Tag Archives: jawa barat

Weekend berkesenian di Bandung @ Saung Angklung Udjo

anak-anak menari di SAU

anak-anak menari di SAU

Sejak lahir tinggal dan besar di Jawa, baru kemarin saya sempat mengunjungi Kota Bandung. Sebelumnya cuma lewat doang, tidak pernah benar-benar sempat mengelilingi kotanya. Saya dan suami saya ke Bandung menggunakan kereta argo parahyangan dari Jakarta dengan pemandangan yang super keren dari dalam kereta. Kami menginap di hotel selama 3 hari 2 malam di dekat stasiun dan berkeliling dengan angkot atas petunjuk dari teman saya, Dania yang tinggal tidak jauh dari kota kembang ini.

Hari ke dua di kota ini, Dania mengajak kami keliling kota Bandung dengan mobil. Salah satu tujuan utama kami adalah ke saung angklung udjo, sebuah pertunjukan angklung dan kesenian jawa barat yang konon sangat menarik dan spektakuler. Saya sebelumnya pernah mendengar tentang pertunjukan di saung angklung udjo dari cerita teman-teman dan acara televisi. Saya kira pertunjukan di Saung Angklung Udjo hanya by request di saat-saat tertentu saja. Saya baru tahu kalau pertunjukan ini ternyata dibuka setiap hari dari jam 15.30 sampai selesai. Harga tiket weekday dan weekend berbeda. Weekday Rp 60.000 untuk lokal dan Rp 100.000 untuk mancanegara, sedangkan weekend Rp 70.000 untuk lokal dan Rp 110.000 untuk mancanegara. Tiket yang diberikan kepada penonton adalah sebuah sinopsis mengenai pertunjukan kesenian tersebut lengkap dengan sejarah berdirinya saung angklung udjo. Saung angklung ini didirikan pada tahun 1966 oleh (alm) Udjo Ngalagena, yang merupakan legenda angklung Indonesia. Ia dan istrinya mengembangkan saung angklung ini dengan konsep gotong rotong bersama warga desa setempat di daerah padasuka , Bandung. Karena usahanya mengembangkan angklung dan kesenian jawa barat tersebut, saung angklung udjo menjadi salah satu obyek wisata seni dan budaya yang terkenal sampai ke mancanegara. Kini kiprahnya dilanjutkan oleh anak-anak, cucu-cucu dan murid-muridnya. Sebelum pertunjukan dimulai, penonton mendapatkan welcome drink berupa es lilin khas bandung dan air mineral.

anak-anak bermain angklung sambil menari

anak-anak bermain angklung sambil menari

Pertunjukan angklung ini kemudian dibuka oleh seorang pembawa acara yang sangat interaktif dengan para penonton. Ia seperti mengabsen pengunjung dari seluruh Indonesia dan Dunia yang hadir di sana 😀 . Pertunjukan kesenian SAU ini kemudian dibuka dengan demonstrasi wayang golek selama 15 menit dengan background musik gamelan sunda yang dimainkan oleh para remaja. Wayang golek yang seharusnya dipertontonkan semalam suntuk ini, disingkat menjadi 15 menit untuk menunjukkan bagaimana dalang menggerakkan wayang untuk beberapa adegan seperti menari dan berkelahi. Pertunjukkan selanjutnya adalah helaran, yaitu upacara tradisional yang sering digelar di acara khitanan atau panen padi di Sunda. Nah, pas pertunjukan ini, anak-anak didik SAU dari yang terkecil sampai yang terbesar keluar bersama-sama hampir memenuhi seluruh panggung pertunjukan menari dan bermain angklung bersama. Terlihat kolosal memang, saking banyaknya anak-anak yang menari di atas panggung. Senang sekali saya melihat anak-anak kecil berpakaian adat dengan bangga mempertontonkan kesenian daerahnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan tari-tarian sunda dan pementasan angklung anak-anak serta arumba yang dipentaskan oleh para remaja. Anak-anak kecil tersebut dengan fasih memainkan angklung lagu-lagu daerah seluruh nusantara dan beberapa lagu anak-anak dunia. Para remaja memainkan arumba, yaitu perpaduan alat musik pukul yang terbuat dari bambu dan deretan angklung yang cukup panjang, dari yang terbesar hingga terkecil.

Salah satu sesi yang paling saya tunggu-tunggu dari pertunjukan ini adalah bermain angklung bersama. Masing-masing penonton mendapatkan angklung secara random berbagai macam nada. Masing-masing nada mempunyai isyarat sendiri-sendiri. Penonton tinggal menghafalkan isyarat tangan dari nada angklungnya sendiri yang akan dipandu oleh  2 orang dirigen cilik. Ternyata dirigen cilik ini adalah cucu abah Udjo. Kami memainkan lagu the beatles dan beberapa lagu pop Indonesia. Menarik sekali memang, bangga rasanya bisa main angklung walaupun cuma memainkan satu nada 😀 . Tampaknya penonton saat itu sangat antusias dan ketagihan bermain bersama 😀 .

bermain angklung bersama

bermain angklung bersama

konser angklung profesional

konser angklung profesional

Pertunjukan angklung sore itu kemudian diakhiri dengan sebuah konser full set angklung profesional memainkan beberapa lagu yang cukup sulit. Salah satunya adalah Bohemian Rhapsody dari grup band Queen. Kebayang ga Bohemian Rhapsody dimainkan pakai angklung? Kereen deh pokoknya!! Para seniman-seniman angklung profesional ini begitu fasih memainkan deretan angklungnya. Tak heran mereka sering dikirim untuk konser memperkenalkan musik angklung ke seluruh dunia. Acara sore itu kemudian diakhiri dengan menari dan bermain bersama anak-anak kecil di pelataran panggung bersama-sama. Meriah dan menyenangkan! Weekend di Bandung kali ini sungguh tidak lengkap jika tidak menonton angklung di SAU. Rasanya saya jadi pengen banget bisa main angklung juga 🙂 .

Saung Angklung Udjo
Jln Padasuka 118, Bandung 40192 , Jawa Barat
+62 22 727 1714

6 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

Mengelilingi kebun raya bogor dengan sepeda

Ini kali kedua saya mengunjungi kebun raya Bogor. The famous green oasis just in the centre of Bogor city. Saya pertama kali ke sana pada tahun 2012 bersama teman saya Meta. Waktu itu saya menggunakan kereta krl dari Jakarta yang hanya memakan waktu sekitar satu jam. Dengan bermodal kedua kaki dan betis, kami mengelilingi kebun raya dengan berjalan kaki dari pintu gerbang utama, istana bogor hingga orchidarium dan kembali lagi ke gerbang utama. Menyenangkan memang berjalan kaki di bawah pohon-pohon tua super rindang sambil sesekali beristirahat di beberapa tempat duduk taman. Sepulangnya dari sana, saya baru sadar kalau kaki saya benar-benar gempor. Ternyata kebun raya Bogor itu luas sekali. Menurut wikipedia saja luasnya mencapai 87 hektar, sebelas dua belas lah sama luas central park yang ada di New York. Kali ke dua saya kembali lagi ke sini bersama suami saya. Kami memilih pergi ke sana saat weekday supaya tidak banyak pengunjung. Kami masih menggunakan kereta KRL dari Jakarta. Selain murah meriah hanya Rp 4500, waktu tempuhnya juga jauh lebih cepat daripada menggunakan bus. Dari stasiun Bogor kami menggunakan angkot 02 turun di pintu gerbang utama. Meskipun ada 4 pintu untuk memasuki kebun raya, pintu gerbang utama inilah satu-satunya yang buka saat weekday. Gerbang lain hanya buka di saat weekend dan hari libur nasional. Tiket masuk kebun raya untuk domestik dan turis asing ternyata berbeda. Rp 14.000 untuk domestik dan Rp 25.000 untuk turis asing. Kami juga mengambil peta gratis yang disediakan di meja informasi.

Berdasarkan pengalaman saya jalan kaki mengelilingi kebun raya, saya merasa gempor sebelum berperang. Tentu saja saya tidak ingin hanya berjalan kaki ke satu bagian kebun raya saja. Saya ingin menunjukkan berbagai macam tempat dari ujung ke ujung kepada suami saya tercinta :D. Untung saja ada persewaan sepeda yang terdapat di sebelah garden shop tidak jauh dari gerbang masuk pejalan kaki. Harga sewa sepeda per satu jamnya adalah Rp 15.000. Kami masing-masing menyewa satu sepeda sekembalinya dari museum zoologi yang letaknya ada di sebelah barat gerbang utama. Karena dekat, kami tinggal jalan kaki ke museum zoologi dahulu. Pada kunjungan sebelumnya saya tidak sempat ke museum ini. Saya cukup amazed dengan koleksi binatang yang diawetkan di sana. Ada pula kerangka ikan paus yang besarnya tidak pernah terbanyangkan sebelumnya.

kerangka ikan paus di museum zoologi

kerangka ikan paus di museum zoologi

Petualangan sepeda kami pun dimulai :D. Saya mendapatkan sepeda gunung dan suami saya mendapatkan sepeda tanpa gigi. Kami tidak bisa memilih karena hanya sepeda itu yang tersisa. Kami mengawali rute mengelilingi pinggiran kolam besar hingga sampai ke bagian belakang istana bogor lalu kembali turun melewati taman teijsmann. Awalnya kami ingin mampir melihat kemungkinan ada bunga bangkai yang mekar. Tetapi karena petugas setempat memberitahu kami bahwa bunga bangkai sedang tidak tumbuh, kami tidak jadi mampir. Kami melanjutkan bersepeda sambil sesekali berhenti di pohon-pohon besar yang umurnya sudah ratusan tahun. Di batang pohon-pohon besar ini biasanya tertulis tahun penanamannya. Ada banyak pohon yang ditanam pada tahun 1800-an. Kalau pohon bisa ngomong, mungkin mereka merasa bahagia karena ditanaman di kebun raya, tidak seperti saudara-saudaranya yang lain yang sudah ditebang di kota-kota besar. Kami mengayuh sepeda kami ke utara menyusuri sungai yang ada di tengah kebun raya sampai di jembatan gantung merah yang konon katanya pasangan yang lewat bisa putus. Meskipun mitosnya demikian, banyak juga pasangan yang selfie di sana :D. Sungai yang membelah kebun raya bogor ini ternyata adalah sungai ciliwung yang juga membelah kota Jakarta. Aliran sungai ciliwung yang cukup deras menciptakan suara-suara gemercik air yang berpadu manis dengan hijaunya kebun raya Bogor. Rasanya menenangkan sekali mendengarkan suara aliran sungai sambil menghirup udara segar dari pepohonan hijau. Seperti terapi dari alam setelah merasa penat dengan polusi dan bisingnya kota Jakarta.

Salah satu pohon tua dari tahun 1855

Salah satu pohon tua dari tahun 1855

istirahat di bawah pohon besar

istirahat di bawah pohon besar

Bersepeda tanpa polusi

Bersepeda tanpa polusi

Dari jembatan gantung kami mengayuh ke arah taman sudjana kassan yang penuh dengan bunga berwarna-warni dan ke orchidarium. Di orchidarium ini terdapat orchid house dengan beberapa koleksi tanaman anggreknya. Walaupun mini , orchid house ini terlihat asri dan terawat. Ada beberapa koleksi tanaman anggrek yang dipajang di orchid house dengan warna bermacam-macam seperti putih, ungu, pink, kuning, coklat bahkan hijau. Dari tempat ini Saya baru tahu ternyata ada cabang ilmu biologi khusus orchid yaitu orchidologi sesuai dengan informasi yang dipaparkan di griya orchid ini. Beberapa ahli anggrek bahkan pernah melakukan penelitian tentang orchid sejak tahun 1600-an. Tampaknya bunga anggrek memang menjadi salah satu bunga istimewa di dunia biologi. Lelah bersepeda karena jalan di dalam kebun raya ini naik turun, kami beristirahat dan membeli minum di orchid house. Di dalam kebun raya memang tidak banyak penjual minuman saat weekday. Hanya di beberapa kafe milik kebun raya sendiri, dan di sisi utara hanya ada di orchid house ini.

Koleksi anggrek di orchid house

Koleksi anggrek di orchid house

Pohon besar dengan akar-akar raksasa

Pohon besar dengan akar-akar raksasa

Kami kemudian bersepeda kembali ke selatan melewati lapangan astrid dan lapangan randu yang pada hari mingu biasanya dipadati pengunjung untuk piknik. Tak lupa kami mampir di kolam teratai dengan daun super lebar. Sayang saat itu tidak ada satupun yang sedang berbunga. Kami mengayuh sepeda lagi melewati jalan-jalan aspal yang menurut saya rasanya seperti di tengah hutan. Pohon-pohon rindang di kebun raya ini memang memberikan oksigen ekstra segar di hari siang yang sangat panas sekalipun. Ada banyak tempat duduk di antara pohon-pohon rindang ini, jadi ada banyak pula tempat beristirahat untuk para pesepeda dan pejalan kaki. Karena waktu sewa kami tinggal 10 menit, kami mengayuh sepeda kembali ke pos persewaan sambil melewati taman meksiko yang penuh dengan beraneka macam kaktus dan kawan-kawannya. Trek ini lumayan berat menurut saya karena menanjak. Untung saja sepeda gunung yang saya pakai bisa diatur sampai gigi terendah. Suami saya walaupun sepedanya semi fixie tanpa gigi, ia tampak kuat-kuat saja mengayuh sepeda di tanjakan. Mungkin saya saja yang kurang olahraga. Saya cukup puas menyewa sepeda mengelilingi  kebun raya Bogor ini. Seandainya di tengah kota Jakarta ada kebun raya seluas ini, saya pasti akan sering berolahraga di sana. Dan Jakarta tidak akan kalah dengan New York dengan central parknya, hehehe, semoga saja sih khayalan saya bisa terwujud.

6 Komentar

Filed under Fun Trip, Keliling Indonesia