Tag Archives: couchsurfing

Catatan perjalanan ke Thailand #3 Dijamu Thai BBQ steamboat (หมูกระทะ)

Travelmate saya, Sita mengirimkan permintaan menginap melalui couchsurfing.org kepada salah seorang couchsurfer Thailand beberapa hari sebelumnya. Selain menginap di hostel, kami memang pengen banget merasakan bagaimana rasanya tinggal di rumah orang lokal. Permintaan itu disetujui oleh host kami yang tinggal di daerah Bang Sue.Bang Sue bisa dituju dengan bus atau MRT, tetapi karena hari itu kami ingin mencoba naik taksi, maka kami mencoba naik taksi dengan biaya hanya sekitar 100 bath atau Rp 40.000 untuk 3 orang. Menurut saya biaya taksi di Bangkok lumayan murah dibandingkan dengan di Jakarta, apalagi Bali. Jika kami naik MRT kami akan mengeluarkan uang yang kurang lebih sama dengan biaya taksi. Seperti di Hua Lamphong, di daerah ini juga terkenal dengan street foodnya yang bermacam-macam. Mulai dari makanan kecil seperti aneka macam kue sampai makanan berat seperti ikan yang didalam dagingnya diberi rempah-rempah. Makanan-makanan yang tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya.

Bangkok street food, ikan yang dibumbui aneka macam rempah

Bangkok street food, ikan yang dibumbui aneka macam rempah

Thai street food at bang sue

Thai street food at bang sue

Host kami bernama Jekky, ia tinggal sendiri di rumahnya dan sering sekali menjadi tuan rumah para traveler dari berbagai negara. Malam itu Jekky menyiapkan sesuatu yang spesial untuk makan malam. Selain kami 3 orang Indonesia, ia juga mengundang teman-temannya yang lain dari Spanyol dan Austria. Kami dijamu makanan khas Thailand, mu kratha (Thai bbq steamboat) , yaitu daging atau sea food bakar dengan aneka macam sayuran yang disajikan dengan kuah dan aneka macam sambal bangkok. Daging dan sea food tersebut sudah dipotong kecil-kecil atau diiris tipis-tipis dan dibumbui dengan bumbu bbq ala Thai. Selain daging, juga bisa dengan jeroan sapi atau babi kalau doyan. Sayur yang disajikan di mu kratha adalah kangkung, sawi putih, jamur, daun ketumbar dan kol. Selain itu bahan tambahan lainnya adalah bihun dan telur. Panci bbq yang digunakan untuk mu kratha ini adalah panci steamboat khusus. Saya sih belum pernah melihat panci steamboat yang seperti ini sebelumnya. Bagian tengah panci ini digunakan untuk membakar daging dan sea food, sedangkan bagian pinggirnya digunakan untuk merebus sayuran dan bihun. Sayuran dan bihun tersebut direbus didalam kaldu yang disiram dengan telur mentah. Jadi kuahnya agak kental karena direbus dengan telur. Masing-masing orang mendapatkan dua mangkok kecil, mangkok pertama untuk mengambil kuah, sayuran dan daging, sedangkan mangkok kedua adalah tempat sambal. Sambal yang disajikan di pesta mu kratha kali ini ada dua macam, yaitu sambal bangkok yang terbuat dari cabe merah dan sambal bangkok yang terbuat dari cabe hijau. Sambal yang terbuat dari cabe merah rasanya lebih pedas dari yang cabe hijau. Cara memakan dan membolak-balik daging dan seafoodnya adalah dengan sumpit seperti sajian sukiyaki.

Ketika saya pertama kali mencicipi makanan ini, rasanya maknyooos pemirsa! Saya belum pernah makan bbq steamboat seenak ini sebelumnya. Apalagi sambalnya yang pedas, asam dan segar merupakan paduan yang pas untuk daging dengan bumbu bbq manis. Saya sangat berterimakasih kepada host saya, Jekky yang sudah menyiapkan makanan khas selezat ini. Ketika kembali ke Indonesia, saya selalu kangen untuk makan mu kratha lagi.Sayangnya di Yogyakarta, tempat saya tinggal belum ada warung makan Thailand yang menyediakan menu ini. So, jika anda ke Thailand, jangan lewatkan untuk mencoba mu kratha (หมูกระทะ). Jika ingin Thai bbq steamboat yang halal bisa mencobanya di warung-warung bbq yang halal karena mereka menggunakan daging sapi dan sea food.

Persiapan bahan-bahan mu kratha

Persiapan bahan-bahan mu kratha

My delicious mu kratha yang dimasak di panci khusus

My delicious mu kratha yang dimasak di panci khusus

My mu kratha part with my host and couchsurfers

My mu kratha party with my host and couchsurfers

Update!!! Teman saya Jekky, sekarang sudah mendirikan homestay di rumahnya. Jadi jika kalian sedang traveling di Bangkok dan ingin merasakan suasana berbeda serta lokal banget, saya sih menyarankan untuk menginap di homestaynya Jekky yang cukup terjangkau. Berminat ? Ini websitenya http://www.jekkyshomestay.com/

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri, Travel Food and Fruit

Taking my couchsurfing guest to a wedding

Recently, I hosted a Russian traveler for 4 days in my house in Yogyakarta. Her name is Anna. She was very nice and never looked tired during her travel in this city. She is also curious with traditional food and local culture. Last Sunday, She should had got a bus ticket to Bromo to continue her journey. But She hadn’t get it yet. She didn’t have any plan on sunday.  So I asked her to join me on my friend’s wedding. It wasn’t the first time I asked my couchsurfing guest to join me on a friend’s wedding. But the first reaction of all my guests were like “seriously?” or “isn’t it a private party?”. All of them which are European were afraid to join me at the first time.
My couchsurfing guest taking picture with the bride and groom's relative

My couchsurfing guest taking picture with the bride and groom’s relative

I explained to them that Indonesian wedding party is not like the common private party like in Europe or in the US. Of course if my friend wedding party is set to private I will not ask someone to join me. Indonesian wedding party mostly more open to guests. People will send wedding invitation at least a week before wedding ceremony. There is an unwritten and common rule that a wedding invitation is valid for two person. Or it is also valid to take your partner and your children as well. Indonesian wedding mostly invite 300 guest or more. Usually the bride and groom’s parents invite their family, relatives and friends more than the bride and groom’s friend itself. Sounds like more the parents party? Yes it is.
In Javanese wedding people don’t dance and toast, like in Europe.But there are some wedding that show some traditional dance performance or music performance. The main event in modern Javanese wedding party is eating all the good food provided. After I explain it, Anna really interested to join me. She said that she is curious about the wedding costume and the food. She didn’t bring any proper outfit for wedding, so I lend her my dress and my high heels. Luckily it was fit on her. We went there by motorbike.
She was excited when we arrived there. We came earlier, so I could show her the whole of reception ceremony. From the arrival of the bride and groom that accompanied by their family, signing a guest book, giving them congratulation shake hand until bride and groom photo session with their friends. When we arrived at the food buffet, I gave some explanation about typical Javanese wedding food. She tried all the food in the buffet. She said all the food there are very tasty. I let her went around to take pictures. People were being friendly to her, and sometimes asked her to take picture with them. In my opinion, taking a traveler to an open wedding in Java is one of a good experience for them. If I travel somewhere and hosted by local and they ask me to join a wedding ceremony, I will be very happy and excited.  But, yea I should make sure how is the wedding situation, is it open like most Javanese wedding or not :).
PS : I still learn how to write a post in English 🙂

2 Komentar

Filed under Miscelaneus