Pacitan – Wonogiri Road Trip #4 : Piknik ke waduk Gadjah Mungkur dan menikmati ikan patin khas Gadjah Mungkur

Hari ke 3 road tripping dari Jogja, perjalanan mengeksplor kabupaten Wonogiri pun berlanjut. Saya dan travelmate saya, mbak Dewi, check out dari hotel Diafan jam 11 pagi. Kami langsung saja mengunjungi obyek wisata waduk Gadjah Mungkur yang letaknya hanya 13 km sebelah selatan kota Wonogiri. Anyway, selama road trip 3 hari 2 malam ini masing-masing dari kami hanya membawa tas ransel kecil ukuran 25 liter. Jadi meskipun kami bermotor ria, barang bawaan kami juga ga membebani selama di perjalanan. Selama saya nyupir motor, biasanya tas saya saya letakkan di antara stang dan jok, biar pundak saya ga kecapean.

Jpeg

Welcome to Gadjah Mungkur!

Obyek wisata waduk Gadjah Mungkur hari minggu itu dipadati pengunjung. Rombongan dengan bus, mobil bahkan sepeda motor berbondong-bondong memasuki lahan parkir obwis siang itu. Kami membayar parkir sekaligus membayar tiket masuk Rp 6000 per orang dan parkir motor Rp 3000. Helm juga wajib diparkirkan dengan membayar Rp 2000 per helm. Apa karena sering ada helm ilang ya di sini? Harus dititipkan?
Jpeg

Penjual ikan goreng di obyek wisata Gadjah Mungkur

Begitu melangkahkan kaki di sekeliling obyek wisata ini, yang menarik adalah banyaknya penjual ikan goreng yang bikin saya mendadak ngiler. Ikan-ikan ini tentunya ikan yang dipancing, dijaring atau dibudidayakan di waduk Gadjah Mungkur. Dimasak dan dibumbui ala Wonogiri. Eh! Meskipun ngiler, makan siangnya nanti dulu yaa😀. Kami bermaksud untuk mencari lesehan setelah mengitari obyek wisata ini. Anyway, karena memang obyek wisata ini didesain sebagai tempat piknik keluarga, terdapat berbagai wahana permainan anak dari ayunan sampai kereta-keretaan. Para pengunjung terlihat banyak yang menggelar tikar sambil membuka bekal makan siang mereka di taman-taman pinggir waduk dan di dalam gazebo-gazebo. Nah kami yaa nonton orang piknik saja😀 .
Jpeg

The view of Gadjah Mungkur, a man made lake

Selain nonton orang piknik😀 , kami tertarik untuk berperahu mengarungi waduk. Di lokasi ini terdapat sebuah dermaga tempat berkumpulnya perahu-perahu sewaan. Jika ingin berperahu dan bergabung dengan orang lain, cukup merogoh kocek Rp 5000 saja per orang. Tujuan perahu umum ini ke karamba yang berada di tengah waduk. Kalau ingin menyewa speed boat atau perahu secara pribadi harganya Rp 120.000 per perahu. Kami tertarik untuk menyewa speed boat siang itu. Pilihan destinasinya ada dua yaitu melihat bendungan Gadjah Mungkur atau melihat ikan patin liar berloncatan di dekat karamba. Kami memilih untuk melihat ikan patin liar. Ikan patin memang ikan khas waduk Gadjah Mungkur sejak waduk ini dibangun.
Jpeg

Narsis dari atas speed boat

Kami menaiki speed boat milik mas Erik yang warnanya oranye. Selama perjalanan ke tempat ikan patin liar, kami dibawa ngebut dan drifting di tengah-tengah waduk. Buset dah! drifting pakai speed boat! Fyuuuh untung aja kami ga jantungan, meskipun kami sempat jejeritan. Mas Erik bilang kalau libur lebaran ia biasa menarik banana boat dan donat boat di waduk ini. Pastilah penumpang banana boatnya pada jatuh semua😀. Mas Erik ini banyak bercerita tentang waduk yang luasnya ga cukup seharian untuk dikelilingi tepiannya ini. Ya iyalah luasnya aja sekitar 9000 hektar bo! Ia bilang nelayan waduk ini harus mempunyai kartu nelayan dan hanya boleh memancing atau menjaring di tempat-tempat tertentu supaya ikannya tidak cepat habis. Mereka juga diwajibkan untuk bergabung dengan kelompok-kelompok nelayan untuk menyebar bibit-bibit ikan pada bulan-bulan tertentu. Ikan yang biasa dipancing di waduk ini adalah patin dan nila, tetapi banyak pula yang menjaring wader dan udang.
Jpeg

The other green view of Gadjah Mungkur

Tak sampai 10 menit kami sampai di area karamba milik sebuah perusahaan perikanan. Karamba ini merupakan tempat beternak ikan nila untuk diekspor ke luar negeri. Ikan nilanya bukan ikan nila biasa melainkan ikan nila yang ukurannya lebih dari 5 kg. Setiap hari ikan-ikan karamba ini diberi makan berkarung-karung pelet. Saking banyaknya sih, katanya malah bikin ikannya kekenyangan. Makanan ikan-ikan nila ini banyak yang tercecer keluar karamba. Makanya di sekitar karamba-karamba ini banyak ikan patin berkumpul untuk mencari makan. Biasanya ikan patin ini hanya muncul saat keadaan hening. Oleh karena itu mas Erik segera mematikan mesin speed boatnya. Tak beberapa lama kemudian ikan-ikan patin liar ini berloncatan. Area sekitar karamba ini haram hukumnya untuk memancing. Kata mas Erik sih, ikan patin dari waduk ini ukuranya bisa gedhe-gedhe banget. Bisa 5 sampai 15 kg per ekor. Ibu-ibu penjual ikan goreng biasanya menjual ikan patin ini per potong besar, bukan per ekor karena kegedean😀.
Jpeg

Ikan patin liar berloncatan di sekitar karamba

Selepas berspeed boat ria, kami lalu meninggalkan obyek wisata ini menuju warung makan ikan yang letaknya juga berada di pinggiran waduk. Sebenernya sih pilihannya banyak banget dan salah satu restoran katanya sih merupakan favoritnya pak Jokowi🙂. Kami sih milih tempat makan secara random saja, yang penting makan ikan dengan view yang indah *cieh. Kami memilih menu ikan patin bakar dengan lalapan dan sambal. Selain ikan dan udang, warung-warung makan di pinggir waduk juga menyediakan aneka menu pepes dan telur ikan.Oya, saya sih ngebayanginnya di waduk yang luas banget ini bakalan ada rumah makan terapung atau rumah makan di atas kapal. Jadi untuk menuju ke sana pengunjung harus naik perahu dulu. Ngebayangin aja sih, siapa tau bisa menarik wisatawan, asalkan limbah dan sampahnya ga asal dibuang ke waduk. Setelah membeli setengah kilo udang goreng dan wader di warung yang sama, kami langsung pulang ke Jogja. Dan berakhirlah sudah perjalanan road trip Jogja-Pacitan-Wonogiri kami. Saya sih masih penasaran pengen jalan-jalan ke kota-kota kecil lain di sekitaran Jawa Tengah. Semoga bisa terwujud kapan-kapan🙂 .

Jpeg

Ada yang narsis lagi🙂

Jpeg

Menu pesanan kami, ikan patin bakar dan ubo rampenya

Jpeg

Bon apetit!

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s