Tag Archives: pura

Pura Goa Gajah Bali , Situs Arkeologis Nan Menyejukkan

Canang atau sesajen yang diletakkan di komplek Goa Gajah

Canang atau sesajen yang diletakkan di komplek Goa Gajah

Kalau beberapa hari yang lalu saya sempat terlena di Pura Ulun Danu Berantan yang suasananya begitu mendamaikan, kali ini saya dan travelmate saya Santi mengunjungi salah satu Pura yang juga punya aura mistis sekaligus menyejukkan. Sembari mengarungi jalan pulang dari kota Tampaksiring, kami mampir sejenak ke pura ini. Itung-itung mengobati sakit hati kami karena tidak diperbolehkan masuk ke istana Tampak Siring 😛 . Salah kami juga sih sudah sampai sana tapi tidak mencari info sebelumnya. Memangnya bisa sembarangan saja masuk ke istana presiden? 😀 . Kami kemudian menenangkan diri di pura goa gajah yang terletak di Blahbatu, Kabupaten Gianyar. Sejak seminggu berada di pulau Bali, kami memang senang melihat pura dan berada di sana. Rasanya melihat orang-orang Bali beribadah di sana menimbulkan kesan damai pada diri kami.

Batu-batu dan patung peninggalan di Goa Gajah

Batu-batu dan patung peninggalan di Goa Gajah

Pura Goa Gajah ternyata adalah salah satu pura kuno di bali yang memiliki sejarah panjang. Pura ini ditemukan oleh seorang pejabat Hindia Belanda pada tahun 1923. Wah kalau yang menemukan saja orang asing, maka keberadaan pura yang tidak diketahui oleh warga masyarakat lokal ini hidden banget dunk ya? Mungkin karena wilayah ini dulunya adalah hutan lebat dan masyarakat Bali memiliki tabu sendiri terhadap tempat-tempat tersebut. Melalui beberapa penggalian arkeologis setelah tahun 1950, ditemukanlah beberapa arca dan peninggalan-peninggalan lainnya. Salah satu peninggalan yang menakjubkan di komplek goa gajah adalah adanya sebuah mata air yang biasa disebut dengan petirtaan kuno dengan 6 patung wanita. Ke enam patung wanita ini membawa tempat air di dadanya. Dari tempat air ini mengalirlah mata air yang sangat bening, bersih dan menyegarkan. Hebat ya nenek moyang orang Bali ini, jaman dahulu sudah bisa membuat petirtaan yang begitu cantik. Menurut yang saya baca di beberapa website tentang sejarah tempat ini pura ini dibangun sekitar abad ke 10 sampai abad ke 14.

Pintu Goa Gajah

Pintu Goa Gajah

Seorang umat hindu sedang beribadah di Goa Gajah

Seorang umat hindu sedang beribadah di Goa Gajah

Kami kemudian mengitari komplek pura Goa Gajah dari ujung ke ujung sambil memperhatikan detil bangunannya yang begitu menawan. Di komplek ini banyak terdapat ukiran yang dipahat di batu padas. Siapa ya senimannya jaman dahulu ? Batu padas saja bisa dipahat menjadi sangat halus dan cantik. Oranamen-ornamen khas Bali tergambar di pintu masuk goa buatan ini dan di sekitar petirtaan kuno. Kami kemudian sedikit membasahkan diri di petirtaan ini. Airnya sangat fresh dan dingin. Beberapa orang bahkan membasahi seluruh tubuh mereka di sini. Menurut bli Made yang sedang beribadah di tempat ini, mereka yang mandi sedang membersihkan diri dari hal-hal buruk. Mereka yang datang untuk beribadah melakukan doa dan menaruh aneka macam sesaji di depan pintu dan di dalam Goa Gajah.

Petirtaan Kuno di Goa Gajah

Petirtaan Kuno di Goa Gajah

Airnya sangat sejuk :)

Airnya sangat sejuk 🙂

Bli Made kemudian dengan senang hati mengantarkan kami berjalan-jalan ke sisi lain pura ini yang disebut dengan Tukad Pangkung. Ternyata ada beberapa air terjun kecil di komplek pura ini. Mungkin kalau tidak ada orang lokal yang mengantarkan kami, kami tidak akan pernah tahu. Di sekitar air terjun ini terdapat reruntuhan kuno yang penuh dengan lumut. Rasanya seperti di setting film Tomb Raider.Ternyata reruntuhan itu adalah arca Buddha raksasa dan beberapa bangunan stupa yang sudah rusak. Mengejutkan juga ya di Pura Hindhu ada arca Buddha juga. Tempat ini dulunya dipercaya sebagai pertapaan Buddha. Terkadang umat Buddha juga terlihat beribadah di tempat ini.Tampaknya hal ini membuktikan bahwa pada zaman dahulu agama Hindhu dan Buddha hidup rukun berdampingan seperti yang terjadi pada zaman Mataram Kuno. Seperti bangunan candi Prambanan dan candi Sewu yang berdampingan. Kami kemudian duduk sejenak di dekat air terjun sambil merasakan nuansa sejuk sekaligus mistis di sana. Pengalaman kami di tempat ini tak hanya menghilangkan kekecewaan kami terhadap destinasi sebelumnya tetapi malah menambah wawasan kami akan bangunan kuno dan keharmonisan bergama di sana.

Mini waterfall di Goa Gajah

Mini waterfall di Goa Gajah

Hidden waterfall di Goa Gajah

Hidden waterfall di Goa Gajah

Bagian dari reruntuhan arca Buddha di Goa Gajah

Bagian dari reruntuhan arca Buddha di Goa Gajah

Reruntuhan di sekitar air terjun di Goa Gajah

Reruntuhan di sekitar air terjun di Goa Gajah

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tiba-tiba ke Tanah Lot

tanah lot sore itu

tanah lot yang ramai pengunjung

Setiap saya ditanya “tinggal di mana?”, dan saya jawab “ngekost di jalan gunung sanghyang depan poltabes denpasar”, si penanya pasti akan berkomentar lagi “oooh jalan ke tanah lot itu yaaa….”. Saya cuma manggut-manggut, teringat saat saya mengunjungi Tanah Lot pada waktu kelas 3 SMP yang memakan waktu belasan jam dari Yogyakarta. Sebenarnya saya pernah berencana ke Tanah Lot lagi dengan sepeda kayuh pinjaman bersama seorang teman cewek anggota bike to work Bali, tapi hal itu belum terlaksana karena kesibukan masing-masing.

Entah ada angin apa (jiaaahh), saya dan sita tiba-tiba secara spontan pergi ke Tanah Lot sepulang kerja dengan motor. Selama perjalanan saya hanya membatin “Untung ga jadi naik sepeda!”. Jalan ke Tanah Lot ternyata berkelok-kelok dan naik turun, walaupun tidak separah jalanan di daerah puncak atau bedugul. Saya adalah penggowes sepeda pemula, jadi saya yakin ainul yakin 100% saya tidak akan kuat.

Sore itu Tanah Lot ramai sekali dikunjungi wisatawan, sejak kami tiba di parkiran saja sudah susah mencari tempat parkir. Kami mengantri lama sekali untuk mendapatkan tiket seharga Rp 10.000. Suasana pasar souvenir yang harus dilewati sebelum masuk ke kawasan wisata berjubel penuh dengan para turis yang sibuk berbelanja. Jujur saya tidak suka datang ke obyek wisata pada saat ramai dan banyak pegunjungnya, membuat privasi saya terganggu (hakdeeezz).

ritual para biksu di tanah lot

ritual para biksu dan umat budha di tanah lot

Saat itu air laut sedang surut sehingga pengunjung bisa berjalan kaki ke pura yang terletak di pulau karang, daya tarik utama Tanah Lot. Akan tetapi tidak semua orang boleh naik ke atas pura. Anda diharuskan berpakaian adat bali untuk memasukinya. Saya dan sita kemudian hanya duduk-duduk sambil menonton para turis yang sedang berfoto-foto. Tak berapa lama kami melihat beberapa orang biksu dan rombongan orang-orang etnis cina sedang berbaris lengkap dengan bendera bertuliskan huruf kanji dan alat-alat ritual mereka. Rombongan ini kemudian berjalan berputar-putar di bawah pura sambil menyanyikan lagu dalam bahasa yang tak saya mengerti, lagu yang lebih terdengar seperti doa. Semua perhatian pengunjung kemudian teralih kepada mereka. Menurut saya ini adalah peristiwa unik dalam sejarah (lebay), karena setahu saya Tanah Lot adalah tempat suci bagi masyarakat Bali yang beragama hindu, sedangkan para biksu ini adalah penganut budha. Para pecalang pura Tanah Lot juga membantu para biksu ini melaksanakan ibadah mereka. Senang sekali rasanya melihat mereka saling mendukung dan menghormati.

beautiful sunset at tanah lot

sunset cantik di tanah lot

Setelah ritual para biksu ini berakhir kami berjalan ke barat ke arah batu bolong. Tadinya saya bermaksud ingin main ombak sebentar, tapi tampaknya ombak di Tanah Lot berbahaya dan tidak friendly. Jadi lebih baik tidak jadi saja daripada saya terseret ombak, tenggelam dan berubah jadi putri duyung yang cantik. Kami duduk-duduk menghadap ke batu bolong. Langit hari itu lumayan bersih di tempat matahari terbenam, sehingga kami bisa menikmati sunset sambil melongo , kok matahari terlihat lebih besar dan bulat ya hari itu?

Pecalang : polisi adat bali

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia