Tag Archives: manokwari

Memanggil ikan bersama pak Lukas Barayap di Pantai Bakaro

Kota Manokwari ternyata punya banyak pantai keren berpasir putih dan berair biru bening. Waktu saya singgah di kota ini selama 6 hari, saya diajak jalan-jalan oleh teman baru saya yang bernama om Odi ke beberapa pantai dengan mobilnya. Kebetulan om Odi juga jarang jalan-jalan

Gambar

Teman baru saya om Odi, mengantarkan saya ke pantai bakaro

Santai di Pantai Bakaro, Manokwari

Santai di Pantai Bakaro, Manokwari

ke pantai meskipun letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Salah satu pantai yang paling berkesan yang saya kunjungi di sana adalah pantai bakaro. Letak pantai ini berada di sebelah timur manokwari, sekitar 20 menit perjalanan menyusuri jalan lingkar kota. Siang itu pantai bakaro yang letaknya tidak jauh dari perumahan penduduk, suasananya amat tenang. Tampak beberapa anak kecil mendayung perahu bersama-sama sambil bercanda suka ria. Meskipun masih kecil-kecil nyali mereka tentu saja jauh lebih besar dari saya. Mereka dengan berani mengarungi lautan tanpa takut perahunya akan terguling, padahal ombak tampak besar pada saat itu. Om odi yang awalnya hanya berjalan-jalan di tepi pantai kemudian memberhentikan seorang anak kecil yang sedang lewat. Ia bertanya soal keluarga dari bakaro yang terkenal sebagai pemanggil ikan. Yak keunikan pantai bakaro ini adalah adanya tradisi pemanggil ikan. Si anak itu pun pergi memanggil salah satu pemanggil ikan. Sambil menunggu kami berjalan-jalan di pasir putih. Bapak pemanggil ikan ini baru muncul setengah jam kemudian dengan membawa bongkahan-bongkahan kayu besar yang penuh dengan rayap. Ia mendekati kami sambil meminta maaf karena ia harus mengambil kayu berayap dahulu sebelum memperlihatkan aksinya memanggil Ikan. Ia bernama pak Lukas Barayap. Sebenarnya ia bukan asli bakaro, tetapi sudah lama ia tinggal di sana. Ia bercerita bahwa kemampuannya memanggil ikan diawali sejak tahun 1995. Waktu itu ia meminta kepada Tuhan agar bisa mendatangkan ikan supaya berenang ketepian untuk diberi makan. Ia kemudian mendengar suara bahwa rayaplah makanan terbaik untuk memanggil ikan. Seketika itu juga ia mencari rayap kemudian menebarkannya di tepian pantai bakaro. Seperti yang ia inginkan, ikan-ikan itu kemudian berdatangan dari yang kecil hingga yang besar. Ia memakai peluit sebagai alat bantu memanggil ikan. Sejak saat itu nama pantai bakaro dikenal sebagai pantai untuk memanggil ikan. Pengunjung ramai mendatangi pantai ini di saat akhir pekan dan hari libur. Sehingga pak Lukas sudah bersiap di pantai memperlihatkan aksinya. Jika hari biasa, ia menunggu di rumah sampai ada orang yang memanggilnya untuk beraksi.

Gambar

Saya bersama om Odi dan Pak Lukas Barayap

Pak Lukas kemudian beraksi di depan kami. Ia memotong-motong batang kayu tersebut dengan tangannya lalu melemparkannya ke laut sambil meniup peluit. Beberapa ikan kecil datang untuk memakan kayu berayap tersebut. Ia berkata bahwa air saat itu belum cukup pasang sehingga kami harus menunggu lagi sampai air pasang masuk dan membuat ikan-ikan besar memakan rayap tersebut. Setelah beberapa saat menunggu dan air laut cukup pasang. Pak Lukas melemparkan batang kayu sambil meniup peluit. Dan benar saja selain ikan-ikan kecil, ada sekelompok ikan-ikan besar yang mendatangi serpihan-serpihan kayu rayap. Ikan-ikan itu tampak bergerumul menahan ombak pasang sambil mencari makanan. Pemandangan yang jarang kami lihat di lautan.
Pak Lukas kemudian menunjukkan sebuah majalah yang berisi tentang dirinya ketika di danau toba. Ternyata ia pernah diundang ke sana oleh gubernur sumatera utara saat itu untuk memanggil ikan-ikan danau toba. Awalnya ia tidak berhasil memanggil ikan air tawar di sana, tetapi setelah beberapa jam menunggu ikan-ikan itu datang mengerubuti rayap yang ia tebarkan. Kami bercengkerama sampai sore di bakaro. Pak Lukas sangat ramah dengan siapa saja yang datang ke bakaro. Jika pengunjung senang dengan atraksinya ia pun merasa gembira. Ia berpesan kepada kami untuk menyampaikan pengalaman kami di bakaro kepada orang-orang di kampung kami. Well siap pak!!!

Pantai bakaro, pantai pasir putih nan indah di Manokwari

Pantai bakaro, pantai pasir putih nan indah di Manokwari

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

Pulau Mansinam, Hikmah Dari ketinggalan Pesawat

Dermaga perahu ke pulau mansinam

Dermaga perahu ke pulau mansinam

Pernah tahu rasanya ketinggalan pesawat dengan harga tiket yang mahal walaupun dibayarin ?  Saya pernah, baru saja. Rasanya mirip seperti habis diputusin pacar *jiaah*. Rasanya menyesal banget kenapa bisa terlambat tiba di bandara dan menyepelekan peraturan yang ada di bandara rendani papua barat. Bandara di manapun juga  di kota atau derah pedalaman, kalau yang namanya on time ya on time, tidak boleh terlambat sedetikpun *hammer*. Setelah bertengkar dengan teman satu tim saya, dan menemaninya merefund tiket serta membeli tiket baru untuk keesokan harinya, kami mencari hotel murah meriah di dekat bandara, supaya kami tidak terlambat lagi. Hari itu di negeri orang rasanya waktu berjalan amat lambat karena kami sudah membayangkan disambut karpet merah di rumah. Tiba-tiba saja teman satu tim saya ini, namanya Fuad mengajak saya untuk ke pulau mansinam untuk menghabiskan hari itu.

On the way dengan perahu Rp 5000 bersama bapak-bapak dan ibu-ibu

On the way dengan perahu Rp 5000

Selama beberapa hari di kota Manokwari, kami tidak sempat mengunjungi pulau mansinam. Pulau yang merupakan tempat bersejarah bagi agama Kristen di Papua. Letaknya berada di teluk doreh, tidak jauh dari pusat kota manokwari. Salah seorang teman saya di Jogja kemudian membantu saya dengan memberikan kontak temannya di Manokwari. Saya kemudian menghubungi kontak tersebut untuk bertanya jalur angkutan umum ke jeti penyeberangan menuju mansinam. Ia mengatakan bahwa jeti penyeberangan terletak tidak jauh dari rumahnya dan bersedia menjemput kami di hotel serta mengantarkan kami kembali. Kami excited dan berterimakasih sekali mendapat tumpangan gratisan ini.
jeti kwawi

jeti kwawi

Jeti tempat penyebrangan terletak di pantai kwawi, arah timur kota manokwari. Perahu umum ini berangkat beberapa menit sekali asalkan perahu sudah penuh dengan penumpang. Tarif menyeberang ke pulau mansinam adalah Rp 5000 saja. Cukup murah bukan? Karena kami tiba di jeti sudah cukup siang, maka kami menyeberang bersama-sama dengan anak-anak sekolah serta masyarakat mansinam yang akan kembali ke pulau dari pasar dan bekerja.
Tidak hanya itu, selain pulau mansinam, dengan perahu umum ini wisatawan juga bisa menyeberang ke pulau lemon, pulau kecil di utara mansinam. Jika ingin menyewa perahu ini secara pribadi, motorist perahu membanderol harga Rp 500.000 rupiah untuk keliling pulau seharian penuh. Motorist juga menawarkan tempat-tempat snorkeling dengan karang-karang dan ikan-ikan berwarna-warni di sebelah barat pulau. Sayangnya hari itu niat kami adalah tamasya hemat, jadi kami hanya ingin menimati pesisir pantai mansinam dengan berjalan kaki saja.
sampai di mansinam

sampai di mansinam

15 menit kemudian sampailah perahu kami di pesisir utara pulau mansinam yang merupakan titik terdekat dari daratan manokwari. Baru sampai saja mulut kami dibuat ternganga melihat jernih dan birunya air laut di sana. Sumpah! Bening dan biru sparkling gitu! Meskipun siang itu panas sekali kami tetap menikmati pesisir pantai mansinam sambil terus ternganga. Sayang, hari itu saya baru datang bulan, jadi saya harus mengendalikan keinginan saya untuk berenang di sana. Karena kami tidak ada persiapan apapun sebelum datang ke pulau mansinam, seperti membaca guide book atau googling tentang apa saja yang ada di sini, kami iseng bertanya kepada penduduk setempat tentang pesisir pantai lain yang disukai pengunjung. Mereka bilang ada pantai dengan air yang sangat bening, bersih dan banyak ikannya di sebelah barat pulau. Untuk menuju tempat ini, tidak ada ojek atau angkutan lain, harus jalan kaki selama 30 menit. Pulau yang terlihat kecil ini ternyata luasnya mencapai 400 hektar, membutuhkan waktu satu hari penuh untuk berjalan dari ujung ke ujung. Hari itu terlampau panas dan kami takut tidak ada perahu lagi ke daratan, maka kami mengurungkan niat untuk ke sebelah barat pulau.
Salah satu tempat yang wajib ain dikunjungi di pulau ini adalah monumen salib raksasa yang berada di sebelah utara pulau. Monumen ini adalah saksi sejarah dari kedatangan agama kristen di Papua yang disyiarkan oleh 3 orang Jerman pada tahun 1855. Tidak hanya 3 orang misionaris ini saja yang pernah ke sini, pak Alfred Wallace juga pernah ke pulau ini lho.
anak-anak mansinam lagi berenang

anak-anak mansinam lagi berenang

Me in mansinam

Me in mansinam

monumen dan salib sejarah kristen

monumen dan salib sejarah kristen

Jika saja pulau ini dekat dari tempat tinggal saya, pastilah saya akan sering ke sini membawa peralatan pancing, snorkeling dan peralatan kemping. Sekedar trekking keliling pulau jika mempunyai waktu luang yang banyak juga tampaknya sangat menyenangkan. So? If I comeback to Manokwari again, I will come to visit again. See you soon Mansinam 🙂

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia