Tag Archives: ponorogo

Sodong, dusun terpencil nan harmonis di kabupaten Ponorogo

Pemandangan alam menuju ke dusun Sodong, Ponorogo

Pemandangan alam menuju ke dusun Sodong, Ponorogo

Sewaktu saya bertugas di kecamatan Sampung, kabupaten Ponorogo, ada sebuah dusun yang membuat saya terkesan. Mengapa? Waktu itu saya sedang tugas penelitian tentang pekerja migran yang kebanyakan menjadi TKI dan TKW di luar negeri. Sebagian besar keluarga di kecamatan Sampung mempunyai anggota keluarga yang bekerja di luar negeri. Karena banyaknya pekerja migran ke luar negeri ini, rumah-rumah masyarakat banyak yang telah berubah menjadi megah dan mewah bak di sinetron. Saya takjub melihatnya. Ini bagaikan kota di pedesaan. Rumah-rumah bergaya jawa banyak yang telah berubah menjadi rumah bergaya modern. Tetapi ada satu desa dan satu dusun yang menurut saya tetap terjaga keaslian suasananya yaitu di desa Pagerukir dan di dusun Sodong. Mungkin karena letaknya yang lebih terpencil dari pada desa-desa atau dusun-dusun yang lain. Tetapi justru tempat-tempat yang terpencil dan masih alami inilah yang membuat saya tertarik. Kebetulan waktu itu tugas saya di dusun Sodong.

Memasuki dusun Sodong, jalan sudah dicor blok

Memasuki dusun Sodong, jalan sudah dicor blok

Dusung Sodong berada di desa Gelang Kulon. Meskipun berada di desa Gelang Kulon, dusun ini tidak bisa ditempuh dari pusat desa Gelang Kulon. Saya harus memutar melewati desa Kunti dulu untuk menuju ke dusun ini. Dari awal pak kepala desa Gelang Kulon memberi pesan kepada saya agar hati-hati ketika naik motor ke sana karena jalannya masih batu-batu dan turun naik. Ia juga berpesan untuk tidak pulang sehabis maghrib karena jalannya sangat gelap belum ada lampu. Kepala desa juga bercerita kalau ia sering diundang ke Sodong untuk menghadiri acara-acara keagamaan umat Buddha. Ternyata 40 % penduduk Sodong memeluk agama Buddha dan 60% Islam. Walaupun demikian pak kepala desa berpendapat bahwa masyarakat dusun ini hidup dalam keharmonisan. Sungguh cerita yang sangat menarik.

Jalan tanah di antara rumah dan kebun di dusun Sodong

Jalan tanah di antara rumah dan kebun di dusun Sodong

Saya datang ke dusun ini dua hari berturut-turut. Perjalanan ke dusun ini saja sangat menyenangkan walaupun jalannya off road. Perbukitan dengan hutan-hutan jati yang luas terhampar di sana. Tanaman-tanaman jagung dan singkong berjejer di kiri dan kanan jalan. Dusun Sodong memang letaknya terpencil jauh dari dusun lainnya. Ketika saya memasuki dusun ini rasanya saya sedang berada di pedesaan jawa di masa lalu. Rumah-rumah penduduknya sebagian besar masih terbuat dari kayu dan berbentuk limasan. Orang-orang tua masih mengenakan jarik dan kebaya di dusun ini.

Di dalam rumah warga, mereka yang beragama Buddha memasang gambar-gambar sang Bodhisatva

Di dalam rumah warga, mereka yang beragama Buddha memasang gambar-gambar sang Bodhisatva

Saya bertugas mewawancarai keluarga-keluarga non migran dan migran lokal. Hanya ada satu keluarga migran luar negeri di dusun Sodong ketika saya berkunjung saat itu. Saya banyak dibantu oleh pak Wahyono, kepala dusun Sodong. Ia bercerita tentang keluarganya yang memeluk agama berbeda-beda. Ia sendiri Islam. Istri dan anaknya juga islam. Bapaknya, kakek dan neneknya beragama Buddha. Ia mengatakan separo warga Sodong memeluk islam dan separonya memeluk Buddha. Masjid dan Vihara berdiri harmonis di sini. Jika sedang merayakan hari raya agama masing-masing mereka saling membantu. Vihara di Sodong juga banyak didatangi umat-umat Buddha dari daerah lain untuk beribadah. Ia mengatakan agama Buddha sudah ada di Sodong sejak ia lahir, menurutnya agama ini sudah ada di dusun ini sejak tahun 60an. Tokoh atau sesepuhnya adalah mbah Saimin yang sudah sangat sepuh.

Dapurnya nenek yang masih sangat tradisional

Dapurnya nenek yang masih sangat tradisional

Menu makan siang saya yang dimasak oleh nenek

Menu makan siang saya yang dimasak oleh nenek

Nasi thiwul + bayam + sayur santan kacang benguk

Nasi thiwul + bayam + sayur santan kacang benguk

Masyarakat Sodong sebagian besar adalah petani dan peternak. Mereka menanam jagung, singkong dan padi gogo rancah. Mereka juga bertanam di hutan negara atas izin dari kehutanan setempat. Untuk kebutuhan air sehari hari mereka masih mengambilnya dari mata air. Di sore hari biasanya mereka mandi bersama-sama di sekitar mata air ini. Untuk makan sehari-hari mereka masih memanfaatkan apa yang ada dari kebun mereka sendiri. Siang itu pas saya lapar banget, saya ditawari makan bersama oleh neneknya Pak Wahyono. Ia memasak nasi thiwul, rebusan daun bayam dan sayur kacang benguk. Kacang benguk merupakan sejenis kacang yang tumbuh merambat dan bijinya besar-besar,lebih besar dari kacang koro. Nenek masih memasak dengan cara yang sangat tradisional yaitu dengan kayu bakar. Ia bilang sebagian besar ibu-ibu di Sodong masih memasak dengan kayu. Masakan nenek yang sederhana namun istimewa ini sangat enak buat saya. Its so classic!!  Pengalaman makan di dapur nenek ini merupakan sesuatu yang unik dan menyenangkan untuk saya yang sebelumnya ga pernah makan nasi thiwul. Saya sampai nambah nasi thiwulnya seporsi lagi :). Saya meninggalkan dusun ini dengan perasaan bahagia. Pengamalan saya melihat kearifan dan keramahan masyarakat lokal merupakan pembelajaran budaya yang berharga untuk saya. Semoga saja dusun ini tetap alami, tradisional dan menjaga keharmonisan antar warganya, karena itulah yang membuat dusun ini menarik.

pemandangan perbukitan yang bisa dilihat di sekitar dusun Sodong

pemandangan perbukitan yang bisa dilihat di sekitar dusun Sodong

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Mencicipi sate ayam lezat khas Ponorogo

Apa yang membedakan sate Ponorogo dengan sate-sate lainnya? Sekilas sate Ponorogo mirip dengan sate Madura yang juga menggunakan bumbu kacang. Bedanya sate Ponorogo dalam satu tusuknya biasanya terdiri dari satu irisan panjang daging ayam, kulit ayam atau jeroan. Olahan bumbu kacangnya sangat lembut, lebih lembut dari sate Madura. Di dalam bumbu kacangnya yang lembut juga terkesan ada rasa asam dari daun jeruk purut. Setiap tusuk satenya juga sudah dilumuri dengan racikan gula jawa, kecap dan minyak. Hmm sebenernya agak susah mendeskripsikannya. Harus mencobanya secara langsung. Apalagi ketika sedang berada di kota Ponorogo. Saya pertama kali mencicipi sate Ponorogo di kota lain. Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan sate ayam ini :D.

Sate ayam khas Ponorogo sedang dibakar di anglo panjang

Sate ayam khas Ponorogo sedang dibakar di anglo panjang

Di kota ini memang terdapat ratusan pedagang sate ayam khas Ponorogo. Bahkan ada satu jalan yang namanya jalan Lawu di daerah Nologaten, kecamatan Ponorogo kota yang hampir di sepanjang jalannya isinya pedagang sate semua. Di Jalan Lawu ini juga terdapat sebuah gang yang namanya gang sate. Well tampaknya Ponorogo memang kota yang sate banget! Sate Ponorogo juga biasa dijadikan oleh-oleh yang bisa dibawa keluar kota. Sate ini dikemas dalam wadah besek bambu dan olahan bumbunya terpisah tanpa air. Jadi mirip seperti bumbu pecel. Sate Ponorogo biasanya juga dimakan dengan lontong dan disajikan dengan sambal dan irisan bawang merah tipis-tipis.

Sate ayam Ponorogo pak Darmanto

Sate ayam Ponorogo pak Darmanto

satu prosi sate ayam Ponorogo dengan lontong

satu prosi sate ayam Ponorogo dengan lontong

Mumpung sedang berada di kota Ponorogo saya mampir di salah satu kedai sate tak jauh dari alun-alun kota. Saya memilih warung sate ini secara random saja karena saya yakin semuanya enak :D. Namanya depot sate ayam pak Darmanto yang terletak di pojokan jalan Soekarno-Hatta Ponorogo. Di kedai inipun tak hanya Pak Darmanto saja yang berjualan, tetapi ruang makan untuk para pengunjungnya jadi satu. Kalau dilihat dari proses membakarnya dan bentuk satenya saya kira rasanya sama. Depot sate ini buka dari siang sampai malam dan satenya habis. Biasanya di musim liburan seperti lebaran, pengunjung harus mengantri lama saking banyaknya orang yang ingin makan sate. Beruntung sore itu saya tidak mengantri banyak. Saya memesan satu porsi sate daging dengan lontong. Satu porsi sate dengan minum harganya Rp 20.000. Cukup terjangkau. Rasanya maknyuss! lebih enak dari sate Ponorogo yang saya makan di kota lain 🙂 *Ya iyalah. Bumbu kacangnya yang lembut memang yang membuat sate ini sangat istimewa. Saya berniat akan membawa oleh-oleh sate Ponorogo ini ketika pulang ke Jogja nanti supaya orang rumah tau kalau ada sate enak dari Ponorogo.

Take a look closer! apakah sate ini bikin ngiler?

Take a look closer! apakah sate ini bikin ngiler?

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia