Ternyata Luxembourg kece juga! #2 : Luxembourg City traditional food and drink experience

” Jalan sore, kita berjalan-jalan sore-sore!”
Tiba-tiba lagu super jadul Denny Malik berdengung di kepala. Buset! Tuwir amat yaa guwe? Pas lagu itu ada yang jelas saya udah lahir ke dunia ini. Ups! jadi ketahuan kalau saya sudah tua 😂 .By the way , kali ini jalan-jalan sorenya mengambil tempat di tengah kota Luxembourg. Selain jalan sore, kami juga ingin mencicipi kuliner khas negara kecil ini. Isi bensin dulu sebelum membakar lemak. Walaupun lemaknya jadi lemak kuadrat 😅.
P1120940

Bagian belakang restoran Am Tiirmschen

Seperti biasa, kami gugling beberapa tempat makan dan mengecek review di trip advisor. Kami juga sempat membaca postingan soal makanan tradisional Luxembourg di wikipedia. Menurut website ensiklopedi ini makanan yang paling khas dari negara ini adalah judd mat gaardebounen. Entah bagaimana cara bacanya saya ga ngerti 😁. Yang jelas sajian ini terbuat dari daging babi pilihan dengan saus green peas yang disajikan dengan kentang sebagai pendampingnya. Uhmm, kami ga makan itu, jadi kami memilih menu tradisional lain ala Luxembourg. Katanya sih makanan khas negara kecil ini banyak dipengaruhi oleh cita rasa Perancis, Jerman dan Belgia.
IMG_6728

Gang atau passage gastronomi di kota tua Luxembourg, di dalam gang ini terdapat beberapa restoran tradisional

Dari beberapa review di trip advisor, kami mendatangi beberapa tempat makan satu per satu karena letaknya yang saling berdekatan di city centre Luxembourg. Enaknya di negara-negara Eropa adalah, menu makanan dan harga selalu dipajang di luar restoran. Seperti di Bali juga lah. Jadi pengunjung bisa memperkirakan makanan yang akan dipesan beserta perkiraan uang yang akan dikeluarkan. Tapi ternyata setelah kami mengecek beberapa restoran, harganya mahal-mahal euy, jauh dari kantong backpacker. Anehnya harga makanan sekelas brasserie dan restoran harganya sama-sama mahal. FYI brasserie adalah tempat makan semi kafe yang kebih kasual daripada restoran. Kalau harganya sama, jelas kami memilih makan di restoran langsung. Meskipun untuk pengiritan kami pesan menu plat (main course) dan minum saja. Tanpa entree (appetizer) dan dessert 😄.
IMG_6727

Pintu masuk restoran Am Tiirmschen yang nylempit

Saya dan suami saya kemudian memilih makan di restoran Am Tiirmschen, yang letaknya nylempit di kawasan gastronomi kota tua Luxembourg. Kami memilih ke sini karena pilihan menu tradisionalnya beraneka ragam. Sebenarnya sih restoran ini selalu fully booked. Tapi karena kami datang jam 6.30 sore, kami gambling saja tanpa reservasi. Ternyata masih ada sisa tempat untuk kami berdua 😊.
IMG_6718

Pojok restoran yang nyaman

Restoran tua ini, ternyata nyaman banget suasananya. Meja-mejanya benar-benar disetting ala fine dining dengan gelas-gelas wine dan serviette lebar sudah tersedia di atasnya. Lightingnya juga pas, membuat pengunjung berasa ingin berlama-lama duduk di sini. Saya sih agak deg-degan, dengan penampilan backpacker dan sepatu trekking kami, semoga kami diterima dengan baik di restoran ini. Saya agak trauma, gara-garanya kami pernah datang ke restoran fine dining di kota Strasbourg, Perancis dan kami ditolak masuk. Sepertinya sih karena penampilan backpacker kami. Atau mungkin karena mereka sudah mengendus kalau kami cuma mau pesan menu plat dan air putih saja ya? 😥. Terkadang alasan kami ga makan ala fine dining dari aperitif, entree,plat dan dessert , adalah karena kami kekenyangan makan sebanyak itu. Dan kami ga suka menyisakan makanan. Dan kami pengen ngirit juga sih 😝.
IMG_6717

Pesan apa kita???

Pramusaji di restoran ini ternyata ramah-ramah dan dengan baik hatinya memberi kami sedikit pengarahan tentang makanan tradisional Luxembourg. Mereka juga mahir berbicara bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Belanda dan tentu saja bahasa Luxembourgoise. Setiap kali ada tamu datang, mereka menyambut dan bertanya ingin dilayani dengan bahasa apa. Di restoran ini selain judd mat gaardebounen , juga tersedia menu paschteitchen friten an zalot, wainzossismoshter zoos, dan entrecote double luxembourgeoise. Pertama kali baca, saya langsung melongo karena I have no idea what is it! 😅. Kami berdua lalu memesan 2 plat wainzossismoshter zoos , yang katanya adalah sosis daging sapi muda khas Luxembourg yang disajikan dengan kentang dan mustard. Kami memilih menu ini karena harganya paling murah, yaitu 19 euro per porsi. Menu lain harganya sampai 29 euro per porsinya. Untuk minum, tadinya kami mau minum air tap water saja biar gratis, tapi karena kami ga tau kalau di negara ini berlaku air gratis seperti di Perancis, kami pesan minum juga. Kami masing-masing memesan cider tradisional khas Luxembourg dan sebotol bir produksi Luxembourg.
FullSizeRender

Sossis daging sapi muda khas Luxembourg

Pas makanan dan minumanya tersaji di hadapan kami, porsi platnya besar juga. Tuh kan, kalau makan entree, plat , dessert apa ga bakal kekenyangan banget kami? 😂. Yang jelas saya salut sama perut-perut eropa, mereka makannya banyak juga yaa 😂. Kalau perut eropa suami saya porsinya bisa menyesuaikan dengan porsi saya 😊. Eniwei, sosis sapi mudanya buat saya lezat dan mashed potatonya lembut banget serta asinnya pas 😋😋😋. Kalau saya harus menjabarkan cita rasanya, berhubung lidah saya adalah lidah asia yang masih belajar, buat saya sajian ini ga beda sama makanan Perancis atau Jerman. Lidah saya masih susah membedakan detil kekhasan makanan eropa barat (Jerman, Perancis, Belgia dan Luxembourg). Kalau membedakan antara makanan Italia, Perancis dan Ceko, baru saya bisa 😀 , karena dari bentuk saja sudah beda. Minuman yang saya pesan yaitu ramboro cider, ternyata enak banget. Rasanya seperti wine putih tetapi manis, fruity dan kadar alkoholnya sangat rendah. Kalau bir yang dipesan suami saya, menurut saya rasanya sama saja dengan bir lain. Ya, saya emang buta soal bir, karena saya ga begitu suka. Saya lebih suka bir yang ga beralkohol atau radler 😀 . Yang penting rasanya manis kayak saya *ehh 💃🏽.
IMG_6720

Salah dua minuman khas yang diproduksi di negara ini

Setelah selesai makan dan semua piring serta gelas ditarik oleh pramusaji, kami ga berlama-lama di restoran ini. Kami cukup puas makan di sini. Sore ini makan di restoran, hari-hari berikutnya kami makan  sandwich di supermarket gapapa lah yaa. Yang penting lidah kami sudah sempat berkenalan dengan makanan tradisional khas negara ini.
Pengen nyobain makan di sini ? Cek websitenya di sini
Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s