Tag Archives: Ile de France

Provins, kota kecil medieval tak jauh dari Paris

Nama kota ini Provins, mirip ya sama Provence namanya. Tetapi Provins bukan Provence yang sudah lebih dulu terkenal sebagai destinasi wisata di Perancis karena wine dan kebun bunga lavendernya. Provins, saya mengetahui tentang kota ini dari buklet wisata yang saya dapatkan di salah satu tourism office di kota Paris. Saya bersyukur sekali mendapatkan buklet ini sebagai panduan jalan-jalan dan blusukan saya selama di Paris. Dalam buklet tersebut sebenarnya destinasinya banyak banget, dan letaknya tidak terlalu jauh dari Paris serta mudah dijangkau dengan kereta transilien. Saya memilih untuk mengunjungi Provins terlebih dahulu karena kota ini termasuk dalam UNESCO heritage site yang ada di Perancis. Alasan lainnya adalah karena saya suka banget sama bangunan-bangunan kuno ala-ala kerajaan jaman dahulu kala 😀 . Untuk menuju ke kota ini kami berangkat melalui stasiun Gare de L’est dengan kereta transilien P yang tersedia setiap satu jam sekali sampai jam 10 malam. Tarif tiket kereta ini sekitar 11,35 euro one way. Saran saya sih lebih baik pas beli tiket beli untuk pulang sekalian. Saya dan suami saya mempunyai kartu langganan kereta bulanan navigo, jadi kami tak perlu membeli tiket karena Provins masih terletak di Ile de France. Kereta transilien P ini desainnya cukup futuristik dan interior tempat duduknya sangat nyaman. Beberapa tempat duduk bahkan mempunyai meja makan sendiri.
p1100744

Di dalam kereta transilien P dari Paris ke Provins yang tampak nyaman

Kami sampai di stasiun Provins satu setengah jam kemudian. Cukup cepat untuk jarak hampir 90 km dari kota Paris. Hari itu hari minggu, jadi banyak sekali turis lokal dan internasional yang satu kereta dengan kami. Dari stasiun sebenarnya tersedia shuttle bus menuju ke pusat kota, tetapi karena siang itu kami berniat cari makan dulu, maka kami memilih jalan kaki mencari kedai makanan. Setelah 20 menit jalan kaki, eh ternyata kedai yang buka berada di pusat kota tempat shuttle bus berhenti *hiks. Maklum hari minggu di Perancis, ga semua restaurant dan kedai makanan buka. Yang buka setiap hari biasanya restaurant mahal untuk turis atau kedai kebab. Tentu saja pilihan kami jatuh ke kedai kebab yang murah meriah 😀 . Sebelumnya kami sudah googling tentang things to do dan place to visit di kota kecil ini. Ternyata listnya lumayan banyak. Karena kami sudah kesiangan, kami ga mungkin bisa mengunjungi semuanya 😦 . Saran saya sih kalau mau jalan-jalan ke kota ini dari Paris, lebih baik berangkatnya pagi-pagi sekalian. Kecuali kalau berniat mau menginap di kota ini. Sebagai kota wisata, Provins mempunyai banyak penginapan berupa hotel dan airbnb.
p1100569

Rumah-rumah penduduk di kota Provins

Kota Provins konon katanya dibangun pada tahun 802 masehi. Merupakan kota yang dulunya kaya karena menjadi salah satu pusat perdagangan dan industri di abad pertengahan. Kota ini mencapai puncak kejayaannya di bawah Thibauld IV of Champagne pada tahun 1201 -1253 masehi. Terdapat 58 bangunan, tempat dan situs bersejarah di kota Medieval ini. Sampai saat ini, kita masih bisa melihat situs-situs dan bangunan-bangunan bersejarah dengan gaya medieval di sudut-sudut kota ini. Bahkan rumah-rumah penduduk dan jalan-jalannya pun masih banyak yang bergaya medieval dan terbuat dari batu-batu putih kasar. Rasanya  saya benar-benar kembali ke jaman tersebut ketika jalan-jalan di sini. Karena masih terjaga kekunoannya tersebut, pada tahun 2001 kota ini masuk dalam UNESCO heritage site. Ketika musim panas, para wisatawan bisa menyaksikan berbagai macam pertunjukan ala medieval seperti pertunjukan burung elang, pertunjukan ala para ksatria, pawai dengan aneka pakaian ala abad pertengahan dan masih banyak lagi.
p1100575

Ready to explore provins with this handy and free guide

Destinasi pertama yang kami kunjungi di Provins adalah Provins souterrains. Tempat ini merupakan komplek ruang bawah tanah yang ada di kota ini. Istilahnya underground Provins gitu deh. Pintu masuk Provins soutterains berada di L’hotel Dieu, rue Saint Thibault. Pas kami akan membeli tiket masuk, mbak penjaga loket yang berdandan ala jaman medieval, menawarkan kami untuk membeli pass Provins yang berlaku untuk satu tahun. Harganya 12 euro per orang. Pass Provins ini bisa digunakan untuk memasuki museum, monument dan tempat-tempat berbayar di seluruh Provins yang dikelola oleh dinas pariwisata setempat selama kurun waktu satu tahun. Tetapi selama setahun itu pemilik pass hanya boleh memasuki satu tempat sekali saja. Membeli pass ini tentu saja jauh lebih murah daripada harus membeli tiket masing-masing tempat yang harganya sekitar 5 euro per tiket. Kami juga mendapatkan panduan buklet jalan-jalan di Provins secara gratis dari mbaknya 🙂 . Dari buklet tersebut wisatawan bisa memilih tempat-tempat mana saja yang ingin dikunjungi di Provins sesuai dengan waktu yang dimiliki. Ada pilihan walking tour sirkuit oranye selama 1,5 jam, sirkuit biru selama 2-3 jam dan violet selama 3,5 jam lebih. Bukltenya helpfull banget deh pokoknya karena petanya juga detil.
p1100576

Pintu masuk kawasan bawah tanah kota Provins

Anyway, untuk memasuki kawasan bawah tanah kota ini, pengunjung ga boleh asal jalan. Harus mengikuti guiding tour yang tersedia setiap 30 menit sekali. Kami memilih untuk ikut guiding tour yang berbahasa Inggris setiap jam 2 siang bersama turis-turis asing lainnya. Meskipun bahasa Inggris tour guide kami logatnya masih Perancis banget, saya berusaha mencerna apa yang dia sampaikan selama tour. Kawasan bawah tanah ini konon sudah dibangun dari abad ke 12. Luasnya belum diketahui secara pasti karena bangunan bawah tanah di kota ini tak hanya berada di satu kawasan saja. Bahkan beberapa kawasan baru ditemukan pada tahun 2006 saat pemerintah setempat akan memasang fiber optik. Fungsi kawasan ruang bawah tanah ini juga masih dipertanyakan. Beberapa tempat memang dulunya digunakan untuk rumah sakit pada awal pembangunannya. Tetapi ruang-ruang bawah tanah yang lain diduga menjadi tempat pelarian perang dan tempat berkumpulnya anggota organisasi free mason saat itu. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya tulisan-tulisan di dinding-dindingnya. Yang jelas menurut mbak guidenya tempat ini masih misterius banget deh. Ruangan-ruangannya bergua-gua, bercabang-cabang dan bisa menyesatkan. Oleh karena itu wisatawan harus didampingi supaya tidak hilang di jalan. Pada musim panas biasanya juga terdapat ghost tour pada malam hari untuk berkeliling kawasan bawah tanah ini? Berminat? saya sih ogah, siang aja udah serem banget 😀 .
p1100580

Di dalam galeri bawah tanah Provins

p1100592

Terowongan-terowongan bawah tanah Provins

Kami kemudian melanjutkan perjalanan kami menuju ke lokasi selanjutnya yaitu La Collegiale Saint Quiriace. Kota Provins ini kontur alamnya ga rata, jadi untuk menuju ke tempat ini kami harus mendaki seperti mendaki bukit kecil. Tempat ini merupakan gereja dan sekolah pendeta kuno untuk belajar agama katolik, yang berdiri pada abad ke 12. Arsitekturnya tidak banyak berubah sejak didirikan. Rasanya seperti memasuki gereja kuno di negeri dongeng. Seperti halnya di gereja-gereja lain, para pengunjung bisa menyalakan lilin untuk di pasang di altarnya. Selain gereja ini, kota Provins juga memiliki bangunan-bangunan religius lain dari abad pertengahan diantaranya gereja Saint Ayoul, Tower Notre Dame du Val, Gereja Sainte Croix, dan asrama suster Fransiscan Abbey. Kami sih cuma bisa mengunjungi satu lokasi ini saja karena letaknya berjauhan satu sama lain.
p1100602

La Collegiale Saint Quiriace tampak dari samping

p1100607

Gereja kuno ini interiornya tampak cantik

p1100733

The Abbey dilihat dari jauh

Tak jauh dari La Collegiale Saint Quiriace, terdapat salah satu bangunan terkenal kota ini yaitu Caesar’s Tower. Tower ini merupakan bangunan yang letaknya paling tinggi se-kota Provins. Dibangun pada abad ke 12 oleh Counts of Champagne sebagai bangunan militer dan pertahanan. Fungsi dari Caesar’s tower selain menjadi menara pengawas, juga pernah digunakan sebagai penjara. Untuk memasukinya, kami hanya tinggal memperlihatkan tiket pass kami. Kalau tidak punya tiket pass, tiket masuk tower ini adalah 4,50 euro per orang.  Ada 7 ruangan yang bisa dijelajahi di dalam tower ini yaitu the model room, yang dulunya merupakan sebuah chapel, the guard room, the governoor’s office, the battlement parapet,the bell room dan the lower room. Masing-masing ruangan dihubungkan oleh koridor kecil dan tangga memutar yang cukup sempit. Dari tower ini kami dapat melihat pemandangan seluruh kota Provins yang lagi hijau-hijaunya. Ruangan yang paling menarik untuk saya adalah the bell room yang merupakan puncak menara Caesar ini. Di dalam ruangan ini terdapat sebuah lonceng raksasa berdiameter 1,48 meter yang beratnya mencapai 3000 kg. Kunjungan kami di menara ini ditutup dengan menonton video animasi sejarah kota Provins di the lower room.
p1100611

Caesar Tower Provins

p1100634

Pemandangan Provins dari Caesar Tower

p1100641

Lonceng raksasa yang juga menjadi tempat bermain para burung dara 😀

p1100653

Video screening di dalam Caesar Tower

Dari menara Caesar, kami berjalan menuju La Place du Chatel yang merupakan alun-alun kota Provins kuno. Di sekitar alun-alun ini terdapat banyak toko souvenir, restaurant, hotel, dan cafe. Toko souvenirnya menjual aneka pakaian dan pernaik-pernik ala abad pertengahan. Siapa tau ada yang berminat berdandan ala game of thrones? Bisa banget dibeli di sini :D. Restaurant dan kedai makan di tempat ini kebanyakan juga menawarkan menu ala medieval alias aneka makanan kuno. Harga satu set menu dari appetizer sampai dessert berkisar dari 12 sampai 30 euro. Saat kami berada di sini, tempat ini sedang penuh oleh wisatawan. Selain restauran dan toko oleh-oleh, di sekitar lokasi ini juga terdapat wahana kereta wisata keliling Provins, dan wahana berkuda poni untuk anak-anak. Di tengah alun-alun ini terdapat bangunan kurungan besi kecil yang dulunya berfungsi untuk menghukum orang. Kata suami saya sih, tahanan dikurung di dalamnya sampai terjatuh ke bawah sumur. Hiiy, serem deh!
p1100723

Kereta wisata di Provins

p1100663

Place du Chatel dan kurungan untuk para tahanan

p1100718

Bangunan-bangunan dari abad pertengahan sangat mudah dijumpai di seluruh penjuru kota ini

Destinasi terakhir yang kami kunjungi di kota ini adalah La Porte Sean -Jean et Les Remparts, merupakan pintu-pintu gerbang kuno dan benteng kuno yang mengelilingi kota Provins. Benteng raksasa ini selesai dibangun pada abad ke 13 dan kini keliling benteng yang tersisa hanya sepanjang 1,2 km saja. Aslinya keliling benteng ini mencapai 5 km. Kami berjalan kaki mengelilingi sisi luar benteng ini sambil sesekali naik ke atasnya. Dari atas, kami bisa melihat pemandangan areal pertanian di luar kota Provins yang membentang luas dari ujung ke ujung. Benteng kuno ini terlihat megah karena temboknya sangat tebal dan tingginya mencapai 25 meter. Pada saat-saat tertentu pemerintah kota Provins menggelar pekan budaya medieval di sepanjang benteng ini. Biasanya para wisatawan berdandan ala medieval dan bisa berkemah di sekeliling benteng ini. Tampaknya seru ya!
p1100684

La Porte de Rampart

p1100690

The Rampart, benteng raksasa

p1100688

Eh eh foto dulu dunk

p1100693

Eh foto lagiii

Waktu di jam tangan saya saat itu menunjuk hampir ke angka 6. Kami sudah kesorean dan sedang asyik berkeliling tourism office kota Provins, karena di dalamnya terdapat toko pernak-pernik dan oleh-oleh aneka makanan. Tourism officenya sendiri sudah mau tutup dan yang jelas semua tempat dan museum-museum yang belum kami kunjungi juga sudah tutup. Sedangkan tiket kami baru dipakai di 2 tempat saja. Kami sih berniat akan balik lagi ke Provins dan mengunjungi yang belum sempat dikunjungi. Masih ada waktu satu tahun lah , sesuai dengan ketentuan pass tiket tersebut 😀 . See you soon ya Provins, semoga kami sempat balik lagi 🙂 .
p1100708

Oleh-oleh khas Provins yang dijual di office du tourism Provins

Useful website before visiting Provins :
Provins in Google Map :
Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Menilik Chateau de Saint Germain en Laye dan Museum Arkeologi Nasional Perancis

Seminggu yang lalu, saya dan suami berkunjung ke Saint Germain en Laye untuk menjelajahi taman istana (domaine national) serta sebagian kecil hutannya yang hijau dan asri. Kali ini, kami kembali lagi ke kota kecil di sebelah barat Paris ini untuk mengunjungi kastil dan museum yang ada di dalamnya. Kebetulan hari itu adalah hari minggu pertama awal bulan, ketika hampir semua museum digratiskan untuk seluruh pengunjung. Di hari lain tarif untuk masuk ke museum ini harganya 7 euro per orang. Yaa beginilah kami, kalau kalian mengikuti postingan blog ini, kami sangat terkesan sebagai pencari gratisan banget 😛 . But why not? Kalau bisa gratis dan berhemat, mengapa harus bayar?  Kastil dan museum ini termasuk yang gampang dijangkau transportasinya dari Paris, karena letaknya hanya beberapa langkah dari stasiun RER A Saint Germain en Laye.
IMG_2794

Kastil Saint Germain en Laye tampak depan dan orang narsis 😀

Kami berkunjung saat tengah hari. Ketika kami sudah masuk ke dalam komplek kastil, ternyata hari itu ada guided tour gratis berbahasa Inggris yang menerangkan tentang sejarah dan keberadaan kastil ini. Yang tentu saja berbeda dengan isi museum kastil ini. Sayangnya kami telat, jadi ga bisa ikut deh 😦 . Padahal kalau ikut, kami bisa naik sampai ke puncak kastil dan bisa melihat pemandangan Saint Germain en Laye dari atas. Kastil ini adalah rumah bagi museum arkeologi nasional Perancis. Jadi benda-benda yang dipajang dan dipertontonkan di museum ini adalah seluruh artefak, fosil dan peninggalan-peninggalan arkeologis yang ditemukan di wilayah Perancis, bukan tentang sejarah atau barang-barang peninggalan dari kastil ini sendiri. Yaah, kalau mau ikut guided tournya harus kembali lagi minggu depan atau bulan depan.
IMG_2795

Pintu masuk kastil dan museum arkeologi nasional Perancis

Sejarah lengkap kastil ini bisa dibaca di website resminya. Menurut website tersebut, kastil Saint Germain en Laye sudah berdiri sekitar tahun 1122 oleh Louis VI atau yang dikenal dengan “Louis The Fat“. Saat itu kastil medieval berbenteng ini dikenal dengan nama Grand Chatelet. Ketika terjadi perang dengan Inggris pada tahun 1346 , bangunannya terbakar dan rusak parah. Pada tahun 1364, kastil ini kemudian dibangun kembali oleh Charles V. Bertahun-tahun kemudian seiring dengan pergantian raja dan penghuninya, chateau tersebut direnovasi berulang-ulang. Penghuni terakhirnya adalah Louis XIV. Ia dilahirkan dan besar di kastil ini. Tetapi karena beberapa alasan, pada tahun 1682 ia memutuskan untuk pindah ke istana Versailles. Pada abad ke 19, Napoleon III memerintahkan untuk merestorasi kastil ini dan menjadikannya “Museum Antique National” pada tahun 1867. Pada saat pendudukan Jerman di Perancis (WWII), seluruh gedungnya menjadi kantor pusat tentara Jerman.  Kastil ini menjadi museum arkeologi nasional pada tahun 2005.
IMG_2799

Bagian tengah kastil yang begitu cantik

Sejak dibangun dan direnovasi kembali, kastil ini mempunyai gaya arsitektur yang berbeda, tidak lagi bergaya murni medieval seperti aslinya. Gaya arsitektur yang bisa kita lihat sekarang lebih ke campuran medieval, gothic dan renaissance. Menurut saya yang awam soal arsitektur, bangunan kastil ini terlihat cantik dan menawan seperti di dalam cerita-cerita dongeng kerajaan 😀 . Kastil ini memiliki ratusan pintu dan jendela berjejeran dengan pilar-pilar dan tembok berukir. Di dalamnya terdapat sebuah kapel gothic dan ruangan bekas ball room yang bisa dikunjungi oleh pengunjung museum ini.
IMG_2835

Kapel gothic di dalam kastil

IMG_2820

Ruangan ball room yang kini menjadi ruang pameran museum

Kami lalu menyusuri ruangang-ruangan museum satu per satu. Koleksi museum ini adalah benda-benda sejarah dari era pre histori sampai periode merongivian. Jadi semua benda-benda ini berasal dari sebelum masehi. Katanya sih koleksinya mencapai 3 juta obyek arkeologi. Ruangan-ruangannya di bagi per zaman yaitu, paleolithic (paleolitikum), neolithic (neolitikum), bronze age (zaman perunggu), iron age (zaman besi), roman gaul (zaman romawi galia), merongivian gaul  dan ada pula ruangan arkeologi komparatif. Museum ini mengingatkan saya kepada museum arkeologi di kota Strasbourg yang pernah saya kunjungi sebelumnya, hanya saja koleksi di museum ini jauh lebih banyak.  Koleksi dari zaman paleolitik sampai zaman perunggunya juga mengingatkan saya akan koleksi arkeologis di sangiran, Jawa Tengah. Koleksinya berupa alat-alat dari batu dan aneka macam fosil. Zaman dulu ternyata kita sama yaa 🙂 . Tentu saja sama-sama purba, kemudian manusia menciptakan kebudayaannya masing-masing sesuai dengan kondisi lingkungannya.
IMG_2824

Koleksi neolitikum

 

Koleksi benda-benda dari zaman romawi dan merongivian di museum ini, menurut saya keren-keren. Penemuannya berupa patung-patung, pusara-pusara makam dengan ukir-ukiran yang detil, perhiasan-perhiasan, mata uang, sampai benda-benda yang terbuat dari beling dan kaca. Koin-koin dari mata uang tersebut begitu detil dengan ukiran-ukiran kecil di permukaannya.  Kalau saya sekarang disuruh bikin koin dan botol beling dari nol, saya ga yakin kalau saya bisa 😀 . Pasti saya akan mengandalkan alat dari zaman modern. Ternyata zaman segitu manusia telah mampu menciptakan dan mengkreasikan aneka macam benda. Yang jelas berkunjung ke museum ini mengingatkan saya betapa hebatnya mereka pada zaman dahulu kala dan kita sebagai manusia kekinian *aiih juga harus banyak belajar dari mereka. Kami berada di dalam museum ini selama 2,5 jam. Kalau anda sedang berada di Perancis dan tertarik dengan arkeologi, museum ini adalah wahana yang tepat. Apalagi kalau anda punya ilmu untuk membandingkan antara arkeologi Perancis dan Indonesia 🙂 , pasti tempat ini menjadi play ground yang asyik. Kalau kami yaa sekadar mengagumi arsitektur , menambah wawasan dan mengapresiasi koleksi-koleksinya.
IMG_2812

Koleksi patung dari zaman romawi

IMG_2810

Pusara-pusara kuno

IMG_2808

Aneka botol kaca sebelum masehi

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri