Tag Archives: monument

Exploring Paris #6 : Random walk in Arch de Triomphe dan Champs-Élysées

Arch de Triomphe dilihat dari Champ-Elysse

Arch de Triomphe dilihat dari Champ-Elysse

Selain menara Eiffel, museum Louvre, dan katedral Notre Dame, tempat apa lagi yang populer di kalangan para turis kalau ke Paris? Jawabanya pasti Arch de Triomphe. Saking populernya monumen ini, kota Kediri di Jawa Timur juga membangun monumen yang mirip Arch de Triomphe di simpang lima Gumul. Saya sempat tertipu dengan foto beberapa teman saya. Saya kira mereka ada di Paris, ternyata ada di Kediri 😅. Nah jangan-jangan pas saya berfoto di depan Arch de Triomphe beneran, saya dikira sedang di Kediri lagi 😂. Untuk menuju ke monumen ini paling mudah menggunakan kereta bawah tanah atau metro jalur 1, 2, 6 atau kereta RER A turun di stasiun Charles de Gaulle Etoile. Jalur bus yang berhenti dan melewati simpang lima ini adalah nomer 22, 30,31 dan 92. Atau kalau niatnya jalan kaki dan sedang berada di sekitar museum Louvre dan Concorde Boulevard, tinggal jalan santai saja menuju ke arah barat laut. Tiket untuk masuk ke museum sekaligus naik ke puncak monumen ini untuk dewasa adalah 8 euro. Kalau hanya ke monumen ini saja tanpa ke atas, pengunjung tidak dipungut biaya. Karena masih dalam rangka mengunjungi yang gratis-gratis saja di Paris, saya dan suami saya hanya mengunjungi pelataran Arch de Triomphe saja. Oya untuk menuju pelataran Arch de Triomphe jangan asal nyebrang lewat jalan raya untuk ke sana yah, karena sudah disediakan tangga bawah tanah dari berbagai sisi jalan untuk menuju ke sana. Tangga dan jalan bawah tanah ini bernama Tunnel d’Etoile.

Saya sedang di Kediri, eh di Paris!

Saya sedang di Kediri, eh di Paris!

Mengapa Arch de Triomphe ini sangat terkenal dibandingkan dengan monumen lain di Paris ? Mungkin karena arsitekturnya yang indah, megah dan letaknya yang sangat strategis di tengah-tengah simpang sebelas Charles de Gaulle Etoile. Salah satu simpangan yang menghubungkan jalan-jalan utama di kota Paris. Salah satunya adalah jalan avenue des Champs-Élysées yang isinya deretan butik-butik dan pertokoan mahal. Monumen Arch de Triomphe dibangun untuk mengenang para pahlawan yang gugur dalam revolusi Perancis dan dalam perang Napoleonic. Di bawah monumen ini terdapat makam prajurit-prajurit tak dikenal yang mempertahankan kemerdekaan Perancis saat perang dunia pertama. Di makam ini terdapat bara api yang selalu menyala dan bunga-bunga dari para pengunjung diletakkan di sekitarnya. Tampaknya para pengunjung yang kebanyakan orang Perancis sendiri senang menaruh bunga-bunga ini dan mengirim doa untuk para pahlawan saat sedang berada di sini. Mereka sangat menghargai jasa para pahlawannya. Saya jadi teringat sebuah quote bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Nah kita yang di Indonesia sudahkah menghargai dan mendoakan para pahlawan kemerdekaan kita? Monumen setinggi 50 meter ini didesain oleh Jean Chalgrin pada tahun 1806. Dinding monumen ini penuh dengan relief yang menggambarkan perjuangan perang saat itu dan di keempat pilarnya terukir nama-nama para prajurit yang gugur saat itu. Di atap monumen ini terdapat pahatan relief-relief bunga mawar yang indah.

Pahatan mawar di langit-langit Arch de Triomphe

Pahatan mawar di langit-langit Arch de Triomphe

Relief perjuangan di dinding Arch de Triomphe

Relief perjuangan di dinding Arch de Triomphe

Makam para prajurit pejuang di bawah Arch de Triomphe

Makam para prajurit pejuang di bawah Arch de Triomphe

Dari Arch de Triomphe saya dan suami saya melanjutkan random walk kami ke sepanjang Champs-Élysées. Saya jadi ingat dengan lagunya Joe Dassin dengan judul nama jalan tersebut. “Aux Champs-Élysées, Aux Champs-Élysées, Au soleil sous la pluie, a midi ou a minuit, Il y a tout ce que vous voulez aux Champs-Élysées”. Tampaknya lirik lagu ini memang sangat menggambarkan suasana boulevard ini. Boulevard yang happening! Boulevard sepanjang 1,9 km ini membentang dari Arch de Triomphe sampai ke Concorde. Para turis yang berkunjung ke kota Paris dan sangat suka berbelanja dimanjakan dengan banyaknya pertokoan dan butik merek-merek terkenal menengah ke atas di sepanjang jalan. Sebut saja merek-merek seperti Louis Vuitton, Long Champs, Lancel , Hugo Boss, Zara dan masih banyak lagi berderet di kanan dan kiri jalan. Pedestrian yang luas dan nyaman untuk para pejalan kaki , membuat pengunjung Champs-Élysées leluasa untuk melangkahkan kaki. Waktu kami melintas di sana saat itu banyak sekali turis yang jalan-jalan menghabiskan sore mereka dengan berbelanja atau sekedar duduk-duduk di cafe. Butik dan toko dipenuhi oleh pengunjung. Bahkan untuk masuk ke butik-butik tertentu para turis diharuskan mengantri seperti antri pembagian sembako. Melihat fenomena seperti ini saya melongo. Maklum biasanya di tempat saya tinggal yang ngantri itu emang pembagian sembako. Mungkin suatu saat nanti saya mau deh masuk ke butik-butik mewah itu sekedar untuk melihat-lihat. Siapa tahu aja bisa ketemu Syahrini *Ehh*.

Champs-Élysées di sore hari yang ramai

Champs-Élysées di sore hari yang ramai. Pedestriannya sangat nyaman untuk pejalan kaki.

Antri untuk masuk ke LV di Champs-Élysées

Antri untuk masuk ke LV di Champs-Élysées

2 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Berkunjung ke Equator Bonjol dan Museum Tuanku Imam Bonjol

gapura equator bonjol

gapura equator bonjol

Kalau di Pontianak ada tugu khatulistiwa yang terkenal se-nusantara, di propinsi sumatera barat juga ada monumen equator bernama equator Bonjol. Kebetulan karena langkah kaki saya terbawa nasib sampai ke kabupaten pasaman untuk tugas penelitian, saya dan rekan-rekan penelitian saya menyempatkan diri untuk mampir ke sini. Nama bonjol sendiri tidak asing di telinga saya. Ternyata di kecamatan inilah Tuanku Imam Bonjol , pahlawan nasional kita lahir dan berasal. Di kecamatan ini pada zaman perang dahulu juga terdapat benteng milik kaum pederi yang hancur dikepung oleh penjajah.

Di pinggir jalan monumen equator ini juga terdapat gapura yang bertuliskan anda melintasi khatulistiwa. Dengan melintasi gapura itu otomatis kita berpindah belahan bumi dari utara ke selatan atau sebaliknya. Monumen equator di tempat ini berupa sebuah tugu kecil dengan bola dunia di atasnya. Di sepanjang tempat ini juga diberikan garis di atas jalan yang menggambarkan titik 0 garis equator. Konon katanya di saat-saat tertentu kita bisa mendirikan telur di garis equator ini.

tugu equator bonjol

tugu equator bonjol

Garis equator bonjol

Garis equator bonjol

Selain monumen equator, di lokasi ini terdapat sebuah museum berarsitektur Minangkabau yang dipersembahkan untuk tuanku imam bonjol yang dilahirkan pada tahun 1772. Di depan museum ini terdapat patung pahlawan perang paderi kita yang sedang menunggang kuda mengacungkan pedang. Saya dan teman-teman menyempatkan diri masuk ke museum ini walaupun sudah hampir tutup. Kami hanya membayar Rp 2500 per orang. Koleksi museum yang terdiri dari 2 lantai ini sebenarnya lumayan banyak dan menarik, hanya saja terlihat agak pengap dan kurang terurus :(. Benda-benda sejarah yang dipamerkan di museum ini berupa aneka macam senjata peninggalan perang paderi berupa keris, pedang sampai meriam kuno. Saya malah baru tahu kalau di Sumatera Barat ada keris juga seperti di Jawa. Hanya saja kerisnya lebih panjang daripada keris Jawa pada umumnya. Lukisan-lukisan yang menggambarkan perjuangan tuanku imam bonjol ketika jaman perang juga banyak dipajang di museum ini. Ada pula peninggalan alat-alat masak tradisional, uang-uang kuno dan perabotan yang dulu digunakan sewaktu jaman perang.

Museum tuanku Imam Bonjol tampak depan

Museum tuanku Imam Bonjol tampak depan

Keris peninggalan jaman perang paderi

Keris peninggalan jaman perang paderi

suasana di dalam museum tuanku Imam Bonjol

suasana di dalam museum tuanku Imam Bonjol

meriam peninggalan perang paderi

meriam peninggalan perang paderi

Memasuki museum ini saya jadi teringat dengan pelajaran sejarah yang saya terima di sekolah dasar dahulu. Pada waktu itu Tuanku Imam Bonjol digambarkan sebagai sosok kaum paderi yang gigih melawan Belanda. Perang paderi sendiri awalnya adalah perang saudara antara kaum paderi dan kaum adat di Minangkabau. Sedih juga mendengarnya, perang kok sesama saudara satu suku. Ketika sudah banyak korban mereka baru sadar siapa musuh sebenarnya yaitu penjajah Belanda. Sayangnya ketika mereka sudah bersatu dan Tuanku Imam Bonjol diajak berunding oleh Penjajah, nasibnya sama seperti Pangeran Diponegoro yaitu ditangkap dan diansingkan hingga meninggal di dekat kota Manado, Sulawesi Utara. Berkunjung ke sebuah museum memang sebaiknya tidak hanya melihat-lihat apa saja barang-barang di dalamnya tetapi cerita sejarah di baliknya. Dengan meresapi cerita sejarah tersebut kita bisa merasakan dan mengapresiasi perjuangan mereka, sebagai pelajaran untuk kita dan bangsa kita sendiri ke depanya. So ? No more perang saudara lah karena agama atau perbedaan suku di Indonesia ini. I wish!!

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia