Tag Archives: kota kecil

Ternyata Luxembourg kece juga! #4 : A day trip to Vianden

Hari itu kami bangun pagi-pagi sekali. Mentari pagi menyambut kami dengan cantiknya di halaman hotel tempat kami menginap. Sepertinya hotel yang kami inapi ini sangat cocok untuk memandang indahnya sunrise. We’re so lucky then! Gudde Moien Luxembourg! Please be nice to us today 😉 . Kami melahap sarapan all you can eat dengan gembira. Pasalnya kami jarang-jarang buking hotel yang sarapannya all you can eat seperti di Indonesia 😀 . Kami makan agak banyak pagi itu supaya tidak cepat lapar ketika mendaki landscape negara yang berbukit-bukit ini.
FullSizeRender (14)

Good morning!

Hari ke dua ini, kami ingin mengunjungi sebuah kota kecil yang terletak 50 km di sebelah utara ibu kota negara ini. Nama kota ini adalah Vianden, sebuah kota wisata yang cukup terkenal di Luxembourg. 50 km memang tidak jauh, tetapi karena jadwal kereta api untuk menuju ke sana hanya tersedia satu jam sekali, dan kami harus berpindah moda transportasi, kami berangkat gasik ke stasiun central. Seluruh transportasi umum yang kami tumpangi hari itu gratis, karena kami punya Luxembourg card. Sampai di stasiun Luxembourg, kami naik kereta api jurusan kota Diekirch. Kereta antar kota di negara ini mempunyai 2 kelas, yaitu kelas 1 dan kelas 2. Pemegang Luxembourg card tinggal naik saja ,tetapi hanya diperbolehkan naik gerbong untuk kelas 2. Kalau tidak punya Luxembourg card, tiket kereta apinya bisa dibeli di ticket machine atau di loket-loket stasiun. Harga tiketnya hanya 4 euro dan bisa dipakai seharian, termasuk untuk naik bus juga. Yang jelas traveling di negara ini , sistem transportasinya mudah dan murah. Stasiun kereta api juga terintegrasi dengan baik dengan terminal bus. Di mana ada stasiun kereta api di situ juga ada terminal bus. Kereta api yang kami tumpangi, terlihat modern dan bersih dengan fasilitas toilet di setiap gerbongnya. Kota Diekirch, adalah kota terakhir kereta ini berhenti. Kami lalu mencari halte bus no 570 di halaman stasiun ini. Bus no 570 ini juga hanya tersedia setiap satu jam sekali, tetapi jadwalnya menyesuaikan dengan jadwal kedatangan kereta dari Luxembourg city. Kami jadi tak perlu menunggu lama bus 570 ini datang.
Perjalanan selama di dalam kereta dan bus, membuat kami terkesima. Landscape Luxembourg yang berbukit-bukit ternyata sangat indah. Sesekali juga tampak kastil-kastil tua berdiri gagah di lereng-lereng bukit tersebut. Vianden adalah kota yang berbatasan dengan negara Jerman. Jadi selama di dalam bus kami melewati beberapa daerah yang di sebelah kiri Luxembourg dan di sebelah kanan sudah Jerman. Tinggal beberapa langkah saja sudah sampai Jerman 😀 . Batas negaranya juga hanya plang kecil bertuliskan Deutchland. Ga ada gerbang gapura heboh ala batas kabupaten seperti di Indonesia 😀 .
P1120802-001

Selamat datang di Vianden

Kami turun di halte bus Vianden breck. Halte paling dekat dengan Chateau de Vianden, kastil tercantik di negara ini. Yap! tujuan utama kami ke kota kecil ini adalah mengunjungi kastil ini. Namun begitu turun di halte dan melihat ke arah Chateau, rasanya sarapan saya pagi ini sudah terbakar habis. Chateaunya berada di puncak gunung! Kami harus mendaki ke sana! Kami tetap semangat, lalu perlahan-lahan meniti jalanan batu dari abad pertengahan yang membelah pusat kota Vianden ke arah atas bukit. Kota ini begitu kalem, asri dan cantik, dengan bangunan-bangunan lama berjejeran rapi. Tampak di beberapa bagian kota ini terdapat reruntuhan benteng dan menara pengawas dari abad pertengahan. This town looks medieval, just like in the fairy tale!
P1120823-001

Sudut kota kecil Vianden di pinggir sungai

P1120678-001

Tembok benteng dan tower pengawas masih terlihat di beberapa sudut Vianden

Setelah ngos-ngosan mendaki sampai gerbang kastil, akhirnya kami sampai juga. Meskipun kami agak iri kepada para pemilik kendaraan pribadi karena mereka bisa parkir di samping kastil dan ga perlu mendaki 😀 . Kami menunjukkan Luxembourg card di loket masuk, lalu petugas loket memberi kami tiket dan buklet kastil ini secara cuma-cuma. Kalau ga punya Luxembourg card, pengunjung dikenakan admisi 7 euro per orang. Petualangan menjelajahi kastil di atas bukit inipun dimulai! Dari yang tertulis di buklet, disampaikan bahwa kastil ini dibangun selama kurang lebih 3 abad, dari abad ke 11 sampai abad ke 14. Kastil Vianden merupakan salah satu kastil terluas dan tercantik pada periode gotik di Eropa.  Pemilik kastil ini sampai awal abad ke 15 adalah para Counts of Vianden yang kekuatan politiknya berpengaruh besar dan memiliki hubungan dekat dengan kerajaan Perancis dan kerajaan Jerman saat itu. Kastil ini pernah menjadi reruntuhan tak terawat, tetapi kemudian direnovasi besar-besaran setelah keluarga Grand Duke of Luxembourg menjadikanya salah satu monumen nasional pada tahun 1977.
P1120912-001

Setelah mendaki, we were almost there 😀

P1120692-001

Mari menjelajahi kastil ini, fotonya salah fokus 😛

Kami kemudian menjelajahinya dari ruangan ke ruangan. Seperti halnya kastil-kastil medieval yang pernah kami kunjungi sebelumnya di Eropa, ruang pamer museum di dalam kastil ini berisi peninggalan-peninggalan bersejarah dari masa kejayaannya. Terdapat ruangan pamer senjata dan baju besi para ksatria dari abad pertengahan, ruangan ballroom, ruangan prajurit, dapur istana, ruang makan, ruang tidur keluarga bangsawan serta ruang pamer benda-benda seni. Salah satu ruangan di kastil ini juga menjabarkan silsilah keluarga bangsawan yang pernah mendiami kastil ini. Ruangan kapel yang tadinya sederhana kini terlihat cerah ceria seperti warna kue ulang tahun 🙂 . Yang jelas museum di dalamnya sangat menarik, informatif dan interiornya well preserved deh. Ruangan favorit saya adalah ruangan ballroom dan dapur istana. Dapur istananya benar-benar didesain seperti dapur medieval jaman dahulu kala dengan peralatan masak terbuat dari besi berat dan perunggu. Di kastil ini juga terdapat balkon dan teras, di mana pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Vianden dan perbukitan di sekitarnya. Karena masih awal musim semi, pohon-pohon di perbukitan ini belum sepenuhnya menghijau. Kalau pas hijau-hijaunya, saya yakin pemandangan perbukitan ini akan tampak lebih indah lagi.
P1120716-001

Ruang pamer senjata dan baju besi

P1120743-001

Sebuah teras dan koridor lebar di dalam kastil

P1120734-001

Kapel dengan cat berwarna seperti kue tart

P1120773-001

Dapur medieval

P1120784-001

Ruang aula utama di kastil Vianden

P1120787-001

Pemandangan alam dari atas kastil

Belum jam 12 siang, kami sudah merasa lapar. Benar saja, perjalanan mendaki ke kastil membuat kami lapar dengan mudahnya. Kami lalu memutuskan untuk turun gunung di mana banyak restoran dan kedai makan berjejeran di pusat kota ini. Kami memilih makan di kedai kebab karena murah meriah. Penjaga kedai ini ternyata hanya berbicara bahasa Luxembourgoise dan Jerman saja. Kami lalu memesan menu dengan bahasa isyarat 😀 . Sembari menunggu makanan datang, saya membaca guide book yang kami dapat dari tourism office kemarin. Kota medieval ini tak hanya mempunyai kastil saja. Pemegang Luxembourg card bisa mengunjungi beberapa tempat di kota ini secara gratis,yaitu museum sejarah kota vianden, central hidrolik, telesiege Vianden dan maison Victor Hugo. Lho kok ada maison Victor Hugo di Vianden ? Dia kan orang Perancis. Ternyata Victor Hugo pernah mengungsi di negara ini dan tinggal di suatu rumah yang kini menjadi museum.
P1120832-001

Salah satu sudut kota Vianden yang banyak kafe dan restoran dengan pemandangan kastil di atas bukit

Sambil makan siang kami memikirkan perjalanan kami selanjutnya. Kami tertarik untuk naik-naik ke puncak gunung dengan menaiki telesiege. Telesiege adalah kereta gantung yang bentuknya seperti kursi ayunan, yang biasanya digunakan sebagai kendaraan untuk ke tempat ski di atas gunung. Telesiege di Vianden ini, membawa penumpang sampai ke puncak bukit tertinggi di kota ini. Sayangnya pas kami sampai di lokasi stasiun telesiege, loketnya tutup dan baru buka esok hari 😦 .
Kami lalu mengunjungi tourism office Vianden untuk mencari informasi wisata lebih lanjut tentang area ini. Kami disambut baik, dan petugasnya memberikan peta jalur trekking di sekitar area ini. Ada banyak sekali jalur trekking yang bisa diikuti. Nama jalur trekkingnya adalah ourdall promenade. Petugasnya bilang, jalur trekking terpendek hanya memakan waktu 40 menit saja. Ia juga bilang, kalau kami capek di tengah jalan, kami tinggal mencari halte bus dan bisa naik bus ke arah Vianden sewaktu-waktu. karena it seems so easy, maka kami ingin mencobanya. Kami tertarik dan memutuskan untuk trekking di jalur yang dekat-dekat saja.  Awalnya kami berjalan kaki menyusuri pinggir sungai our sampai kami menemukan sebuah pemandangan chapel di atas bukit. Satu jam berlalu tapi kami masih belum separo perjalanan. 40 menit ala Luxembourg itu jangan-jangan 3 jam buat saya orang Indonesia? Perbukitan di kiri dan kanan kami terlihat gersang karena daun-daun belum tumbuh kembali selepas musim dingin. Saya jadi teringat pemandangan yang sama di daerah Gunung Kidul saat musim kemarau. Ternyata Luxembourg sama Gunung Kidul ada miripnya juga yaa 😀 .
P1120863-001

Trek di pinggir sungai our

Petunjuk jalan selama trekking memang jelas, tetapi karena terkadang kami penasaran dengan jalan-jalan setapak yang kami temui, kami hampir nyasar ke perbatasan Jerman. Lucu juga ya kalau bisa trekking antar negara. Kesannya cross country gitu, padahal jaraknya cuma dekat 😀 . Kami terus berjalan mengikut jalur trek yang ternyata mengharuskan kami mendaki bukit. Aiih ternyata lama kelamaan treknya berat juga seperti mendaki gunung dengan medan yang licin. Sepatu kami memang sepatu trekking tapi celana yang kami kenakan adalah celana jins yang tak nyaman untuk hiking. Gara-gara perjalanan ini , kami berpikir untuk membeli celana trekking yang ringan sesampainya di rumah nanti. Selama di trek mendaki ini, kami bertemu beberapa orang yang sengaja trekking dengan pakaian trekking lengkap. Kami juga bertemu para pesepeda cross forest. Ya mereka naik sepeda di jalur trekking yang curam ini! Salut deh! Kalau saya pasti bakal takut banget 😀 .
P1120897-001

Kapel putih di atas bukit

Beberapa saat setelah trek yang cukup berat sampailah kami di kapel putih. Sebuah kapel katolik di atas bukit yang juga terkenal sebagai tempat berziarah masyarakat setempat. Untuk menuju ke kapel ini sebenarnya bisa saja ditempuh dengan mobil atau motor, tetapi para pengunjungnya biasanya berjalan kaki dari Chateau Vianden. Di jalur ini terdapat simbol dan relief yang menunjukkan kehidupan Yesus. Di beberapa sudut jalan juga terdapat patung-patung bunda Maria. Tampaknya masyarakat Vianden begitu religius. Kami lalu berjalan kaki kembali ke pusat kota. Benar saja, 40 menit bagi orang sini adalah 3 jam bagi saya. Mungkin saya harus rajin-rajin olahraga lagi. Perjalan hari itu berakhir di sebuah kedai es krim tak jauh dari halte bus. Capeknya trekking terbayar dengan segelas besar es krim. Kami sangat senang telah berkunjung ke kota ini. Kota yang mempunyai peninggalan historis tetapi juga kaya dengan pemandangan alam. Salah satu destinasi yang tepat untuk melarikan diri dari kota besar.
P1120907-001

Kota Vianden dari atas bukit

2 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Provins, kota kecil medieval tak jauh dari Paris

Nama kota ini Provins, mirip ya sama Provence namanya. Tetapi Provins bukan Provence yang sudah lebih dulu terkenal sebagai destinasi wisata di Perancis karena wine dan kebun bunga lavendernya. Provins, saya mengetahui tentang kota ini dari buklet wisata yang saya dapatkan di salah satu tourism office di kota Paris. Saya bersyukur sekali mendapatkan buklet ini sebagai panduan jalan-jalan dan blusukan saya selama di Paris. Dalam buklet tersebut sebenarnya destinasinya banyak banget, dan letaknya tidak terlalu jauh dari Paris serta mudah dijangkau dengan kereta transilien. Saya memilih untuk mengunjungi Provins terlebih dahulu karena kota ini termasuk dalam UNESCO heritage site yang ada di Perancis. Alasan lainnya adalah karena saya suka banget sama bangunan-bangunan kuno ala-ala kerajaan jaman dahulu kala 😀 . Untuk menuju ke kota ini kami berangkat melalui stasiun Gare de L’est dengan kereta transilien P yang tersedia setiap satu jam sekali sampai jam 10 malam. Tarif tiket kereta ini sekitar 11,35 euro one way. Saran saya sih lebih baik pas beli tiket beli untuk pulang sekalian. Saya dan suami saya mempunyai kartu langganan kereta bulanan navigo, jadi kami tak perlu membeli tiket karena Provins masih terletak di Ile de France. Kereta transilien P ini desainnya cukup futuristik dan interior tempat duduknya sangat nyaman. Beberapa tempat duduk bahkan mempunyai meja makan sendiri.
p1100744

Di dalam kereta transilien P dari Paris ke Provins yang tampak nyaman

Kami sampai di stasiun Provins satu setengah jam kemudian. Cukup cepat untuk jarak hampir 90 km dari kota Paris. Hari itu hari minggu, jadi banyak sekali turis lokal dan internasional yang satu kereta dengan kami. Dari stasiun sebenarnya tersedia shuttle bus menuju ke pusat kota, tetapi karena siang itu kami berniat cari makan dulu, maka kami memilih jalan kaki mencari kedai makanan. Setelah 20 menit jalan kaki, eh ternyata kedai yang buka berada di pusat kota tempat shuttle bus berhenti *hiks. Maklum hari minggu di Perancis, ga semua restaurant dan kedai makanan buka. Yang buka setiap hari biasanya restaurant mahal untuk turis atau kedai kebab. Tentu saja pilihan kami jatuh ke kedai kebab yang murah meriah 😀 . Sebelumnya kami sudah googling tentang things to do dan place to visit di kota kecil ini. Ternyata listnya lumayan banyak. Karena kami sudah kesiangan, kami ga mungkin bisa mengunjungi semuanya 😦 . Saran saya sih kalau mau jalan-jalan ke kota ini dari Paris, lebih baik berangkatnya pagi-pagi sekalian. Kecuali kalau berniat mau menginap di kota ini. Sebagai kota wisata, Provins mempunyai banyak penginapan berupa hotel dan airbnb.
p1100569

Rumah-rumah penduduk di kota Provins

Kota Provins konon katanya dibangun pada tahun 802 masehi. Merupakan kota yang dulunya kaya karena menjadi salah satu pusat perdagangan dan industri di abad pertengahan. Kota ini mencapai puncak kejayaannya di bawah Thibauld IV of Champagne pada tahun 1201 -1253 masehi. Terdapat 58 bangunan, tempat dan situs bersejarah di kota Medieval ini. Sampai saat ini, kita masih bisa melihat situs-situs dan bangunan-bangunan bersejarah dengan gaya medieval di sudut-sudut kota ini. Bahkan rumah-rumah penduduk dan jalan-jalannya pun masih banyak yang bergaya medieval dan terbuat dari batu-batu putih kasar. Rasanya  saya benar-benar kembali ke jaman tersebut ketika jalan-jalan di sini. Karena masih terjaga kekunoannya tersebut, pada tahun 2001 kota ini masuk dalam UNESCO heritage site. Ketika musim panas, para wisatawan bisa menyaksikan berbagai macam pertunjukan ala medieval seperti pertunjukan burung elang, pertunjukan ala para ksatria, pawai dengan aneka pakaian ala abad pertengahan dan masih banyak lagi.
p1100575

Ready to explore provins with this handy and free guide

Destinasi pertama yang kami kunjungi di Provins adalah Provins souterrains. Tempat ini merupakan komplek ruang bawah tanah yang ada di kota ini. Istilahnya underground Provins gitu deh. Pintu masuk Provins soutterains berada di L’hotel Dieu, rue Saint Thibault. Pas kami akan membeli tiket masuk, mbak penjaga loket yang berdandan ala jaman medieval, menawarkan kami untuk membeli pass Provins yang berlaku untuk satu tahun. Harganya 12 euro per orang. Pass Provins ini bisa digunakan untuk memasuki museum, monument dan tempat-tempat berbayar di seluruh Provins yang dikelola oleh dinas pariwisata setempat selama kurun waktu satu tahun. Tetapi selama setahun itu pemilik pass hanya boleh memasuki satu tempat sekali saja. Membeli pass ini tentu saja jauh lebih murah daripada harus membeli tiket masing-masing tempat yang harganya sekitar 5 euro per tiket. Kami juga mendapatkan panduan buklet jalan-jalan di Provins secara gratis dari mbaknya 🙂 . Dari buklet tersebut wisatawan bisa memilih tempat-tempat mana saja yang ingin dikunjungi di Provins sesuai dengan waktu yang dimiliki. Ada pilihan walking tour sirkuit oranye selama 1,5 jam, sirkuit biru selama 2-3 jam dan violet selama 3,5 jam lebih. Bukltenya helpfull banget deh pokoknya karena petanya juga detil.
p1100576

Pintu masuk kawasan bawah tanah kota Provins

Anyway, untuk memasuki kawasan bawah tanah kota ini, pengunjung ga boleh asal jalan. Harus mengikuti guiding tour yang tersedia setiap 30 menit sekali. Kami memilih untuk ikut guiding tour yang berbahasa Inggris setiap jam 2 siang bersama turis-turis asing lainnya. Meskipun bahasa Inggris tour guide kami logatnya masih Perancis banget, saya berusaha mencerna apa yang dia sampaikan selama tour. Kawasan bawah tanah ini konon sudah dibangun dari abad ke 12. Luasnya belum diketahui secara pasti karena bangunan bawah tanah di kota ini tak hanya berada di satu kawasan saja. Bahkan beberapa kawasan baru ditemukan pada tahun 2006 saat pemerintah setempat akan memasang fiber optik. Fungsi kawasan ruang bawah tanah ini juga masih dipertanyakan. Beberapa tempat memang dulunya digunakan untuk rumah sakit pada awal pembangunannya. Tetapi ruang-ruang bawah tanah yang lain diduga menjadi tempat pelarian perang dan tempat berkumpulnya anggota organisasi free mason saat itu. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya tulisan-tulisan di dinding-dindingnya. Yang jelas menurut mbak guidenya tempat ini masih misterius banget deh. Ruangan-ruangannya bergua-gua, bercabang-cabang dan bisa menyesatkan. Oleh karena itu wisatawan harus didampingi supaya tidak hilang di jalan. Pada musim panas biasanya juga terdapat ghost tour pada malam hari untuk berkeliling kawasan bawah tanah ini? Berminat? saya sih ogah, siang aja udah serem banget 😀 .
p1100580

Di dalam galeri bawah tanah Provins

p1100592

Terowongan-terowongan bawah tanah Provins

Kami kemudian melanjutkan perjalanan kami menuju ke lokasi selanjutnya yaitu La Collegiale Saint Quiriace. Kota Provins ini kontur alamnya ga rata, jadi untuk menuju ke tempat ini kami harus mendaki seperti mendaki bukit kecil. Tempat ini merupakan gereja dan sekolah pendeta kuno untuk belajar agama katolik, yang berdiri pada abad ke 12. Arsitekturnya tidak banyak berubah sejak didirikan. Rasanya seperti memasuki gereja kuno di negeri dongeng. Seperti halnya di gereja-gereja lain, para pengunjung bisa menyalakan lilin untuk di pasang di altarnya. Selain gereja ini, kota Provins juga memiliki bangunan-bangunan religius lain dari abad pertengahan diantaranya gereja Saint Ayoul, Tower Notre Dame du Val, Gereja Sainte Croix, dan asrama suster Fransiscan Abbey. Kami sih cuma bisa mengunjungi satu lokasi ini saja karena letaknya berjauhan satu sama lain.
p1100602

La Collegiale Saint Quiriace tampak dari samping

p1100607

Gereja kuno ini interiornya tampak cantik

p1100733

The Abbey dilihat dari jauh

Tak jauh dari La Collegiale Saint Quiriace, terdapat salah satu bangunan terkenal kota ini yaitu Caesar’s Tower. Tower ini merupakan bangunan yang letaknya paling tinggi se-kota Provins. Dibangun pada abad ke 12 oleh Counts of Champagne sebagai bangunan militer dan pertahanan. Fungsi dari Caesar’s tower selain menjadi menara pengawas, juga pernah digunakan sebagai penjara. Untuk memasukinya, kami hanya tinggal memperlihatkan tiket pass kami. Kalau tidak punya tiket pass, tiket masuk tower ini adalah 4,50 euro per orang.  Ada 7 ruangan yang bisa dijelajahi di dalam tower ini yaitu the model room, yang dulunya merupakan sebuah chapel, the guard room, the governoor’s office, the battlement parapet,the bell room dan the lower room. Masing-masing ruangan dihubungkan oleh koridor kecil dan tangga memutar yang cukup sempit. Dari tower ini kami dapat melihat pemandangan seluruh kota Provins yang lagi hijau-hijaunya. Ruangan yang paling menarik untuk saya adalah the bell room yang merupakan puncak menara Caesar ini. Di dalam ruangan ini terdapat sebuah lonceng raksasa berdiameter 1,48 meter yang beratnya mencapai 3000 kg. Kunjungan kami di menara ini ditutup dengan menonton video animasi sejarah kota Provins di the lower room.
p1100611

Caesar Tower Provins

p1100634

Pemandangan Provins dari Caesar Tower

p1100641

Lonceng raksasa yang juga menjadi tempat bermain para burung dara 😀

p1100653

Video screening di dalam Caesar Tower

Dari menara Caesar, kami berjalan menuju La Place du Chatel yang merupakan alun-alun kota Provins kuno. Di sekitar alun-alun ini terdapat banyak toko souvenir, restaurant, hotel, dan cafe. Toko souvenirnya menjual aneka pakaian dan pernaik-pernik ala abad pertengahan. Siapa tau ada yang berminat berdandan ala game of thrones? Bisa banget dibeli di sini :D. Restaurant dan kedai makan di tempat ini kebanyakan juga menawarkan menu ala medieval alias aneka makanan kuno. Harga satu set menu dari appetizer sampai dessert berkisar dari 12 sampai 30 euro. Saat kami berada di sini, tempat ini sedang penuh oleh wisatawan. Selain restauran dan toko oleh-oleh, di sekitar lokasi ini juga terdapat wahana kereta wisata keliling Provins, dan wahana berkuda poni untuk anak-anak. Di tengah alun-alun ini terdapat bangunan kurungan besi kecil yang dulunya berfungsi untuk menghukum orang. Kata suami saya sih, tahanan dikurung di dalamnya sampai terjatuh ke bawah sumur. Hiiy, serem deh!
p1100723

Kereta wisata di Provins

p1100663

Place du Chatel dan kurungan untuk para tahanan

p1100718

Bangunan-bangunan dari abad pertengahan sangat mudah dijumpai di seluruh penjuru kota ini

Destinasi terakhir yang kami kunjungi di kota ini adalah La Porte Sean -Jean et Les Remparts, merupakan pintu-pintu gerbang kuno dan benteng kuno yang mengelilingi kota Provins. Benteng raksasa ini selesai dibangun pada abad ke 13 dan kini keliling benteng yang tersisa hanya sepanjang 1,2 km saja. Aslinya keliling benteng ini mencapai 5 km. Kami berjalan kaki mengelilingi sisi luar benteng ini sambil sesekali naik ke atasnya. Dari atas, kami bisa melihat pemandangan areal pertanian di luar kota Provins yang membentang luas dari ujung ke ujung. Benteng kuno ini terlihat megah karena temboknya sangat tebal dan tingginya mencapai 25 meter. Pada saat-saat tertentu pemerintah kota Provins menggelar pekan budaya medieval di sepanjang benteng ini. Biasanya para wisatawan berdandan ala medieval dan bisa berkemah di sekeliling benteng ini. Tampaknya seru ya!
p1100684

La Porte de Rampart

p1100690

The Rampart, benteng raksasa

p1100688

Eh eh foto dulu dunk

p1100693

Eh foto lagiii

Waktu di jam tangan saya saat itu menunjuk hampir ke angka 6. Kami sudah kesorean dan sedang asyik berkeliling tourism office kota Provins, karena di dalamnya terdapat toko pernak-pernik dan oleh-oleh aneka makanan. Tourism officenya sendiri sudah mau tutup dan yang jelas semua tempat dan museum-museum yang belum kami kunjungi juga sudah tutup. Sedangkan tiket kami baru dipakai di 2 tempat saja. Kami sih berniat akan balik lagi ke Provins dan mengunjungi yang belum sempat dikunjungi. Masih ada waktu satu tahun lah , sesuai dengan ketentuan pass tiket tersebut 😀 . See you soon ya Provins, semoga kami sempat balik lagi 🙂 .
p1100708

Oleh-oleh khas Provins yang dijual di office du tourism Provins

Useful website before visiting Provins :
Provins in Google Map :

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri