Tag Archives: garut

Tentang bakso terenak di Indonesia :)

Bakso adalah makanan khas Indonesia. Dari ujung pulau Sumatera sampai ke ujung Papua, pasti ada saja yang jual bakso. Yang jelas makanan yang aslinya dibawa para pedagang Cina masuk ke Indonesia pada jaman dahulu kala ini, adalah makanan yang gampang dijumpai di negeri kita tercinta ini. Bakso sendiri bisa dibuat dari berbagai macam daging dan terkadang menyesuaikan dengan kebiasaan makan daging masyarakat setempat. Kebanyakanya di Indonesia bakso terbuat dari daging sapi atau ayam. Di pulau Bali kebanyakan terbuat dari daging babi atau ayam, karena umat hindu tidak memakan daging sapi. Yang unik, sewaktu saya di Papua Barat, karena saking mahalnya daging sapi maka bakso kebanyakan terbuat dari daging rusa. Daging rusa memang jauh lebih terjangkau dan mudah didapatkan di Papua Barat. Bahkan bakso versi murah meriah yang biasanya disebut sebagai bakso ojek atau cilok di Papua Barat juga menggunakan daging rusa.

cilok daging rusa, Bintuni, Papua Barat

cilok daging rusa, Bintuni, Papua Barat

Kembali ke judul di atas yang memang agak lebay sih. Tetapi selama saya jalan-jalan dari pulau Sumatera sampai ke pulau Papua (kecuali Kalimantan dan Maluku, belum sempat ke sana euy)  dan menyempatkan makan bakso di tiap daerahnya, rasa bakso yang masih terngiang-ngiang kelezatanya ada di kota Garut. Waktu itu saya ke sana pada tahun 2008. Nama warung bakso terenak versi saya ini adalah bakso kartika sari yang ada di jalan cikuray kota Garut. Waktu itu semangkuknya masih Rp 12.000 dan jumlah bulatan baksonya ada 9 biji per mangkuk, plus satu biji bakso tahu. Sajian bakso ini juga ditambah dengan potongan babat sapi yang diiris tipis-tipis. Kuahnya pun rasanya menohok segar pemirsa :). Seandainya warung ini ada di kota saya, pasti bakal sering beli deh. Saran saya, kalau pas lagi berkunjung ke kota Garut, cobalah bakso ini, bandingkan saja rasanya dengan bakso-bakso yang lain, pasti tidak kalah enak :).

Bakso Kartikasari Garut

Bakso Kartikasari Garut

Iklan

2 Komentar

Filed under Travel Food and Fruit

Cruising Garut Selatan – Day 2

kebun teh bunisarilendra

kebun teh bunisarilendra

Hari ke-dua saya berada di rumah teteh di komplek PTPN cisompet, garut selatan, nan tenang menyejukkan dan penuh kedamaian ini (^__^), saya habiskan dengan mengunjungi beberapa tempat menarik di sana. Transport umum di sekitar daerah garut selatan berupa minibus dan colt, hanya menghubungkan beberapa ibu kota kecamatan saja, tidak sampai ke tempat yang akan menjadi tujuan kami, oleh karenanya teteh meminjam motor dari anak buah ayahnya supaya kami bisa blusukan (rada menggunakan kekuasaan sedikit :D).

sleeping in tea greenish

tea slope bunisarilendra

Tujuan pertama kami dengan motor pinjaman itu adalah perkebunan teh yang letaknya masih di kecamatan cisompet. Kebun teh yang bernama bunisarilendra (namanya keren yah?) terhampar luas berhektar-hektar hijau dan menyejukkan mata. Sebagai orang jogja yang jauuuh dari kebun teh, saya senang sekali berada di sana, sekedar menghabiskan waktu beberapa jam untuk tea-walking. Jalan di antara perkebunan teh yang mengarah ke perkampungan warga pemetik teh masih tersusun dari bebatuan a.k.a belum diaspal, jadi sedikit sulit untuk dilewati kendaraan bermotor, tetapi sangat asyik untuk bersepeda offroad. Untuk menuju ke perkebunan teh ini dari kota garut sangatlah mudah, tinggal naik angkutan umum jurusan pamengpeuk atau dengan kendaraan pribadi yang dipacu kira-kira 59 km ke selatan kota garut.

curug 7 neglasari

curug 7 neglasari dengan zoom maksimal kamera saya 😀

Di sebelah selatan perkebunan teh ini terdapat perbukitan dengan hutan hujan tropis yang juga cukup luas. Jika dari arah selatan, di sela-sela hamparan hutan terlihat sebuah air terjun yang bertingkat-tingkat. Karena penasaran saya dan teteh mencoba menerabas hamparan teh untuk sampai ke air terjun ini. Setelah setengah jam mencari-cari jalan, kami tidak berhasil sampai, malah semakin terjebak di dalam labirin kebun teh tiada akhir. Dari tempat kami berdiri saat itu, air terjun yang konon memiliki 7 tingkat itu, terlihat sangat dekat. Karena keputus-asaan, kami tidak melanjutkan mencari jalan ke air terjun, cukup mengambil foto air terjun dari jauh saja L. Usut punya usut ternyata nama air terjun tersebut adalah curug 7 neglasari, ada yang tahu jalan tembus ke air terjun ini? Saya sudah tanya ke penduduk setempat mereka juga bingung :D.

pantai sayang heulang

pantai sayang heulang

jembatan gantung sayang heulang - santolo

jembatan gantung sayang heulang – santolo

Setelah puas melihat yang “hijau” kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan sampai ke yang “biru” dengan waktu tempuh 45 menit . Kali itu samudra biru nan luas terhampar di hadapan kami. Kami berada di sebuah pantai yang bernama sayang heulang. Sayang heulang merupakan salah satu pantai yang juga terkenal di kawasan garut selatan. Pantai ini memiliki pasir putih, bebatuan karang cadas dan ombak yang ganas. Jadi jangan coba-coba menggoda ombak di sana :D. Yang menarik dari sayang heulang, dan mungkin tidak terdapat di tempat lainnya adalah sebuah jembatan gantung kuno yang berada di sisi barat pantai. Jarang kan ada jembatan gantung di pinggir pantai? Jembatan gantung ini menghubungkan antara kawasan sayang heulang dengan pulau santolo. Menurut saya spot yang satu ini sangat cocok untuk pemotretan pre-wed :D. Saking sukanya saya dengan tempat ini saya sampai memenuhi memory card kamera saya dengan jepretan-jepretan obyek ini.

feel europe? try it in pamengpeuk

feel europe? try it in pamengpeuk

pantai cijeruk indah

pantai cijeruk indah

pantai cijeruk indah

feel amazon? try it in cijeruk indah

Setelah puas di sayang heulang, saya dan teteh kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur, melewati berkilo-kilo meter perkebunan karet. Saya merasakan suasana sedikit berbeda di sini, seperti di eropa! :D. Pohon-pohon karet yang ujung-ujung daunnya berwarna kecoklatan dan meranggas tertiup angin ini seperti membawa suasana musim gugur di mata saya :D. Selepas perkebunan karet, kami berbelok ke arah selatan. Terdapat gapura dengan tulisan pantai cijeruk indah menyambut kami. Mulanya saya sedikit kuatir karena kawasan ini sepi sekali dan hanya terlihat beberapa orang kembali memancing dari pantai. Tetapi karena kami sudah mempertaruhkan waktu 30 menit perjalanan dari sayang heulang, kami bertekad untuk sampai ke pantai cijeruk, walaupun kami harus menyebarang muara dengan berjalan kaki. Berbeda dengan pantai sayang heulang, pantai cijeruk berpasir gelap, abu-abu kecoklatan (coba bayangkan saja :P). Waktu saya dan teteh berada di pantai, tidak ada seorangpun pengunjung yang ada di sana kecuali kami. Hanya terlihat kawanan sapi yang sedang digembalakan di seberang muara. Saya sedikit amazed karena sapi-sapi yang digembalakan tidak hanya beberapa ekor, tapi berpuluh-puluh ekor! Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nanti penggembalannya menggiring mereka masuk kandang satu per satu. Suasana cijeruk yang sepi ditambah hamparan hutan yang terlihat masih perawan di sekitarnya dan sapi-sapi itu membuat saya merasa berada di kawasan amazon :D. Kami tidak berlama-lama di cijeruk karena tak terasa matahari sudah hampir terbenam, dan kami harus menghabiskan waktu satu jam untuk kembali ke kecamatan cisompet.

Dan perjalanan hari itu berakhir pada dua kotak martabak manis yang kami beli di pamengpeuk untuk si bapak si empunya motor. Terimakasih bapak! 😀

penggembalaan sapi di pantai cijeruk

penggembalaan sapi di pantai cijeruk

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia