Cerita dari Cambodia #13 : Another walk in Phnom Penh

Sinar matahari di kota Phnom Penh sangat menyengat hari itu. Saya kira ketika saya dan suami saya di sini cuaca akan lebih adem daripada di Jogja *ngarep*. Ternyata sama aja, sama-sama panas🙂. Ngomong-omong soal transportasi umum di kota ini, menurut kami agak susah untuk ke mana-mana karena harus menggunakan tuktuk, taksi, becak atau ojek. Eh ada becak juga lho di sini🙂. Transportasi umum seperti bis hampir tak pernah terlihat. Selama kami di sana kok ga pernah lihat bis kota ya? apa emang ga ada? Masyarakat umum terlihat lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dan motor. Tarif sekali naik tuktuk di kota ini juga tergolong mahal karena menggunakan dollar. Sekali jalan bisa menghabiskan 5-7$. Karena kami memang berniat traveling hemat, kami hanya berjalan kaki saja selama di kota ini. Kami hanya menggunakan tuk tuk kalau memang terpaksa banget.

Cambodia National Museum di Phnom Penh

Cambodia National Museum di Phnom Penh

Awalnya kami ingin berjalan kaki agak jauh muter-muter kota ini. Tapi karena terlalu terik, kami akhirnya jalan-jalan di sekitar Royal Palace saja. Tak jauh dari istana kebanggaan rakyat Kamboja ini terdapat sebuah museum nasional. Jaraknya hanya 400 meter di sebelah utara Royal Palace.  Sebuah museum terbesar tentang sejarah budaya dan arkeologi kerajaan Kamboja. Biasanya sebagai pelampiasan para wisatawan yang gagal masuk Royal Palace , mereka mengunjungi museum ini karena jam buka dan tutupnya jauh lebih panjang. Museum ini baru tutup jam 5 sore. Selain itu, pada malam hari jam 7, museum ini juga menggelar pagelaran tari-tarian tradisional Khmer. Tiket masuk museum ini hanya 3$, tetapi tiket untuk pertunjukannya harganya 15$. Sebenarnya sih saya pengen banget melihat pagelaran tarinya, tapi karena mahal, ah ya sudahlah.

Halaman tengah museum nasional yang asri

Halaman tengah museum nasional yang asri

Museum nasional Kamboja ini dibangun pada tahun 1920 dengan arsitektur khas Khmer. Bentuk bangunannya megah, seperti salah satu pavilion di Royal Palace, hanya saja catnya berwarna merah tua. Menurut bukletnya sih ada 14.000 koleksi di dalamnya berupa arca, keramik, kuningan dan benda-benda etnografi. Para pengunjung dilarang mengambil foto dan video selama di dalam ruangan museum. Yang diperbolehkan hanya berfoto di luar saja. Kami kemudian menjelajah semua ruangan yang ada di sana. Koleksi terbanyak museum ini adalah arca-arca Hindhu dan Buddha yang ditemukan di seluruh penjuru negeri ini dari perbatasan Vietnam sampai perbatasan Thailand. Malah hampir semua ruangan di museum ini isinya arca semua. Saya jadi teringat bagian arca di museum nasional Jakarta, karena bentuk-bentuk arca ini mirip dengan yang ada di Indonesia. Arca-arca yang sebagian besar dipahat di batu hitam. Lingga dan Yoni berbagai ukuran juga banyak disimpan di museum ini. Di ruangan lain di museum ini dipajang benda-benda tradisional yang sering digunakan oleh masyarakat Kamboja jaman dahulu seperti kain-kain tenun, alat-alat masak perunggu, tandu dan perahu-perahu kayu. Saya terkesan dengan model perahu kayu ala Khmer ini, karena desainnya sangat cantik dan penuh dengan ukir-ukiran. Konon katanya perahu ini juga berfungsi sebagai rumah terapung karena masyarakat Khmer waktu itu banyak yang hidup di sungai dan di danau. Well sekarang kan juga masih banyak rumah-rumah terapung di Kamboja. Salah satu hal yang menarik di museum ini adalah sebuah video yang menggambarkan kehidupan orang-orang Khmer jaman dulu. Jaman ibu kota masih di Angkor. Tampak seperti di dunia persilatan yang penuh dengan ki sanak dan ni sanak🙂.
Flat dan tiang listrik di Phnom Penh

Flat dan tiang listrik di Phnom Penh

Keluar dari museum nasional kami jalan-jalan sebentar di antara bangunan flat-flat ala Phnom Penh. Hampir semua bangunan bertingkat di kota ini bentuknya sama. Seperti ruko-ruko. Bawah toko dan atasnya flat. Hal yang menarik bagi saya selama berjalan-jalan di sini adalah tiang dan kabel listrik! Sepertinya di negeri tercinta saya untelan kabel listriknya masih jauh lebih rapi. Terimakasih ya bapak-bapak petugas PLN telah mengganti kabel dengan lebih baik. Saya agak-agak takut kalau berdekatan dengan tiang listrik di Phnom Penh, soalnya terkadang ada beberapa kabel yang menjuntai. Kalau kesetrum gimana dunk?

Saya sih ga berani lewat bawah situ

Saya sih ga berani lewat bawah situ

Kami lalu berhenti di sebuah tempat makan yang penuh dengan penduduk lokal. Selain kelaparan, kami juga penasaran dengan makanan yang dijual di sana. Setelah berhasil memesan dengan bahasa isyarat, 2 porsi mie ayam ala Khmer pun mendarat di meja kami. Harganya  cuma 2$ saja, tetapi mangkoknya besar dan porsi ayamnya banyak. Ini benar-benar semangkok mie dengan potongan ayam yang ga tanggung-tanggung. Mienya mie putih yang disajikan dengan daun selada, potongan loncang dan potongan daun ketumbar. Tauge dan jeruk nipisnya disajikan terpisah. Bener-bener sajian yang ajib karena kuahnya terasa segar sekali.

Warung mie ayam di Phnom Penh

Warung mie ayam di Phnom Penh

A bowl of happiness in Phnom Penh :)

A bowl of happiness in Phnom Penh🙂

Saking panasnya hari itu, akhirnya kami tak kuat berjalan lebih jauh lagi. Kami kemudian berjalan kaki pulang ke rumah host airbnb kami sambil melewati Independence Monument. Sebuah monumen kemerdekaan yang berbentuk seperti stupa candi. Kami hanya sekedar mengambil foto saja untuk kenang-kenangan sambil berucap selamat tinggal kepada ibu kota kerajaan Kamboja ini. It was nice to be here, but maybe you’d better to fix the electricity wire🙂. Lea Phnom Penh!!

Independence Monument Phnom Penh

Independence Monument Phnom Penh

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s