Tag Archives: market

Jurnal Filipina #6 : Random “Muter-muter” di Manila

Sewaktu saya dan pacar saya bingung mau ngapain di Manila, kami biasanya muter-muter naik MRT dan turun di beberapa pusat perbelanjaan dan tempat nongkrong favorit orang Manila. Kami pengen tahu aja seperti apa sih mall, cafe, bar, pasar atau pusat grosir di sana. Selain Jakarta, Manila juga terkenal sebagai kota yang mallnya banyak banget. Metro atau MRT di Manila ada 4 jalur yang saling terhubung satu sama lain dan petanya bisa didownload dari google. Tarif per perjalananya cukup murah dari 10 peso atau Rp 3000 sampai 20 peso atau Rp 6000, tergantung jauh dekatnya. Sayangnya metro di kota ini tidak mencakup ke banyak wilayah. Untuk pergi ke daerah-daerah tertentu harus naik jeepney atau taksi. Untuk mengetahui jeepney mana yang menuju ke tujuan tertentu harus benar-benar bertanya kepada masyarakat lokal yang tahu :P. Host saya sendiri tidak hafal jalur-jalur jeepney. Hanya tahu satu atau dua jalur saja. Tarif naik jeepney menurut saya sangat terjangkau, sama seperti naik angkot di Indonesia.

suasana di dalam MRT Manila

suasana di dalam MRT Manila

Down town Manila dilihat dari stasiun MRT

Down town Manila dilihat dari stasiun MRT

Pernah beberapa kali saya dan pacar saya terpaksa pulang naik taksi ke rumah host kami. Pengalaman mencari dan naik taksi di Manila adalah pengalaman terburuk yang pernah kami alami. Taksi di manila kebanyakan enggan memakai argometer. Mereka selalu mematok harga yang bikin mulut menganga dan susah ditawar.Atau kalaupun mau dengan argometer, mereka meminta uang ekstra lumayan banyak ketika kami sampai di tujuan.  Taksi yang benar-benar jujur biasanya bisa didapatkan di antrian taksi khusus di pusat perbelanjaan, tetapi antrinya bagaikan antri pembagian sembako. Kalau ga terpaksa banget, kami males naik taksi di Manila.

Jalanan yang dipenuhi jeepney di marcos highway

Jalanan yang dipenuhi jeepney di marcos highway

Mall pertama yang saya kunjungi di Manila adalah SM Masinag, sebuah mall kecil tidak jauh dari rumah host saya. Kami hanya tinggal naik jeepney sekali ke mall ini dengan tarif sekitar Rp 2000. Isi mall ini hampir mirip lah seperti mall-mall kecil yang ada di Jakarta. Ada departemen strore dan supermarket, tempat bermain anak, restoran fast food dan toko-toko fashion branded. Di lantai paling atas mall ini juga terdapat food court dengan harga makanan rata-rata 100 peso atau Rp 30.000. Menurut saya, harga makanan di mall di sini lebih murah sedikit daripada di Jakarta. Nah kebanyakan mall dari yang kecil sampai yang besar di Filipina ada nama SM. SM adalah singkatan dari San Miguel, brand perusahaan bir paling top di Filipina. Selain memproduksi bir, ternyata pemiliknya juga mendirikan mall-mall. Mall terbesar kebanggan Filipina adalah SM mall of Asia yang luasnya sampai 42 hektar dan letaknya di pinggir laut. Di halaman belakang mall ini terdapat taman hiburan keluarga dengan aneka macam permainan. Saya dan pacar saya diajak host kami ke tempat ini sehari sebelum meninggalkan Filipina. Kami mencoba Manila eye ferris wheel, komidi putar terbesar dan tertinggi se-Filipina dengan membayar 150 peso atau Rp 45.000 per orang per putaran selama 10 menit. Dari atas komidi putar ini kami bisa melihat pemandangan kota Manila dari atas. Kami juga sempat muter-muter sebentar ke dalam Mall of Asia. Menurut saya sih walaupun luas banget, penataanya ga sekeren mall-mall di Jakarta. Selain mall-mall SM, kami juga mampir ke mall-mall lain seperti robinson metro dan sta lucia, sekedar untuk cari makan atau nonton karena letaknya juga tinggal satu kali naik jeepney dari rumah host kami.

Narsis di dalam Manila Eye

Narsis di dalam Manila Eye

Manila eye dilihat dari gedung Mall of Asia

Manila eye dilihat dari gedung Mall of Asia

Selain mall tempat yang menurut saya menarik dikunjungi adalah pasar modern atau shopping center seperti di tanah abang atau mangga dua. Kami memilih pusat perbelanjaan green hill yang terletak di daerah San Juan. Tempat belanja yang sangat luas ini menjual berbagai macam kebutuhan pakaian, sepatu, sandal, perhiasan, kerajinan serta pernak-pernik lucu-lucu. Harganya juga murah meriah dan bisa ditawar. Kaos-kaos di tempat ini hanya dijual dengan harga sekitar Rp 20.000 sampai Rp 50.000 saja. Di tempat ini juga terdapat pusat mutiara dan perhiasan yang terbuat dari batu alam. Harganyapun terjangkau. Saya bahkan mendapatkan gelang mutiara air tawar yang harganya hanya 100 peso atau sekitar Rp 30.000. Penataan kawasan ini menurut saya sangat menarik. Lebih menarik dan lebih bersih daripada pasar tanah abang atau pusat grosir lain di Jakarta. Di tengah-tengah shopping center ini terdapat sebuah gereja katolik yang ramai dikunjungi oleh para jemaat. Menariknya, gereja ini mempunyai sebuah museum kecil yang menampilkan diorama-diorama bergerak tentang sejarah lahirnya Yesus Kristus. Pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam museum ini.

Sebuah lorong perbelanjaan di Green Hill

Sebuah lorong perbelanjaan di Green Hill

Pojok kerajinan di Green Hill

Pojok kerajinan di Green Hill

Pusat perhiasan mutiara dan batu alam di green hill

Pusat perhiasan mutiara dan batu alam di green hill

Gereja di kawasan green hill

Gereja di kawasan green hill

Tempat lain yang kami kunjungi adalah East Wood. East wood adalah kawasan elit dan gaul 24 jam di Manila selain Makati City. Begitu masuk kawasan ini rasanya kami seperti ada di dunia lain yang kontras dengan kawasan di sekitarnya. Gedung-gedung pencakar langit dan perkantoran elit ada di sini. Para pekerja kantoran di tempat ini tidak hanya bekerja di pagi dan siang hari tetapi juga di malam hari sampai subuh hari. Banyak perusahaan di sini yang berafiliasi dengan perusahaan di Amerika Serikat, sehingga jam kerjanya menyesuaikan dengan jam kerja di Amerika Serikat. Banyak perusahaan asing yang memilih orang-orang Filipina sebagai karyawan jarak jauhnya karena mereka pandai berbicara bahasa Inggris. Bar-bar, cafe-cafe, pusat perbelanjaan elit dan restoran-restoran mahal pun ngumpul di sini. Aneka menu western dan indochina dengan mudah bisa ditemukan di sini. Di kawasan ini terdapat walk of fame seperti di Hollywood yang diperuntukkan untuk para selebriti Filipina. Nama-nama seperti Regine Velasquez, Jose Mari Chan dan Christian Bautista tertulis di lantai-lantai dengan lambang bintang. Kami lumayan sering ke East Wood karena host kami bekerja di sini dengan jam kerja Amerika. Sambil menunggu host kami bekerja kami biasanya nongkrong cari makan atau membeli minuman di bar. Harga makanan di kawasan ini lumayan mahal kecuali kalau beli makan di restoran fast food seperti KFC atau Mc Donald. Harga minuman di bar dan cafenya bervariasi. Segelas mojito bisa dibeli dengan harga 200 peso atau Rp 60.000.

Salah satu pojok East Wood di malam hari

Salah satu pojok East Wood di malam hari

Hall of fame di East Wood. Photo by Tom.

Walk of fame di East Wood. Photo by Tom.

Mengunjungi mall, pusat perbelanjaan atau area perkantoran di Manila ternyata bisa dijadikan alternatif destinasi jika memiliki waktu lebih ketika menyambangi kota ini. Tetapi tetap waspada juga, jaga barang-barang bawaan karena terkadang ada copet siap beraksi di jalan, di dalam MRT atau di dalam jeepney. Jika ingin blusukan di perkampungan atau kawasan-kawasan tertentu sebaiknya jangan sendirian, lebih baik ditemani orang lokal karena terkadang bisa tiba-tiba dipalak di tengah kampung.

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Catatan Perjalanan ke Thailand #4 Amphawa floating market and temples

Salah satu yang ingin saya lihat di Thailand adalah floating market, kegiatan jual-beli di atas perahu. Ya seperti pasar apung di sungai barito, Banjarmasin, yang belum pernah saya kunjungi.  Di Thailand memang banyak terdapat floating market, karena banyak terdapat sungai lebar dan berarus tenang diantara pemukiman penduduk. Menurut host saya Jekky, pada awalnya floating market di Thailand digunakan oleh penduduk untuk jual-beli kebutuhan sehari-hari seperti sayur dan buah, akan tetapi saking banyaknya turis dan wisatawan asing yang datang, floating market berubah menjadi tempat yang sangat komersil dan touristy. Yang tadinya menjual kebutuhan sehari-hari menjadi menjual berbagai macam souvenir dan oleh-oleh.

Hari ke 3 kami di Thailand, Jekky kemudian membawa kami berjalan-jalan ke tempat yang ada floating marketnya yaitu di Amphawa, sebuah distrik di provinsi Samut Songkhram yang terletak di sebelah barat daya kota Bangkok. Jekky bilang floating market di Amphawa ini meskipun sudah diperuntukkan untuk wisata, namun segmentnya lebih kepada wisatawan lokal. Tidak seperti floating market lain yang segmentnya adalah wisatawan asing dan barang-barang yang dijual di sana menjadi mahal-mahal. Kami menyewa sebuah van yang sebenarnya bisa diisi 12 orang, meskipun peserta trip kami hanya 5 orang yaitu kami bertiga, Jekky dan seorang traveler dari Lithuania. Kami berangkat jam 7 pagi untuk menghindari kemacetan kota bangkok. Sekitar 2,5 jam kemudian sampailah kami di Amphawa floating market. Hari itu pengunjung lumayan ramai, karena ada banyak bus dan mobil yang memadati parkiran floating market.

Aneka macam jajanan di Amphawa floating market

Aneka macam jajanan di Amphawa floating market

Baru beberapa langkah masuk ke area floating market, saya merasa gila! ahhh ada banyak makanan lagi di sini! Aneka rupa jajanan manis, asin, mentah, matang disajikan dengan menggoda iman di sini. Shit! hancur program diet saya. Kami bertiga langsung membeli beberapa jajanan yang kami anggap enak dan menarik. Jekky menyarankan kami untuk tidak terlalu banyak jajan dulu karena sebelum jalan-jalan di area floating market, Jekky akan mengajak kami mengunjungi beberapa kuil Buddha dengan menggunakan boat menyusuri sungai-sungai. Kami kemudian menjadi kalem dan menunggu datangnya perahu sewaan kami.

Amphawa, selain terkenal dengan floating market, areal ini juga terkenal dengan beberapa kuil Buddha untuk beribadah dan berziarah. Oleh karenanya, di tempat ini 90% pengunjungnya adalah turis lokal yang tujuannya juga beribadah. Mereka yang berziarah dan berdoa di kuil-kuil ini biasanya mempunyai hajat-hajat tertentu, seperti akan menikah, akan ujian dan lain-lain. Kami menaiki sebuah perahu bermotor kecil yang kami sewa seharga 200 bath untuk satu kali trip. Di areal ini terdapat lebih dari 10 kuil yang bisa dikunjungi, tetapi kami hanya mengunjungi 5 kuil saja. Kami mengikuti Jekky yang berdoa di tiap-tiap kuil tersebut dengan membawa bunga dan dupa. Ritual terakhir yang ia lakukan adalah menempelkan sticker emas di patung sang Buddha setiap kali selesai berdoa. Tipikal kuil Buddha yang kami kunjungi di Amphawa terdiri dari satu bangunan utama dengan altar Buddha yang patung-patungnya bercat emas. Bagian luar bangunannya terdapat stupa-stupa serta patung-patung Buddha berderet mengitari bangunan utama. Karena ini pertama kalinnya saya mengunjungi sebuah negara yang mayoritas beragama Buddha, dan pertama kalinya melihat kuil Buddha yang didesain sedemikian rupa, saya merasa amazed berada di sini. Salah satu kuil Buddha yang terkenal paling unik yang kami kunjungi adalah Wat Bang Kung. Kuil ini unik karena bangunan utamanya ada di dalam pohon beringin besar. Hmm jadi kuil ini dibangun dulu baru ditanam pohonnya atau bagaimana yah? Di halaman Wat Bang Kung juga terdapat patung-patung orang bermain muay thai yang sangat unik.

Amphawa floating market dari atas jembatan

Amphawa floating market dari atas jembatan

Salah satu kuil yang berada di pinggir sungai Amphawa

Salah satu kuil yang berada di pinggir sungai Amphawa

Altar Buddha #1

Altar Buddha #1

deretan altar Buddha

deretan altar Buddha

Altar Buddha #2 di wat bang kung

Altar Buddha #2 di wat bang kung

wat bang kung, temple di dalam pohon beringin

wat bang kung, temple di dalam pohon beringin

Setelah 3 jam kami berkeliling ke kuil-kuil tersebut, kami memutuskan kembali ke floating market. Bapak pemilik perahu melewatkan kami ke rute yang berbeda dari jalur berangkat. Ia kemudian menunjukkan rumah-rumah penduduk setempat yang sebagian besar masih berdisain tradisional dan terbuat dari kayu. Selain rumah penduduk, kawasan ini juga banyak terdapat homestay untuk menginap para wisatawan. Sungai amphawa ini karena hanya terletak beberapa kilometer dari laut di pinggirannya banyak tumbuh tanaman nipah.

Rumah penduduk di Amphawa

Rumah penduduk di Amphawa

Amphawa floating market

Amphawa floating market

Sesampainnya kami kembali di floating market, kami kemudian mencoba berbagai macam makanan yang dijual di atas perahu-perahu. Ada macam-macam seafood, salad, dan thai tea. Kami juga menyusuri berbagai macam pertokoan yang ada di areal ini. Jika anda termasuk orang yang impulsif dan tidak bisa menahan diri untuk berbelanja, anda dijamin bisa kalap di tempat ini karena barang yang dijual seperti aksesoris, baju, tas dan pernak-perniknya begitu unik dan berbeda. Untung saja saya masih bisa bisa menahan diri untuk tidak membeli pernak-pernik di sini. Tapi kalau buat makanan yang ada di sini, hmm ga kuat ternyata saya.

2 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri, Travel Food and Fruit