Tag Archives: akomodasi

Chilling in Bratislava #1 : Mengapa Bratislava ?

Bratislava, Slovakia memang jarang menjadi destinasi impian traveler-traveler Indonesia dan dunia. Setidaknya menurut saya pribadi, saya belum pernah sekalipun mendengar atau mengetahui kalau salah seorang teman atau kenalan ngebet banget pengen ke Bratislava. Biasanya mereka selalu menyebutkan kota atau negara lain seperti Paris, Roma, Praha, Mekah, Nepal, Peru atau yang lainnya. Malah mungkin ada yang ga tau, Bratislava emang ibu kota negara mana ? Walaupun demikian, karena letak Bratislava yang strategis dan ga jauh dari kota-kota terkenal lain seperti Wina, Praha dan Budapest, para eurotriper biasanya akan mampir sejenak di kota ini. Itung-itung pernah menginjakkan kaki di negara bernama Slovakia. Buat mereka yang lagi ngetrip ke Wina, Austria, karena jarak kota ini hanya 60 km, biasanya mereka memasukkan Bratislava di itenerary day tripnya. Jadi hanya beberapa jam saja menginjakkan kaki di Slovakia lalu kembali lagi ke Austria. Eniwei Wina dan Bratislava adalah dua ibu kota negara yang paling dekat di dunia.
P1130874-001

Welcome to Slovakia

Kalau saya pribadi nih, entah mengapa saya terngiang-ngiang tentang Bratislava gara-gara sebuah film. Film ini saya tonton waktu saya masih kuliah. Judulnya Eurotrip. Cerita film ini emang lucu-lucu gimanaa, apalagi pas adegan di bawah ini.
Yak! Gara-gara adegan di atas, saya jadi keingetan terus soal Bratislava 😀 . I know I’m weird 😀 . Jadi pas kami ada kesempatan ke Bratislava, ya udah lah sekalian aja ke kota ini. Apalagi setelah kami ngecek kalau tiket terbang dengan ryan air dari kota ini untuk balik Ke Paris harganya cuma 25 euro. Langsung deh kami buking tiket pulang lewat Bratislava, daripada lewat Budapest.
P1130876

Hlavna Stanica, stasiun kereta api Bratislava

Begitu turun dari kereta api, saya deg-degan, jangan-jangan Bratislava benar-benar seperti di adegan film itu. Stasiun kereta Bratislava terlihat 70’s , sepertinya bangunan peninggalan dari zaman komunis dahulu, dan belum direnovasi sampai sekarang. Kesan pertama menginjakkan kaki di Slovakia adalah suasananya yang sangat berbeda dari Hunggaria. Entah bagaimana mendeskripsikan perbedaanya, yang jelas rasanya beda. Ya iyalah beda negara beda suasana 😀 . Untuk menuju ke pusat kota Bratislava dari Hlavna Stanica (stasiun),banyak tersedia jalur bus dan jalur tram.  Tapi karena apartemen yang kami sewa lewat airbnb bisa ditempuh dengan jalan kaki, maka kami jalan kaki saja sambil menyesuaikan diri dengan suasana di sini. Suasana sore itu begitu sepi dan begitu krik-krik. Mungkin karena hari minggu, orang-orang kota ini memilih untuk istirahat di rumah. Seperti di Perancis, toko-toko dan sebagian besar restoran juga tutup pada hari minggu, menambah krik-kriknya suasana sore itu.
P1130878

Pusat kota Bratislava yang lagi ga ramai karena hari minggu

Kami mengambil kunci apartemen di sebuah kafe kecil tak jauh dari lokasi. Gaya bangunan apartemennya dari luar mirip seperti apartemen yang digambarkan di klip di atas, hanya saja jauh lebih bersih dan ga kumuh. Begitu kami masuk ke apartemen sewaan kami, rasanya kami pengen membawa pulang apartemenya ke Paris *eh. Pemiliknya mendesain ruangan-ruangannya secara minimalis dengan pernak-pernik ala traveler. Pemiliknya juga menyiapkan welcome note dan aneka petunjuk wisata Bratislava dan Slovakia. Kami menyewa apartemen studio ini dengan harga 30 euro per malamnya. Kami akan tidur di sini selama 2 malam. Oyaa, kami kembali lagi ke negara bermata uang euro, jadi kami ga perlu susah-susah nuker duit lagi 😀 . Sore itu juga kami siap untuk kejutan-kejutan yang ada di kota ini. Yang jelas, perjalanan dari stasiun ke apartemen sendiri sudah memberi bukti kalau Bratislava tidak seperti yang digambarkan dalam film Eurotrip.
P1130885

Apartemen nyaman di Bratislava

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

City Escape to Buda&Pest #1 : Paris to Budapest

Kami berdua duduk manis di dalam tram jalur 7, salah satu angkutan umum alternatif menuju bandara Orly, Paris. Saya dan suami berangkat dari rumah 4 jam sebelum take off, karena ini pertama kalinya kami terbang dari bandara Orly. Airport internasional ke dua terbesar di Paris setelah bandara internasional Charles De Gaulle. Kami menyisakan waktu cukup banyak untuk berjaga-jaga supaya kami tidak telat karena tersasar atau karena salah naik moda transportasi 😅.
Seminggu sebelumnya, kami mendapatkan tiket promo dari maskapai Transavia, yang merupakan low cost carriernya Air France. Lumayan! harga tiket Paris – Budapest, one way kami dapat dengan harga 40 euro per orang. Tadinya sih kami pengen jalan-jalan ke Spanyol atau Portugal, tetapi karena harga tiketnya mahal yaa kami milih tujuan dengan harga yang lebih murah. Lagian, ke negara manapun asalkan belum pernah, selalu menarik dan membuat kami penasaran. Penerbangan dari Paris ke Budapest memakan waktu sekitar 2 jam.
IMG_7524
Di dalam pesawat, saya tengiang-ngiang lagu ini.
Tentu saja karena lagunya mempunyai judul yang sama dengan tujuan saya. Meskipun lirik lagunya malah tentang meninggalkan kota Budapest karena seseorang yang dicinta *ciecie . Tetapi , saya 100% yakin kalau kota ini bakal seasyik lagunya George Ezra, easy to enjoy 🙂 .
Szia 🇭🇺 Hungary 🇭🇺 ! Szia Magyar! Szia Budapest! Another country in eastern Europe unlocked. Szia adalah halo dalam bahasa Magyar. Pengucapannya mirip dengan “see yaa” dalam bahasa Inggris. Kami mendarat jam 19 lebih sedikit.
Hunggaria memiliki mata uang sendiri yaitu HUF, kependekan dari Hunggarian Forints. 1 euro biasanya berkisar 307 huf . Kalau dirupiahkan 1 huf berkisar Rp 48. Kami berdua tidak membawa cash, jadi langsung tarik tunai di atm bandara. Kebetulan di atm tersebut 1 euronya sekitar 290 huf. Exchange rate antara euro dan huf di berbagai money changer di kota ini juga bagus, tapi kita harus pintar-pintar mengecek berapa persen komisi yang harus kita bayar di money changer tersebut. Katanya sih banyak money changer yang suka nuthuk konsumennya dengan komisi 10-20% .
Seperti di destinasi Eropa sebelum-sebelumnya, kota ini juga mempunyai Budapest card, pass yang bisa digunakan untuk masuk ke museum-museum utama secara gratis merangkap transport pass gratis di dalam kota Budapest. Kami membuking online Budapest card untuk 48 jam , dan tinggal mengambil kartu ini ketika mendarat di bandara Budapest Nemzetkozi Repuloter. Bedanya dengan kartu pass dari kota-kota lain, Budapest card menggunakan sistem jam bukan hari. Jadi sangat menguntungkan untuk para penggunanya. Setelah mengambil Budapest card di tourism centre terdekat, pengguna tinggal mencantumkan bulan, tanggal dan jam yang diinginkan selama jangka waktu kartu tersebut berlaku. Kami juga mendapatkan pocket guide serta peta kota Budapest secara cuma-cuma. Tourism centre/office di Budapest tersebar di berbagai tempat di kota ini seperti di bandara, stasiun, dan pusat-pusat keramaian. Jadi sebenarnya ga usah buking Budapest card duluan juga ga papa, karena bisa dibeli langsung di sana. Selain itu, Budapest card juga memberikan layanan antar kartu ke hotel atau hostel, asalkan membuking beberapa hari sebelum digunakan. Terkadang saya kagum sendiri dengan tourism service di negara-negara Eropa karena pelayanannya helpfull banget. Saya berharap Indonesia juga bisa seperti ini, mungkin di Bali bisa dibuat Bali card juga?
IMG_7529

Begitu sampai bandara, langsung mampir ke tourist information centre dahulu.

Keluar dari bangunan bandara, kami dijemput seorang pemuda, anak dari pemilik apartemen yang akan kami tinggali selama 4 hari. Kami menyewa sebuah apartemen studio di kota Pest melalui sebuah situs buking akomodasi. Yang jelas, biaya akomodasi di Budapest jauh lebih murah daripada di Paris dan Eropa barat. Menurut saya harga per malamnya, sama seperti harga penginapan atau apartemen di Jakarta, untuk yang kelas biasa saja. Kami membayar ekstra untuk service penjemputan tersebut, karena kami lagi males mikir transportasi umum dari bandara ke pusat kota dan yang jelas tarifnya lebih murah daripada taksi. Sepanjang perjalanan dari bandara menuju ke apartemen, saya pikir Budapest bentuk-bentuknya mirip dengan Praha. Ternyata tidak, gaya bangunan-bangunanya berbeda. Gedung-gedung di Budapest terlihat lebih besar-besar dan tinggi-tinggi. Si adek pemuda berumur 21 tahun ini tak hanya mengantar kami sampai apartemen, tetapi juga memberikan tips-tips tentang makanan murah, destinasi unik, transportasi umum dan area-area yang harus dihindari di kota ini ketika malam hari. Katanya sih karena banyak orang mabuk di jalan.
Kami sampai di apartemen sekitar jam 8 sore. Bangunan apartemennya sudah tua tetapi artistik. Letaknya di Erzebert krt, kota Pest. Lokasinya sangat strategis karena berada di pusat keramaian dan tak jauh dari stasiun metro serta halte tram terdekat. Tapi anehnya meskipun berada di pusat keramaian, suasana di dalam apartemen benar-benar hening. Keramaian di luar dari club dan bar tak terdengar sama sekali. Mungkin temboknya benar-benar sakti 👍🏽😄.
IMG_7552

Komplek apartemen yang kami inapi di Budapest

Petualangan kami di kota Buda dan Pest dimulai hari itu juga. Sebuah ibukota negara yang terdiri dari dua kota dijadikan satu, makanya namanya digabung jadi Budapest, dengan sungai Danube berada di tengah-tengahnya. Seperti biasa, cerita di Budapest akan saya ceritakan bagian per bagian. Let’s discover Budapest!

4 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri