Cerita dari Cambodia #11 : Mencoba menu bebakaran ala Khmer di Phnom Penh

Sekembalinya dari Tuol Sleng Genocide museum kami tak berselera makan sama sekali. Padahal terakhir makan adalah jam 6 pagi. Kami baru bisa makan siang jam 4 lebih, karena sudah terlalu lapar. Selama kami berjalan-jalan di kota Phnom Penh, kami penasaran dengan banyaknya pedagang daging bakar yang ada di pinggir-pinggir jalan. Sepertinya aneka macam daging bakar ini termasuk salah satu menu favorit bagi masyarakat lokal. Kami ingin mencobanya🙂. Saya dan suami saya kemudian mampir di salah satu warung daging bakar secara random. Entah apa nama warungnya, kami tidak tahu karena semua ditulis memakai huruf Khmer. Warung ini tampak ramai dengan bapak-bapak berpakaian kerja yang makan bersama dengan rekan-rekannya. Saya jadi teringat dengan warung-warung sate kambing yang ada di Jogja, biasanya ramai dengan bapak-bapak kantoran juga🙂

Aneka daging bakar ala Khmer di Phnom Penh

Aneka daging bakar ala Khmer di Phnom Penh

Semua menu makanan di warung ini harganya sama semua yaitu 2$ dan minuman harganya 50 cent sampai 1$. Cukup murah untuk sajian daging-dagingan. Semua dagingnya dibakar dan dijejer-jejer di depan warung dengan alat yang cukup modern. Meskipun demikian bahan bakarnya tetap arang kayu. Mungkin supaya menjaga rasa dagingnya terasa masih tradisional. Nah ada daging apa saja di sini? Ada daging ayam, bebek, kerbau, sapi, babi dan kodok. Kalau di warung-warung lain biasanya juga disajikan daging ular bakar dan burung dara bakar. Terdengar ekstrim? Atau tertarik mencoba? Baru kali ini saya melihat daging kodok dijejer-jejer untuk dibakar dan disajikan. Kami memilih daging kerbau, karena belum pernah merasakan makan daging kerbau bakar sebelumnya.

Take a look closer yang di atas panggangan :D

Take a look closer yang di atas panggangan😀

Sebelum disajikan daging kerbau pesanan kami dipukul-pukul terlebih dahulu supaya dagingnya tidak keras. Daging kerbau bakar ini lalu disajikan dengan aneka macam saus asam dan pedas serta acar yang terbuat dari mentimun, kol dan wortel. Ternyata sajian ini memang hanya terdiri dari daging dan acar saja. Saya kira sama nasi juga. Karena kami terlalu lapar akhirnya kami minta sepiring nasi juga. Si pemilik warung sampai harus mengambil nasi di warung lain untuk kami. Terimakasih ya pak🙂. Jadinya kami makan ala Indonesia deh, nasi, lauk dan lalapan acar😀. Daging kerbau bakarnya enak, meskipun untuk standar kami agak masih keras karena terlalu well done. Mungkin karena sebelumnya juga sudah dikeringkan dahulu sebelum dibakar. Rempah-rempah yang ada di daging ini meresap sampai ke dalam. Apa saja ya bumbunya? Rasanya sangat berbeda dengan sajian daging yang pernah saya makan di kampung sendiri. Acar yang disajikan bersama daging ternyata top markotop, segar dan asam. Sepertinya memakai sedikit cuka dan jeruk nipis. Saking enaknya maka saya nambah acarnya🙂. Tak perlu membayar lagi karena tambahan acar ternyata gratis. Sambal untuk dagingnya terasa pedas dan asam, khas sambal Indochina. Kami lalu menghabiskan semuanya dalam waktu singkat. Total yang kami habiskan berdua di warung ini adalah 6$ lengkap dengan nasi dan minuman yang masing-masing seharga 1$. Cukup murah lah. Kami merasa puas makan di sini. Tetapi masih ada yang mengganjal di pikiran saya sewaktu menulis ini, nama sajian ini dalam bahasa Khmer apa sih? Kami malah lupa bertanya dan sudah googling tapi belum yakin🙂

Satu porsi menu kerbau bakar dan acar

Satu porsi menu kerbau bakar dan acar

11 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

11 responses to “Cerita dari Cambodia #11 : Mencoba menu bebakaran ala Khmer di Phnom Penh

  1. ahhhh, dulu deket pasar sempet liat tapi gak berani nyobain kuliner pinggir jalan. Bentuknya aneh-aneh kan, takut ada pork dll…

  2. Baik juga mbak penjualnya sampe mau ngambilin nasi di warung sebelah😀 hihihih

    Kalau ngeliat kodoknya, kok agak ekstrim gimana gitu ya mbak ._.

  3. Sempat makan di warung bali deket Royal Palace ga?😀

  4. orang khmer .. ternyata senang makan bakar2-an ….gile bangetttt .. segala macam daging ada … weleh2 … kalau macam2 daging begini .. saya kebayangnya di menado .. apa mereka ada hubungan ya … 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s