City Escape to Buda&Pest #10 : Antara St. Stephen’s Basilica dan Ayam Paprika

Pada suatu sore yang cerah, masih di ibu kota Hunggaria, Budapest, saya dan suami melenggang santai di kawasan Saint Stephen’s Basilica. Memanfaatkan sore dan malam terakhir kami di kota ini. Sebenarnya dan sesungguhnya sih kami masih betah di kota ini. Kami juga ga pengen meninggalkan Budapest secepat ini karena masih banyak tempat yang belum sempat kami jelajahi. Kota ini terlalu besar untuk dijelajahi hanya dalam waktu 4 hari. Maunya sebulan kali yaa? 😀 Selain itu, harga makanan di kota ini yang jauh lebih murah daripada Paris juga menjadi alasan tersendiri *yaa iyalah lebih murah 😀 . Tapi apa daya, yang jelas kami akan menikmati sore ini dengan maksimal 😀 . Yaa sebenernya dan sesungguhnya juga perasaan seperti ini selalu timbul saat kami akan meninggalkan suatu kota, apalagi ketika liburan sudah hampir selesai 😀 .
IMG_7609

St Stephen’s Basilica

Dan berdirilah kami di depan bangunan gereja besar nan megah, ya apalagi kalau bukan St Stephen’s Basilica yang merupakan gereja katolik terbesar se kota Budapest, dan terbesar ke tiga di Hunggaria. Mumpung sedang di sini, kami ingin masuk dan menjelajahinya. Basilika ini diberi nama Saint Stephen, untuk mengenang raja Stephen, raja Hunggaria pertama yang berkuasa pada tahun 975 -1038. Basilika ini sendiri selesai pembangunannya pada tahun 1905, dengan gaya arsitektur neo klasik. Tak hanya terbesar, basilika ini juga merupakan salah satu bangunan tertinggi di kota Pest, selain gedung parlemen. Konon katanya sih, tidak ada yang boleh mendirikan gedung yang lebih tinggi dari basilika ini di kota Pest, karena basilika ini adalah simbol ketuhanan bagi masyarakat Budapest. Hmm peraturannya mengingatkan saya akan daerah njeron beteng di Yogyakarta. Konon katanya, masyarakat di dalam njeron beteng tidak boleh mendirikan bangunan bertingkat yang melebihi tinggi bangunan di dalam keraton. Tapi apakah peraturan ini masih berlaku ? Karena banyak juga bangunan hotel bertingkat di dalam kawasan njeron beteng sekarang.
P1130655

Dinding dan langit-langit keemasan

Sore itu, gereja megah ini dipadati turis. Dengan sisa-sisa forin yang masih ada di kantong kami, kami berniat menjelajahi gereja ini sampai ke dome bagian atas. Sayangnya, karena sore itu sedang ada acara pernikahan, sebagian besar area di gereja ini ditutup untuk umum. Lagi-lagi, sepertinya kami selalu salah waktu, pas ke gereja pas ada acara pernikahan 😀 . Eniwei, tampaknya menikah di gereja-gereja terkenal di Budapest, menjadi salah satu impian para warganya. Kalau di Paris, selama saya tinggal di sini, saya ga pernah sekalipun ketemu orang menikah di gereja, apalagi di Notre Dame. Kenapa ya? Apakah mungkin warga Paris cukup menikah di kantor kecamatan saja? Sebaiknya saya bertanya langsung dengan teman Hunggaria dan teman Perancis saya , daripada saya berasumsi macam-macam 😀 .
P1130660

Interior neo klasik dengan dinding marmer

Kami lalu memasuki kawasan gereja yang diperbolehkan untuk dikunjungi. Arsitektur interior neo klasik gereja ini memang berbeda. Tidak seperti interior gereja-gereja lain yang pernah saya kunjungi. Tembok dan dindingnya dilapisi marmer dengan ornamen-ornamen berwarna emas sebagai detilnya. Pilar-pilarnya juga terbuat dari marmer merah yang mengesankan kemewahan gereja ini. Lukisan dan pantung-patung yang menghiasi dinding dan domenya memang tampak lebih sederhana atau less detailed daripada yang di gereja gotik, tetapi warna-warna emas di lukisan-lukisan ini memberi kesan mewah dan classy . Langit-langit gereja inipun tak kalah dengan dindingnya, penuh dengan lukisan dan ornamen-ornamen berwarna emas. Yang jelas, menurut saya interior gereja ini mewah abiss! Sayang, kami hanya bisa melihat secuil bagiannya saja, itu juga tidak lama karena semua pengunjung harus keluar saat itu juga.
P1130657

The dome

Menjelang senja, kami memutuskan untuk makan malam di sekitar kawasan gereja ini. Ada sebuah restoran lokal yang berada persis di belakang basilika ini. Saya mengetahui restoran ini dari hasil googling tentang restoran lokal tradisional Hunggaria dengan harga terjangkau. Nama restorannya adalah Lugas Etterem. Tampak luar, restoran ini terlihat cozy . Kami langsung duduk manis di dalam restoran dan melihat menu. Harga main course nya dari 2 euro sampai 13 euro . Menu-menu yang harganya di atas 10 euro biasanya berbahan baku daging sapi dengan porsi besar. Saya memilih ayam panggang saus paprika yang disajikan dengan Hunggarian dumpling seharga 7,5 euro dan suami saya memilih Hunggarian ratatuile seharga 6,6 euro . Saya baru tahu kalau di Hunggaria ada dumpling atau pasta-pastaan juga. Saya pikir yang punya dumpling atau pasta di benua Eropa itu hanya Italia. Ternyata eh ternyata di Hunggaria ada juga. Dan ga cuma Hunggaria juga lho! Tapi di beberapa negara lain yang akan saya ceritakan di postingan-postingan selanjutnya.
IMG_7615

Ini penampakan ayam paprika ala Hunggaria

Hanya selang beberapa menit kemudian, ayam paprika dan ratatuile ala Hunggaria kami tersaji di atas meja bersama sekeranjang roti tawar. Ratatuilenya disajikan di atas panci kecil, dan menurut saya rasanya mirip sama ratatuile ala Perancis. Ayam paprika pesanan saya disajikan dengan saus paprika kental ditambah sedikit saus yoghurt dengan taburan paprika. Rasanya agak pedas. Hunggarian dumplingnya terasa kenyal dan liat, tapi dengan tekstur yang berbeda, ga seperti pasta ala Italia. Dan saya ga tau bagaimana mendeskripsikan detil perbedaannya :D. Yang saya bisa kan cuma makan 😀 . Kami agak berlama-lama di restoran ini, sambil nontonin turis makan *eh. Tampaknya restoran ini memang terkenal di kalangan wisatawan dan travelers yang ingin mencoba makanan tradisional Hunggaria. Restoran ini punya website juga lho, jadi siapa tahu tertarik untuk makan di sini, bisa dicek di sini.
Finally, we had a good chilling time in the last evening in Budapest. Gitu aja sih 😀 .
Iklan

1 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

One response to “City Escape to Buda&Pest #10 : Antara St. Stephen’s Basilica dan Ayam Paprika

  1. Ping-balik: Itenerary & travel summary : Budapest, Hunggary 4 days 3 night | Kelanakecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s