Tag Archives: masjid

Misteri masjid tiban, masjid kuno di dusun gambarsari, ngawen

Pemandangan indah di desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen, Gunung Kidul

Pemandangan indah di desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen, Gunung Kidul

Saat itu saya sedang mendapatkan tugas penelitian untuk mewawancarai kepala-kepala dusun di desa Jurangjero, kecamatan Ngawen, kabupaten Gunung Kidul. Salah satu pertanyaan yang harus diajukan adalah tentang potensi wisata di dusun masing-masing. Nah sambil mencari tahu jawabannya saya juga ingin menyambangi tempat-tempat yang berpotensi sebagai tempat wisata dari jawaban para kepala dusun tersebut. Desa Jurangjero sendiri menurut saya alamnya sangat indah. Areal persawahan hijau terhampar begitu luas dikelilingi perbukitan-perbukitan hijau yang menyejukkan mata.

Salah satu sudut dusun Gambarsari yang sangat hening dan tenang

Salah satu sudut dusun Gambarsari yang sangat hening dan tenang

Salah satu tempat menarik disebutkan oleh kepala dusun Gambarsari. Ia bilang potensi wisata di susun tersebut adalah masjid Tiban. Masjid ini adalah masjid kuno yang keberadaanya sudah ada sejak jaman kakek-neneknya dulu. Tetapi entah siapa yang membangun, ia tidak tahu pasti. Katanya masjid itu memang tiba-tiba berada di sana, oleh karena itu namanya masjid Tiban. Tiban dalam bahasa Jawa berarti tiba-tiba ada atau muncul. Masjid ini ukuranya sangat kecil, hanya sekitar 2×2 meter saja, tetapi konon katanya jika masuk ke dalamnya masjid ini terlihat sangat luas dan bisa menampung ratusan jemaah. Benar atau tidaknya belum ada yang bisa menjelaskan. Ketika saya mengunjungi masjid yang letaknya di belakang halaman penduduk ini, tidak ada seorangpun di sana yang bisa saya tanyai lebih lanjut. Dusun itu juga tampak sedang sepi-sepinya, mungkin karena penduduk sedang bekerja di sawah. Masjid berdinding bambu dan beratap ijuk ini masih berdiri kokoh dengan gentong air untuk wudhlu di depannya. Auranya tampak mistis dan misterius karena terlihat beberapa bekas dupa dipasang di sekitarnya. Masjid ini mengingatkan saya akan masjid kuno Bayan Belig di Lombok yang sudah dikelola dengan baik oleh dinas pariwisata setempat. Saya kira masjid Tiban ini juga bisa dikelola dengan baik sebagai bangunan bersejarah di gunung kidul. Nah saya masih penasaran dengan cerita detil sejarah tentang masjid Tiban ini. Ada yang bisa bercerita kepada saya? 🙂

Bangunan masjid Tiban, masjid kuno di dusun Gambarsari, Desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen

Bangunan masjid Tiban, masjid kuno di dusun Gambarsari, Desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen

Lokasi desa Jurangjero, kec Ngawen, Gunung Kidul di google map :

Iklan

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

Desa Adat Bayan, dari Tenun Tradisional hingga Masjid Bayan Beleq

Salah satu sudut kampung Bayan

Salah satu sudut kampung Bayan

Tahukah kamu kalau di Lombok Utara dahulu ada sebuah kerajaan kecil yang dinamakan dengan kerajaan Bayan? Kalau tidak mengunjungi kecamatan Bayan saat itu, mungkin saya juga belum tahu. Konon sejarah kerajaan ini dimulai dari abad ke 15 oleh seorang raja bernama datu bayan. Pada abad ke 16, raja dan masyarakat kerajaan Bayan perlahan-lahan memeluk islam karena pengaruh dari para wali dan para pedagang yang masuk melalui pelabuhan carik. Belum diketahui secara pasti agama masyarakat Bayan sebelum masuk islam, ada yang bilang hindu ada pula yang bilang buddha. Konon katanya juga daerah Bayan adalah wilayah pertama di pulau Lombok yang memeluk islam. Kini sisa-sisa kerajaan ini menjadi sebuah desa adat yang besar yang masih memegang teguh budaya nenek moyang. Hal itu diperlihatkan dengan bentuk rumah tradisionalnya yang terjaga dan kegiatan-kegiatan masyarakatnya yang masih mengacu kepada adat. Konsep adat dan agama islam berkembang secara bersama-sama di desa adat ini. Mereka mempunyai sebuah konsep yang dinamakan wetu telu. Orang-orang di luar Bayan biasanya mengira bahwa wetu telu adalah melaksanakan sholat 3 waktu dalam sehari. Padahal sehari-hari orang bayan melaksanakan sholat 5 waktu sama seperti yang lain. Konsep wetu telu ini lebih mengacu kepada manusia, adat dan agama itu sendiri, untuk keseimbangan hidup yang lebih baik. Orang bayan tidak menggolongkan diri mereka sebagai orang sasak. Mereka lebih suka disebut sebagai orang bayan. Nah apakah bayan adalah suku tersendiri?  Gelar-gelar bangsawan yang dipakai oleh orang bayan berbeda dengan gelar yang dipakai di suku sasak. Orang sasak biasanya bergelar lalu atau baiq, sedangkan orang bayan mempunyai gelar raden untuk laki-laki dan dende untuk perempuan.

Rumah di desa adat Bayan, beberapa mash beratap alang-alang

Rumah di desa adat Bayan, beberapa mash beratap alang-alang

Saya berkunjung ke desa adat Bayan sekedar untuk berwisata. Mumpung saya sedang ditugaskan di kecamatan ini. Kecamatan yang letaknya 85 km dari kota Mataram. Saya surprise juga ternyata pulau lombok memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam. Saya berjalan menelusuri desa yang bangunan rumah-rumahnya masih tradisional. Seperti halnya di desa adat yang lain, di desa ini juga terdapat banyak berugaq untuk menerima tamu dan bumi gora untuk menyimpan padi hasil panen. Selain terkenal dengan budayanya yang unik dan acara adat yang meriah, desa adat bayan ini juga terkenal dengan kain tenunnya. Karena saya adalah fans dari tenun seluruh nusantara, maka saya menghampiri seorang penenun yang ada di sana. Sebut saja namanya bu Dende, karena ia adalah keturunan bangsawan Bayan. Ia mulai menenun sedari kecil. Tenun khas bayan memang diajarkan secara turun temurun dan dilakukan oleh kaum perempuan. Motif tenun ini berupa kotak-kotak dan garis-garis. Tenun bermotif kotak-kotak biasanya dipakai oleh kaum laki-laki. Sarung tenun khas Bayan, sehari-hari juga masih dikenakan oleh masyarakatnya. Apalagi ketika ada acara adat dan agama, mereka beramai-ramai mengenakan kain tenun sebagai sarung. Benang yang digunakan untuk kain tenun bayan pada awalnya adalah benang yang dipintal sendiri dan diwarnai dengan bahan alami. Ibu menunjukkan salah satu hasil kain tenun bayan yang usianya sudah ratusan tahun dan tetap cantik. Ia mendapatkan kain itu dari neneknya. Ibu dende kemudian memperlihatkan kepada saya bagaimana cara menenun dengan alat tenun tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu. Hmm kalau buat saya sih kelihatan rumit. Saya salut kepada mereka para penenun yang dengan telaten merakit benang-benang ini menjadi kain yang indah. Sebagai oleh-oleh dari pulau lombok saya membeli satu buah syal dan satu buah tas tenun bayan.

Sanggar tenun di desa adat Bayan

Sanggar tenun di desa adat Bayan

Tenun gaya Bayan, masih ditenun dengan tradisional

Tenun gaya Bayan, masih ditenun dengan tradisional

Di desa adat ini terdapat sebuah bangunan istimewa yang merupakan cagar budaya nasional dari abad ke 17. Bangunan ini merupakan sebuah masjid kuno yang disebut sebagai masjid bayan beleq. Konon inilah masjid pertama di pulau Lombok. Masjid ini dibangun di atas tumpukan batu, dindingnya terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari bambu dan ijuk. Masjid yang berusia lebih dari 300 tahun ini, dari awal memang tidak pernah diubah bangunanya. Masih terjaga seperti ini sejak dibangun. Jika direnovasipun harus terbuat dari bahan bangunan yang sama. Beleq dalam bahasa bayan artinya adalah makam. Di dalam masjid ini serta di dua bangunan kecil di kiri kanan masjid terdapat makam pemuka agama islam bayan yang pertama. Untuk memasuki masjid ini tidak bisa sembarangan, harus ditemani oleh juru kuncinya. Masjid ini sudah tidak dipergunakan untuk beribadah sehari-harinya. Hanya pada waktu maulid nabi, masjid ini digunakan untuk perayaan bersama. Perayaan maulid nabi di desa adat ini sangat meriah dan sakral. Saya hanya memandangi bangunan masjid ini dari luar dan mengitari halamanya yang penuh pohon besar. Rasanya mistis sekali ketika berada di sini. Keren juga ya masyarakat Bayan bisa mempertahankan keaslian bangunan masjid selama 300 tahun lebih. Pulau Lombok memang tidak melulu pantai, pulau dan gunung, desa-desa adat seperti ini juga merupakan destinasi menarik. Menggagumi keindahan alamnya rasanya memang lebih lengkap kalau kita juga tahu keunikan adat dan keanekaragaman budayanya.

Masjid kuno Bayan Beleq

Masjid kuno Bayan Beleq

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia