Tag Archives: caving

Suddenly Caving di Goa Seplawan

selamat datang di goa seplawan

selamat datang di goa seplawan

Gara-gara teman jalan-jalan saya Hans sedang semangat-semangatnya menjelajah, siang itu kami lansung melanjutkan petualangan ke goa seplawan. Menurut keterangan mbak-mbak yang kami temui di watu jonggol, goa seplawan letaknya 30 menit dari pusat kecamatan samigaluh menuju ke arah selatan, menelusuri perbukitan menoreh. Kalau dari kota Jogja, mudah sekali untuk menuju ke goa ini, tinggal menyusuri jalan godean terus saja ke barat sampai ke perbukitan menoreh ke arah goa kiskendo. Goa seplawan letaknya tidak jauh dari goa kiskendo tetapi wilayahnya sudah termasuk di kecamatan kaligesing, kabupaten Purworejo.

mulut goa seplawan

mulut goa seplawan

Sekilas dari halaman parkirnya yang lumayan banyak pengunjung dan warung makan, saya pikir goa ini adalah murni goa wisata seperti di goa kiskendo yang sudah dibangun trek untuk pejalan kaki, sehingga pengunjung tinggal jalan dan foto-foto *turis banget*. Ternyata dugaan saya salah. Beberapa meter dari pintu goa memang sudah di semen dan dibuatkan jalan. Tetapi selebihnya adalah horizontal caving.100_2564-001
Begitu memasuki goa sepanjang 700 meter ini, jejeran stalaktit dan stalakmit goa menyambut dengan cantiknya. Suara gemercik air yang menggema menambah suasana goa menjadi tambah full petualangan. Goa seplawan ini memang sebuah sungai bawah tanah.  Waktu itu hujan mulai turun ketika kami memasuki goa, sehingga Saya sempat was-was, kalau terjadi banjir bandang di dalam goa bagaimana?
Saya dan Hans kemudian melepas sandal gunung yang kami pakai dan menempatkanya di dekat sandal-sandal pengunjung lain.  Dimulailah petualang refleksi cekeran kami di goa seplawan.  Awalnya Kami berjalan kaki menyusuri aliran air yang super bening sambil mengagumi langit-langit dan dinding goa yang begitu cantik. Trek selanjutnya Kami naik turun medan lumpur yang teramat sangat licin dan mudah sekali membuat orang terpeleset. Kami berdua beberapa kali melihat pengunjung lain terpeleset di goa ini. Selain itu, kami juga menelusuri aliran air yang penuh batu-batu kerikil tajam sepanjang ratusan meter. Sumpaaah rasanya sakiit sekali telapak kaki saya, benar-benar seperti direfleksi. Sesekali kami berhenti di tempat yang dinding goanya terlihat begitu menakjubkan sambil mencoba melupakan sakitnya telapak kaki kami. 100_2580-001 100_2593-001 100_2630-001
Meskipun goa ini tergolong sangat panjang, pengunjung hanya bisa menyusurinya sampai batas wisata saja. Selebihnya, cuma buat expert caver kali yaa? Meskipun treknya alami, sepanjang goa ini sudah dipasangi penerangan lampu setiap beberapa meter, sehingga pengunjung tidak perlu susah-susah membawa alat penerangan. Tetapi kalau menurut saya sih, lebih asyik ga ada penerangan sama sekali, sehingga pengunjung diharuskan membawa atau menyewa senter dan bisa merasakan sensasi kegelapan goa sambil refleksi kaki dan terpeleset lumpur.

Sehabis bertualang di dalam goa, kami kemudian menikmati pemandangan alam dari ketinggian 900 meter tidak jauh dari mulut goa. Dari tempat ini laut selatan dan pemandangan kota wates terlihat dengan jelas. Yang jelas tempat ini worth it lah buat dikunjungi, setidaknya kalau tidak berani masuk goa, masih bisa menikmati pemandangan alam di sekitarnya.

1 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

Petualangan Gua Nan Panjang Simarasok

Sudah satu minggu ini saya tinggal di desa Sungai Angek, Agam, Sumatera Barat, di rumah teman saya Devi. Rumah Devi terletak di tengah persawahan yang luas, yang disekitar desanya dikelilingi perbukitan dengan hutan yang masih sangat hijau dan liar. Saking masih liarnya hutan tersebut, ketika siang hari pun kita masih bisa mendengar suara-suara siamang liar dan kicauan burung beraneka ragam. Sesuatu yang mustahil bisa kita alami di Jogja. Masyarakat di daerah ini meskipun sudah modern, masih memperhatikan dan menjaga alam sekitar dengan baik. Hutan benar-benar dijaga dengan baik dan hewan-hewan liar di dalamnya terlindungi dari perburuan liar. Terkadang saya menghabiskan waktu berjalan kaki mengitari desa ini sekedar mencuci mata melihat indahnya pemandangan dan aktivitas masyarakat sehari-hari.

Sungai batang agam dan penambang pasir simarasok

Sungai batang agam dan penambang pasir simarasok

Pada suatu pagi Devi mengajak kami bertualang ke sebuah gua yang berada di desanya. Tawaran yang sangat menggiurkan, saya merasa sangat excited. Tak disangka di jajaran perbukitan di desanya terdapat gua yang jarang sekali dijelajahi alias masih agak perawan. Terkadang memang ada wisatawan asing yang datang ke sini untuk menjelajahi gua tetapi hanya sedikit. Gua tersebut diberi nama gua nan panjang karena panjangnya mencapai 4km. What? 4 km? panjang sekali. Gua nan panjang sebenarnya adalah sungai panjang yang berada di perut bukit simarasok. Sungai tersebut dinamakan sungai batang agam.  Gua ini memang belum dibuka untuk wisata, tetapi sehari-hari masyarakat sekitar pergi ke gua ini untuk menambang pasir dan mencari sarang burung walet menggunakan sampan kayu kecil. Kami dipandu oleh uda datuk, saudara sepupu Devi. Walaupun masih muda,ia adalah salah seorang datuk di simarasok. Menurut cerita uda datuk gua ini memakan tumbal nyawa manusia setiap tahun. Ada yang meninggal karena tenggelam tidak bisa berenang, ada pula yang kehabisan nafas. Bulu kuduk saya merinding mendengar ceritanya. Tetapi saya tetap penasaran ingin menjelajahi bagian gua ini.

Pintu masuk gua nan panjang simarasok

Pintu masuk gua nan panjang simarasok

Seperti halnya para penambang pasir di sungai batang agam, kami menggunakan sampan kayu untuk menjelajahi gua ini. Kami meminjamnya dari salah seorang pencari burung walet. Waktu itu ada 7 orang dalam satu sampan kecil. Agak takut juga saya, bagaimana kalau saya jatuh ke air, saya tidak bisa berenang. Salah satu dari kami bertugas untuk mendulang air yang masuk ke dalam sampan karena sepertinya sampan tersebut agak bocor sedikit. Hwaaa, saya berdoa sebelum masuk ke dalam gua supaya perjalanan kami aman dan selamat. Di pintu masuk gua yang cukup tinggi dan lebar terdapat bangunan rumah bertingkat sebagai pos jaga para penambang dan pencari burung walet, kami melaporkan diri terlebih dahulu supaya kalau ada apa-apa , ada tim SAR yang mencari kami. Kami kemudian mendayung sampan pelan-pelan masuk ke dalam gua. Kami hanya membawa 2 buah senter dan beberapa penerangan dari handphone. Tidak satupun dari kami yang mengenakan helm. Petualangan kali ini memang benar-benar dadakan dan tanpa peralatan pengaman yang memadai.

Masuk ke dalam gua, kami langsung disuguhkan pemandangan indah dinding-dinding gua yang berkilauan. Satalagtit dan stalagmit yang cukup besar. Bahkan ada stalagtit besar yang berbentuk seperti kubah masjid di dinding atas gua. Di tengah-tengah air terkadang ada stalagtit atau batu besar yang menjulang dari bawah. Harus benar-benar hati-hati mendayung sampan supaya tidak tersangkut batu. Di beberapa sisinya stalagtit dan stalagmit di gua ini terlihat seperti tumpukan besar batu permata. Rasanya ingin membawanya pulang. Saya cuma melongo melihat keindahannya.Sayangnya karena hanya membawa dua kamera poket, gambar yang kami dapat tidak maksimal.

Bagian dinding gua simarasok

Bagian dinding gua simarasok

Batu yang menjulang dari sela-sela air

Batu yang menjulang dari sela-sela air

Salah satu dinding gua simarasok #2

Salah satu dinding gua simarasok #2

Stalagtit gua simarasok #1

Stalagtit gua simarasok #1

Stalagtit gua simarasok #2

Stalagtit gua simarasok #2

Stalagtit gua simarasok #3

Stalagtit gua simarasok #3

200 meter menyusuri gua sampailah kami di sumber air panas yang keluar diantara dinding-dinding gua. Kami turun dari sampan lalu berjalan kaki beberapa meter.  Sumber air panas tersebut membentuk mata air tersendiri di dalam gua. Airnya hangat suam-suam kuku. Tampaknya gua di perut bukit ini mengandung cukup banyak sulfur. Terkadang penduduk setampat pergi ke sumber air panas ini karena airnya dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kulit.

Mencoba sumber air panas gua simarasok

Mencoba sumber air panas gua simarasok

Di balik cerukan ini air panasnya berasal

Di balik cerukan ini air panasnya berasal

Berjalan kembali ke sampan sambil menikmati stalagmit di sekitar kami

Berjalan kembali ke sampan sambil menikmati stalagmit di sekitar kami

Kembali lagi bersampan di dalam gua

Kembali lagi bersampan di dalam gua

Setelah lama beristirahat di sini, kami kembali berjalan ke sampan. Sebenarnya saya penasaran ingin tahu lebih jauh bagian gua ini, tetapi karena kami benar-benar orang biasa yang sangat amatir dengan peralatan seadanya, kami memutuskan untuk kembali. Menurut saya, karena gua ini bukan merupakan gua non wisata dan masih sangat perawan, hanya expert caver saja yang bisa menjelajahi sampai ke dalam-dalamnya. Jika anda termasuk penyuka caving dan penasaran dengan gua-gua yang jarang dijelajahi, coba saja jelajahi goa yang panjangannya 4 km ini.

Watch my amateur video here :

 

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia