City Escape to Buda&Pest #1 : Paris to Budapest

Kami berdua duduk manis di dalam tram jalur 7, salah satu angkutan umum alternatif menuju bandara Orly, Paris. Saya dan suami berangkat dari rumah 4 jam sebelum take off, karena ini pertama kalinya kami terbang dari bandara Orly. Airport internasional ke dua terbesar di Paris setelah bandara internasional Charles De Gaulle. Kami menyisakan waktu cukup banyak untuk berjaga-jaga supaya kami tidak telat karena tersasar atau karena salah naik moda transportasi 😅.
Seminggu sebelumnya, kami mendapatkan tiket promo dari maskapai Transavia, yang merupakan low cost carriernya Air France. Lumayan! harga tiket Paris – Budapest, one way kami dapat dengan harga 40 euro per orang. Tadinya sih kami pengen jalan-jalan ke Spanyol atau Portugal, tetapi karena harga tiketnya mahal yaa kami milih tujuan dengan harga yang lebih murah. Lagian, ke negara manapun asalkan belum pernah, selalu menarik dan membuat kami penasaran. Penerbangan dari Paris ke Budapest memakan waktu sekitar 2 jam.
IMG_7524
Di dalam pesawat, saya tengiang-ngiang lagu ini.
Tentu saja karena lagunya mempunyai judul yang sama dengan tujuan saya. Meskipun lirik lagunya malah tentang meninggalkan kota Budapest karena seseorang yang dicinta *ciecie . Tetapi , saya 100% yakin kalau kota ini bakal seasyik lagunya George Ezra, easy to enjoy 🙂 .
Szia 🇭🇺 Hungary 🇭🇺 ! Szia Magyar! Szia Budapest! Another country in eastern Europe unlocked. Szia adalah halo dalam bahasa Magyar. Pengucapannya mirip dengan “see yaa” dalam bahasa Inggris. Kami mendarat jam 19 lebih sedikit.
Hunggaria memiliki mata uang sendiri yaitu HUF, kependekan dari Hunggarian Forints. 1 euro biasanya berkisar 307 huf . Kalau dirupiahkan 1 huf berkisar Rp 48. Kami berdua tidak membawa cash, jadi langsung tarik tunai di atm bandara. Kebetulan di atm tersebut 1 euronya sekitar 290 huf. Exchange rate antara euro dan huf di berbagai money changer di kota ini juga bagus, tapi kita harus pintar-pintar mengecek berapa persen komisi yang harus kita bayar di money changer tersebut. Katanya sih banyak money changer yang suka nuthuk konsumennya dengan komisi 10-20% .
Seperti di destinasi Eropa sebelum-sebelumnya, kota ini juga mempunyai Budapest card, pass yang bisa digunakan untuk masuk ke museum-museum utama secara gratis merangkap transport pass gratis di dalam kota Budapest. Kami membuking online Budapest card untuk 48 jam , dan tinggal mengambil kartu ini ketika mendarat di bandara Budapest Nemzetkozi Repuloter. Bedanya dengan kartu pass dari kota-kota lain, Budapest card menggunakan sistem jam bukan hari. Jadi sangat menguntungkan untuk para penggunanya. Setelah mengambil Budapest card di tourism centre terdekat, pengguna tinggal mencantumkan bulan, tanggal dan jam yang diinginkan selama jangka waktu kartu tersebut berlaku. Kami juga mendapatkan pocket guide serta peta kota Budapest secara cuma-cuma. Tourism centre/office di Budapest tersebar di berbagai tempat di kota ini seperti di bandara, stasiun, dan pusat-pusat keramaian. Jadi sebenarnya ga usah buking Budapest card duluan juga ga papa, karena bisa dibeli langsung di sana. Selain itu, Budapest card juga memberikan layanan antar kartu ke hotel atau hostel, asalkan membuking beberapa hari sebelum digunakan. Terkadang saya kagum sendiri dengan tourism service di negara-negara Eropa karena pelayanannya helpfull banget. Saya berharap Indonesia juga bisa seperti ini, mungkin di Bali bisa dibuat Bali card juga?
IMG_7529

Begitu sampai bandara, langsung mampir ke tourist information centre dahulu.

Keluar dari bangunan bandara, kami dijemput seorang pemuda, anak dari pemilik apartemen yang akan kami tinggali selama 4 hari. Kami menyewa sebuah apartemen studio di kota Pest melalui sebuah situs buking akomodasi. Yang jelas, biaya akomodasi di Budapest jauh lebih murah daripada di Paris dan Eropa barat. Menurut saya harga per malamnya, sama seperti harga penginapan atau apartemen di Jakarta, untuk yang kelas biasa saja. Kami membayar ekstra untuk service penjemputan tersebut, karena kami lagi males mikir transportasi umum dari bandara ke pusat kota dan yang jelas tarifnya lebih murah daripada taksi. Sepanjang perjalanan dari bandara menuju ke apartemen, saya pikir Budapest bentuk-bentuknya mirip dengan Praha. Ternyata tidak, gaya bangunan-bangunanya berbeda. Gedung-gedung di Budapest terlihat lebih besar-besar dan tinggi-tinggi. Si adek pemuda berumur 21 tahun ini tak hanya mengantar kami sampai apartemen, tetapi juga memberikan tips-tips tentang makanan murah, destinasi unik, transportasi umum dan area-area yang harus dihindari di kota ini ketika malam hari. Katanya sih karena banyak orang mabuk di jalan.
Kami sampai di apartemen sekitar jam 8 sore. Bangunan apartemennya sudah tua tetapi artistik. Letaknya di Erzebert krt, kota Pest. Lokasinya sangat strategis karena berada di pusat keramaian dan tak jauh dari stasiun metro serta halte tram terdekat. Tapi anehnya meskipun berada di pusat keramaian, suasana di dalam apartemen benar-benar hening. Keramaian di luar dari club dan bar tak terdengar sama sekali. Mungkin temboknya benar-benar sakti 👍🏽😄.
IMG_7552

Komplek apartemen yang kami inapi di Budapest

Petualangan kami di kota Buda dan Pest dimulai hari itu juga. Sebuah ibukota negara yang terdiri dari dua kota dijadikan satu, makanya namanya digabung jadi Budapest, dengan sungai Danube berada di tengah-tengahnya. Seperti biasa, cerita di Budapest akan saya ceritakan bagian per bagian. Let’s discover Budapest!

4 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Belanja murah di Paris : Marques Avenue, pusatnya stock outlet di Paris

Bonjour pemirsah!!
Belanja barang branded dengan harga lebih murah di Paris, ternyata tak hanya di La Vallee Village saja. Ada tempat lain di pinggiran Paris, yang bisa ditempuh dengan transportasi umum. Nama tempatnya adalah Marques Avenue yang terletak di L’ile Saint Denis. Untuk menuju ke sana paling mudah dengan cara naik metro no 13 jurusan Saint Denis, turun di stasiun Mairie de Saint Ouen, lalu lanjut naik bus no 237 jurusan Gare d’Epinay, turun di halte centre commercial. Saya sebenarnya sudah beberapa kali ke sana berburu barang diskonan, tapi baru sempat menuliskannya sekarang 😀 . Saya akan merasa berdosa besar juga kalau tidak membagikan info ini kepada para pemirsah 😀 . Karena siapa tahu ada yang beneran niat pengen ke Paris dan pengen belanja dengan harga lebih murah daripada di toko-toko di tengah kota Paris, serta butuh info seperti ini 🙂 .
IMG_7473

Marques Avenue yang ada di L’Isle Saint Denis

Nah apa bedanya Marques Avenue dengan La Vallee Village ? Yang jelas La Vallee Village jauh lebih terkenal dan jauh lebih ramai daripada Marques Avenue. Perbedaannya kalau di La Vallee Village outlet-outletnya terdiri dari outlet luxury dan kebanyakan kelas atas,  di Marques Avenue outletnya lebih ke barang-barang branded kelas menengah. Outlet-outlet barang branded yang berada di Marques Avenue juga kebanyakan asli Perancis atau asli desainer Perancis. Contohnya seperti Caroll, Gerard Darel, Le Coq Sportif, Tara Jarmon, Jacadi, Ikks, Comptoir de Cotonniers, Heyraud, Jonak dan lain-lain. Selain itu ada juga outlet-outlet merk luar Perancis seperti Mango, The North Face, Vans, Nike, Triumph, Desigual, Levis dan lain-lain. Selain pakaian dan kosmetik, ada juga outlet alat dapur branded seperti Lagostina dan Tefal. Mengapa harganya lebih murah daripada di toko-toko lainnya, dengan merk yang sama? Karena Marques Avenue adalah kumpulan stock outlet resmi yang menjual barang-barang dari tahun atau season sebelumnya. Stock barang yang belum laku terjual sebelumnya, dikumpulkan kemudian dijual dengan harga diskon di tempat ini. Yaa sama lah seperti di La Vallee Village. Jika berkunjung ke tempat ini di saat musim sale yaitu akhir Januari sampai awal Februari dan pertengahan Juli sampai awal Agustus, yaa barang-barang yang tadinya sudah diskon tambah lagi diskonnya 😀 .
IMG_7471

Stock outlet Levis dan Caroll

IMG_7468

Suasana di dalam Marques Avenue yang jauh lebih sepi daripada di La Vallee Village

Meskipun kebanyakan outlet kelas menengah, buat saya pribadi ya harganya masih agak mahal-mahal sih, karena barang branded menengah desainer Perancis itu harganya juga ga bisa dikatakan murah. Contohnya tas merk Lancaster yang asli Paris, harganya yaa masih 100 euro ke atas (dari harga asli 300-an euro). Kalau saya, ketika berkunjung ke sini, paling yaa menyambangi Mango atau Camaieu yang harganya bisa mencapai 10 euro ke bawah 😀 . Eniwei, stock centre ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang memadai seperti toilet gratis dan aneka tempat makan serta cafe. Jadi meskipun letaknya agak jauh dari mana-mana, seenggaknya pengunjung ga perlu cari makan jauh-jauh kalau kelaparan. Marques Avenue sendiri di Perancis terdapat di 7 tempat. Yang saya maksud di tulisan ini adalah yang paling dekat dari pusat kota Paris. Kalau tertarik ke Marques Avenue yang lain, silahkan cek di website resminya . Sekian inpoh dari saya. Happy shopping di Paris!
Situs Marques Avenue : www.marquesavenue.com

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri