Tag Archives: pulau

Cerita dari Cambodia #15 : Beach escape di Koh Rong

Ternyata banyak untungnya juga tinggal di kampung nelayan. Selain bisa makan hemat 2$ di warung-warung lokal, kampung ini juga sangat jauh dari pusat turis di pulau Koh Rong. Inn the Village, penginapan kami juga mempunyai paket lengkap untuk island hopping , diving dan snorkeling dengan harga yang wajar.Harganya 20$ – 25$ untuk snorkeling seharian per orang lengkap dengan biaya sewa perahu dan guide. Tadinya kami sudah mendaftarkan diri untuk menjadi peserta snorkeling hari itu. Kami sangat excited untuk melihat keindahan alam bawah laut di Kamboja. Yaa meskipun kami lebih yakin kalau di Indonesia lebih keren sih :). Sayang, ombak hari itu sedang tidak bersahabat dan air laut sedang kabur-kaburnya. Pihak Inn the Village kemudian mengcancel kegiatan snorkeling hari itu. Kecewa sih, tapi tak menghentikan saya dan suami saya untuk melakukan kegiatan alternatif lain yaitu bermalas-malasan di pantai :D.

P1090756

OTW to Coconut Beach, bukit kecilnya penuh dengan ilalang

P1090771

Selamat datang di Coconut Beach Koh Rong

Pantai terdekat dari kampung Sangkat Damsal ini berjarak 15 menit berjalan kaki dengan sedikit mendaki bukit. Namanya coconut beach. Kami kemudian menyiapkan seluruh peralatan perang kami berupa baju renang, sun block, kain pantai dan air minum. Sampai di pantai ini, wiiih nobody there. Ke mana orang-orang ya? Sepi sekali tak ada wisatawan satu pun di sana. Padahal di tempat ini ada satu penginapan dan satu restoran juga. Kami kemudian menggelar kain pantai di bawah pepohonan, gegoleran bak di surga milik sendiri. Karena ombak memang agak besar, kami cuma berani bermain ombak saja, tidak berani berenang. Yang penting badan ini basah kena air laut Kamboja :P. Coconut beach ini pantainya berpasir putih lembut dan garis pantainya lumayan panjang. Di sebelah utara pantai ini sebenarnya juga terdapat spot snorkeling yang menarik jika air laut sedang tidak kabur. Di saat ombak tenang, kata sarah, pengelola Inn the Village, wisatawan bisa berenang dengan glowing plankton di malam hari di pantai ini. Oh! We so want that! Agaknya hari itu kami memang harus berdamai dengan keinginan-keinginan kami yang tak terlaksana. White sand beach, blue water, blue sky and a lot of trees in the beach not bad laaah to spend the rest of the day in Koh Rong 🙂 .

P1090760

Hello wave!

P1090765

Pasir putih dan laut biru Coconut Beach , Koh Rong

P1090777

Untung saja banyak pohon di pantai ini jadi bisa berteduh 😀

2 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Cerita dari Cambodia #14 : A Surprise in Koh Rong island

Welcome to Koh Rong

Welcome to Koh Rong

Pagi itu, mini bus giant ibis membawa kami meninggalkan kota Phnom Penh menuju ke Sihannouk Ville. Perjalanan sepanjang 240 km ditempuh selama kurang lebih 4 jam. Sihannouk Ville sendiri bukanlah tujuan utama kami. Saya dan suami saya bermaksud untuk menyeberang ke pulau Koh Rong, melihat island life di Kamboja. Koh sendiri dalam bahasa Khmer berarti pulau. Seperti halnya bahasa Thai. Seminggu di Kamboja kami sudah muter-muter daratan, jadi kami juga ingin melihat laut dan pantai di sana. Anyway, sebenarnya saya clueless kami akan menginap di mana di pulau ini, karena suami saya tidak memberitahukan kepada saya. Kejutan, katanya 🙂 . Saya sudah membayangkan kami akan menginap di resort dan makan sea food enak setiap hari di pinggir pantai. Leisure in island lah! Bayangan saya sih seperti di Gili Trawangan.

Sesampainya di Sihannouk Ville suami saya menelepon seorang supir tuktuk agar bisa membawa kami ke peer boat yang menuju ke Koh Rong. Ternyata peer boat yang dimaksud bukanlah dermaga yang biasa dipakai turis untuk menuju ke Koh Rong. Pak Nee supir tuktuk kami membawa kami jauh dari pusat turis di Sihannouk Ville menuju ke pelabuhan rakyat. Kami diturunkan di dermaga nomer 52. Sebuah perahu kayu besar telah menunggu di sana. Perahu ini bukan perahu wisata. Eh ga salah nih naik perahu ini? Suami saya meyakinkan saya bahwa itu perahu yang benar yang akan membawa kami ke penginapan di Koh Rong. Isi perahu ini adalah aneka kebutuhan pangan, air minum, balok es,rumput, bensin, dan aneka kebutuhan sehari-hari yang lain. Bahkan ada seorang penumpang yang menaikkan motornya ke sini. Orang-orang lokal satu per satu berdatangan menaiki perahu ini. Tak ada satupun wisatawan selain kami. Saya masih penasaran sama maksud suami saya. Tarif perahu ini hanya 5$ saja sekali jalan, sangat jauh dengan tarif boat wisata yang harganya 20$. Meskipun perahu tampak sederhana, live jacket tersedia di bawah atap dalam jumlah yang banyak. Wah boleh juga nih safetynya.

Saya sudah bersiap-siap di atas perahu

Saya sudah bersiap-siap di atas perahu menuju ke Koh Rong

Perahu kayu ini berangkat jam 3 sore tepat dari dermaga. Selama perjalanan saya cuma bisa senyam-senyum kepada para penumpang yang lain, sepertinya mereka mengira kalau saya orang Kamboja juga. Seandainya saya bisa bahasa Khmer dan mereka bisa bahasa Inggris pastilah saya akan mencoba ngobrol. Menghabiskan waktu selama kurang lebih 2,5 jam di atas perahu. Suara musik berbahasa Khmer menghiasi perjalanan kami. Sounds like campur sarinya Kamboja :). Sekumpulan bapak-bapak kemudian duduk-duduk di belakang perahu sambil membawa aneka gorengan dan berkaleng-kaleng bir. Mereka menawari kami untuk bergabung. Wah mereka ramah sekali. Kami ditawari sekaleng bir, tapi terpaksa kami tolak dengan ramah karena saat itu kami sedang tidak ingin minum bir. Mereka kemudian bernyanyi dan tertawa bersama-sama. Ibu-ibu dan mbak-mbak yang ada di perahu menimpali sambil tertawa. Wah sepertinya gayeng sekali mereka. Hampir 2 jam perjalanan seorang penumpang mbak-mbak mabuk laut, ia tampak lemas tapi tak seorangpun memberinya obat anti mabuk atau anti masuk angin. Jangan-jangan obat seperti ini ga lazim di Kamboja? Karena stock tolak angin saya banyak, saya berikan 2 sachet ke mbaknya. Ia tampak merasa enakan dan rileks setelah minum satu sachet. Wiiw saya berasa jadi duta produk Indonesia :D.
Kami sampai di Koh Rong jam setengah enam. Waktu itu hari sudah gelap. Petugas perahu kemudian membantu kami turun ke dermaga di sebuah kampung nelayan. Ia bilang penginapan kami ada di tengah-tengah kampung dengan bahasa Inggris sekenanya. Jadi kami akan tinggal di kampung nelayan nih? Wah kok seperti apa yang saya lakukan saat saya bekerja menjadi asisten peneliti. Tinggal dengan orang lokal di tengah kampung di pedalaman Indonesia. Suami saya kemudian bilang ingin sekali merasakan tinggal seperti dikala saya bekerja dengan penduduk lokal, supaya dia tahu rasanya. Oh how sweet sekali 😀 ❤ . Emangnya kamu akan bisa bertahan di sini sayang? Let see yah :).
Kami kemudian melangkahkan kaki membelah kampung yang penuh dengan suara genset. Pastilah listrik PLN Kamboja tidak sampai ke kampung ini. Kami bertemu dengan mbak-mbak bule di tengah jalan yang langsung menghampiri dan mengantarkan kami ke penginapan. Nama penginapan ini adalah Inn the Village. Pengelolanya adalah sekumpulan anak-anak muda ahli selam dari Australia. Sembari mengadakan penelitian tentang terumbu karang dan satwa laut, mereka mengajak mayarakat lokal membuka penginapan di sini. Kami bertemu dengan sarah, salah seorang pengelolanya. Ia bilang penginapan ini untuk mereka yang ingin merasakan suasana lokal di kampung nelayan Sangkat Damsal. Sebagian dari hasil penginapan ini akan dikembalikan ke komunitas kampung setempat untuk program pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah. Ia bilang agak susah untuk mengajari masyarakat asli untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Salah satu sudut kampung nelayan Daem Thkov

Salah satu sudut kampung nelayan Sangkat Damsal, What do you think?

Sarah kemudian mengantarkan kami ke pondok yang akan kami sewa selama 3 hari 2 malam. Pondoknya, benar-benar tradisional terbuat dari potongan-potongan kayu beratapkan ilalang. Di dalam pondok hanya ada satu tempat tidur dengan jaring anti nyamuk. Untung saja di pondok ini ada toiletnya, meskipun sederhana. Untuk 3 hari di sini kami dijatah air satu gentong besar. Ia bilang no running water here. Jadi kalau kami mau air lebih kami harus menimba dan menggotong air sendiri dari sumur umum. Widiih, ini mah beneran kayak saya kalau pas di lapangan. Untung saja kami sudah mencuci pakaian pas di Phnom Penh. Listrik di pondokan hanya tersedia dari jam 6 sore sampai jam 12 malam. Selebihnya akan gelap gulita.

Ruangan di dalam pondokan kami di Inn The Village

Ruangan di dalam pondokan kami di Inn The Village

Pondokan kami tampak luar

Pondokan kami tampak luar

Anyway malam itu adalah malam anniversary pernikahan kami. Ternyata suami saya sudah memesan dinner istimewa berupa kari ikan ala Khmer, katanya sih namanya amok fish. Amok ini dihidangkan dengan nasi, salad buah dan minumnya adalah sparkling wine. Buset dapat dari mana nih sparkling wine di tengah kampung? Ternyata suami saya membuat mbak pengelola penginapan membelinya dari Sihannouk Ville. Terimakasih ya sayang, kejutannya ❤ . I will not forget our moment here.

Happy Anniversary sayang!

Happy Anniversary sayang!

Keesokan harinya, begitu keluar dari pondokan, kami baru sadar tepat di bawah pondokan kami adalah rumah-rumah nelayan yang terbuat dari panggung. Di bawah rumah-rumah ini banyak sampahnya. What a view! tapi memang begitulah orang lokal di sini, kesadaran sampahnya masih kurang. Ya sama lah dengan banyak perkampungan di Indonesia 🙂 . Selama saya penelitian juga masih banyak kampung yang belum bisa mengelola sampah. Padahal pantainya indah atau tempatnya bagus jika bersih. Untuk membuat mereka berubah memang tidak bisa hanya dibilangin saja. Terkadang mereka harus melihat dampak langsungnya dulu baru sadar. Karena kami sudah niat living ala local, ya hari itu kami terima saja berikut sampah-sampahnya :). Seharian itu kami berkeliling kampung nelayan melihat aktifitas masyarakat sehari-hari. Ada yang sedang memperbaiki jaring, ada kumpulan ibu-ibu yang main kartu dan ada anak-anak yang bermain bersama. Kami juga mencoba makanan lokal yang ada di warung-warung di sana seperti mie goreng ala Khmer. Kami mencoba mendatangi list tempat-tempat menarik di kampung itu ,yang sudah ditulis pengelola penginapan. Salah satunya adalah sunset rock. Tempat penuh dengan batu untuk melihat matahari tenggelam di sore hari.

Anak-anak kampung nelayan Daem Thkov

Anak-anak kampung nelayan Sangkat Damsal

Ikan-ikan di bawah dermaga Sangkat Damsal

Ikan-ikan di bawah dermaga Sangkat Damsal

Salah satu sudut kampung

Salah satu sudut kampung bagian pinggir laut

Nyobain mie goreng Khmer ala kampung nelayan

Nyobain mie goreng Khmer ala kampung nelayan

sunset rock, view terbaik untuk melihat matahari tenggelam

sunset rock, view terbaik untuk melihat matahari tenggelam

Sunset dari kampung Sangkat Damsal

Sunset dari kampung Sangkat Damsal

Inn the village sendiri mempunyai restoran yang harganya lebih mahal dari warung-warung di kampung. Meskipun terkesan in the middle of nowhere menu ala baratnya lumayan lengkap. Di penginapan ini terdapat lodge dormitory dan pondokan-pondokan kayu sederhana yang disewakan per kamar. Di lobby penginapan ini terdapat sebuah perpustakaan berbahasa inggris yang katanya paling besar se pulau Koh Rong. Selama kami di sana lumayan banyak juga orang asing yang menginap di sini. Mereka memang ingin merasakan suasana berbeda jauh dari leisure di kampung ini. Tanpa listrik yang memadai, tanpa sambungan internet dan air yang terbatas. Mereka memang orang-orang yang penasaran dengan suasana kampung dan masyarakat di Kamboja. Kalau yang seperti ini saja bisa dijual di Kamboja, di Indonesia bisa juga dunk? Anyway kalau ingin menginap di sini, bisa langsung saja dicari di agoda atau hostelworld . Berminat?

14 Komentar

Filed under Ke Luar Negeri