Tag Archives: rembang

Rembang-Lasem-Purwodadi Roadtrip #4 : Makan siang spesial dengan lontong Tuyuhan

Siang itu cukup terik dan perut saya sudah mulai krucuk-krucuk. Ternyata jarum jam sudah menunjukkan jam 2.30 siang. Saya bertanya kepada Maulin, host saya, apa sih makanan khas Lasem? Ia kemudian mengajak saya dan Emi, travelmate saya ke sebuah desa tak jauh dari karasgede. Maulin bilang ini bukan makanan khas Lasem, tapi tepatnya makanan khas Rembang. Kami memacu roda dua kami keluar masuk jalanan pedesaan di Rembang sampai di kecamatan Pancur. Tepatnya di desa Tuyuhan. Maulin membawa kami ke sebuah tempat seperti pasar di tengah lahan pesawahan. Kami disambut gapura besar bertuliskan sentra lontong Tuyuhan. Wah apa ini lontong Tuyuhan? kok sampai ada sentra kulinernya segala? Tempat itu tampak ramai, banyak mobil-mobil parkir di sana, bahkan kebanyakan dari luar kota.  Disebut lontong Tuyuhan karena menu lontong ini aslinya dari desa Tuyuhan.

Pesan lontong 3 porsi ya pak!

Pesan lontong 3 porsi ya pak!

Penjualnya memotong ayam di atas lontong dengan gunting

Penjualnya memotong ayam di atas lontong dengan gunting

Di sentra lontong Tuyuhan ini ada banyak penjual. Maulin mengajak kami ke salah satu penjual langgananya. Saya kemudian mengamati bapak penjual ini meracik lontong kreasinya. Sekilas sih lontong ini mirip dengan lontong opor ayam biasa. Tetapi jika diamati kuah santannya terlihat berwarna lebih kuning pekat agak kemerahan. Bumbu yang kuat di kuah santannya adalah kemiri, jinten dan bawang. Menu lontong ini biasanya selalu menggunakan ayam kampung atau ayam jago. Pembeli bisa memilih bagian ayam yang disukai sebagai lauknya. Bahkan bagian jeroanpun bisa dipilih.. Kami memilih bagian sayap. Berbeda dengan lontong opor yang lontongnya panjang-panjang, menu ini lontongnya berbentuk segitiga dibungkus daun pisang. Penjualnya memotong bagian ayam pesanan kami dengan gunting khusus. Agak unik memang, memotong ayam dengan gunting. Setelah pesanan kami jadi, kami yang sangat kelaparan langsung menyantapnya. Rasanya maknyos karena kuahnya sangat kaya akan rempah dan diolah dengan cara yang masih tradisional.

Lontong Tuyuhan siap disantap!

Lontong Tuyuhan siap disantap!

Ingin ke sana? Ini petanya!
Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Rembang-Lasem-Purwodadi Roadtrip #3 : Menyusuri Lasem dari Pecinan hingga pembuatan batik di Karasgede

Mengapa Lasem menjadi salah satu destinasi yang ingin saya sambangi di pulau Jawa? Pertama saya sangat tertarik dengan arsitektur dan bangunan-bangunan kuno peninggalan sejarah, kedua saya sangat suka batik. Dua alasan yang kuat untuk berkunjung ke sebuah kota kecamatan yang berjarak 12 km dari kota Rembang. Siang itu saya dan travelmate saya Emi bersiap-siap memacu kendaraan roda dua kami ke kota ini. Ternyata host saya selama di Rembang, Maulin dengan senang hati menjadi pemandu kami selama di Lasem supaya kami tidak tersesat :). Kota kecamatan Lasem berada di jalur utama pantura, sehingga cukup mudah untuk menuju ke sana. Jika tidak dengan kendaraan pribadi, ada banyak kendaraan umum yang melewati kecamatan ini.

Mengintip salah satu rumah tua yang ada di Lasem

Mengintip salah satu rumah tua yang ada di Lasem

So ada apa di balik Lasem ? Kata Lasem berasal dari kata Tionghoa Lao Sam yang artinya adalah hutan jati. Namun menurut teori lain kata Lasem berarti alas asem (hutan asam) atau adapula teori yang mengartikan Lasem sebagai kamala bekasem (nama buah). Nah yang benar yang mana nih?  Lasem mempunyai komunitas Tiong Hoa tertua di pulau Jawa, karena di tempat inilah mereka mendarat dan membangun Tiongkok kecil yang pertama. Mungkin saat mereka mendarat dan ingin membangun rumah isinya hutan jati semua, makanya disebut dengan Lao Sam. Para imigran dari Tiongkok ini konon tiba pertama kali sekitar abad ke 12 bersama dengan armada politik dari dinasti Ming yang dipimpin oleh Cheng Ho. Mereka memiliki hubungan baik dengan kerajaan Majapahit pada waktu itu dalam hal politik dan perdagangan. Well, mengulik sejarah Lasem memang menarik. Yang jelas sehari saja tidak cukup jika ingin mempelajari sejarah panjang Lasem yang sebenarnya.

Pintu gerbang sebuah rumah di Lasem

Pintu gerbang sebuah rumah di Lasem

Tembok tebal mengelilingi rumah induk seperti benteng pertahanan. Pintu gerbang seperti ini yang menjadi ciri khas utamarumah-rumah di Lasem

Tembok tebal mengelilingi rumah induk seperti benteng pertahanan. Pintu gerbang seperti ini yang menjadi ciri khas utamarumah-rumah di Lasem

Sebuah jalan di pecinan Lasem

Sebuah jalan di pecinan Lasem

Sudut lain pecinan Lasem yang sepi

Sudut lain pecinan Lasem yang sepi

Bangunan-bangunan khas Tiongkok berupa rumah-rumah dan kelenteng ini masih dengan mudah ditemukan di sini terutama di desa Karangturi. Meskipun ada banyak bangunan yang sudah rusak dan tidak terawat. Siang itu kami menyusuri pecinan ini dari jalan ke jalan mengamati gaya khas arsitekturnya. Rumah-rumah bergaya Tiongkok yang besar-besar ini terlihat misterius dengan pintu-pintu gerbang yang mempunyai ciri khas unik. Tembok luarnya tebal-tebal seperti benteng pertahanan. Maulin kemudian mengajak kami ke sebuah klenteng yang konon dibangun pada abad ke 13, salah satu klenteng tertua di pulau Jawa. Nama klenteng ini adalah Cu An Kiom. Saat kami datang ke sana, klenteng ini tampak sepi, hanya ada seorang bapak-bapak penjaga klenteng yang tersenyum ramah kepada kami. Ia mengijinkan kami untuk masuk ke dalam klenteng asalkan kami tidak ribut. Di teras klenteng ini terdapat lampion-lampion merah yang digantungkan di langit-langitnya dan tertulis nama-nama keluarga yang memberikan lampion tersebut. Konon katanya sih sebagai tanda terimakasih kepada para dewa. Bagian depan klenteng ini terbuat dari kayu besi yang berukir yang masih asli sejak klenteng ini didirikan. Menurut bapak penjaga yang saat itu sedang bersantai di pinggir klenteng, dewa utama Cu An Kiom adalah dewa laut yang mereka sebut sebagai Makco Thian Siang Sing Bo. Mungkin karena pada awalnya masyarakat Tiong Hoa di sini datang menyeberangi dan mengarungi lautan, mereka sangat menghormati dewa laut sebagai pelindung dan penyelamat mereka. Lukisan, pahatan serta ukiran kuno di klenteng ini merupakan karya seni yang menarik dan langka menambah kesan bahwa klenteng ini merupakan tempat beribadah yang diutamakan hingga sekarang. Semoga saja keaslian klenteng kuno ini tetap akan selalu terjaga.

Pintu gerbang klenteng Cu An Kiom

Pintu gerbang klenteng Cu An Kiom

ruangan dewa laut ada di dalam klenteng ini

ruangan dewa laut ada di dalam klenteng ini

Teras depan Cu An Kiom yang penuh dengan lentera merah

Teras depan Cu An Kiom yang penuh dengan lentera merah

Mumpung di Lasem, foto dulu

Mumpung di Lasem, foto dulu

Ke Lasem tanpa mengunjungi sebuah tempat yang berhubungan dengan batik, rasanya memang ada yang kurang. Mumpung saya dan Emi sedang berada di sini, kami mengunjungi sebuah showroom batik milik pemerintah kabupaten Rembang yang terletak di jalan raya pantura ditengah-tengah pusat kecamatan lasem. Di showroom ini terdapat koleksi-koleksi batik milih para pengusaha batik di seluruh kecamatan Lasem. Ada banyak merek dipajang dan dijual di tempat ini. Apa yang membuat batik Lasem berbeda dengan yang lain? Batik Lasem adalah murni batik tulis yang memerlukan proses pengerjaan lama. Warna cerah dan meriah juga menjadi ciri khas batik Lasem, seperti batik pesisir lainnya. Proses pewarnaannya pun masih manual, jadi memerlukan waktu yang lama pula. Semua tergantung kerumitan pola, corak dan berapa pilihan warnanya. Oleh karena itu batik Lasem dirasa lebih mahal daripada batik-batik dari tempat lain. Batik Lasem juga terkenal dengan corak siang malamnya. Siang adalah sisi kain yang berwarna terang dan malam adalah sisi kain yang berwarna lebih gelap. Batik Lasem yang full corak dengan warna yang banyak harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Di showroom ini harga batik termahalnya adalah 4 juta rupiah. Karena saya dan Emi tidak bisa menahan diri melihat keindahan kain-kain ini, kami kemudian membeli masing-masing satu kain seharga Rp 200.000. Saya memilih yang coraknya siang malam. Untuk saya pribadi harga Rp 200.000 tidaklah mahal untuk sebuah karya seni yang masih dikreasikan dengan tangan. Konon katanya kreator batik Lasem yang terkenal dengan warna merah darah ayam ini adalah Bi Nang Un dan Na Li Ni yang kedua gambarnya diabadikan di pintu Cu An Kiom. Dahulu corak yang menonjol memang motif-motif khas Tiong Hoa.

Koleksi-koleksi batik di show room batik Lasem

Koleksi-koleksi batik di show room batik Lasem

Batik Lasem yang saya beli, cantik sekali!!

Batik Lasem yang saya beli, cantik sekali!!

Perjalanan kami siang itu pun berlanjut. Saya bertanya kepada host saya Maulin, yang kebetulan bekerja di sebuah NGO internasional sebagai pendamping desa-desa di Lasem, tentang sebuah pohon besar yang saya lihat dari tayangan televisi. Di tayangan tersebut di bawah pohon super besar itu tampak banyak ibu-ibu sedang membatik. Maulin kemudian membawa kami ke desa karasgede. Hanya dengan bertanya beberapa kali, sampailah kami di pohon super besar ini. Mungkin karena pohon besar inilah desa tersebut dinamakan dengan desa karasgede. Waktu kami sampai di sana tak ada seorangpun yang membatik di bawah pohon. Ternyata itu cuma setting dari tayangan televisi tersebut. Meskipun begitu ibu-ibu pembatik ini memang benar ada di sebuah bangunan tepat di dekat pohon tersebut. Bangunan tersebut milik salah seorang juragan batik ternama di Lasem. Di dalamnya terdapat puluhan ibu-ibu sedang mengerjakan proses membatik dari mulai membuat pola, mencanting dan memblok. Waktu itu ibu-ibu sedang makan siang dan mereka meninggalkan pekerjaan mereka di kayu-kayu tempat menyangga kain-kain mori untuk dibatik. Biasanya 4 orang ibu-ibu mengelilingi satu kompor dengan wajan besar berisi malam. Saya jadi ingat batik yang saya beli tadi. Dengan harga segitu prosesnya panjang dan harus ditulis dengan tangan? Wow, terlampau murah. Saya sih setuju-setuju saja kalau harganya agak sedikit mahal, fair trade dunk yaa. Yang jelas saya bangga bisa membawa batik yang saya beli tadi pulang ke rumah sebagai koleksi benda seni saya. Siang itu petualangan kami di Lasem berakhir di Karasgede. Hari yang cukup menambah wawasan dan pengetahuan sejarah saya akan kekayaan budaya di negeri saya tercinta ini.

Pohon besar di Karasgede, Lasem

Pohon besar di Karasgede, Lasem

Karya batik tulis ibu-ibu Lasem di Karasgede

Karya batik tulis ibu-ibu Lasem di Karasgede

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia