Cerita dari Cambodia #10 : Sejarah kelam di Tuol Sleng

Tuktuk yang kami tumpangi mengarah ke sebuah gedung bekas sekolah SMA yang cukup terkenal di kota Phnom Penh. Gedung ini sekarang menjadi sebuah museum yang bercerita tentang sejarah kelam kekuasaan rezim Khmer merah atau dalam bahasa inggris disebut Khmer rouge. Saya jadi ingat, dulu waktu SD, tayangan dunia dalam berita dari TVRI sering sekali melaporkan tentang kejadian di Kamboja yang berhubungan dengan Khmer merah. Sebagai anak kecil nan lugu, rasanya seram sekali mendengar berita tentang kekejaman partai ini di Kamboja. Tak taunya berita yang terngiang-ngiang di kepala saya waktu itu membawa saya ke Tuol Sleng siang itu. Saya dan suami saya sebelumnya memang berencana mengunjungi salah satu tempat yang bercerita tentang kejadian genocide atau pembantaian besar-besaran di negeri ini. Pilihannya ada dua ke museum Tuol Sleng atau ke Choeung Ek killing field. Kami memilih ke Tuol Sleng karena letaknya di tengah kota Phnom Penh. Baru memasuki gerbang Tuol Sleng saja perasaan saya sudah tidak enak. Bukan karena gedung ini dianggap angker karena banyak yang meninggal di sini, tetapi rasanya hawa-hawa tak berperikemanusiaan masih bersemayam di tiap sudutnya. Kami membayar tiket seharga 2$ untuk bisa berkeliling di dalamnya. Setiap pengunjung dilarang mengambil foto bagian dalam museum ini. Jadi saya hanya bisa mengambil gambar dari luar saja.

P1090620

Gerbang Tuol Sleng Genocide Museum

Museum ini terdiri dari beberapa gedung yang masing-masing bertingkat 3. Bentuk dan desain gedung ini benar-benar masih seperti sekolah. Saya malah jadi teringat gedung-gedung sekolah tua dalam drama dan film Jepang. Terutama film Jepang Battle Royal yang seram itu. Rasanya mirip. Hanya saja di bagian tembok luarnya terdapat gulungan kawat berduri yang mengitari komplek ini. Pada tahun 1975 Pol Pot, pemimpin utama rezim Khmer merah mengubah sekolah ini menjadi camp konsentrasi S-21. Sebuah camp keamanan terbesar di republik demokrasi Kamboja. Namanya sih camp keamanan di republik demokrasi, tapi kejadian-kejadian di dalamnya sama sekali bertolak belakang dengan demokrasi. S-21 camp ini pada tahun 1975 sampai tahun 1979 menjadi tempat yang sangat menyeramkan pagi para tahanan-tahanan di dalamnya. Siapa saja tahanan-tahanan tersebut? Mereka adalah orang-orang yang mempunyai perbedaan-perbedaan ideologi dengan Khmer merah atau mereka-mereka yang dianggap berbahaya oleh Khmer merah. Mereka adalah para seniman, dokter, guru, teknisi, insinyur, menteri, pelajar bahkan para bangsawan dan anggota kerajaan Kamboja. Tak hanya itu, seluruh anggota keluarga mereka dari istri, dan anak-anak mereka yang masih kecil-kecil pun dipenjara dan disiksa dengan mengerikan di sini. Tidak hanya orang asli Khmer, beberapa tahanan berasal dari negara-negara lain. Wartawan-wartawan luar negeri yang meliput kejadian waktu itu, banyak pula yang terkena apes menjadi tahanan di Tuol Sleng. Mereka yang tak berdosa pun dianggap harus mengakui kesalahan yang tak mereka lakukan dengan berbagai macam siksaan. So inhuman😦.

P1090600

Peraturan untuk para tahanan S-21

P1090604

Lorong gedung 1

Gedung pertama di museum ini terdiri dari ruangan-ruangan dengan banyak tempat tidur besi. Para tahanan tersebut dibaringkan dan diikat di atas tempat tidur ini. Mereka disiksa, dari mulai dicambuk, dicabuti kukunya, disengat listrik hingga dituangkan alkohol di luka-luka mereka. Saya tak mampu lagi membayangkan karena terlalu kejam. Di beberapa bagian lantai dan tembok gedung ini masih terlihat ceceran darah-darah kering para tahanan yang tak bisa lagi dibersihkan. Alat-alat untuk menyiksapun ditampilkan di sini, entah apa saja, saat itu saya tak mau melihatnya. Di depan gedung ini terdapat makam-makam mereka yang meninggal karena disiksa. Tepat di samping makam terdapat sebuah tiang kayu 3 sisi. Sewaktu masih menjadi sekolah tiang ini difungsikan untuk latihan fisik dan olahraga para siswa. Saat menjadi camp S-12, tiang ini menjadi tiang interogasi tahanan. Mereka digantung dengan tambang dan dicambuki. Ketika mereka tak sadarkan diri, para petugas memasukkan kepala mereka ke dalam air kotor yang sangat bau. So sick😦 .

P1090606

Tempat tidur untuk menyiksa tahanan

P1090610

Tiang interogasi dan makam-makam para korban

Gedung selanjutnya berisi tentang foto-foto para korban yang jumlahnya entah berapa, saking banyaknya. Dari foto-foto orang yang sudah sangat tua hingga anak-anak kecil tak berdosa dipaparkan di sini. Bebeberapa saksi hidup, para korban kekejaman rezim Pol Pot yang bisa bertahan sampai sekarang juga diungkap ceritanya di sini. Pastilah mereka mengalami trauma yang sangat mendalam. Tak hanya para tahanan, cerita tentang para penyiksa dan petinggi-petinggi Khmer merah yang akhirnya menghadapi sidang di pengadilan internasional pun diungkap di sini. Para petugas-petugas di camp ini yang dulu hanya bawahan dan prajurit juga diceritakan di sini. Kebanyakan dari mereka sangat menyesal telah bergabung dengan Khmer merah, tetapi tak tahu harus berbuat apa karena hanya diperintah. Jika melawan mereka dan keluarganya akan ikut disiksa juga.

P1090607

Gedung ke dua di Tuol Sleng

Gedung ke tiga adalah penjara. Bagian luar gedung tertutup rapat dengan kawat-kawat yang tajam, sehingga tak memungkinkan bagi para tahanan untuk melarikan diri.  Ruangan-ruangan yang dulunya adalah kelas dirubah menjadi penjara-penjara sempit yang benar-benar sangat sempit. Lebarnya hanya setengah meter saja. Tahanan tak bisa berbaring di dalamnya. Penjara-penjara ini ada yang terbuat dari kayu dan ada yang memang dari tembok kasar. Para tahanan sehari-harinya hanya diberi sedikit makanan dan air, bahkan terkadang tidak diberi makan sama sekali. Mereka juga tak diberi sanitasi yang baik, sehingga harus buang air di dalam ruangan penjara😦. Semakin dalam kami menjelajah museum ini, rasanya semakin merinding, semakin ngeri dan semakin sakit hati kami. Bagaimana bisa sesama manusia menyiksa manusia lain dengan cara yang sangat kejam dan tanpa hati nurani? Are they all psycho or something?

P1090615

Lorong panjang gedung penjara di Tuol Sleng genocide museum

Gedung terakhir juga berisi tentang foto-foto para korban dan bekas-bekas pakaian-pakaian yang mereka kenakan. Serta barang-barang lain para korban. Tumpukan tengkorak dan tulang-benulang korban juga disimpan di lantai satu gedung ini. Pengelola museum ini berinisitaif untuk membuatkan altar Buddha yang besar agar para pengunjung museum bisa ikut berdoa bersama sambil menyalakan dupa. Semoga saja mereka yang meninggal disiksa di camp ini tenang dan bahagia di sisi Tuhan YME. Kami kemudian melangkah keluar ke sebuah gedung kecil tak jauh dari sana. Seorang saksi hidup yang selamat dari korban penyiksaan rezim Pol Pot, sehari-hari datang ke museum ini. Ia menjual sebuah buku tentang kisah hidupnya sambil meladeni pengunjung-pengunjung yang ingin mewawancarainya. Ia tampak sudah renta. Sehat selalu ya pak. Rezim yang kejam itu telah kalah sekarang. Dari majalah Phnom Penh visitor guide, akibat kekejaman Pol Pot dan Khmer merah populasi manusia di kamboja menjadi berkurang drastis seperempat hingga sepertiganya😦 . Kita yang di Indonesia setidaknya masih lebih beruntung karena pada akhir tahun 70-an tidak mempunyai pengalaman seburuk ini yang membunuh orang-orang dari bangsa sendiri. Well, atau mungkin lebih tersamarkan ya?Kami kemudian keluar museum ini dengan gontai, rasanya tertekan melihat semua yang ada di dalam. Semoga saja kejadian-kejadian seperti ini tak terjadi lagi di belahan bumi manapun. Why would you spread hate and fear when you can spread peace and love?

16 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

16 responses to “Cerita dari Cambodia #10 : Sejarah kelam di Tuol Sleng

  1. Bikin mules ya kesitu… Saya dua kali kesana, yang kedua agak terpaksa krn hrs nemenin tamunya teman. Jadi inget, naik ke lt2 bersama-sama dg turis lain yang ga kita kenal, mereka juga gitu, dan turunnya pun sama-sama… padahal waktu itu jam12 siang!
    Tapi untung mba, ga ke Choeung Ek, krn kalo kesitu ya melengkapi kehorroran Tuol Sleng dengan penuh keheningan. Waktu pertama kali, saya ke Tuol Sleng trus ke Choeung Ek, hari itu juga pulang ke jkt, rasanya mules2 selama perjalanan pulang keingetan. Masih untung pas pulang ke jkt, jadi ga harus tidur sendirian hihihi… tapi kalo saya rank, tuol sleng lebih menghancurkan hati drpd choeung ek.

    • Ga kuat lagi kalau harus ke Choeung Ek😦 . Rasanya emang kayak abis lihat tempat kejadian nyata pembantaian dari para psikopat massal. Pas bagian ilustrasi gambar-gambar cara penyiksaan saya cuma bisa tutup mata. Cukup sekali saja yang penting tau sejarahnya🙂 . Hebat kalau 2 kali bisa ke situ mah.

  2. jadi makin penasaran ama kamboja kak dlu cuma sampe siam riep dong

  3. aku ke Killing Field dulu sebelum diantar ke Tuol Sleng ini, hawanya nggak enak trip kok ke kuburan dan bekas tempat penyiksaan. Tapi jadi bersyukur ya, generasi kita nggak ngalamin penyiksaan macam itu. Dan … ini jd sejarah yang bikin belajar juga kunjungan ke dua tempat itu.

  4. hiyyy .. ngeri banget … ya jadi inget jaman dulu berita di tvri ya ..
    meskipun serem … tapi penasaran juga mau lihat kalau kesana ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s