikir bulan november di Kamboja itu paling low season untuk kunjungan wisata. Ternyata tidak. Bulan november termasuk bulan yang padat pengunjung karena di bulan ini terdapat salah satu festival yang dirayakan penduduk se-Kamboja. Namanya adalah festival bon om touk. Dalam bahasa Inggris berarti water festival. Festival ini dirayakan sebagai ucapan terimakasih kepada Buddha atas air yang mengalir di sungai Tonle Sap dan sungai-sungai lainnya. Festival bon om tuk terbesar dirayakan di Phnom Penh. Kota-kota lain seperti Siem Reap juga tak mau kalah meriah dalam festival ini. Di Siem Reap festival ini terpusat di sungai Siem Reap yang membelah kota ini. Nama kota dan nama sungainya ternyata sama🙂. Karena kebetulan kami berada di Siem Reap selama 4 hari dan guest house tempat kami menginap berada tak jauh dari sungai, maka saya dan suami sayapun ikut-ikutan dalam kemeriahan festival ini.

Jalanan di pinggiran sungai dipadati pengunjung

Jalanan di pinggiran sungai dipadati pengunjung

Balapan perahu antar desa untuk memeriahkan bon om touk

Balapan perahu antar desa untuk memeriahkan bon om touk

Festival ini diadakan selama 3 hari 3 malam. Selama 3 hari itu, para penduduk dari desa-desa di sekitar kota Siem Reap bergabung dengan penduduk kota, berkumpul bersama dan menginap di pinggir-pinggir sungai. Mereka sampai bela-belain membangun tenda dan membawa sound sistem lengkap dengan genset dari desa mereka untuk memeriahkan acara. Masing-masing desa berlomba-lomba untuk menyanyi, bermain musik dan menari setiap malam. Meriah sekali memang.  Masing-masing desa juga membawa perahu dan kontingen andalan mereka untuk mengikuti lomba dayung antar desa. Lomba ini diadakan setiap sore sampai senja hari. Pas lagi rame-ramenya lomba balap perahu, kami sampai tak kebagian tempat untuk menonton saking padetnya orang yang menonton😀. Setiap desa atau institusi pemerintahan setempat juga membuat perahu hias yang dinamakan dengan bandaet pratip. Perahu hias dengan lampu warna-warni ini dijalankan sekitar pukul 7 malam sehabis lomba balap perahu. Warga Siem Reap dan sekitarnya juga melaksanakan upacara yang disebut dengan sampeah preah khae, yaitu upacara dan doa bersama yang dipersembahkan kepada bulan. Setelah upacara ini mereka makan bersama-sama dengan menu yang disebut dengan ak ambok, sajian yang terbuat dari nasi.

beberapa bandaet pratip di sungai Siem Reap

beberapa bandaet pratip di sungai Siem Reap

Kemeriahan festival ini semakin ramai dengan adanya para pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, pakaian, mainan dan lain-lain. Aneka macam jajanan dari martabak ala Kamboja, serangga goreng sampai manisan buah ada semua. Selain itu banyak juga perusahaan-perusahaan komersil yang menggelar pameran seperti pameran motor, mobil, alat elektronik, handphone dan bir dengan tenda-tenda besar di pinggir jalan. Beberapa pemainan ala pasar malam seperti komidi putar dan kora-kora juga dipasang di halaman-halaman kantor kota Siem Reap. Yang mengejutkan di antara stand-stand komersil ini ternyata ada stand indomie juga🙂 . Wiih indomie diminati juga ya di Kamboja. Jalanan dan jembatan di sepanjang sungai penuh dengan lampu-lampu berwarna-warni menambah suasana malam semakin gemerlap. Di sudut jalan utama juga diletakkan foto raja Kamboja dengan bingkai lampu yang bersinar terang.

penjual manisan buah dan serangga goreng :)

penjual manisan buah dan serangga goreng🙂

Eh ada indomie!

Eh ada indomie!

Jembatan penuh dengan gemerlap lampu

Jembatan penuh dengan gemerlap lampu

Foto raja Kamboja yang dihias dengan lampu-lampu

Foto raja Kamboja yang dihias dengan lampu-lampu

Malam terakhir bon om tuk merupakan malam yang paling meriah. Setelah final lomba balap perahu, masyarakat berlomba-lomba untuk melarung hiasan-hiasan berbentuk bunga lotus yang diberi lilin ke sungai Siem Reap. Sebelum melarung mereka make a wish dulu supaya mendapatkan kelancaran dan kebahagiaan di dalam hidup. Dulunya sih mereka harus membuat sendiri hiasan-hiasan ini, tapi sekarang banyak sekali penjual-penjual yang berjejeran di pinggiran sungai. Mereka tinggal membeli seharga 5 sampai 10 dollar. Malam itu sungai Siem Reap menjadi penuh dengan cahaya lilin. Cantik sekali! Well, kalau saya sih berharap hiasan-hiasan ini tidak menjadi tumpukan sampah keesokan harinya. Puncaknya malam itu ditutup dengan pertunjukan aneka kesenian tradisional di panggung utama dan pesta kembang api silih berganti. Setiap kebudayaan memiliki caranya sendiri untuk bersyukur dan bersenang-senang🙂 .  Meskipun harus berdesak-desakan dengan banyak pengunjung kami sangat senang berada di sini melihat masyarakat Siem Reap bersenang-senang dengan cara mereka sendiri melalui festival bon om tuk. Kesenangan bisa menular juga kan? Happy bon om tuk everyone!

lotus-lotus yang dijual

lotus-lotus yang dijual

Malam terakhir bon om touk di sungai Siem Reap

Malam terakhir bon om touk di sungai Siem Reap

5 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

5 responses to “Cerita dari Cambodia #7 : Mengintip kemeriahan bon om touk water festival di Siem Reap

  1. suka banget ama pasar malamnya kak

  2. festival malam di pinggir sungai jadi terlihat lebih berbeda …
    btw … jangan sampai jauh2 kesana makan mie lagi mie lagi …😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s