Tag Archives: jawa timur

Pacitan – Wonogiri Road Trip #2 : Beach hopping dari Klayar ke Sembukan

Day 2 di Pacitan. Kami bangun pagi-pagi sekali supaya ga usah ngantri mandi rebutan dengan penghuni homestay yang lain. Kami menginap di sebuah homestay tak jauh dari pantai klayar. Namanya homestay pak Gimun. Rate semalam di sana ketika long weekend adalah 150.000 per kamar dengan fasilitas kasur, kipas angin, kamar mandi luar dan sarapan mie instant telur yang bisa kami masak sendiri. Ibu Gimun bilang kalau mau masak atau bikin minuman apa saja dengan bahan yang ada di dapur, boleh-boleh saja dan jangan sungkan. Pagi itu karena kami ke pantai klayarnya bareng sama pak Gimun, kami digratiskan untuk ga bayar tiket masuk 😀 .

Jpeg

Homestay pak Gimun di dekat pantai klayar, pacitan

FYI saya pernah ke pantai klayar sebelumnya pada tahun 2011, waktu itu pantai klayar sangat bersih dan masih hijau, salah satu pantai tercantik yang pernah saya datangi. Cek postingan lama saya di sini deh :). 5 tahun kemudian…jreng..jreng..jreng, no comment! no comment! Ditambah lagi pengunjung long weekend saat itu sedang padat-padatnya. Travelmates saya yang berharap banyak karena kemahsyuran pantai ini mendadak kecewa berat, mereka kecewa dengan penataan kawasan pantai klayar. Kami hanya cepat-cepat saja melihat seruling laut, lalu kembali ke homestay untuk lanjut road trip.
Saking banyaknya orang yang berwisata di Pacitan pagi itu, kami sudah membayangkan semua pantai yang akan kami kunjungi mungkin akan sangat penuh juga. Dengan bermodal google maps kami menyusuri jalan aspal paling selatan di kabupaten Pacitan ke arah barat menuju kabupaten Wonogiri. Kami berencana akan mengikuti semua papan petunjuk ke pantai-pantai yang kami temui di jalan. Sekitar 8,5 km dari pantai klayar, kami sampai di pantai buyutan. Meskipun sudah ada papan petunjuk dari pinggir jalan aspal ke pantai ini, pengunjungnya tidak banyak. Malah cenderung sepi. Pemandangan di pantai ini? Breathtaking banget men! Indah banget! Apalagi kalau dilihat dari atas. Sayangnya siang itu ombak sedang besar-besarnya, jadi kami takut main air. FYI jalan ke bawah menuju pantai sangat berbahaya! Untung saja kami sudah terlatih dengan tanjakan dan turunan tajam *cieh, tapi cukup sekali saja! Saya gak mau lagi! Kalaupun balik ke pantai ini saya lebih memilih memarkir motor di atas dan menyewa jasa ojek untuk turun ke bawah.
Jpeg

What a view di pantai buyutan pacitan!

Jpeg

On the shore di pantai buyutan, Pacitan

Beach hoppingpun berlanjut ke pantai banyutibo yang letaknya hanya 2,7 km dari pantai buyutan. Siang itu pantai mini ini ruamee banget dengan pengunjung yang menaiki berbagai macam kendaraan. Jadi jalanan menuju ke pantai ini yang masih cor block pun padat kendaraan seperti di kota besar :D. Pantai mini yang lagi trending ini memang unik, karena ada air terjunnya. Oleh karena itu terkenal dengan nama banyu tibo yang berarti air jatuh dalam bahasa Jawa. Sayangnya menurut saya penataan kawasan ini juga terlalu dekat dengan ujung tebing dan bibir pantai *just saying yaa. Kami lalu duduk-duduk manis sambil memesan kelapa muda di warung setempat sambil mengamati pengunjung yang sedang bermain di bawah air terjun. Beberapa orang terlihat nekat bermain ombak mengenakan pelampung. Buset! apa ga takut ya? Kalau tergulung ombak dan kepentok karang gimana?
Jpeg

Pantai banyutibo, pantai mini dengan air terjun di Pacitan

Jpeg

Berani tapi nekad?

Pantai selanjutnya adalah pantai nampu yang sudah berada di kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Hore kami barusan lintas propinsi! 😀 . Jaraknya sekitar 8 km dari pantai banyutibo. Kami memilih untuk menikmati pantai ini di bawah bekas warung-warung yang tampak sudah tak digunakan lagi. Pantai dengan garis pantai yang panjang ini menurut saya keren! Dan masih sepi. Jejeran pohon pandan laut yang tumbuh di perbukitan menambah epicnya pemandangan siang itu. Sayangnya waktu kami ke sana terdapat sampah yang bercampur dengan ombak 😦 . Pleasee jangan nyampah di pantai dunk please.
Jpeg

Pantai nampu, Wonogiri

Sebenarnya dan sesungguhnya kami sudah agak capek siang itu. Tapi karena pas perjalanan pulang kami nemu plang papan pantai sembukan yang terkenal misits itu, kami ke sana deh. Pantai dengan garis pantai pendek ini waktu itu sepi pengunjung, hanya beberapa orang saja yang tampak bermain air dan nongkrong di warung-warung setempat. Kamipun ga mau kalah untuk nongkrong dan makan siang mie instant di sana. Oya kenapa pantai ini terkenal mistis? Karena konon katanya ratu pantai selatan sering menampakkan diri di pantai ini. Masyarakat kejawen juga terkadang mengadakan ritual-ritual seperti labuhan dan lain-lain di pantai ini. Pantai sembukan menjadi pantai terakhir kami siang itu.
Jpeg

Pantai sembukan, Wonogiri

 

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Pacitan – Wonogiri Road Trip #1 : Jelajah sungai di Amazon van Java, Sungai Maron

Demi sebuah road trip ke Wonogiri dan Pacitan, travelmate saya sampai rela cuti sehari dari kantornya. Saya juga rela menghabiskan beberapa ratus ribu rupiah untuk memperbaiki motor bebek milik adik saya agar bisa saya pakai dengan nyaman :D. Kalau road trip agak jauh dan semi off road saya memang lebih suka memakai motor bebek biasa daripada motor matic. Anyway, mungkin road trip ini adalah kesempatan road trip keluar Jogja terakhir saya bersama genk para tante, karena saya berencana pindah dari Jogja secepatnya. Kami telah membuat list tempat-tempat mana saja yang akan kami kunjungi di Pacitan dan Wonogiri. Beberapa tempat memang pernah saya sambangi beberapa tahun yang lalu, tapi demi yang belum pernah ayuk aja deh 🙂 . Kami bertiga berangkat pagi dari kota Jogja dan mampir sejenak untuk sarapan. Kami menempuh perjalanan kurang lebih 63 km sampai ke destinasi pertama kami yaitu museum kars dunia yang ada di Pracimantoro, kabupaten Wonogiri. Hari itu hari jum’at dan museumnya tutup 😦 . Kecewa sih, soalnya kami juga ga googling dulu sebelumnya tentang hari buka museum yang ternyata tutup di hari jum’at. Sepengetahuan kami biasanya museum atau tempat wisata itu tutupnya selalu hari senin. Mumpung masih pagi, kami langsung ke destinasi berikutnya di kabupaten Pacitan. Jaraknya masih 35 km dari museum kars.

Pernah dengar tentang sungai maron ? Sebuah sungai yang terkenal dengan sebutan amazon di pulau Jawa, menurut para traveler yang pernah ke sana. Saya sendiri sudah googling tentang wisata sungai ini sejak beberapa tahun yang lalu dan saya memang pengen banget boating trip di sungai ini. Di pulau Jawa menurut saya memang banyak wisata jelajah sungai dari mulai rafting, canoing sampai tubing , tetapi hanya beberapa sungai saja yang ada boating tripnya. Di Jogja sendiri kayaknya ga ada deh wisata boating trip di sungai *CMIIW. Untuk menuju ke dusun Maron, ternyata jalannya sereeem dengan aspal rusak berbatu besar. Terdapat beberapa tanjakan, turunan dan tikungan tajam. Untung saja kami naik motor. Kalau naik mobil kok keliatannya bakal serem banget. Beberapa warga setempat tampak berjaga-jaga di tikungan jalan mengawasi kendaraan yang melintas agar tidak saling bertabrakan. Jalannya masih sangat sempit. Kami tiba di dusun Maron tepat jam 12 siang. Sebelum masuk dusun setiap pengunjung diwajibkan membayar retribusi wisata Rp 2000 per orang. Karena masih capek kami leyeh-leyeh sebentar untuk jajan di warung setempat. Ya iyalah capek sungai maron ini jaraknya hampir 100 km dari Jogja bo 😀 . Siang itu wisata jelajah sungai maron tampak masih sepi pengunjung.
Jpeg

Dermaga bambu untuk boat tripping di sungai maron

Kami kemudian menyewa sebuah perahu. Biaya sewa perahu Rp 100.000 per trip. Satu perahu maksimal hanya boleh untuk 6 orang saja. Jika penumpangannya 7 orang atau lebih diharuskan menyewa 2 perahu. Dermaga wisata sungai maron ini masih sangat sederhana, terbuat dari bambu. Kesannya eco dan natural. Semoga nantinya ga diganti jadi dermaga semen. Sebelum naik ke perahu kami diwajibkan untuk memakai live jacket terlebih dahulu. Kami dijemput sebuah perahu bertuliskan cenderawasih. Karena kami hanya bertiga, kami leluasa duduk dengan nyaman di atas perahu. Motorist perahu kami bilang kami akan menempuh perjalanan sejauh 4 km pulang pergi. Ia bertanya kepada kami ingin berperahu cepat atau lambat. Jelas dunk kami milih yang lambat-lambat saja. Kami benar-benar ingin menikmati perjalanan ini, meskipun matahari sedang terik-teriknya. Sungai maron siang itu airnya berwarna coklat pekat. Motorist perahu kami bilang setiap musim hujan warna sungainya selalu coklat dan berubah kembali menjadi tosca saat musim kemarau. Jadi penasaran kalau pas tosca jadi seperti apa ya?
IMG-20160328-WA0083

Tante-tante wefie 😀 , we were excited!

Jpeg

Sungai maron, amazon van java

Menurut saya sungai ini disebut amazon van java karena pemandangan di kanan kirinya masih alami dan sangat istimewa. Rasanya kayak ga di Jawa :D. Perbukitan kars hijau dengan gua-gua kars menggantung di tebing-tebing, terlihat sangat epic dilihat dari atas perahu. Pohon-pohon kelapa berjejeran dengan apiknya di pinggir sungai seperti di sungai loboc, Filipina yang terkenal itu. Saya jadi ingat karena pernah membaca artikel tentang sungai loboc di majalah national geographic. Mas motoris bilang di sungai ini juga banyak ikan yang biasa dipancing oleh penduduk setempat. Beberapa wisatawan terkadang juga datang ke sungai ini khusus untuk memancing. Travelmate saya Hans, dengan isengnya bertanya apakah di sungai ini ada buayanya atau tidak. Tentu saja dijawab tidak, tetapi mas motorisnya bilang di sungai ini banyak biawaknya dan besar-besar. Baru saja kami ngobrol soal biawak, eh ada biawak nongol di atas bebatuan di pinggir sungai.
IMG-20160328-WA0082

Pohon kelapa berbentuk L

Jpeg

Lembah di pinggir sungai maron dengan pohon kelapa yang berjejeran

Jpeg

Masih banyak lagi pohon kelapa

Boat trip siang itu kemudian berujung di muara sungai yang terletak di pantai ngiriboyo. Jika pengunjung ingin mendarat  di pantai ini, per orang diwajibkan membayar uang retribusi Rp 5000. Ternyata boat trip ini juga bisa dilakukan dari pantai ngiriboyo. Banyak perahu yang bisa disewa dari sini, tetapi jarak tempuhnya lebih pendek daripada yang dari dusun maron. Kami kemudian mendarat sebentar di pantai berpasir putih campur hitam ini. Saat perjalanan pulang ke dusun maron, motoris perahu kami menunjukkan suatu tempat yang katanya merupakan sebuah mata air. Sayang setiap musim hujan mata air yang warnanya biru ikut-ikutan berubah menjadi coklat juga. Sebagai tante-tante yang jarang naik perahu di sungai dengan pemandangan yang amazingly green, kami sangat menikmati boat trip siang itu. Well, semoga saja sungai maron ini akan tetap hijau dan lestari meskipun pengunjungnya terus bertambah. Please keep the river clean please.

Jpeg

Pantai ngiriboyo, Pacitan

Jpeg

Kawasan mata air di sungai maron

Jpeg

Bertemu boat wisatawan lain

 

10 Komentar

Filed under Keliling Indonesia