Pacitan – Wonogiri Road Trip #3 : Jika aku menjadi warga kota Wonogiri

Awalnya anggota genk motor jalan-jalan kami ada 3 orang. Tapi karena salah satu anggota genk memutuskan untuk pulang ke Jogja pada hari ke dua setelah beach hopping, maka kami tinggal berdua saja. Kami berdua kemudian memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalan ke kota Wonogiri. Entah mengapa kami pengen saja ke kota Wonogiri, meskipun kota ini jarang dijadikan destinasi wisata pada umumnya. Mungkin kami lagi sok-sokan anti mainstream kali yaah?😀. Dari pesisir selatan kabupaten Wonogiri kami memacu motor ke arah utara melewati jalan Giritontro-Baturetno. Sebenernya sih kami salah jalan, seharusnya kami lewat jalan Pracimantoro-Wonogiri supaya lebih dekat dan langsung bisa mencari penginapan di pinggir waduk Gadjah Mungkur. Tetapi karena sudah terlanjur ada di tengah middle of nowhere dan kami tidak menemukan jalan pintas menuju ke jalan raya Pracimantoro-Wonogiri, akhirnya we just go with the flow, meskipun ternyata jalannya memutar jauh. Sepertinya bedanya 20 km sendiri deh!😀

Menjelang maghrib, kami baru sampai di kota Wonogiri. Whoaa it took almost 2,5 hours to get here! Sepanjang perjalanan, meskipun jalan raya tidak terlalu ramai, kami ga berani ngebut-ngebut amat karena jalannya berlubang dan bergelombang. Kami segera mencari penginapan di sekitaran kota. Berbekal buklet dari dinas pariwisata setempat, kami langsung menuju ke sebuah hotel tak jauh dari stasiun kereta api dan alun-alun kota. Eh Wonogiri punya stasiun lho! dan keretanya bisa ditempuh setiap hari dari kota Solo. Berminat? Anyway, kami mendatangi hotel diafan yang sepertinya merupakan hotel paling bagus di kota ini. Setelah semalam kami tidur di penginapan ngirit, malam ini kami pengen tidur dengan nyaman. Kami memilih kamar superior dengan rate Rp 300.000 per malam. Fasilitasnya mulai dari TV, bed yang nyaman, shower dengan air panas dan sarapan pagi. Alasan saya memilih hotel yang nyaman malam itu, juga karena saya teringat tentang pengalaman menginap di kota Wonosobo beberapa bulan yang lalu. Setelah bercapek ria naik motor selama 5 jam, saya pengen ngirit dengan tinggal di hotel tua dengan rate Rp 110.000 per malam. Eh tapi malamnya ternyata sama sekali ga bisa tidur nyenyak karena ternyata hotelnya angker. Saya dan teman saya diganggu hantu beberapa kali *fyuuuh. Semoga di hotel ini saya ga diganggu hantu yaa😀. Oya view dari hotel diafan ini juga keren banget! Apalagi pas sunrise!

Jpeg

View kota Wonogiri dari hotel Diafan

Jpeg

Kamar double bed superior di hotel Diafan

Malam harinya kami nongkrong di alun-alun Wonogiri sambil mencari makan malam di warung tenda yang banyak berjejeran. Buat saya pribadi mengunjungi sebuah kota kecil sambil nongkrong di alun-alun setempat, jajan ala orang-orang setempat dan membayangkan jika tinggal di kota ini, menjadi sebuah kegiatan yang mengasyikkan. Tinggal di kota kecil memang rasanya lebih tenang dan nyaman. Mungkin juga bisa lebih banyak menabung karena ga banyak godaan duniawi seperti belanja baju bermerk atau makan di restoran dan cafe mahal😀. Saya sebagai orang Jogja sering banget tergoda buat nyobain tempat makan atau tempat nongkrong baru. Padahal uangnya mungkin bisa ditabung buat backpacking yang jauh sekalian🙂 .
Jpeg

Sunrise cantik darihotel Diafan Wonogiri

Pagi harinya kami bermaksud jalan-jalan ke pasar tradisional dan jajan makanan tradisional. Meskipun udah sarapan di hotel sih😛. Ternyata Wonogiri juga punya car free day setiap hari minggu yang berlokasi di sepanjang JL Jend Sudirman. Kami akhirnya ga jadi ke pasar dan jalan santai di sepanjang lokasi car free day. Suasanyanya seperti pasar kaget sunday morning di UGM. Banyak yang berjualan pernak-pernik, baju, aneka jajanan, sampai promosi produk dengan mendatangkan penyanyi dangdut. Seru deh pokoknya! Kami kemudian mencoba jajanan mie kuning kenyal, yang kalau di Jogja di sebut dengan mie pentil. Di Jogja mie seperti ini sudah mulai langka. Kalau niat pengen beli ya harus blusukan ke pasar-pasar tradisional di daerah Bantul. Di Wonogiri mie ini ada di mana-mana. Mie ini biasanya dimakan dengan pecel khas Wonogiri. Kalau saya sih suka jenis mie super kenyal seperti ini. Saya dan travelmate saya, mbak Dewi, kemudian nongkrong di pinggir jalan seperti pengunjung car free day lainnya, sambil menghabiskan mie pentil. Kami masih membayangkan bagaimana rasanya kalau jadi orang asli sini. Yang jelas kalau saya tinggal di kota ini, saya sih pengen eksplore kabupaten ini lebih lanjut, ikutan jualan di car free day dan mungkin mau bangun villa di perbukitannya terus dipasarkan pakai airbnb, hehehe *just saying.

IMG_20160327_075929

Kota Wonogiri dikelilingi perbukitan hijau nan asri, rasanya adem ayem deh di sini🙂

Jpeg

Ramainya car free day di Wonogiri

IMG-20160328-WA0053

Mie kenyal kenyil yang endessss🙂

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s