Tag Archives: monument

City Escape to Buda&Pest #11 : Hero Square dan Kastil Vajdahunyad

I’ts officially our last day in Budapest. Dan hari itu, Budapest card 48 jam kami hanya berlaku sampai jam 2 siang. Sebagai manusia yang mau untung kami ingin memanfaatkan kartu ini semaksimal mungkin sebelum expired. Saya dan suami tercinta bangun pagi-pagi, langsung jalan-jalan dengan public transport menuju ke kawasan Hero Square. Sebuah landmark kota yang ketenarannya di kota ini setara dengan Arc de Triomph di Paris. Katanya sih, kalau ke Budapest ga foto-foto di square ini, rasanya ada yang kurang ūüėÄ . Persamaannya lagi dengan Arc de Triomph, bangunan ini didirikan untuk menghormati para pahlawan. Yaa dari namanya saja sudah jelas sih, Hero Square ,atau yang dalam bahasa Magyar disebut¬†HŇĎs√∂k tere. Di monument kebangsaan ini terdapat 7 patung kepala suku Magyar yang telah berjasa menjaga area Carpathian bassin pada abad pertengahan dahulu kala, serta patung-patung pahlawan Hunggaria lainnya yang berdiri kokoh di kolom-kolom monumen. Patung-patung ini terlhat gagah, epic dan hidup. Selain itu, di square ini juga terdapat pusara para pahlawan tak dikenal yang telah gugur berjuang demi Hunggaria. Berbagai acara nasional biasanya diselenggarakan di square yang sehari-harinya selalu ramai oleh wisatawan ini.
P1130677

Hero square

Di kawasan Hero Square terdapat museum-museum dengan arsitektur bangunan yang cantik seperti fine art museum , contemporary art museum, transport museum serta agriculture museum. Yang jelas, kami ga mungkin mengunjungi semuanya, jadi kami harus memilih salah satu saja karena keterbatasan waktu. Di belakang square ini juga terdapat taman luas yang nyambung dengan kebun binatang Budapest dan Széchenyi thermal bath, pemandian terbesar dan teramai di Budapest. Hari itu hari minggu, jadi taman kota yang asri ini tampak dipenuhi masyarakat yang ingin bersantai dengan keluarga. Mereka sekedar piknik, atau bermain sepeda air di atas danau buatan.
P1130684

Pusara pahlawan di Hero Square

Di tengah-tengah komplek taman hijau ini terdapat sebuah kastil, bernama kastil Vajdahunyad. Kastil ini terlihat kuno dengan arsitektur dari abad pertengahan. Kalau dilihat dari jauh, kastil ini seperti kediamannya dracula. Terlihat agak-agak angker gimanaa. Baru melihat saja, bulu kuduk saya merinding *eh. Saya merasa dejavu pernah melihat kastil ini sebelumnya di televisi. Ternyata eh ternyata kastil ini aslinya bukan dari abad pertengahan. Kastil ini baru dibangun tahun 1896, dan desain utamanya merupakan imitasi dari kastil Hunyad/ Hunedoara di Transylvania, Romania, kastil aslinya dracula. Pantesan! Saya pernah menonton acara televisi berjudul The scariest places on earth, dengan setting di kastil asli di Romania. Saking banyaknya penampakan di kastil itu, saya sampai masih mengingatnya sampai sekarang ūüėÄ . Tapi ada-ada aja sih, kenapa harus membangun kastil imitasi dari Romania ya ? Ternyata, daerah Transylvania tempat kastil Hunyad asli berada dulunya merupakan bagian dari kerajaan Hunggaria.
P1130691

Gerbang kastil Vajdahunyad Budapest

Kastil Vajdahunyad sendiri arsitekturnya tak hanya ala abad pertengahan saja, melainkan gabungan arsitektur berbagai zaman. Bagian timur kastil ini, desainnya merupakan campuran gaya renaisance dan baroque. Kastil yang didesain oleh Ignac Alpar ini menjadi rumah untuk museum agrikultur terbesar di Hunggaria bahkan di Eropa. Kami berdua lalu memutuskan untuk menghabiskan sisa mata uang forin di museum ini. Meskipun di luar kastil ini tampak ramai oleh turis, tak banyak pengunjung yang mengunjungi bagian dalamnya. Hanya terlihat beberapa masyarakat lokal yang menjadi pengunjung museum ini pagi itu. Selain museum, pengunjung juga bisa menyambangi tower-tower dan kapel di dalam kastil ini dengan membayar tiket ekstra.
P1130696

Saah satu tower yang tertutup tanaman merambat

Kami berdua menjelajahi hampir seluruh ruangan di dalamnya, termasuk kedua towernya. Agrikultur yang dipaparkan di dalam museum ini tak hanya dari bidang pertanian saja, tetapi juga sejarah awal berburu dan meramu di tanah Magyar. Makanya di dalam museum ini banyak dipajang taxidermy binatang-binatang hasil perburuan masyarakat Hunggaria di masa lalu. Contohnya seperti beruang, babi hutan dan rusa. Bahkan ada satu ruangan besar yang memajang khusus tanduk rusa. Jumlahnya mungkin sampai ribuan tanduk, saking banyaknya. Ini pertama kalinya kami menyambangi museum agrikultur yang cukup besar dan lengkap. Jadi kami berdua merasa terpukau dengan banyaknya koleksi di museum ini. Museum ini bahkan mempunyai ruangan-ruangan tersendiri yang memaparkan tentang minuman lokal Hunggaria seperti bir, wine dan minuman penghalau dingin lainnya. Minuman lokal dengan bahan baku buah dan gandum asli Hunggaria, yang menjadi minuman sehari-hari para petani dari dulu sampai sekarang. Yang jelas kalau mau serius belajar tentang pertanian dan kaitannya dengan kebudayaan Magyar, bakalan bisa berhari-hari berada di museum ini. Sisi kultural masyarakat Magyar yang ditampilkan di sini juga sangat menarik untuk diamati. Agrikultur memang ga bisa dipisahkan dari budaya dan kebiasaan masyarakat setempat yang turun-temurun dari zaman dahulu.
P1130734

Salah satu ruangan unik di dalam kastil yang penuh dengan tanduk rusa dan kepala binatang lainnya

Berkunjung ke museum ini malah mengingkatkan saya tentang budaya agrikultur dan bahan makanan pokok di Indonesia, karena sebenarnya ga semua orang Indonesia itu makanan pokoknya beras. Tapi karena program swasembada beras yang dicanangkan saat era orde baru, pola konsumsi masyarakat jadi bergeser dan tergantung pada beras. Contohnya masyarakat Gunung Kidul di DIY yang tadinya terbiasa makan thiwul dan gaplek , sekarang lebih memilih makan dengan beras, karena berbagai anggapan yang beredar di masyarakat. Padahal tanah di daerah itu lebih cocok ditanami ketela daripada padi. Bertanam ketela juga lebih mudah dan murah di daerah ini. Akibatnya masyarakat memaksakan diri untuk makan beras , dengan harga yang semakin mahal per kilogramnya dari tahun ke tahun. Eniwei , saya sendiri malah belum pernah ke museum yang berhubungan dengan pertanian di Indonesia. Waktu itu mau ke museum tani jawa yang ada di Bantul, tapi museumnya pas tutup. Saya sih mikirnya bakal menarik banget kalau Indonesia punya museum besar tentang agrikultur yang tentu saja berhubungan dengan budaya dan kearifan lokal setiap tempat dan suku. Bakalan jadi wahana belajar yang menyenangkan dan membuka pandangan masyarakat kan?
P1130803

Kastil Vajdahunyad dilihat dari pinggir danau

Sisa siang itu, kami habiskan untuk bersantai di sekitar taman sampai satu jam terakhir sebelum masa berlaku Budapest card kami habis. Meskipun masih betah di kota ini, kami harus segera beranjak ke destinasi lain menggunakan kereta api. Kira-kira kami akan ke kota mana ya ? Ikuti terus postingan saya selanjutnya *iklan mode on ūüėÄ .
Iklan

1 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Exploring Paris #6 : Random walk in Arch de Triomphe dan Champs-√Člys√©es

Arch de Triomphe dilihat dari Champ-Elysse

Arch de Triomphe dilihat dari Champ-Elysse

Selain menara Eiffel, museum Louvre, dan katedral Notre Dame, tempat apa lagi yang populer di kalangan para turis kalau ke Paris? Jawabanya pasti Arch de Triomphe. Saking populernya monumen ini, kota Kediri di Jawa Timur juga membangun monumen yang mirip Arch de Triomphe di simpang lima Gumul. Saya sempat tertipu dengan foto beberapa teman saya. Saya kira mereka ada di Paris, ternyata ada di Kediri ūüėÖ. Nah jangan-jangan pas saya berfoto di depan Arch de Triomphe beneran, saya dikira sedang di Kediri lagi ūüėā. Untuk menuju ke monumen ini paling mudah menggunakan kereta bawah tanah atau metro jalur 1, 2, 6 atau kereta RER A turun di stasiun Charles de Gaulle Etoile. Jalur bus yang berhenti dan melewati simpang lima ini adalah nomer 22, 30,31 dan 92. Atau kalau niatnya jalan kaki dan sedang berada di sekitar museum Louvre dan Concorde Boulevard, tinggal jalan santai saja menuju ke arah barat laut. Tiket untuk masuk ke museum sekaligus naik ke puncak monumen ini untuk dewasa adalah 8 euro. Kalau hanya ke monumen ini saja tanpa ke atas, pengunjung tidak dipungut biaya. Karena masih dalam rangka mengunjungi yang gratis-gratis saja di Paris, saya dan suami saya hanya mengunjungi pelataran Arch de Triomphe saja. Oya untuk menuju pelataran Arch de Triomphe jangan asal nyebrang lewat jalan raya untuk ke sana yah, karena sudah disediakan tangga bawah tanah dari berbagai sisi jalan untuk menuju ke sana. Tangga dan jalan bawah tanah ini bernama Tunnel d’Etoile.

Saya sedang di Kediri, eh di Paris!

Saya sedang di Kediri, eh di Paris!

Mengapa Arch de Triomphe ini sangat terkenal dibandingkan dengan monumen lain di Paris ? Mungkin karena arsitekturnya yang indah, megah dan letaknya yang sangat strategis di tengah-tengah simpang sebelas Charles de Gaulle Etoile. Salah satu simpangan yang menghubungkan jalan-jalan utama di kota Paris. Salah satunya adalah jalan avenue des¬†Champs-√Člys√©es yang isinya deretan butik-butik dan pertokoan mahal. Monumen Arch de Triomphe dibangun untuk mengenang para pahlawan yang gugur dalam revolusi Perancis dan dalam perang Napoleonic. Di bawah monumen ini terdapat makam prajurit-prajurit tak dikenal yang mempertahankan kemerdekaan Perancis saat perang dunia pertama. Di makam ini terdapat bara api yang selalu menyala dan bunga-bunga dari para pengunjung diletakkan di sekitarnya. Tampaknya para pengunjung yang kebanyakan orang Perancis sendiri senang menaruh bunga-bunga ini dan mengirim doa untuk para pahlawan saat sedang berada di sini. Mereka sangat menghargai jasa para pahlawannya. Saya jadi teringat sebuah quote bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Nah kita yang di Indonesia sudahkah menghargai dan mendoakan para pahlawan kemerdekaan kita? Monumen setinggi 50 meter ini didesain oleh Jean Chalgrin pada tahun 1806. Dinding monumen ini penuh dengan relief yang menggambarkan perjuangan perang saat itu dan di keempat pilarnya terukir nama-nama para prajurit yang gugur saat itu. Di atap monumen ini terdapat pahatan relief-relief bunga mawar yang indah.

Pahatan mawar di langit-langit Arch de Triomphe

Pahatan mawar di langit-langit Arch de Triomphe

Relief perjuangan di dinding Arch de Triomphe

Relief perjuangan di dinding Arch de Triomphe

Makam para prajurit pejuang di bawah Arch de Triomphe

Makam para prajurit pejuang di bawah Arch de Triomphe

Dari Arch de Triomphe saya dan suami saya melanjutkan random walk kami ke sepanjang¬†Champs-√Člys√©es. Saya jadi ingat dengan lagunya Joe Dassin dengan judul nama jalan tersebut. “Aux¬†Champs-√Člys√©es,¬†Aux¬†Champs-√Člys√©es, Au soleil sous la pluie, a midi ou a minuit, Il y a tout ce que vous voulez aux¬†Champs-√Člys√©es”. Tampaknya lirik lagu ini memang sangat menggambarkan suasana boulevard ini. Boulevard yang happening! Boulevard sepanjang 1,9 km ini membentang dari Arch de Triomphe sampai ke Concorde. Para turis yang berkunjung ke kota Paris dan sangat suka berbelanja dimanjakan dengan banyaknya pertokoan dan butik merek-merek terkenal menengah ke atas di sepanjang jalan. Sebut saja merek-merek seperti Louis Vuitton, Long Champs, Lancel , Hugo Boss, Zara dan masih banyak lagi berderet di kanan dan kiri jalan. Pedestrian yang luas dan nyaman untuk para pejalan kaki , membuat pengunjung¬†Champs-√Člys√©es leluasa untuk melangkahkan kaki. Waktu kami melintas di sana saat itu banyak sekali turis yang jalan-jalan menghabiskan sore mereka dengan berbelanja atau sekedar duduk-duduk di cafe. Butik dan toko dipenuhi oleh pengunjung. Bahkan untuk masuk ke butik-butik tertentu para turis diharuskan mengantri seperti antri pembagian sembako. Melihat fenomena seperti ini saya melongo. Maklum biasanya di tempat saya tinggal yang ngantri itu emang pembagian sembako. Mungkin suatu saat nanti saya mau deh masuk ke butik-butik mewah itu sekedar untuk melihat-lihat. Siapa tahu aja bisa ketemu Syahrini *Ehh*.

Champs-√Člys√©es di sore hari yang ramai

Champs-√Člys√©es di sore hari yang ramai. Pedestriannya sangat nyaman untuk pejalan kaki.

Antri untuk masuk ke LV di Champs-√Člys√©es

Antri untuk masuk ke LV di Champs-√Člys√©es

2 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri