Tag Archives: kawah

Dingin-dingin Dieng, Camping, Sunrise and Things to Do

welcome to dieng plateau

welcome to dieng plateau

Saya mempunyai kegiatan favorit dengan teman-teman dari komunitas couchsurfing.org. Kami menyebutnya sebagai persami, yaitu perkemahan sabtu minggu ala anak-anak pramuka. Karena sebagian besar dari kami sibuk bekerja dan kuliah saat weekdays, maka hanya di hari sabtu dan minggu inilah kami bisa berkemah. Setelah 3 kali kami sukses berkemah di 3 lokasi yang berbeda, kami memilih dataran tinggi dieng sebagai lokasi perkemahan kami selanjutnya. Dieng, dataran tinggi di tanah jawa tengah yang subur yang meliputi kawasan hutan dan kawasan pertanian yang bertingkat-tingkat. Diapit beberapa gunung berapi dan kawah vulkanik yang masih aktif. Lokasi yang pas dan menarik untuk  merepih alam serta bercengkerama dengan kawan. Salah satu teman saya kemudian mengusulkan untuk berkemah di kawasan telaga cebong, sebuah telaga yang berada di ketinggian 2300 meter dpl yang berada di desa sembungan. Desa ini merupakan desa tertinggi se pulau Jawa. Selain itu, lokasi ini juga merupakan tempak kemping favorit para pemburu sunrise di puncak sikunir. Saya sangat penasaran dengan golden sunrise di puncak sikunir karena banyak yang bercerita tentang keindahan pendar sinar matahari terbit di lokasi ini.

4 jam naik motor dari Yogyakarta plus 2 jam naik minibus carteran dari wonosobo bersama teman-teman tidak membuat saya merasa capek, malah merasa excited. Saya membawa bekal berupa makanan kalengan seperti tuna pedas dan kacang panggang saus tomat. Pertolongan awal saat lapar karena tinggal dihangatkan saja. Beberapa teman saya kemudian membeli kentang hasil dari petani setempat yang sekilonya hanya Rp 5000 saja. Kami kemudian membeli banyak kentang. Terbayang kami akan pesta kentang malam ini. Kami berjalan membelah desa sembungan yang sekarang sudah banyak terdapat homestay untuk menginap. Desa ini dikelilingi oleh kebun kentang yang luasnya berhektar-hektar. Dari desa ke telaga cebong jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dan sepanjang jalan saya melewati banyak kentang bertaburan. Mungkin saking banyaknya kentang di sini, kalau kualitasnya tidak baik sedikit saja sudah dibuang. Rasanya saya ingin memunguti kentang-kentang tersebut dan membawanya pulang karena di Jogja harga kentang itu mahal bung!

Setibanya kami di pinggir telaga cebong, kami langsung membangun tenda, mencari kayu bakar dan mempersiapkan makan malam. Kami membuat api unggun supaya tidak kedinginan. Saya rasa suhu udara saat itu ada di bawah 10 derajat celcius. Untung saja saya membawa persenjataan lengkap berupa jaket polar tebal, kaos kaki, kaos tangan, shawl dan topi gunung. Walaupun demikian, saya kok masih merasa kedinginan yah? Jam 7 malam kami mulai berkumpul mengelilingi api unggun dan memasak makan malam berupa kentang campur tuna pedas. Sepertinya memang makanan yang pedas amat sangat diperlukan di suhu seperti ini. Seperti pada acara persami-persami sebelumnya , kami ngobrol dan sharing tentang traveling sampai larut malam. Beberapa dari kami kemudian lanjut trekking ke sikunir jam 2 pagi dan memilih menunggu sunrise di sana. Saya merasa malas berjalan waktu itu dan hanya ingin tidur meringkuk di dalam sleeping bag di dalam tenda. Meskipun sleeping bag saya termasuk tebal, saya tetap merasa kedinginan. Suhu udara dini hari itu mungkin berkisar 5 derajat celsius. Saya jadi teringat cerita teman saya yang pernah kemping di sini saat musim kemarau. Ia bilang suhu di sini bisa mencapai 0 derajat celsius dan embunnya bisa membekukan tanaman pertanian. Embun tersebut terkenal dengan sebutan bun upas. Saya berharap udara malam ini tidak bertambah dingin atau menjadi 0 derajat celcius, karena jaket tebal saya tidak akan kuat menahan suhu dingin di bawah 0.

memasak kentang bersama, photo by Elvi Novariza

memasak kentang bersama, photo by Elvi Novariza

Jam 3.30 pagi saya kemudian mempersiapkan diri untuk trekking sampai ke puncak sikunir untuk melihat sunrise. Saya pikir treknya akan panjang dan melelahkan seperti naik gunung, ternyata hanya sekitar 1 jam saya sudah sampai di puncak sikunir. Meskipun demikian, karena treknya cukup sempit dan licin, menurut saya sebaiknya membawa senter masing-masing. Kami berkumpul bersama-sama sambil menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah menunggu golden sunrise yang sangat terkenal ini. Hingga jam 5.30 sunrisenya belum terlihat. Rupanya cuaca mendung saat itu. Kami agak kecewa karena matahari terbit tertutup mendung tebal saat itu. Tetapi beberapa saat kemudian, kami melihat fenomena alam yang lebih unik dari sekedar matahari terbit. Gugusan awan mendung tersebut membentuk garis lurus seperti memisahkan langit dengan bumi. Dari ujung mendung ini terbias cahaya matahari terbit yang berpendar seperti tirai berkilauan. Saya cukup amazed melihat fenomena tersebut. Kok bisa ya mendungnya lurus banget. Perlahan-lahan hangatnya sinar matahari mulai menyinari bukit-bukit dan gunung di dieng, warnanya oranye keemasan. Mungkin karena warnanya keemasan inilah orang-orang sering menyebut golden sunrise.

mendung golden sunrise

mendung golden sunrise

sikunir golden sunrise

sikunir golden sunrise

telaga cebong dari atas

telaga cebong dari atas

Selepas bersunrise ria kami kembali menuruni bukit menuju ke telaga cebong. Telaga ini tampak indah dilihat dari atas. Kami membongkar tenda dan mengemasi seluruh barang bawaan kami untuk melanjutkan perjalanan ke beberapa obyek wisata yang ada di dataran tinggi dieng. Menurut saya 2 hari tidak cukup untuk menjelajah kawasan dieng karena ada banyak sekali tempat untuk dikunjungi. Tetapi karena hanya memiliki 2 hari maka saya membuat,

Things to do in Dieng for 2 days:

  • – Berkemah di telaga cebong dieng
  • – Trekking dan melihat sunrise di bukit sikunir
  • – Mengunjungi candi dieng
komplek candi dieng wonosobo

komplek candi arujuna dieng wonosobo

  • – Mengunjungi kawah sikidang + merebus telur di sana
kawah sikidang dieng

kawah sikidang dieng

  • – Mencoba kentang “pink” dieng
kentang pink dieng

kentang pink dieng

  • – Mencoba cabe gendut jahanam Dieng yang pedass
cabe dieng gendut pedass

cabe dieng gendut pedass

  • – Minum jamu purwoceng khas Dieng
  • – Bertemu seorang pertapa Dieng di dalam tendanya (kalau berani)
  • – Mengunjungi telaga warna dan telaga pengilon
telaga warna dieng

telaga warna dieng

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berkelana di Gunung, Keliling Indonesia

Akhirnya…finally…ke bromo juga

hai bromo!

hai bromo! i’m coming!

 Menurut saya kawasan taman nasional bromo-tengger adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi oleh para traveler Indonesia. Menurut anda juga kan? *maksa 😀 .Landscape pegunungan yang begitu indah akan memanjakan mata anda dan lensa kamera anda dari berbagai macam sudut dan tempat. Saya memang ingin ke bromo sejak SMU dulu, tapi selalu saja gagal karena faktor U (uang) dan faktor W (waktu) serta faktor T (takut traveling sendirian kalau pas punya uang dan waktu tetapi tidak ada teman yang menemani).

Beruntunglah saya, ketika saya sedang mengerjakan penelitian di kabupaten probolinggo, letak basecamp saya hanya satu jam dari bromo. Saya sampai bolak-balik ke bromo tiga kali dalam kurun waktu 2 minggu, saking ingin melampiaskan keinginan sejak sekolah :D.

Kunjungan pertama saya ke bromo adalah bersama kedua teman baik saya dari bali dan surabaya yang memang mempunyai tujuan untuk mengunjungi bromo saat liburan hari raya kurban. Waktu itu kebetulan saya juga mendapatkan libur beberapa hari sehingga saya bisa menginap sehari di cemoro lawang bersama mereka. Kami berangkat dini hari menggunakan mobil pribadi dari probolinggo dan sampai di cemoro lawang kira-kira jam 3 pagi. Kami langsung menyewa jip untuk ke puncak pananjakan yang letaknya kira-kira satu jam dari cemoro lawang melintasi gurun pasir bromo dalam kegelapan. Waktu itu masing-masing orang membayar Rp 60.000, untuk perjalanan bolak-balik cemoro lawang – pananjakan. Ternyata di puncak pananjakan ini pengunjungnya berjubel seperti di pasar malam. Masing-masing orang ingin mendapatkan tempat terbaik untuk menikmati sunrise pagi itu. Oya cuaca saat itu sangaat dingin, di bawah 10 derajat dan membuat tubuh saya menggigil dengan sukses. Untung saja saya membawa jaket tebal dobel sehingga saya bisa memakai dua-duanya sekaligus. Untuk pengunjung yang tidak membawa jaket, banyak sekali pedagang yang juga menyewakan jaket tebal, hanya Rp 10.000 per jaket. Seorang teman yang sudah bolak-balik ke bromo kemudian menunjukkan suatu tempat untuk menikmati sunrise pagi itu tanpa harus berebut tempat dengan pengunjung lain. Biasanya di sinilah para fotografer professional mengabadikan gambarnya. Kami bertemu dengan sekelompok fotografer yang memang sudah siap dengan kamera canggih mereka (ngiler sama kameranya).

Akhirnya setelah lama menunggu lukisan alam yang ada di hadapan saya mulai menunjukkan warna dan kecantikannya. Sunrise pagi itu begitu sempurna. Silahkan lihat di foto-foto saya berikut ini (speecheless).

sunrise at pananjakan

sunrise at pananjakan

Another sunrise at pananjakan

Another sunrise at pananjakan

keindahan bromo, batok, semeru dari pananjakan

keindahan bromo, batok, semeru dari pananjakan

bromo kaldera

bromo kaldera

pura tengger dengan latar belakang gunung batok

pura tengger dengan latar belakang gunung batok

naik-naik ke puncak gunung

naik-naik ke puncak gunung

Setelah matahari mulai meninggi, kira-kira jam 6.30 pagi, kami melanjutkan perjalanan kembali ke kawah bromo. Mobil jeep kami hanya bisa berhenti di suatu tempat dan kami harus jalan kaki atau menaiki kuda menuju kawah bromo. Tarif untuk menaiki kuda dari tempat parkir jeep menuju kawah bromo berkisar antara Rp 30.000 sampai Rp 50.000, tergantung jarak dan negosiasi harga. Kami berjalan kaki melewati pura masyarakat tengger, membelah padang pasir, menuju gunung bromo yang ditemani gunung batok nan setia di sebelahnya (bahasanya memang dibuat lebay). Setelah menaiki puluhan tangga yang memang dibangun sangat rapi di antara gundukan pasir vulkanik, sampailah kami di kawah bromo yang merupakan kawah vulkanik aktif. Asap vulkanik memang tak pernah berhenti keluar dari pucuk gunung ini, seperti ujung ceret air yang mendidih yang tak pernah kehabisan uap (perumpamaan yang aneh). Saat itu saya melihat beberapa orang dengan pakaian adat tengger melemparkan sesajian berupa makanan dan buah-buahan ke kawah tersebut, sebagai persembahan kepada para dewa. Uniknya setelah sesajian itu dilempar, ada saja orang yang dengan berani turun ke kawah untuk mengambil sesajian tersebut untuk dibawa pulang. Yang unik lagi di kawasan ini adalah banyaknya penjual bunga edelweis, dan bunga edelweis yang mereka jual ada beberapa jenis. Ada bunga edelweis ungu yang kata penjualnya merupakan bunga edelweis asli gunung semeru dan hanya terdapat di sana, benar kah?

kawah bromo

kawah bromo

Karena kami bermaksud menginap di cemoro lawang, maka sore harinya kami habiskan untuk menikmati suasana pedesaan nan sepi, dingin dan menentramkan :D. Kami mengitari kebun-kebun penduduk yang saat itu didominasi tanaman kol , wortel dan daun pre/loncang. Rasanya ingin sekali memetik tanaman-tanaman itu dan mencampurnya dengan mie instant :D. Pagi harinya, saya menikmati keindahan gunung bromo dari cemoro lawang, and it was so fucking beautiful!! Check my picture below!

Morning at bromo, view from cemoro lawang

Morning at bromo, view from cemoro lawang

How to go to Bromo from Yogyakarta/Jogja :

  1. You can go by affordable tour that available everyday accross sosrowijayan street and prawirotaman street. For backpackers, it sounds like a “tour” , but i think its affordable for backpackers and you can choose the package start from Rp 160.000

  2. You can go by bus AKAS Yogyakarta-Banyuwangi rute from giwangan bus station, ask the driver that you will stop in probolinggo. From probolinggo you can take the minibus directly to cemoro lawang/bromo. But this bus only available in the morning till afternoon, if you want to go there at night, you should take 24 hour bus to surabaya. From surabaya you can continue to probolinggo and then to cemorolawang/bromo. Its all not more than Rp 100.000 from Jogja to Bromo, if you use economic class bus.

2 Komentar

Filed under Berkelana di Gunung, Keliling Indonesia