Tag Archives: desa adat

Desa Adat Bayan, dari Tenun Tradisional hingga Masjid Bayan Beleq

Salah satu sudut kampung Bayan

Salah satu sudut kampung Bayan

Tahukah kamu kalau di Lombok Utara dahulu ada sebuah kerajaan kecil yang dinamakan dengan kerajaan Bayan? Kalau tidak mengunjungi kecamatan Bayan saat itu, mungkin saya juga belum tahu. Konon sejarah kerajaan ini dimulai dari abad ke 15 oleh seorang raja bernama datu bayan. Pada abad ke 16, raja dan masyarakat kerajaan Bayan perlahan-lahan memeluk islam karena pengaruh dari para wali dan para pedagang yang masuk melalui pelabuhan carik. Belum diketahui secara pasti agama masyarakat Bayan sebelum masuk islam, ada yang bilang hindu ada pula yang bilang buddha. Konon katanya juga daerah Bayan adalah wilayah pertama di pulau Lombok yang memeluk islam. Kini sisa-sisa kerajaan ini menjadi sebuah desa adat yang besar yang masih memegang teguh budaya nenek moyang. Hal itu diperlihatkan dengan bentuk rumah tradisionalnya yang terjaga dan kegiatan-kegiatan masyarakatnya yang masih mengacu kepada adat. Konsep adat dan agama islam berkembang secara bersama-sama di desa adat ini. Mereka mempunyai sebuah konsep yang dinamakan wetu telu. Orang-orang di luar Bayan biasanya mengira bahwa wetu telu adalah melaksanakan sholat 3 waktu dalam sehari. Padahal sehari-hari orang bayan melaksanakan sholat 5 waktu sama seperti yang lain. Konsep wetu telu ini lebih mengacu kepada manusia, adat dan agama itu sendiri, untuk keseimbangan hidup yang lebih baik. Orang bayan tidak menggolongkan diri mereka sebagai orang sasak. Mereka lebih suka disebut sebagai orang bayan. Nah apakah bayan adalah suku tersendiri?  Gelar-gelar bangsawan yang dipakai oleh orang bayan berbeda dengan gelar yang dipakai di suku sasak. Orang sasak biasanya bergelar lalu atau baiq, sedangkan orang bayan mempunyai gelar raden untuk laki-laki dan dende untuk perempuan.

Rumah di desa adat Bayan, beberapa mash beratap alang-alang

Rumah di desa adat Bayan, beberapa mash beratap alang-alang

Saya berkunjung ke desa adat Bayan sekedar untuk berwisata. Mumpung saya sedang ditugaskan di kecamatan ini. Kecamatan yang letaknya 85 km dari kota Mataram. Saya surprise juga ternyata pulau lombok memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam. Saya berjalan menelusuri desa yang bangunan rumah-rumahnya masih tradisional. Seperti halnya di desa adat yang lain, di desa ini juga terdapat banyak berugaq untuk menerima tamu dan bumi gora untuk menyimpan padi hasil panen. Selain terkenal dengan budayanya yang unik dan acara adat yang meriah, desa adat bayan ini juga terkenal dengan kain tenunnya. Karena saya adalah fans dari tenun seluruh nusantara, maka saya menghampiri seorang penenun yang ada di sana. Sebut saja namanya bu Dende, karena ia adalah keturunan bangsawan Bayan. Ia mulai menenun sedari kecil. Tenun khas bayan memang diajarkan secara turun temurun dan dilakukan oleh kaum perempuan. Motif tenun ini berupa kotak-kotak dan garis-garis. Tenun bermotif kotak-kotak biasanya dipakai oleh kaum laki-laki. Sarung tenun khas Bayan, sehari-hari juga masih dikenakan oleh masyarakatnya. Apalagi ketika ada acara adat dan agama, mereka beramai-ramai mengenakan kain tenun sebagai sarung. Benang yang digunakan untuk kain tenun bayan pada awalnya adalah benang yang dipintal sendiri dan diwarnai dengan bahan alami. Ibu menunjukkan salah satu hasil kain tenun bayan yang usianya sudah ratusan tahun dan tetap cantik. Ia mendapatkan kain itu dari neneknya. Ibu dende kemudian memperlihatkan kepada saya bagaimana cara menenun dengan alat tenun tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu. Hmm kalau buat saya sih kelihatan rumit. Saya salut kepada mereka para penenun yang dengan telaten merakit benang-benang ini menjadi kain yang indah. Sebagai oleh-oleh dari pulau lombok saya membeli satu buah syal dan satu buah tas tenun bayan.

Sanggar tenun di desa adat Bayan

Sanggar tenun di desa adat Bayan

Tenun gaya Bayan, masih ditenun dengan tradisional

Tenun gaya Bayan, masih ditenun dengan tradisional

Di desa adat ini terdapat sebuah bangunan istimewa yang merupakan cagar budaya nasional dari abad ke 17. Bangunan ini merupakan sebuah masjid kuno yang disebut sebagai masjid bayan beleq. Konon inilah masjid pertama di pulau Lombok. Masjid ini dibangun di atas tumpukan batu, dindingnya terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari bambu dan ijuk. Masjid yang berusia lebih dari 300 tahun ini, dari awal memang tidak pernah diubah bangunanya. Masih terjaga seperti ini sejak dibangun. Jika direnovasipun harus terbuat dari bahan bangunan yang sama. Beleq dalam bahasa bayan artinya adalah makam. Di dalam masjid ini serta di dua bangunan kecil di kiri kanan masjid terdapat makam pemuka agama islam bayan yang pertama. Untuk memasuki masjid ini tidak bisa sembarangan, harus ditemani oleh juru kuncinya. Masjid ini sudah tidak dipergunakan untuk beribadah sehari-harinya. Hanya pada waktu maulid nabi, masjid ini digunakan untuk perayaan bersama. Perayaan maulid nabi di desa adat ini sangat meriah dan sakral. Saya hanya memandangi bangunan masjid ini dari luar dan mengitari halamanya yang penuh pohon besar. Rasanya mistis sekali ketika berada di sini. Keren juga ya masyarakat Bayan bisa mempertahankan keaslian bangunan masjid selama 300 tahun lebih. Pulau Lombok memang tidak melulu pantai, pulau dan gunung, desa-desa adat seperti ini juga merupakan destinasi menarik. Menggagumi keindahan alamnya rasanya memang lebih lengkap kalau kita juga tahu keunikan adat dan keanekaragaman budayanya.

Masjid kuno Bayan Beleq

Masjid kuno Bayan Beleq

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

Mampir sejenak ke kampung adat senaru, kampung tradisional di kaki gunung rinjani

Kampung adat senaru, salah satu kampung tradisional di Lombok Utara

Kampung adat senaru, salah satu kampung tradisional di Lombok Utara

Selama beberapa hari ini saya dan teman-teman penelitian saya tinggal di desa Senaru, kecamatan Bayan untuk mengerjakan tugas. Desa ini cukup terkenal terutama bagi mereka para pendaki gunung rinjani, karena desa ini merupakan salah satu gerbang pendakian ke puncak Rinjani. Di desa ini juga terdapat beberapa air terjun yang terkenal dengan keindahannya.  Selain itu desa senaru juga memiliki sebuah kampung adat suku sasak yang masih terjaga keasliannya. Di Lombok utara memang terdapat beberapa kampung adat yang rumah-rumah warganya masih tradisional. Kampung adat senaru berada persis di gerbang pendakian senaru di ketinggian 650 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju ke desa senaru, dari kota mataram memerlukan waktu 2,5 sampai 3 jam, dengan jarak 86 km. Kebayang kan? pulau Lombok yang terlihat kecil ternyata luas sekali!

Rumah-rumah bambu berjajar rapi di kampung adat senaru

Rumah-rumah bambu berjajar rapi di kampung adat senaru

Sore itu kami datang ke kampung adat senaru bermaksud untuk mencari seseorang dalam daftar penelitian kami. Kampung yang berada di dusun Senaru itu terlihat sangat sepi. Karena hujan turun deras sekali, kami berteduh di salah satu rumah penduduk. Kami sempat ngorbrol sedikit dengan seorang Ibu yang tinggal di sana. Ia bilang kampung adat ini sudah dari dulu bentuknya seperti ini, tidak pernah berubah dan memang sengaja dijaga keasliannya untuk mengenalkan kampung tradisional lombok utara kepada para wisatawan.  Kampung ini dulunya merupakan wilayah kerajaan Bayan, sebuah kerajaan di Lombok Utara. Katanya, tidak semua orang atau warga desa senaru bisa tinggal di kampung adat ini. Warga yang tinggal di sini harus memegang teguh adat istiadat dan rela hidup di rumah-rumah tradisional. Semua keputusan adat dan kegiatan adat yang ada di kampung ini diputuskan bersama-sama dan dipimpin oleh seorang melokaq yaitu tetua adat setempat.

Lorong di kampung adat senaru

Lorong di kampung adat senaru

Rumah-rumah di kampung ini semuanya masih terbuat dari bahan yang sama. Beratap alang-alang dan bambu serta berlantai tanah atau semen batu. Dindingnya terbuat dari bambu yang dianyam. Bentuk rumah-rumahnya juga seragam dan memiliki empat tiang yang disebut dengan sekepat. Ruangan di dalam rumah-rumah tradisional ini ada yang terdiri dari satu lantai ada yang terdiri dari dua lantai. Jika rumahnya terdiri dari dua lantai, lantai ke dua berada persis di bawah loteng atap. Selain bangunan rumah utama, di antara rumah-rumah ini terdapat berugaq, tempat masyarakat berkumpul atau menerima tamu. Di berugaq yang juga beratap alang-alang dan bambu ini terdapat pajangan tanduk kerbau. Katanya sih sebagai tanda kekayaan si pemiliknya. Selain bangunan berugaq, terdapat pula bangunan bumi gora yaitu lumbung padi tradisional ala lombok yang berbentuk panggung. Padi hasil panen selalu disimpan di bumi gora ini. Masyarakat di kampung ini yang sebagian besar adalah petani dan peternak. Mereka menanam padi serta berkebun coklat dan cengkeh. Mereka biasanya beternak sapi coklat, kerbau dan ayam. Sapi dan kerbaunya di tempatkan di samping kampung , diikatkan di sebuah kayu besar. Mereka juga masih memasak dengan tungku kayu bakar.Kayu-kayunya disimpan di bawah berugaq. Saya merasa seperti di berada di jaman dunia persilatan ketika berada di sini, saking jadulnya kampung ini :). So traditional! Kampung adat ini di waktu tertentu masih menyelenggarakan upacara adat yang meriah dan bisa disaksikan oleh para wisatawan. Seperti ketika panen raya dan ketika ada acara pernikahan. Hari-hari besar agama islam juga diperingati dengan meriah, ala adat mereka sendiri.

Lumbung padi masyarakat kampung adat senaru

Lumbung padi masyarakat kampung adat senaru

Berugaq, tempat menerima tamu

Berugaq, tempat menerima tamu dengan pajangan tanduk kerbau

Bapak-bapak sedang berteduh di bawah berugaq sambil bercengkerama

Bapak-bapak sedang berteduh di bawah berugaq sambil bercengkerama

Kampung adat nan sejuk di kaki gunung rinjani

Kampung adat nan sejuk di kaki gunung rinjani

Sambil menunggu hujan reda, kami mengamati kegiatan masyarakat di desa ini. Rasanya damai sekali berada di desa dengan udara super sejuk ini. Kalau ada kesempatan sih, pengen juga tinggal di rumah adat dan belajar budaya tradisional mereka lebih dalam.  Setelah bertanya kepada beberapa penduduk setempat, orang yang kami cari ternyata tidak tinggal di kampung tradisional. Kami kemudian melanjutkan perjalanan setelah hujan reda. Lombok memang tak hanya pantai dan gunung, kekayaan budaya tradisionalnya juga menarik dan patut diapresiasi.

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia