Tag Archives: gunung

Posong pass, surga kecil di antara Sindoro Sumbing

Sebulanan ini saya sama sekali ga kemana-mana,kurang piknik dan terjebak dengan rutinitas di Jogja *curhat. Saya kangen road trip ke suatu tempat yang pemandanganya indah. Entah ke gunung, hutan atau pantai.Karena saya seminggu ini menemukan banyak postingan tentang obyek wisata posong yang terletak di kabupaten Temanggung, saya jadi penasaran. Hari sabtu kemarin saya naik motor berboncengan dengan teman saya dari Jogja ke sana. Jauh? Iya!! Jaraknya 88 km dari Jogja. Kami berangkat jam 11 siang dan berniat menginap di sekitar obyek wisata tersebut. Saya penasaran dengan keindahan lembah yang berada di antara dua gunung yaitu Sindoro dan Sumbing ini. Dari foto-fotonya di google sih cantik banget! Kami sampai di obyek wisata Posong jam 3 sore setelah mampir sebentar untuk makan siang. Perjalanan motor Jogja-Secang-Temanggung-Parakan itu kejam men!! Kami hampir tertabrak bis karena banyak  yang  nyelonong pengen nyelip kendaraan lain dan nekad melawan arah tanpa mempedulikan ada motor di sana. Terutama di jalan raya Secang sampai Parakan. Thanks God! Kami masih hidup!

Gunung Sindoro di sore hari yang terlihat dari obyek wisata Posong Pass

Gunung Sindoro di sore hari yang terlihat dari obyek wisata Posong Pass

Gunung Sumbing, dari Posong Pass

Gunung Sumbing, dari Posong Pass

Sampai di Posong kami tak henti-hentinya bersyukur karena kami sampai di tempat yang indah ini dengan selamat. Kami seperti merasa di surga setelah melewati neraka jalanan penuh dengan truk dan bus yang pada ngawur. Posong pass letaknya di desa Tlahab, Kledung, Temanggung. Untuk masuk ke obyek wisata Posong pengunjung wajib membayar karcis Rp 7000 per orang. Jarak Posong dari jalan raya adalah 3 km. Jalan masuk ke obyek wisata ini masih terbuat dari batu-batu yang disusun membelah perkebunan kopi dan tembakau yang membentang di lereng gunung Sindoro. Di beberapa tempat, terdapat warung-warung kopi lokal yang dibangun di tengah kebun kopi. Pemandangan lembah hingga puncak gunung Sumbing terlihat sangat cantik dari Posong pass. Begitu pula pemandangan gunung Sindoro yang bersiluet terkena matahari sore. Pemandangan seperti ini seketika mendamaikan pikiran saya. Sebenarnya paling pas mengunjungi tempat ini ketika matahari terbit karena lembah di lereng Sindoro ini pas menghadap ke timur. Matahari akan terbit dari balik gunung Sumbing. Lembah di lereng Sindoro ini dipenuhi dengan tanaman tembakau milik petani setempat. Rasanya seperti berada di agro wisata tembakau :). Jika ingin menginap, pengunjung bisa menyewa tenda minimal untuk 10 orang. Tenda ini didirikan di antara perkebunan tembakau. Dari tenda ini, pengunjung langsung bisa menikmati terbitnya matahari. Hmm so tempting! Pengen! Tetapi karena kami cuma berdua dan belum terdapat homestay di sana, kami hanya berkunjung saja menikmati keindahan alam sampai menjelang senja.

Lahan perkemahan dan tenda yang disediakan jika ingin menginap melihat sunrise di Posong pass

Lahan perkemahan dan tenda yang disediakan jika ingin menginap melihat sunrise di Posong pass

Posong di Google Map :

Iklan

2 Komentar

Filed under Berkelana di Gunung, Keliling Indonesia

Road Trip ke Ngargoyoso #3 : Kebun Teh Kemuning

Setelah puas menghabiskan pagi di candi cetho dan candi kethek, kami kembali menuju ke hamparan hijau perkebunan teh kemuning. Menuruni turunan dari candi cetho ternyata lebih mengerikan daripada pas menanjak. Apalagi di turunan yang berbelok. Rem motor benar-benar harus bekerja dengan baik. Blong sedikit saja bisa terjun bebas ke jurang. Untung saja motor saya masih bisa diandalkan.
Salah satu sudut kebun teh kemuning

Salah satu sudut kebun teh kemuning

Sejak pertama saya mengunjungi kebun teh beberapa tahun yang lalu, saya jatuh cinta dengan kawasan seperti ini. Suatu pemandangan alam yang menurut saya ideal untuk memanjakan mata dengan hamparan hijaunya dedaunan teh. Apalagi jika hari cerah, paduan hijaunya hamparan teh dengan langit yang biru terkesan menimbulkan suasana yang dramatis. 2 tahun yang lalu saya pernah mengunjungi kemuning dengan roda dua juga. Saat itu belum banyak warung-warung dan pedagang-pedagang yang berjualan di antara perkebunan teh seperti sekarang. Sekarang pengunjung perkebunan kemuning bisa menikmati langsung segelas teh lokal di warung-warung tersebut sambil duduk-duduk merepih alam pegunungan teh. Pengunjung juga bisa membeli teh tradisional langsung di warung-warung tersebut dengan harga terjangkau.

Jalur trekking di kebun teh kemuning

Jalur trekking di kebun teh kemuning

Menurut saya nih, hal menarik yang bisa dilakukan di kawasan ini sebenarnya adalah trekking! atau kemping bermalam di hamparan teh. Tapi berhubung saat itu kami memang tidak sempat membawa tenda dan perlengkapan lainnya serta lagi ga mau rempong *EH, ya kami menginap di penginapan saja. Kami memarkir motor kami di suatu sudut, kemudian kami berjalan-jalan sebentar mengikuti jalan-jalan setapak di perkebunan kemuning yang saat itu udaranya mulai menghangat. Waktu itu beberapa petani teh sedang memanen pucuk-pucuk daun teh dengan memikul keranjang besar di pundak mereka. Para petani ini memetik daun-daun tersebut beberapa minggu sekali setelah pucuk-pucuk daun teh muda tumbuh kembali. Saya jadi teringat soal obrolan saya dengan seorang teman tentang teh. Waktu itu saya kekeuh bahwa teh jawa dengan campuran melati yang sepet dengan gula secukupnya adalah yang paling enak. Dan saya merasa tidak bisa menikmati teh lain selain teh jawa kebanyakan. Teman saya kemudian bercerita soal tertipunya orang Jawa oleh penjajah Belanda , karena selama ini kami menikmati teh di tingkatan yang paling rendah, yaitu daun-daun dicampur batang-batang teh yang telah menua. Untuk menutupi aroma tersebut maka teh di Jawa dicampur dengan bunga melati supaya lebih harum. Di masa penjajahan dahulu pucuk-pucuk daun teh kualitas satu dan kualitas dua sudah dikonsumsi atau diekspor oleh penjajah sendiri. Jadilah orang pribumi hanya bisa menikmati sisa-sisanya saja. Tetapi karena sudah kebiasaan inilah tampaknya teh sepet menjadi favorit masyarakat di Jawa kebanyakan. Sampai saat ini para petani teh menjual teh mereka dengan beberapa tingkatan kualitas yang berbeda, tergantung kemudaan daun tehnya. Nah, meskipun demikian saya tetap lebih bisa menikmati teh kalau itu sepet dan banyak kandungan batang tehnya *Ehh. Mungkin karena telah terbiasa dan sudah mengakar di lidah saya :D. Saya jadi penasaran suami saya terbiasa minum teh kualitas ke berapa ya? Yang jelas Ia pun senang dengan teh jawa yang nasgitel.

Langit biru dan hamparan hijau teh kemuning

Langit biru dan hamparan hijau teh kemuning

Sejauh mata memandang tampak hamparan hijau teh dan gunung lawu

Sejauh mata memandang tampak hamparan hijau teh dan gunung lawu

Para petani teh kemuning

Para petani teh kemuning

hamparan teh yang tampak tertata rapi

hamparan teh yang tampak tertata rapi

Perjalanan kami di kawasan kemuning kemudian kami akhiri di sebuah kedai teh yang sudah sangat populer, yaitu kedai teh ndoro dongker yang menyediakan aneka ragam teh dengan berbagai macam kualitas. Kami memilih satu teko teh lokal untuk kami minum berdua sambil menghirup oksigen yang keluar dari daun-daun teh di sekitar kami. Rasanya lengkaplah sudah petualangan teh kami hari ini.

kedai teh ndoro dongker, satu poci berdua

kedai teh ndoro dongker, satu poci berdua

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia