Backpacking to Strasbourg & Colmar #1 : My first TGV ride that what a ride!

Waktu masih sekolah dulu, saya mengenal shinkansen sebagai kereta paling cepat di dunia. Kecepatanya mencapai 285 km/jam. Ini mah seperti Jogja – Lamongan ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam doank! Tentu saja saya mempunyai mimpi pengen naik shinkansen paling tidak sekali seumur hidup. Yaa kapan-kapan yaa kalau traveling ke Jepang😀, diaminin donk pliss🙂 . Saking tenarnya kereta shinkansen ini, saya malah baru ngeh kalau di Eropa, terutama di Perancis juga punya kereta cepat yang kecepatanya kurang lebih sama, namanya kereta TGV. Mungkin karena shinkansen jauh lebih populer kali yaa ? *ngeles padahal baru tahu😛 . Awalnya saya kira kereta TGV itu kecepatanya kisaran 100 km per jam lah. Saya baru tahu pas googling ketika di dalam kereta TGV dari Paris menuju ke kota Strasbourg yang berbatasan dengan Jerman. Wow! so ini bakalan menjadi pengalaman pertama saya naik kereta yang cepet bingit! Maafkan akan kendesoan saya, soalnya di Indonesia kita belum punya sih😦 .

Pagi itu kami memang berencana backpacking ke Strasbourg dan Colmar dari stasiun Gare De L’est, Paris. Jarak kota Strasbourg dari Paris adalah sekitar 500 km. Kebetulan kami mendapatkan harga tiket promo 30 euro per orang. Harga normal tiket kereta TGV ini bisa mencapai 120-250 euro per orang. Mihil bingit kan? Ketika kereta sudah siap di jalurnya, kami segera mencari gerbong dan tempat duduk. Btw eniwei busway, berbeda dengan sistem naik kereta di Indonesia yang diperiksa KTP dan tiketnya sebelum masuk ke area penumpang, di semua stasiun di Paris, sama sekali tidak ada pemeriksaan. Kecuali validasi tiket di sebuah mesin kecil tetapi hanya untuk kereta TER dan intercites. Untuk kereta TGV malah tidak ada sama sekali, pokonya naik gerbong dan langsung cari tempat duduk saja.
IMG_0098

Di dalam gerbong TGV kelas ekonomi

Ketika kereta baru mau berjalan, kami didatangi bapak-bapak dari Amerika Serikat yang bertanya tentang tiket kami karena kami menduduki tempat duduknya. Kami cuma melongo, dan suami saya menjawab sambil menunjukkan tiket kami bahwa kami sudah duduk di tempat duduk yang benar. Suami saya bilang, sebagai orang Paris, kita harus kekeuh untuk duduk di sana dan membiarkan si bapak duduk di tempat duduk lain sambil mencari kondektur kereta. Karena kalau tidak begitu, kami lah yang harus minggir dan mencari tempat duduk lain. Suami saya beralasan demikian karena kami sudah datang dan duduk duluan dengan nomor tempat duduk dan gerbong yang tertulis sesuai tiket. Si bapak kemudian duduk di tempat duduk lain yang kebetulan memang kosong. Saya waktu itu membatin, kok bisa ya negara secanggih ini bisa nyetak tiket dobel sih? Tiket kereta TGV lagi.
Setengah perjalanan kemudian, saya baru ngeh! kenapa bisa ada dua tiket. Ternyata suami saya membuking tiket untuk bulan Juli di tanggal yang sama, bukan bulan Juni hari itu. Gubraaaak! gimana ini? Suami saya langsung kaget ketika tahu dia salah buking tiket. Walaupun kaget, dia terlihat tetap tenang lalu meminta maaf kepada si bapak Amerika tadi. Si Bapak kemudian teriak-teriak ke penjuru gerbong sambil bilang “This is crazy!! one month earlier! crazy!!!” . Mungkin seisi gerbong kereta waktu itu benar-benar mengira kami gebleg banget karena salah beli tiket. Kami kemudian bermaksud menyerahkan tempat duduk itu kepada si bapak, tetapi si bapak tidak mau. Si bapak bilang buat dia tidak masalah duduk di manapun, karena kami akan bermasalah dengan kondektur kereta. Hadeeuh buset! Saya langsung panik! Perjalanan kereta cepat saat itu rasanya berubah lambaat banget. Rasanya saya pengen cepat-cepat sampai ke kota Strasbourg yang hanya 2 jam dari Paris. 2 jam terlama dalam hidupkuu😦 .
Saya kemudian membayangkan apa saja yang bisa terjadi ketika kondektur kereta datang mengecek tiket kami. Bisa-bisa kami didenda beberapa ratus euro atau harus membayar kereta harga 250 euro per orang! Buseet ga mau😦 , duitnya kan buat backpacking on tight budget, bukan buat bayar denda. Atau kami akan diturunkan di stasiun kereta api terdekat? Berhubung di negeri orang, saya takut banget melanggar peraturan. Anehnya, suami saya tetap tenang dan biasa saja. Kadang ia malah jalan-jalan di dalam gerbong. Ia bilang ia bisa menjelaskan semuanya ke kondektur kereta. Hmm kalau di Indonesia udah bakal didenda tuh karena dianggap penumpang ilegal meskipun punya bukti tiket di bulan yang berbeda.
Untuk menenangkan perasaan deg-degan saya, saya kemudian online googling soal TGV dan membuka map supaya saya tahu kami berada di mana. Masih jauh ga dari Strasbourg?  Pas membuka map, titik biru yang biasanya berjalan lambat, jadi meluncur cepat sekali di dalam map. Bener-bener cepet banget! Keretanya berarti beneran cepet banget! Hehehe. Tak terasa kami sudah sampai di Gare De Strasbourg, stasiun utama kota ini. Kami cepat-cepat turun dari kereta. Dan Voila! kami sampai di Strasbourg tanpa ada pengecekan tiket dari kondektur! Fyuuh beruntung banget kami hari itu.
Suami saya kemudian nyeletuk, ” Wah tiket kita masih bisa dipakai nih bulan depan, mau ke sini lagi ga? “
IMG_0946

Nampang dulu di depan loko TGV

3 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

3 responses to “Backpacking to Strasbourg & Colmar #1 : My first TGV ride that what a ride!

  1. Wahh beruntung banget gak ada pengecekan tiket. Waktu itu aku naik kereta Freccia Bianca dari Venice ke Luzern, karena melewati 2 negara dan ada transit di Milan, maka seharusnya punya 2 kode nomor PNR pada tiket yaitu Venice-Milan dan Milan-Luzern. Tapi PNR kode hanya diberikan satu untuk Venice-Milan dari web trenitalia. Setelah melewati Milan kami kena check dan karena gak punya PNR kode kami harus turun di Como perintah salah satu kondektur, padahal tiket kereta menunjukkan harga dan tujuan akhir sampai Luzern Swiss. Begitu dekat Como ada kondektur lain orang Swiss, kondektur Italia menanyakan keabsahan tiket kami…dan jawabannya kami boleh lanjut sampai Luzern. Duhh itu perasaan udah mules karena takut kemalaman sampai Luzern klo harus turun di Como dan rasanya seperti pesakitan dalam sidang PBB dipeributkan kondektur 2 negara😀. Walo pas dekat Luzern ada pengecekan lgi oleh kondektur wanita yang teliti bin tegas, pake dibantuin penumpang sebelah yang orang Swiss kami tetap boleh lanjut ke Luzern..Fiuhhh *elap keringet jagung.

    • Woooow! segitunya yaaah. Kadang emang yang dicetak di tiket itu beda, aku masih belum ngerti juga sistem perkeretaan di sini hehehe. Ada yang tiketnya harus dicetak di mesin di stasiun buat dapat PR code sama ada yg oke2 aja pakai tiket cetak online. Untung aja kalian sampai di Luzern yaa🙂

  2. Ping-balik: Melancong ke kastil Haut Koenigsbourg di pegunungan Alsace | Kelanakecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s