Tag Archives: hutan

Runaway to Annecy #6 : Trekking di Roc de Chere

Hari ini adalah hari terakhir kami menjelajahi Annecy dan sekitarnya. Menurut prakiraan cuaca, hari ini agak sedikit cerah dibandingkan hari-hari sebelumnya. Rencananya kami ingin mengunjungi kastil Methon yang berada di kota Methon st Bernard, tak jauh dari Annecy. Tapi setelah cek dan ricek di website resminya ternyata kastil ini tutup selama musim dingin 😦 . Tak hanya itu, kastil-kastil medieval lain di luar kota Annecy juga tutup selama musim dingin untuk perawatan dan renovasi 😦 . Kami lalu mencari alternatif lain, seperti trekking atau mini hiking yang bisa dilakukan di kawasan danau Annecy. Awalnya kami tertarik untuk trekking menuju ke sebuah air terjun bernama cascade d’angon. Sayangnya menurut informasi dari situs resminya, treknya juga tak dianjurkan selama musim dingin karena sangat licin. Dan kami ga mau mengambil resiko. Kalau dibilang bahaya ya bahaya, jangan malah merasa tertantang 🙂 . Saya jadi teringat pas saya hampir terpeleset di Paris karena es di trotoar. Itu aja licin banget apalagi es di bebatuan gunung?
p1120184

Kota Annecy

Ke mana donk kita? Bingung nih. Maybe that’s why it’s cheaper in winter here, karena ga banyak tempat bisa dijelajahi, kecuali kalau mau ski sekalian. Tapi kami ga siap untuk main ski karena sewa peralatannya juga mahal. Suami saya lalu memutuskan untuk trekking di hutan di pinggir danau yang masih bisa dilalui di musim dingin. Hutan ini terletak sekitar 15 km dari kota Annecy. Untuk menuju ke tempat ini, kami menaiki bus umum no 61 dari terminal bus yang berada di stasiun Annecy. Wah, terminalnya ada di stasiun kereta. Yang paling saya suka ketika di Perancis adalah sistem transportasinya jelas. Stasiun dan terminal bus saling terintegrasi. Jadwal bus dan keretanya juga jelas, jadi kami ga berasa di php-in 😀 . Kami membayar 3 euro per orang untuk perjalanan berangkat dan pulang sekaligus.
P1120347

Pemandangan di depan halte bus, pegunungan bersalju dan pedesaan.

Ketika bus no 61 jurusan kota Talloires-Montmin datang, kami langsung naik dan memberitahukan ke pak sopir kalau kami ingin trekking di hutan yang dimaksud. Pak sopir mengiyakan dan akan memberitahu kami di halte mana kami harus turun. Perjalanan di dalam bus melewati jalan di antara danau dan pegunungan. Menyuguhkan pemandangan indah yang memanjakan mata. Perjalanan di dalam bus ini juga bisa dijadikan alternatif untuk keliling danau Annecy. Tak sampai setengah jam kemudian, pak sopir meminta kami turun di sebuah halte di kota kecil Talloires. Haltenya bernama Talloires-Montmin Les Granges. Sebenarnya sih ga ada bangunan halte ketika kami turun, tetapi ada tanda bus stop dan tiang merah yang menandakan halte. Di Perancis memang penumpang harus naik dan turun di tempat yang ditentukan ga bisa asal naik dari mana saja seperti di Indonesia.
P1120349

Pemandangan danau Annecy dari halte bus

Hutan lindung ini bernama Reserve Naturelle Roc de Chere. Terletak di sebuah bukit di pinggir danau Annecy yang luasnya mencapai 68 hektar. Altitudenya sekitar 447 sampai 700 meter di atas permukaan laut. Untuk mengawali perjalanan trekking kami, awalnya kami kesulitan dan sempat nyasar ke halaman rumah orang 😀 . Ternyata pintu masuk jalan setapak Roc de Chere memang sangat sempit. Berada di pinggir jalan raya di antara rumah-rumah penduduk. Untung saja kami nemu treknya, kalau ga mungkin kami mutung balik lagi ke Annecy 😀 . Jalan setapak di belakang rumah dan halaman penduduk ini begitu sempit, sampai kami menemukan tanda masuk hutan lindung ini berupa peta trekking dan keterangan mengenai flora dan fauna yang ada di dalamnya.
P1120351

Petunjuk jalur trekking roc de chere dari pinggir jalan

Trekking pun dimulai. Treknya jadi agak lebar, tetapi sangat menanjak dan agak ekstrim. Untung saja sepatu trekking kami dapat diandalkan di medan licin seperti ini. Sepanjang trek kami masih menemukan butiran-butiran salju yang belum mencair. Suhu udara saat itu memang masih di bawah 5 derajat jadi es-es ini agak awet menggumpal di atas tanah. Kami mendaki pelan-pelan dan berhati-hati supaya tak cepat merasa capek. Di separo trek menanjak ini terdapat bangku kayu dengan pemandangan danau Annecy dari atas, dan pegunungan Alpen yang diselimuti salju di seberangnya. Kami berhenti di sana untuk makan siang berupa bekal roti sandwich yang kami beli dari bakery tak jauh dari hotel. Makan siang sederhana dengan pemandagan yang cantik, tetapi juga sambil menahan dinginnya udara.
P1120362

Papan petunjuk dan peta di pintu masuk trek Roc de Chere

P1120365

Jalur trekking yang menanjak dan licin

P1120377

istirahat makan siang di sini

Meskipun musim dingin, tampaknya fauna-fauna di hutan lindung ini tak berhibernasi. Burung-burung seperti pouillot de bonnelli terdengar bernyanyi membawa keceriaan di dalam dinginnya hutan. Burung-burung yang berukuran agak besar dengan bulu berwarna-warni pun tak jarang melintas di hadapan kami.   Sayang, kamera poket saya tak sanggup meneropong dan menangkap mereka.  Hutan lindung yang dilindungi pemerintah sejak tahun 1977 ini memang menjadi rumah bagi aneka flora dan fauna seperti burung-burung, kadal hijau, anggrek hutan dan aneka serangga hutan. Onggokan dedaunan jatuh berwarna coklat dan lumut-lumut hijau adalah pemandangan yang bertebaran di seluruh bagian hutan ini. Bebatuan hitam dan putih serta akar-akar dan batang pohon semuanya tertutupi lumut, menandakan betapa lembabnya hutan ini selama musim dingin.
P1120395

Treknya penuh dengan butiran salju yang belum meleleh

P1120382

Pemandangan pegunungan Alpen di seberang Roc de Chere

Selepas trek menanjak, kami menemukan beberapa plang petunjuk jalan yang bisa diikuti oleh para pejalan kaki. Kami memilih trek yang paling panjang karena kami memang memiliki waktu seharian penuh hari ini. Sepanjang trek kami menemukan beberapa view point tempat memandang danau Annecy dari atas. Danau Annecy hari ini terlihat gelap karena langit memang mendung. Kami hanya berharap supaya tidak turun hujan, karena kami sedang di tengah hutan dan males kena basah 😀 . Beberapa jalan setapak di dalam hutan ini ada yang dipasangi tanda larangan yang berlaku selama musim dingin, terutama trek yang berada di tebing tepat di pinggir danau. Katanya sih, pas musim panas, justru trek ini paling ramai pengunjungnya karena mereka ingin loncat indah dan berenang dari atas tebing 😀 .
P1120399

Plang petunjuk jalan di dalam hutan mudah ditemukan

P1120393

Narsis dulu mumpung pemandangannya cantik

P1120389

Sebuah kastil di pinggir danau dilihat dari Roc de Chere

Selama kami berjalan kaki, kami ga ketemu satu orang pun di dalam hutan. Mungkin karena weekday, warga sekitar sibuk bekerja dan para wisatawan lebih memilih mengunjungi tempat lainnya. Rasanya sih hutan ini jadi milik kami, saking sepinya. Di sepanjang trek kami menemukan beberapa gua yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berteduh jika terjadi hujan deras. Untung saja, seiring kami berjalan ke ujung trek, cuaca mulai cerah, matahari mulai memancarakan sinarnya *cieh . Ujung trek yang kami tuju tembus ke kota Methon st Bernard. Baru di ujung trek ini, kami bertemu pasangan manula yang mengawali trek mereka. Mereka tersenyum dan say hi kepada kami, seperti layaknya salam yang disampaikan para pendaki gunung ketika saling bertemu di trek di Indonesia. Wiih hebat juga yaa bapak dan ibu ini, sudah tua tetapi tetep aktif trekking. Pemandangan kastil tua Methon dari kejauhan, menyambut kami di ujung perjalanan, dengan latar belakang pegunungan salju yang terlihat epic. I’m glad we did this trekking, itung-itung olahraga membuang lemak setelah terlalu banyak makan keju 😀 .
P1120417

Nemu goa di dalam hutan

P1120421

Nemu goa lagi 😀

P1120425

Another view point to the lake

P1120435

Kastil tua methon yang tampak epic

Di ujung trek ini juga, kami melewati sebuah makam tua milik seorang ahli sejarah dan filosof Perancis bernama Hippolyte Taine. Makamnya tampak tak terawat dan diselimuti lumut. Jangan-jangan, berhantu lagi ? Yang jelas, kalau malam saya bakalan takut lewat jalan setapak ini sendirian. Entah mengapa makamnya tampak tak diurus seperti ini.  Karena saya penasaran, sesampainya di hotel saya googling tentang nama bapak ini. Meskipun dulu saya pernah ikut kuliah wajib filsafat beberapa kali, saya belum pernah mendengar namanya sekalipun.  Dari temuan googling, Ia memang seorang sejarawan, kritikus, sastrawan dan filosof yang terkenal di jamannya di negara ini. Ia menciptakan beberapa quote yang akan saya sematkan sebagai akhir dari postingan saya kali ini 🙂 . Perjalanan trekking di dalam hutan pun, kadang ujungnya bisa menambah wawasan kita tentang filsafat 🙂 .
P1120432

Makam Filisof Hippolyte Taine

“I’ve met many thinkers and many cats, but the wisdom of cats is infinitely superior” -Hippolyte Taine-

 “There are four varieties of society, the lovers, the ambitious, observers and fools. The fools are the happiest.” -Hippolyte Taine-

“History is nothing but a problem of mechanics apply to psychology” -Hippolyte Taine-

 
Iklan

10 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Penjelajahan nyasar di Foret de Marly le Roi (hutan Marly le Roi)

p1100494

Stasiun St nom la breteche foret de marly yang letaknya di tengah-tengah hutan

Pada suatu hari seorang teman saya, yang sama-sama tinggal di Paris, mengajak saya untuk menyasarkan diri. Langsung saja saya mengiyakan karena saya emang suka menyasarkan diri juga 😀 . Kali ini kami ingin naik kereta transilien L dari stasiun Saint Lazare sampai ujung. Kereta L sendiri mempunyai 3 jurusan berbeda yaitu ke Cergy, Versailes Rive Droite dan Saint Nom La Breteche Foret de Marly. Kami yang siang itu sudah janjian di stasiun, memutuskan untuk mengambil jurusan Saint Nom La Breteche Foret de Marly. Berdasarkan riset kecil-kecilan yang sudah saya lakukan, di kota kecil ini ada sebuah kastil atau chateau yang mungkin bisa kami kunjungi. Teman saya membawa serta putrinya yang berusia 3 tahun dan saya mengajak suami saya untuk jalan-jalan bersama. Eniwei, for your information, kereta transilien adalah kereta komunal yang menghubungkan kota Paris dengan kota-kota kecil lain yang berada di departemen Ile de France. Kalau di Jakarta ya seperti kereta KRL gitu deh. Di Paris, jurusan kereta transilien ini ada 9 jalur. Masing-masing jalur masih terbagi menjadi beberapa jalur lagi. Jadi sebelum naik kereta ini, penumpang harus benar-benar memperhatikan jadwal kereta dan kota yang akan dituju meskipun jalurnya sama. Harga tiket untuk kereta ini tergantung dari zona nya. Untuk pemegang kartu berlangganan navigo seperti saya, suami saya dan teman saya, kami tinggal tap saja tanpa harus membayar lagi.

p1100503

Trekking lagi nih?

Ceritanya, anak teman saya ini seneng banget kalau diajak jalan-jalan naik kereta, naik metro, tram atau bus. Jadi kalau pas mamanya libur, ia pasti menyempatkan diri untuk ngemong anaknya jalan-jalan. Kali ini, setelah 30 menit berada di dalam kereta, sampailah kami di stasiun Saint Nom La Breteche Foret de Marly. Kami sih sebenarnya sudah tau kalau stasiunnya berada di tengah-tengah hutan. Jadi kami berniat untuk jalan-jalan menembus hutan menuju ke kota kecilnya. Awalnya saya pikir hutannya landai seperti di Saint Germain en Laye, jadi bisa untuk jalan-jalan sambil mendorong troley anak. Ternyata, Foret de Marly atau hutan Marly ini konturnya terlihat liar dan berbukit-bukit. Benar-benar terlihat seperti hutan yang masih perawan. Jadi ga bisa deh kalau buat jalan-jalan dengan troley 😦 . Kota kecil Saint Nom la Breteche juga letaknya masih sangat jauh dari stasiun. Dan setelah googling kembali ternyata kastil atau chateaunya ga ada di kota itu 😦 . Teman saya kemudian memutuskan untuk kembali ke Paris bersama anaknya, yang penting si adek udah naik kereta api 🙂 . Tinggal saya dan suami saya yang bingung mau ngapain. Balik ke Paris kok rasanya sayang, karena hutannya tampak mengundang untuk dijelajahi.
p1100508

Jamur raksasa di pohon-pohon besar merupakan pemandangan yang sering dijumpai di hutan ini

 

Saya dan suami saya akhirnya memutuskan untuk menyasarkan diri trekking di hutan ini. Untung saja kami sudah siap dengan sandal gunung yang nyaman untuk trekking walaupun bekal air minum cuma sebotol. Hutan yang letaknya sekitar 30 km dari kota Paris ini, dulunya juga merupakan bagian dari hutan kuno Yvelines. Jaman dahulu hutan ini digunakan untuk berburu binatang bagi para bangsawan dan rakyat biasa. Luas hutan yang termasuk dalam domain nasional Perancis ini mencapai 2000 hektar. Luas banget kaaan? Jadi kalau benar-benar mau trekking di semua jalurnya, seharianpun ga akan cukup. Meskipun hutan ini menurut saya masih sangat terlihat liar, jalur-jalur trekkingnya sudah dipetakan dan bisa dilihat dengan aplikasi google map dan apple map. Sinyal hp juga tertangkap dengan baik selama di dalam hutan. Jadi kalau nyasar ya tinggal buka map saja 😀 . Kalau ga punya map, di dalam hutan sudah ada petunjuk jalur-jalurnya. Tapi ya harus dihafalin dulu jalur-jalurnya 😛 . Kalau tidak bisa mampir ke kantor pariwisata atau penjaga hutan setempat, sebelum trekking untuk mendapatkan petanya.
p1100524

Jalur utama untuk trekking dan berkuda di hutan Marly

p1100526

Di dalam hutan ini masih terdapat binatang-binatang yang dilindungi terutama rusa tutul

Trekking di dalam hutan ini juga ada peraturannya. Terutama untuk mereka yang trekking sambil membawa anjing, karena di dalam hutan ini masih terdapat binatang-binatang liar yang dilindungi. Contohnya seperti aneka macam burung dan rusa tutul. Jika menemukan rusa tutul sebaiknya jangan didekati dan disentuh,apalagi diajak selfie bareng :D. Big No! Kita bisa dihukum dan didenda jika mengganggu binatang-binatang ini. Selama trekking, kami bertemu dengan orang lain yang juga trekking di dalam hutan ini. Seperti halnya di Indonesia pas naik gunung, pas berpapasan dengan orang-orang lain, mereka say hi juga 😀 . Ternyata orang Perancis ramah-ramah juga :). Di dalam hutan ini juga terdapat situs-situs bersejarah, yang bisa dikunjungi satu per satu. Awalnya kami berminat untuk menyambanginya ala india jones, siapa tau saja dapat harta karun :P. Tapi karena jaraknya jauh-jauh kami mengurungkan niat kami.
p1100512

Jalur trekking yang dipenuhi rerumputan liar

p1100506

The big tree made me  feel greenies and calm 😀

p1100539

Keep trekking into the forest

Kontur hutan ini sebenarnya terlalu berbukit-bukit buat saya 😛 , jadi kami lebih sering istirahat daripada jalan. Tetapi suasananya alami dan hijau banget. Rasanya kayak bukan di hutan di dekat kota Paris. Sesekali kami menemukan buah-buahan berri liar yang buanyak banget! Saya sampai kalap metikin berri ini sambil jalan. Rasanya manis dan sedikit asam. Mirip dengan buah berri liar yang ada di jalur pendakian di Indonesia.Tanaman berri liarnya di hutan ini jauh lebih banyak daripada yang di hutan Saint Germain en Laye. Coba yaa saya bawa keranjang atau tas kresek, bisa nih dibikin selai 😀 . Suami saya bilang puncak musim berri adalah akhir agustus sampai akhir september. Tampaknya tahun depan saya pengen deh bener-bener niat bawa tas kresek 😛 . Menjelang sore, ga terasa kalau kami sudah 4 jam di dalam hutan. Kami buru-buru mencari jalan pulang ke stasiun karena takut ga keangkut kereta. Kami baru tau kalau kereta ini beroperasi sampai tengah malam ketika sampai di rumah 🙂 .
p1100542

Papan petunjuk arah trekking di dalam hutan

p1100545

Berasa masuk terowongan hijau

p1100509

berri liar

p1100519

More berries!!

p1100520

More more berries! *eh

8 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri