Tag Archives: kebun teh

Road Trip ke Ngargoyoso #3 : Kebun Teh Kemuning

Setelah puas menghabiskan pagi di candi cetho dan candi kethek, kami kembali menuju ke hamparan hijau perkebunan teh kemuning. Menuruni turunan dari candi cetho ternyata lebih mengerikan daripada pas menanjak. Apalagi di turunan yang berbelok. Rem motor benar-benar harus bekerja dengan baik. Blong sedikit saja bisa terjun bebas ke jurang. Untung saja motor saya masih bisa diandalkan.
Salah satu sudut kebun teh kemuning

Salah satu sudut kebun teh kemuning

Sejak pertama saya mengunjungi kebun teh beberapa tahun yang lalu, saya jatuh cinta dengan kawasan seperti ini. Suatu pemandangan alam yang menurut saya ideal untuk memanjakan mata dengan hamparan hijaunya dedaunan teh. Apalagi jika hari cerah, paduan hijaunya hamparan teh dengan langit yang biru terkesan menimbulkan suasana yang dramatis. 2 tahun yang lalu saya pernah mengunjungi kemuning dengan roda dua juga. Saat itu belum banyak warung-warung dan pedagang-pedagang yang berjualan di antara perkebunan teh seperti sekarang. Sekarang pengunjung perkebunan kemuning bisa menikmati langsung segelas teh lokal di warung-warung tersebut sambil duduk-duduk merepih alam pegunungan teh. Pengunjung juga bisa membeli teh tradisional langsung di warung-warung tersebut dengan harga terjangkau.

Jalur trekking di kebun teh kemuning

Jalur trekking di kebun teh kemuning

Menurut saya nih, hal menarik yang bisa dilakukan di kawasan ini sebenarnya adalah trekking! atau kemping bermalam di hamparan teh. Tapi berhubung saat itu kami memang tidak sempat membawa tenda dan perlengkapan lainnya serta lagi ga mau rempong *EH, ya kami menginap di penginapan saja. Kami memarkir motor kami di suatu sudut, kemudian kami berjalan-jalan sebentar mengikuti jalan-jalan setapak di perkebunan kemuning yang saat itu udaranya mulai menghangat. Waktu itu beberapa petani teh sedang memanen pucuk-pucuk daun teh dengan memikul keranjang besar di pundak mereka. Para petani ini memetik daun-daun tersebut beberapa minggu sekali setelah pucuk-pucuk daun teh muda tumbuh kembali. Saya jadi teringat soal obrolan saya dengan seorang teman tentang teh. Waktu itu saya kekeuh bahwa teh jawa dengan campuran melati yang sepet dengan gula secukupnya adalah yang paling enak. Dan saya merasa tidak bisa menikmati teh lain selain teh jawa kebanyakan. Teman saya kemudian bercerita soal tertipunya orang Jawa oleh penjajah Belanda , karena selama ini kami menikmati teh di tingkatan yang paling rendah, yaitu daun-daun dicampur batang-batang teh yang telah menua. Untuk menutupi aroma tersebut maka teh di Jawa dicampur dengan bunga melati supaya lebih harum. Di masa penjajahan dahulu pucuk-pucuk daun teh kualitas satu dan kualitas dua sudah dikonsumsi atau diekspor oleh penjajah sendiri. Jadilah orang pribumi hanya bisa menikmati sisa-sisanya saja. Tetapi karena sudah kebiasaan inilah tampaknya teh sepet menjadi favorit masyarakat di Jawa kebanyakan. Sampai saat ini para petani teh menjual teh mereka dengan beberapa tingkatan kualitas yang berbeda, tergantung kemudaan daun tehnya. Nah, meskipun demikian saya tetap lebih bisa menikmati teh kalau itu sepet dan banyak kandungan batang tehnya *Ehh. Mungkin karena telah terbiasa dan sudah mengakar di lidah saya :D. Saya jadi penasaran suami saya terbiasa minum teh kualitas ke berapa ya? Yang jelas Ia pun senang dengan teh jawa yang nasgitel.

Langit biru dan hamparan hijau teh kemuning

Langit biru dan hamparan hijau teh kemuning

Sejauh mata memandang tampak hamparan hijau teh dan gunung lawu

Sejauh mata memandang tampak hamparan hijau teh dan gunung lawu

Para petani teh kemuning

Para petani teh kemuning

hamparan teh yang tampak tertata rapi

hamparan teh yang tampak tertata rapi

Perjalanan kami di kawasan kemuning kemudian kami akhiri di sebuah kedai teh yang sudah sangat populer, yaitu kedai teh ndoro dongker yang menyediakan aneka ragam teh dengan berbagai macam kualitas. Kami memilih satu teko teh lokal untuk kami minum berdua sambil menghirup oksigen yang keluar dari daun-daun teh di sekitar kami. Rasanya lengkaplah sudah petualangan teh kami hari ini.

kedai teh ndoro dongker, satu poci berdua

kedai teh ndoro dongker, satu poci berdua

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Road trip ke Ngargoyoso #2 : Candi cetho dan candi kethek

good morning kemuning!!

good morning kemuning!!

Hari ke dua di Ngargoyoso, kami bangun jam 7 pagi, packing dan kemudian menikmati munculnya matahari dari balik gunung Lawu yang sedang cerah-cerahnya di kebun teh kemuning. Kami memutuskan tidak mandi karena air di penginapan terlalu dingin 😀 . Saya memacu motor bebek saya menaiki tanjakan-tanjakan yang menurut saya lumayan ekstrim menuju ke candi cetho. Sumpah deh, kalau motor saya ga kuat saya bener-bener bingung! Suami saya sering heran melihat para penduduk setempat mengendarai motor ngebut tanpa menggunakan helm di jalan yang pinggiranya jurang dan tanjakannya begitu tajam. Hal yang sebeneranya biasa saja menurut orang Indonesia yang tinggal di gunung 😀 . Sebelum memasuki candi cetho, kami sarapan pop mie dan teh hangat di warung di dekat komplek candi. Pagi itu warung-warung yang menyediakan menu nasi belum buka.

pagi di candi cetho

pagi di candi cetho

susunan ornamen batu di candi cetho

susunan ornamen batu di candi cetho

Tiket untuk memasuki candi cetho adalah Rp 3000 untuk lokal dan Rp 10.000 untuk mancanegara. Jam 7 pagi loket ke candi cetho sudah buka, karena terkadang banyak peziarah yang datang pagi-pagi ke candi ini. Candi cetho adalah candi hindu yang dibangun pada abad ke 15 M di saat akhir kekuasaan Majapahit di tanah Jawa. Memasuki candi ini berasa seperti sedang di Pura di pulau Bali karena candi ini aktif digunakan sebagai tempat ibadah umat hindu dan kejawen lengkap dengan ubo rampe sesajen di sudut-sudut candi. Aroma dupa pagi itu membuat suasana candi ini bertambah mistis dan sakral. Ada 9 tingkat di Candi ini yang setiap tingkatnya memiliki aneka ornamen batu dan patung-patung yang memiliki simbol-simbol tersendiri. Di pintu candi terdapat sebuah gapura yang bentuknya mirip seperti gapura-gapura hindu Bali. Beberapa dari patung-patung ini dikalungi rangkaian bunga melati dan diberi sesajen berupa bunga mawar, buah apel dan dupa, seperti canang yang ada di Bali juga. Di puncak candi terdapat suatu bangunan yang mirip dengan piramida suku maya. Bagian candi teratas ini khusus untuk beribadah, jadi wisatawan dilarang naik ke sini. Nah apa nenek moyang kita dulu pernah kenalan sama orang dari suku Maya ya? Atau ada ancient alien yang membantu manusia membangun candi? 😀 *kebanyakan nonton ancient alien*. Dari komplek candi yang terletak di lereng gunung Lawu ini jika kita melihat ke arah barat, pemandangan gunung merapi dan merbabu terlihat sangat cantik. Pinter juga ya nenek moyang kita memilih lokasi untuk mendirikan candi.

bangunan seperti piramida di candi cetho

bangunan seperti piramida di candi cetho

jalan setapak ke candi kethek

jalan setapak ke candi kethek

candi kethek

candi kethek

Selain candi cetho di komplek ini juga terdapat bangunan candi lain bernama candi kethek. Letaknya di utara candi cetho dan hanya tinggal berjalan kaki melalui jalan setapak sejauh 300 meter. Jalan setapak ini juga mengarah ke puncak Lawu, sehingga ada beberapa pendaki gunung dan peziarah gunung Lawu yang menempuh jalur ini. Katanya sih jalur ini adalah jalur yang paling rumit dan menyesatkan. Dan beberapa kali mendaki Lawu waktu muda dulu, hanya jalur ini yang belum pernah saya coba. Kalau sekarang nyoba saya jelas udah ga kuat 😀 . Candi kethek dinamakan demikian karena dahulu ada banyak kethek berkeliaran di sini. Candi ini berbentuk tingkatan batu dengan selasar yang terdiri dari 5 tingkat punden berundak. Di puncaknya terdapat sebuah altar kecil tempat para peziarah meletakkan sesaji. Candi ini terlihat menyatu dengan alam dengan pohon-pohon pinus yang tumbuh di atas dan sekitarnya. Masa pendiriannya diperkirakan tidak jauh berbeda dengan candi cetho. Menurut keterangan yang ada di papan di bawah candi ini, candi ini berfungsi sama seperti candi cetho yaitu sebagai tempat ruwatan atau penyucian diri.Di candi cetho dan candi kethek ini ditemukan dua arca yang sama berbentuk kura-kura yang menyimbolkan penyucian diri tersebut. Nah kalau ingin lebih jelas, di kedua candi ini terdapat papan keterangan yang memaparkan tentang penemuan candi , makna sampai aktifitas penelitiannya.

3 Komentar

Filed under Keliling Indonesia