Tag Archives: perkotaan

City Escape to Buda&Pest #3 : Budapest Central Market Hall

Jó reggeli Budapest !!
Matahari pagi Budapest menyambut kami dengan hangatnya. Kami sengaja bangun pagi, tidak mandi dan langsung ngacir keluar apartemen. Kami berniat untuk olahraga pagi berupa jalan kaki sejauh 2,2 km untuk mendapatkan sarapan di pasar tradisional. Bersusah-susah dahulu, bersarapan kemudian 😀 . Alasan kami jalan kaki sejujurnya juga karena pagi itu kami belum mengaktifkan Budapest Card dan berhemat uang transport 🙂 . Kami mengetahui Budapest central market hall atau yang dikenal sebagai Nagy Vásárcsarnok, dari video-video youtube dan postingan travel blog tentang ibu kota Hunggaria ini. Yang jelas, pasar ini adalah destinasi utama di Budapest. Saya sendiri adalah pecinta pasar, apalagi pasar besar yang isinya makanan dan barang-barang khas negara tersebut. Pasar sentral Budapest adalah pasar indoor terbesar di negara ini, yang dibangun sekitar tahun 1897. Dari luar gaya bangunan pasar ini tampak unik dengan atap berpola berwarna coklat dan kuning. Menurut saya sih, bentuk bangunannya lebih mirip stasiun kereta api 🙂 .
P1130329

Pasar gedhe Budapest tampak depan, mirip stasiun kan?

Ketika melangkah masuk ke ruangan pasar, saya langsung menggila melihat jajanan pasar berupa roti dan kue tradisional khas Hunggaria. Jenisnya bermacam-macam, ada yang seperti roll pastry (tredlnik) dengan filling keju atau coklat, roti asin isi daging dan sosis dan masih banyak lagi. Yang jelas, bentuk dan jenisnya sangat berbeda dari roti dan pastry Perancis yang biasa saya beli di boulangerie . Seketika itu juga kami langsung memilih beberapa kue untuk sarapan. Rata-rata harga roti dan kue di pasar ini sekitar kurang dari 1 euro (kurang dari 300 huf) . Ukurannya juga besar-besar, jadi sebenarnya makan satu saja sudah kenyang. Kami langsung melahapnya di bangku-bangku yang tersedia di pasar ini. Katanya sih harga kue dan roti di pasar ini adalah harga turis yang agak mahal untuk masyarakat lokal, jadi bayangkan saja harga lokalnya pasti lebih murah 🙂 . Sayangnya kami ga sempat mendapatkan informasi pasar di Budapest yang benar-benar lokal.
P1130221

Salah satu jenis roti tradisional untuk sarapan

P1130223

Mari nyarap!!!

Kami lalu muter-muter pasar yang terdiri dari 3 lantai ini. Lantai basement isinya kios-kios daging, ikan segar dan sayuran/buah-buahan fermentasi. Lantai dasar isinya kios jajanan pasar, minuman khas Hunggaria, kios sayur dan buah, serta kios paprika dan aneka rempah. Lantai atas isinya food court makanan tradisional, kios souvenir dan kios kerajinan khas negara ini. Di antara lantai basement dan lantai dasar terdapat museum kecil tentang sejarah pasar ini. Yang menjadi komoditi utama di lantai dasar pasar ini tentu saja adalah paprika. Tapi jangan dibayangkan paprikanya seperti paprika yang biasa kita lihat di Indonesia yaa. Yang ada di Indonesia menurut saya sih jenis bell pepper yang sama sekali ga pedes. Paprika sendiri di Hunggaria adalah bahasa umum untuk cabe. Jadi ada beberapa jenis paprika di negara ini. Jenis yang paling terkenal yang biasa digunakan untuk masakan tradisional adalah yang bentuknya seperti lombok merah tetapi lebih besar dan gemuk (cayenne pepper). Jenis ini biasanya dikeringkan atau dibuat menjadi bubuk paprika. Mumpung sedang di sini, saya membeli satu bungkus bubuk paprika seharga 1 euro. Satu aja udah cukup 😀 .
P1130219

di dalam pasar gedhe Budapest 

P1130241

Kios aneka sayuran dan paprika kering, mirip di indonesia juga kan?

P1130228

Aneka paprika bubuk

Di lantai atas yang terdiri dari kios souvenir dan kios kerajinan, kami menyempatkan membeli satu buah magnet untuk pajangan di rumah. Satu aja cukup, ga perlu beli oleh-oleh buat siapapun 😛 . Kios-kios kerajinan yang berjejeran menjual aneka kain-kain renda serta sulam khas Hunggaria, boneka tradisional sampai pakaian-pakaian tradisional. Kerajianan renda dan sulam khas negara ini termasuk yang terkenal dan terbaik di Eropa timur. Kain taplak meja sampai gorden dengan desain dan motif bunga-bunga dijual dengan harga di atas 5000 huf, tergantung besar kecilnya. Pakaian-pakaian tradisionalnya juga kelihatan cantik dengan detail bordir meriah. Stylenya mirip dengan gaya bohemia. Sebagai perempuan yang suka kain tradisional, sebenarnya saya pengen banget beli untuk dikoleksi. Sayangnya menurut saya harganya terlalu mahal untuk kantong backpacker saya. Ya kalaupun mahal, wajar juga sih, namanya juga handmade 🙂 . Yang jelas saya cuma bisa drooling doank tapi ga bisa beli.
P1130227

Kios souvenir khas Hunggaria

P1130220

Kios aneka kain renda dan sulam

Setelah muter-muter pasar ini, kami jalan-jalan ke luar menuju ke seberang sungai. Pas jam makan siang kami kembali lagi ke pasar ini untuk jajan makanan tradisional Hunggaria di lantai atas. Kali ini kami ingin mencoba sup gulas, sup daging sapi tradisional Hunggaria yang terkenal itu. Menu ini adalah yang paling murah di antara menu yang lain. Harganya sekitar 900 huf atau 3 euro per mangkok. Satu porsi sup gulas terdiri dari potongan daging dan kentang dengan bumbu paprika yang cukup kental. Meskipun sup ini terasa pedas untuk orang kebanyakan, rasanya sih kurang pedas untuk lidah Indonesia. Sup ini disajikan dengan roti tawar all you can eat. Jadi kita boleh mengambil roti sepuasnya secara gratis sekenyangnya 😀 . Siang itu kawasan food court pasar sentral ini dipadati turis asing yang sama penasarannya dengan kami. Penasaran dengan makanan tradisional Hunggaria. Kami duduk manis menghabiskan gulas sambil menikmati suasana pasar. Yang meskipun sebenarnya touristy dan agak mahal, tetap menarik untuk dikunjungi.
P1130332

sup gulas paprika

P1130246

Food court aneka masakan tradisional Hunggaria

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

City Escape to Buda&Pest #1 : Paris to Budapest

Kami berdua duduk manis di dalam tram jalur 7, salah satu angkutan umum alternatif menuju bandara Orly, Paris. Saya dan suami berangkat dari rumah 4 jam sebelum take off, karena ini pertama kalinya kami terbang dari bandara Orly. Airport internasional ke dua terbesar di Paris setelah bandara internasional Charles De Gaulle. Kami menyisakan waktu cukup banyak untuk berjaga-jaga supaya kami tidak telat karena tersasar atau karena salah naik moda transportasi 😅.
Seminggu sebelumnya, kami mendapatkan tiket promo dari maskapai Transavia, yang merupakan low cost carriernya Air France. Lumayan! harga tiket Paris – Budapest, one way kami dapat dengan harga 40 euro per orang. Tadinya sih kami pengen jalan-jalan ke Spanyol atau Portugal, tetapi karena harga tiketnya mahal yaa kami milih tujuan dengan harga yang lebih murah. Lagian, ke negara manapun asalkan belum pernah, selalu menarik dan membuat kami penasaran. Penerbangan dari Paris ke Budapest memakan waktu sekitar 2 jam.
IMG_7524
Di dalam pesawat, saya tengiang-ngiang lagu ini.
Tentu saja karena lagunya mempunyai judul yang sama dengan tujuan saya. Meskipun lirik lagunya malah tentang meninggalkan kota Budapest karena seseorang yang dicinta *ciecie . Tetapi , saya 100% yakin kalau kota ini bakal seasyik lagunya George Ezra, easy to enjoy 🙂 .
Szia 🇭🇺 Hungary 🇭🇺 ! Szia Magyar! Szia Budapest! Another country in eastern Europe unlocked. Szia adalah halo dalam bahasa Magyar. Pengucapannya mirip dengan “see yaa” dalam bahasa Inggris. Kami mendarat jam 19 lebih sedikit.
Hunggaria memiliki mata uang sendiri yaitu HUF, kependekan dari Hunggarian Forints. 1 euro biasanya berkisar 307 huf . Kalau dirupiahkan 1 huf berkisar Rp 48. Kami berdua tidak membawa cash, jadi langsung tarik tunai di atm bandara. Kebetulan di atm tersebut 1 euronya sekitar 290 huf. Exchange rate antara euro dan huf di berbagai money changer di kota ini juga bagus, tapi kita harus pintar-pintar mengecek berapa persen komisi yang harus kita bayar di money changer tersebut. Katanya sih banyak money changer yang suka nuthuk konsumennya dengan komisi 10-20% .
Seperti di destinasi Eropa sebelum-sebelumnya, kota ini juga mempunyai Budapest card, pass yang bisa digunakan untuk masuk ke museum-museum utama secara gratis merangkap transport pass gratis di dalam kota Budapest. Kami membuking online Budapest card untuk 48 jam , dan tinggal mengambil kartu ini ketika mendarat di bandara Budapest Nemzetkozi Repuloter. Bedanya dengan kartu pass dari kota-kota lain, Budapest card menggunakan sistem jam bukan hari. Jadi sangat menguntungkan untuk para penggunanya. Setelah mengambil Budapest card di tourism centre terdekat, pengguna tinggal mencantumkan bulan, tanggal dan jam yang diinginkan selama jangka waktu kartu tersebut berlaku. Kami juga mendapatkan pocket guide serta peta kota Budapest secara cuma-cuma. Tourism centre/office di Budapest tersebar di berbagai tempat di kota ini seperti di bandara, stasiun, dan pusat-pusat keramaian. Jadi sebenarnya ga usah buking Budapest card duluan juga ga papa, karena bisa dibeli langsung di sana. Selain itu, Budapest card juga memberikan layanan antar kartu ke hotel atau hostel, asalkan membuking beberapa hari sebelum digunakan. Terkadang saya kagum sendiri dengan tourism service di negara-negara Eropa karena pelayanannya helpfull banget. Saya berharap Indonesia juga bisa seperti ini, mungkin di Bali bisa dibuat Bali card juga?
IMG_7529

Begitu sampai bandara, langsung mampir ke tourist information centre dahulu.

Keluar dari bangunan bandara, kami dijemput seorang pemuda, anak dari pemilik apartemen yang akan kami tinggali selama 4 hari. Kami menyewa sebuah apartemen studio di kota Pest melalui sebuah situs buking akomodasi. Yang jelas, biaya akomodasi di Budapest jauh lebih murah daripada di Paris dan Eropa barat. Menurut saya harga per malamnya, sama seperti harga penginapan atau apartemen di Jakarta, untuk yang kelas biasa saja. Kami membayar ekstra untuk service penjemputan tersebut, karena kami lagi males mikir transportasi umum dari bandara ke pusat kota dan yang jelas tarifnya lebih murah daripada taksi. Sepanjang perjalanan dari bandara menuju ke apartemen, saya pikir Budapest bentuk-bentuknya mirip dengan Praha. Ternyata tidak, gaya bangunan-bangunanya berbeda. Gedung-gedung di Budapest terlihat lebih besar-besar dan tinggi-tinggi. Si adek pemuda berumur 21 tahun ini tak hanya mengantar kami sampai apartemen, tetapi juga memberikan tips-tips tentang makanan murah, destinasi unik, transportasi umum dan area-area yang harus dihindari di kota ini ketika malam hari. Katanya sih karena banyak orang mabuk di jalan.
Kami sampai di apartemen sekitar jam 8 sore. Bangunan apartemennya sudah tua tetapi artistik. Letaknya di Erzebert krt, kota Pest. Lokasinya sangat strategis karena berada di pusat keramaian dan tak jauh dari stasiun metro serta halte tram terdekat. Tapi anehnya meskipun berada di pusat keramaian, suasana di dalam apartemen benar-benar hening. Keramaian di luar dari club dan bar tak terdengar sama sekali. Mungkin temboknya benar-benar sakti 👍🏽😄.
IMG_7552

Komplek apartemen yang kami inapi di Budapest

Petualangan kami di kota Buda dan Pest dimulai hari itu juga. Sebuah ibukota negara yang terdiri dari dua kota dijadikan satu, makanya namanya digabung jadi Budapest, dengan sungai Danube berada di tengah-tengahnya. Seperti biasa, cerita di Budapest akan saya ceritakan bagian per bagian. Let’s discover Budapest!

4 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri